CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 180



"Bagaimana?" Alvaro berbicara di telepon dengan Jhosua.


"Semua berjalan lancar, Tuan. Lusa lamarannya di Palace Hotel." lapor Jo mengenai rencana lamarannya.


"Selamat untukmu." ucap Al.


"Makasih, Tuan."


"Aku akan memberitahu kakek. Jika kamu membutuhkan bantuanku, katakan saja!" ujar Al sebelum menutup telepon.


"Kenapa dengan Jo?" tanya Gina yang sejak tadi duduk di sebalah Al.


"Lusa dia lamaran." Yuna kaget.


"Serius?" tanyanya.


"Jo, yang mau lamaran, kenapa kamu yang bahagia?" tanya Al saat melihat wajah Yuna berbinar.


"Tentu aja, aku senang. Gina itu temanku, dan aku senang karena akhirnya dia mendapatakan pria sebaik Jhosua." ucapnya.


"Siapa bilang Jhosua baik? Dibanding dia aku jauh lebih baik." sombongnya.


"Tapi Jo jauh lebih tampan." ucapnya.


"Apaaa??? Beraninya kamu memuji pria lain di depanku?" Alvaro memajukan tubuhnya.


"Memang kenyataannya begitu. Padahal dulu aku itu naksirnya sama Jhosua, tapi malah nikahnya sama kamu." wajah Al memerah mendengar ucapan istrinya. Ayuna terbahak karena berhasil menggoda Al.


"Kamu!!!" Ayuna mendorong tubuh Al dan segera berlari saat Al berusaha mengejarnya. "Aku tidak akan mengampunimu." Yuna kembali tertawa. Al berhasil menangkapnya, dan mereka terjatuh ke atas ranjang. Alvaro segera berbalik dan berada diatas tubuhnya. "Jadi, pria yang kamu sukai itu Jo?" Al mengunci mata Yuna.


"Awalnya aku memang menyukai Jo, karena sifatnya yang baik. Sangat berbeda dengan pria yang kukenal. Dingin, jutek, arogan dan menyebalkan." Al tshu siapa yang dimaksud olehnya.


"Oh, jadi aku dingin?" Al mendaratkan kecupan di leher Yuna, Ayuna mengeliat. "Jutek?" Al kembali mendaratkan kecupan di sisi satu lagi. "Arogan? Menyebalkan?" Al tidak henti mengecup bagian tubuh lainnya. Membuat Yuna kehilangan kendali atas dirinya.


"Tidak." suara Yuna terdengar samar.


"Lalu?" Al menatap Yuna.


"Itu dulu, tapi sekarang aku mencintaimu dengan semua sifat itu." Yuna mengalungkan tangannya di leher Al. Alvaro tersenyum, karena dia tahu apa yang diinginkan oleh sang istri.


🍀🍀🍀


"Jadi, apa yang harus kita persiapkan?" tanya Yuna. Saat ini dia berada di rumah Gina.


"Aku bingung." ucapnya.


"Gaun? Apa kamu sudah punya pakaian untuk digunakan besok?" Gina menggeleng.


"Gimana aku mau siapin semuanya, kalau Jo dadakan begini." jawabnya.


"Aku dengar Jhosua sudah menyiapkan segala keperluan. Itu artinya kita hanya perlu mencari pakaian yang cocok untukmu dan keluarga." sarannya.


"Memangnya bakalan ada tempat yang bisa menyediakannya dalam satu hari?" Gina terlihat frustasi. Dia juga nggak tahu kalau Jo ingin melakukan lamaran secepat ini.


"Kamu tenang aja, ikut saja denganku. Sekalian ajak om dan tante juga." ucapnya. Dia harus membantu Gina, karena sebelumnya Jo sudah meminta tolong padanya. Gina berjalan keluar dari kamar, dia harus memberitahu orangtuanya untuk segera bersiap.


"Kita mau kemana, Na?" tanya Gina saat mereka dalam perjalanan. Gina ikut bersama Yuna, sementara orangtuanya mengikuti mereka dengan mobil pribadi.


"Udah, kamu tenang aja!" Yuna masih memberikan jawaban yang sama. Mereka sampai di butik milik Gilang. Gina tahu, karena dia pernah kesana waktu Yuna akan menikah.


"Ini'kan?" tanyanya.


