CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 111



"Kamu temani oma saja, kerjaan di kantor biar Jo yang urus." Al masih tidak mengizinkan Yuna untuk masuk kerja.


"Kamu pasti mikirin oma ya?" oma yang mendengar mereka segera menyahut.


"Iya, oma pasti bosan dan gak nyaman berada di rumah sendirian. Biar Yuna yang menemani oma, lagi pula pekerjaan di kantor tidak begitu banyak." Yuna ingin menyela tapi Al menggeleng pelan.


"Apa yang tidak banyak, sudah jelas hari ini jadwalnya sangat padat." batin Yuna.


"Kamu yakin?" tanya oma.


"Iya, Oma. Di kantor juga ada Jo yang akan mengantikan Yuna."


"Siapa, Jo?"


"Jo itu asisten pribadinya Al, Oma." jawab Yuna, oma memangguk paham.


"Kalau begitu aku berangkat dulu oma." Al berdiri dan berpamitan pada Om Tyas.


"Kamu hati-hati." pesannya.


"Oma, aku antar Al ke depan dulu ya." Yuna menyusul Al.


"Kamu benar gak apa-apa kalau aku dirumah aja?" tanyanya begiti berada di sebelah Al.


"Sebenarnya aku gak akan sanggup." jawab Al.


"Lah, terus kenapa bilang seperti itu ke oma?"


"Aku itu gak sanggup jauh darimu, walupun sedetik." gombal Al.


"Kamu ini, pagi-pagi udah nge-gombal." Yuna mencubit lengannya.


"Jangan di lengan dong, disini aja." Alvaro mendekatkan pipinya ke Yuna. "Tapi gak pakai cubitan ya, pakai itu." Al menunjuk bibir Yuna.


"Ini, buat kamu!" Yuna malah menarik pipi Al, dan Al mengerang kesakitan.


"Sakitnya!" Al mengelus-elus pipinya yang memerah.


"Makanya jangan ngawur! Nanti kalau oma dengar kan repot." ucap Yuna.


"Berarti kalau gak ada oma, boleh?" Al masih saja menggodanya.


"Sudah deh, mendingan kamu berangkat. Pagi ini ada meeting kan?" Yuna menarik Al menuju pintu.


"Sebentar!" Al mengambil dompetnya dan memberikan kartu yang ada di dompetnya pada Yuna.


"Untuk apa ini?" tanya Yuna saat melihat kartu kredit yang sudah berpindah tangan.


"Kamu bisa gunakan untuk apa saja yang kamu inginkan." jawab Al.


"Wah, kirain tadi kamu mau kasih black card." canda Yuna.


"Ada, kamu mau?" Al membuka kembali dompetnya.


"Gak, aku hanya bercanda. Aku pikir itu hanya ada di novel-novel saja." ucap Yuna. "Tapi aku gak butuh ini, kalau hanya untuk belanja aku masih ada uang." Yuna menyodorkan kembali kartu itu pada Al.


"Kamu simpan saja, gunakan sesuka hatimu."


"Tapi ...?" Yuna sempat ragu. "Baiklah!" akhirnya dia bersedia menerimanya. "Jangan salahkan aku jika kamu kehilangan banyak." Yuna mengibas-ngibaskan kartu itu.


"Tidak apa-apa! Semua yang aku miliki memang untukmu." Al tersenyum, sementara Yuna terpaku. "Aku berangkat ya!" setelah membelai rambut Yuna, Al segera keluar, meninggalkan Yuna yang masih terpaku mengingat ucapan Al tadi.


"Sayang, Al sudah berangkat?" kehadiran oma menyadarkan Yuna dari lamunannya.


"Sudah, Oma." Yuna berjalan mendekat pada oma Tyas. "Oma, kita jalan yuk!" ajaknya.


"Kemana?"


"Hmm, ke mall aja, sekalian kita belanja keperluan dapur." ucapnya dan oma segera setuju.


🌸🌸🌸


"Bagaimana, Jo?"


"Ok, Tuan!" saat ini mereka sedang meninjau proyek pembangunan salah satu anak perusahaan Ivander Group.


"Baik, kamu lanjutkan! Tapi ingat, saya mau ini selesai tepat waktu." Al memberi perintah pada penanggung jawab disana.


"Baik, Tuan!" ucapnya.


"Tuan, ini untuk anda." Jo kembali menyerahkan tabletnya pada Al.


"Tidak, tolongggg!!" terdengar riuh suara motor dari sebrang telephone. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" teriak wanita itu yang tidak lain adalah Natalie. "Lepaskan aku!!" Al melihat dia meronta-ronta, berusaha melepaskan tali yang sedang membelenggu tubuhnya. Tak lama kemudian terdengar lagi teriakan darinya.