"Jo yang minta buat bawa kamu kesini. Dia minta tolong agar aku bantuin untuk semua persiapanmu." jelasnya. Gina sangat beruntung mendapatkan pria seperti Jhosua.


"Ayo!" ajak Yuna pada Gina dan orangtuanya.


"Selamat pagi, Nyonya! Ada yang bisa kami bantu?" sapa karyawan Gilang.


"Saya sudah ada janji dengan tuan Gilang." ucap Yuna pada salah satu dari mereka.


"Maaf, saya sedang berbicara dengan siapa?" tanyanya, sebelum Yuna menjawab manager butik datang menghampiri mereka.


"Selamat datang Nyonya Alvaro. Maafkan ketidaksopanan pegawai kami." ucapnya.


"Oh, nggak apa-apa." Yuna tersenyum. Manager itu meminta karyawan tadi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Mari, Nyonya! Tuan Gilang sudah menunggu di ruangannya." mereka mengikuti wanita itu menuju ke ruangan Gilang.


"TOK TOK TOK." dia membuka pintu.


"Tuan, Nyonya Alvaro sudah tiba." Gilang langsung berdiri dan menyambut mereka.


"Ayuna, senang bertemu denganmu. Gimana kabarmu?" Gilang memeluknya.


"Aku baik." Gilang yang baru memyadari tindakannya, langsung melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku! Aku sulit mengontrol sikapku jika melihat wanita cantik." ujarnya. "Tapi, aku kira Alvaro tidak perlu tahu ini, bukan?" Gilang harus memastikan kalau Al tidak akan mematahkan tangannya. Ayuna tertawa.


"Itu tidak akan terjadi." jawabnya.


"Lalu, dimana calon pengantinnya?" mereka menoleh pada Gina yang sedang duduk bersama dengan kedua orangtuanya. "Apakah nona cantik ini?" tunjuknya.


"Tentu saja! Tidak mungkin aku'kan?" canda Yuna.


"Yah, kalau kamu tega melihat Al mengantung Jo di atas monas." timpalnya, mereka tertawa mendengar gurauan Gilang.


"Semalam Jhosua sudah menghubungiku. Sebenarnya dia sudah menyiapkan semuanya jauh hari. Aku juga sempat berpikir apakah dia mau nikah benaran atau hanya halu." jelasnya.


"Kenapa begitu?" tanya Gina.


"Abisnya calonmu itu memintaku untuk menyiapkan pakaian untuk acara lamaran ini sejak sebulan yang lalu, tapi hingga kemarin aku belum yakin dia akan menikah." semua orang tercenggang mendengar penjelasan Gilang.


Dia yang semula meragukan Jo, akhirnya menerima Jhosua dengan tanga terbuka. Dia senang, karena putri satu-satunya mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya.


"Jadi, apa sebaiknya kita lihat apa yang akan nona cantik ini gunakan besok?" semua setuju, mereka mengikuti Gilang keluar dari ruangan itu.


Gina langsung terpukau saat melihat kebaya berwarna gold yang ada di hadapannya.


"Ini kan ....?" Gina tidak dapat melanjutkan perkataannya.


"Apakah ini seperti yang kamu inginkan?" tanya Gilang. Gina mengangguk.


"Kenapa, Na?" tanya Yuna yang berdiri di sampingnya.


"Aku pernah bilang ke Jo, kalau misalkan aku nikah, aku pengen punya kebaya seperti ini." Gina ingat saat itu mereka sedang jalan-jalan dan tidak sengaja mereka berdiri di depan sebuah butik. Disanalah dia melihat kebaya berwarna gold yang terlihat sangat menawan.


"Aku nggak nyangka ternyata dibalik sifat cueknya, Jo seperhatian itu." puji Yuna. Gina setuju dengan ucapannya.


"Mau sampai kapan kamu berdiri disana. Apa kamu tidak ingin mencobanya?" Gina bergegas mendekat. Dia dibantu oleh beberapa karyawan Gilang. Sementara orangtua Gina juga sedang mencoba baju yang telah Gilang persiapkan.


"Jadi, kamu cukup sibuk?" tanya Gilang saat hanya tinggal mereka berdua.


"Yah, Gina itu sahabatku. Aku ingin membantunya hingga hari terbaiknya." jawab Yuna.


"Gimana dengan Al?" Gilang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya. Terakhir kali sejak mereka menikah. Kesibukan mereka berdua membuat mereka susah untuk bertemu.


"Dia baik." jawab Yuna.


"Apa dia masih sama?" godanya.


"Sifat manusia nggak mungkin bisa berubah dalam satu hari, bukan?" Gilang tertawa kecil.


"Tapi, aku bersyukur dia berhasil mendapatakanmu. Yah, walaupun ada pengorbanan besar dibalik itu." Yuna mengerti kemana arah pembicaraannya. Yuna sangat mengerti betapa kehilangannya Gilang, karena diantara mereka dia yang paling dekat dengan Mahen. Ayuna tersenyum tipis.


"Gimana?" tanya Gina saat tirai di buka.


"Cantik! Kamu cantik banget!" puji Yuna. Memang benar Gina terlihat berbeda dengan kebaya itu. Dia benar-benar terlihat sangat cantik.


"Tapi, kok bisa pas begini ya?" Gina bingung, karena kebaya itu sangat pasdi tubuhnya. Padahal ini pertama kali dia mencobanya.


"Itulah kelebihan calon suamimu." ucap Gilang. Padahal Jhosua harus ekstra keras untuk mendapatkan ukuran tubuhnya.


"Aku yakin dengan begini, Jo pasti tak akan bisa berpaling darimu." ucap Yuna. Gina tersipu malu.


"Bukankah kamu juga harus mencoba bajumu?" Gilang memecah keheningan mereka.


"Aku?" tanya Yuna.


"Tentu saja. Kamu adalah keluarga Jo." Yuna mengerti, dia segera mengikuti Gilang ke ruangan yang ada disebelah.


"Kemarin aku sudah mempersiapkan pakaianmu." karyawannya membawakan kebaya milik Yuna. "Kamu suka?" tanyanya. Yuna masih saja terpukau saat melihat kebaya berwarna gold itu.


"Kamu memang selalu bisa diandalkan." puji Yuna. Gilang meminta karyawannya untuk membantu Yuna mencobanya.


"Gimana, apa kamu menyukainya?" tanyanya.


"Tentu saja. Apa saja yang kamu buatkan untukku itu selalu bagus." pujinya.


"Tuan, diluar ada tamu yang mencari anda." ucap karyawan yang baru saja menghampirinya.


"Aku permisi dulu!" ucap Gilang padanya.


🍀🍀🍀


"Selamat siang, tuan Bumi!" sapa Gilang saat melihat Bumi datang bersama asistennya.


"Pagi, tuan Gilang!" jawabnya.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanya Gilang dengan sopan. Dia cukup mengenal siapa Bumi, karena selama Bumi di Indonesia, dia selalu memesan jas ataupun tuxedo padanya.


"Saya membutuhkan sebuah gaun." jawabnya.


"Gaun seperti apa yang anda inginkan?" tanya Gilang.


"Aku ingin gaun yang simple tapi tetap terlihat elegan." jelasnya.


"Apakah ini untuk seseorang yang special?" godanya.


"Iya. Gaun itu untuk adik kesayanganku." Gilang langsung mengerti, setelah Bumi menunjukkan foto adiknya. Dia mulai mencari gaun terbaimyang pantas untuk wanita cantik yang ada di dalam ponsel Bumi tadi.


"Kamu sudah selesai?" tanya Yuna begitu dia sampai di tempat Gina.


"Sudah. Kamu?" tanyanya.


"Aku juga. Nah, itu om sama tante." ucapnya saat melihat kedua orangtua Gina sudah bergabung dengan mereka.


"Sayang, mama dan papa duluan ya! Kami harus ke rumah om Fadly." ucap Hana.


"Papa yakin bisa bawa mobil sendiri?" Gina terlihat khawatir.


"Kamu jangan ngeremehin papa. Gini-gini papa mantan pembalap F1." mereka tertawa mendengarnya. Tak lama orangtua Gina pergi, mereka segera keluar dari ruangan itu.


"BRUUKK!!" Yuna yang sibuk bercerita dengan Gina tidak melihat ada orang yang berdiri dihadapannya.


"Maaf, saya nggak sengaja." ucapnya sambil mengambil tasnya yang jatuh.


"Wah, senang bertemu denganmu!" Ayuna segera menoleh saat tahu itu suara siapa.


"Kau ....!?"


~tbc