"Katakan pada anak buahmu untuk lebih sering melakukannya. Dia harus merasakan apa yang Ayuna rasakan. Tapi pastikan, mereka tidak berbuat macam-macam padanya." pesannya.


"Baik, Tuan!"


Sementara itu, Natalie sudah tidak tahan lagi dengan situasi yang dia alami. Sudah 2 hari dia disekap oleh orang-orang yang tidak dia kenal. Dan mereka selalu membuatnya menjadi sasaran dari kegiatan mereka yang naik motor ugal-ugalan. Dengan tangan dan kaki terikat, mereka membaringkannya di tanah dan kemudian mereka melompatinya dengan sepeda motor. Bukan hanya satu, tapi 10 sepeda motor yang setiap hari melompatinya. Setelah mereka selesai melakukan aksinya, Natalie kembali di sekap di ruangan sempit.


"Papa, tolong aku!" tangisnya. Dia merasa sudah tidak sanggup untuk menjalani hari esok.


🌸🌸🌸


"Kita kemana lagi, oma?" saat ini Yuna dan oma Tyas sedang berada di Roy Mall.


"Kamu masih ada yang ingin dibeli?" tanya Oma saat melihat paper bag yang penuh ditangan Ayuna.


"Kita belum beli keperluan dapur, Oma." Yuna ingat kalau stok mereka di kulkas sudah menipis.


"Ya sudah, kita beli sekarang saja." Ayuna setuju dan mereka mulai berjalan menuruni eskalator. Mereka mulai berjalan dari stand yang satu ke stand lainnya. Tanpa terasa troli mereka sudah penuh dengan berbagai bahan makanan dan juga pelengkap lainnya.


"Biar aku yang dorong, Oma." Yuna memengang troli itu dan membawanya menuju kasir.


"BRAK!!" troli Yuna menabrak seorang wanita yang sedang berdiri di tengah jalan.


"Maaf, maaf!!" Yuna berjongkok memunguti belanjaannya yang berantakan, termasuk belajanaan wanita yang ada di depannya.


"Ini, Nyonya ..." Ayuna kaget karena wanita yang dia tabrak adalah Monika.


"Kamu?" Monika menunjuknya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Monika melihat troli Yuna yang sudah penuh. "Dimana putraku?" tanyanya.


"Apa nyonya tidak bisa lihat saya sedang berbelanja." ucapnya.


"Dimana putraku? tanyanya.


"Kenapa bertanya pada saya? Tuan Al pasti di kantor." jawabnya ketus.


"Dan kamu? Apa yang kamu lakukan disini pada jam kerja?" Monika kembali menatap troli Yuna. Ayuna tidak mempedulikannya, dia sibuk melihat ke belakang. Karena oma tertinggal saat asyik memilih beberapa buah-buahan segar. "Asyik ya jadi tunangan bos, bisa bersikap sesuka hatimu." sindirnya.


"Saya cuti karena ada sedikit urusan."


"Alah, jangan bohong kamu! Aku tahu wanita sepertimu hanya mengincar harta putraku."selanya


"Apa yang anda katakan? Jangan sembarangan kalau ngomong." Yuna sadar saat ini mereka sedang berada di tempat umum, jadi dia mengurungkan niatnya untuk membalas Monika. Apalagi, saat ini sedang ada oma jadi dia lebih memilih untuk diam.


"Dasar wanita murahan, bisanya hanya menggoda pria kaya." ucapan Monika membuat Yuna ingin membalasnya.


"Hey! Siapa kau? Berani-beraninya mengatakan hal itu pada cucuku?" Oma yang berang mendorong bahunya sehingga Monika terhuyung ke belakang.


"Hey!!! Siapa kau wanita tua?" Monika mendekat padanya.


"Aku, omanya!" jawab Oma Tyas.


"Pantas saja, ternyata sifat bar-barnya menurun darimu." Monika yang marah karena tadi Oma Tyas mendorongnya segera membalasnya.


"Jaga bicaramu!" teriak Oma Tyas. "Jangan sampai aku mendengar satu kata lagi tentang cucuku dari mulut kotormu itu."


"Oma, sudah ..."Yuna meminta Oma Tyas berhenti, karena saat ini mereka menjadi tontonan publik. "Tante, aku mohon hentikan! Jangan mempermalukan diri anda seperti ini." pinta Yuna.


"Diam kamu!" bukannya tenang, Monika malah berteriak padanya.


"Hey!!" Oma kembali mendorongnya.


"Oma, tante, hentikan!" Ayuna berdiri di tengah mereka. "Atau, aku telpon Al untuk menghentikan anda." Ayuna segera mengambil ponselnya dan mencari nomor Al. Melihat itu Monika segera berhenti.


"Lihat saja nanti, aku akan membalasmu!" ancamnya sebelum pergi.


"Siapa dia?" tanya oma setelah Monika menjauh dari mereka.


"Dia mamanya Al!"


"APAAA?"


~tbc