CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 187



"Jadi, apa yang ingin kau ketahui?" Yuna duduk berhadapan dengannya.


"Sudah sampai dimana perkembangan resort itu?" tanyanya. Yuna berdiri dan mengambil dokumen yang ada di mejanya.


"Ini." dia menyerahkannya pada Bumi.


"Kami sudah menyelesaikan 50%, seharusnya itu susah hampir selesai, Jika saja kau tidak meminta untuk membuat aquarium itu." jelasnya. Yuna sudah mempelajari semuanya dari Jo. Jadi, dia tidak lagi canggung untuk mengutarakan pendapatnya.


"Aku ingin pengunjung yang datang, bisa melihat biota bawah laut. Aku sangat yakin itu akan membuat mereka senang. Terlebih lagi mereka yang datang dengan keluarga." Yuna cukup terkejut dengan alasan Bumi.


"Sepertinya anda pencinta keluarga?" tebaknya.


"Tentu saja. Aku sangat menyayangi keluargaku." Yuna bisa melihat kejujuran dari suaranya.


"Aku tidak menyangka kalau kau mempunyai sisi lembut seperti itu." ucap Yuna.


"Kau pasti berpikir aku ini pria kejam dan dingin. Seperti yang dipikirkan kebanyakan orang." sela Bumi.


"Karena pribadimu menunjukkan itu." jawabnya tanpa ragu. Bukannya marah Bumi malah tersenyum padanya.


"Apa kau tidak ingat kata pepatah? Jangan menilai seseorang dari luarnya." Bumi menutup dokumen itu. "Aku harap semuanya selesai tepat waktu." ucapnya.


"Akan kami usahakan." jawab Cleo.


"Baiklah, aku permisi dulu. Jangan lupa dimakan. Wajahmu terlihat sangat pucat. Makanan manis akan memberimu tenaga." pesannya. Yuna menatap kotak roti yang ada di depannya.


"Terima kasih." Yuna mengatakan itu dengan tulus. Yuna mengantar Bumi keluar, dia terkejut saat mendapati Jo Kai dan Refa berdiri berhadapan.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Yuna.


"Nona, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Jo yang khawatir dengannya.


"Baik. Memangnya kenapa?" tanya Yuna, Jhosua menatap Bumi.


"Saya kaget saat tahu bahwa tuan Bumi datang tanpa pemberitahuan sebelumnya." Jo menatap tajam padanya.


"Dia hanya ingin melihat perkembangan resort." jawab Yuna.


"Aku permisi! Jangan lupa pesanku." Yuna mengangguk. Setelah itu dia dan Kai berjalan menuju lift.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Jo saat mereka berada di dalam ruangan Yuna.


"Tidak." jawab Yuna yang sibuk memotong kue pemberian Bumi. "Apa kau mau?" dia menawarkannya pada Jo.


"Tidak, Nona." tolaknya. "Ada apa, Nona?" tanya Jo saat melihat wajahnya memerah.


"Kenapa ini bau sekali?" Yuna menjauhkan kue itu dari hadapannya.


"Bau ....?" Jhosua mengambilnya dan mulai membauinya. "Tidak ada yang salah dengan baunya." Jhosua menyodorkan kembali kue tadi pada Yuna. Ayuna berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Entah kenapa perutnya terasa di aduk-aduk saat mencium aroma strawberry yang keluar dari kue itu.


"Hoekk!!" sudah berkali-kali Yuna mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam perutnya. Saat dirasa tidak ada lagi rasa mual itu, Yuna mulai mencuci wajahnya.


"Kenapa denganku?" ucapnya pada dirinya sendiri. Ayuna mengambil tissu dan mulai merapikan wajahnya.


"Anda kenapa? Apa semuanya baik-baik saja? Apa mereka meracuni anda?" tanya Jo saat dia keluar. Jhosua terlihat sangat khawatir.


"Apa yang kau katakan? Mungkin ini karena pagi tadi aku nggak sempat sarapan." jawab Yuna.


"Sebaiknya anda duduk dulu. Wajah anda terlihat pucat." Jhosua membantunya duduk di sofa. "Nona berbaringlah! Saya akan hubungi dokter Andreas."


"Tidak, tidak perlu!" cegahnya.


"Tapi anda harus diperiksa. Wajah anda terlihat pucat." jawab Jo.


"Aku baik-baik saja, Jo." Yuna meyakinkannya. "Aku hanya butuh makan." jawab Yuna.


"Anda mau makan apa?" tanya Jo.


"Aku pengen makan nasi padang." Jhosua mengerinyit.


"Anda yakin?" Yuna memgangguk.


"Baiklah, akan saya belikan." setelah dirasa yakin, Jhosua meninggalkan Yuna.


"Tolong kamu jaga nona Ayuna." pesannya pada Refa.


"Memangnya nyonya kenapa?" tanya Refa.


"Lalukan saja apa yang ku perintahkan." Refa terkejut karena belum pernah melihat sikap Jo seperti ini. Setelah mengatakan itu, Jhosua langsung bergegas menuju lift.


"Nona, apa anda membutuhkan se ....?" Refa terdiam saat mendapati Yuna sedang tertidur di sofa. Dia kembali keluar dan menutup pintu dengan pelan.


"Gimana keadaan Nona?" tanya Jo setelah 15 menit kemudian dia kembali.


"Kamu minta OB untuk ngantarin perlengkapan makan untuk beliau." Jhosua segera masuk. Dia melihat Ayuna berbaring di sofa.


"Nona!!" panggilnya pelan. "Nona." ulangnya. Ayuna membuka mata dan melihat Jhosua berdiri di depannya.


"Ada apa?" Yuna bangun sambil mengucek matanya.


"Ini pesanan anda." Yuna melihat nasi padang yang ada di atas meja. Seulas senyuman langsung terbentuk di wajahnya.


"Terima kasih." Yuna membuka bungkusan itu.


"Permisi, Tuan, saya membawakan ini." OB itu meletakkan piring dan sendok di dekat Yuna. Ayuna yang baru dari wastafel melihat ke arah piring dan sendok itu.


"Itu buat apa?" tanya Yuna.


"Tentu saja untuk anda." jawab Jo.


"Oh, ayolah, Jo! Sejak kapan makan nasi padang pakai sendok? Nasi padang itu nikmatnya kalau dimakan begini." Ayuna menyuap nasi itu ke mulutnya. "Hmm, ini enak banget!" Yuna tak henti memuji makanan berkuah itu.


"Kalau begitu saya permisi." Melihat Ayuna yang makan begitu lahapnya Jhosua memilih keluar dari sana.


🍀🍀🍀


"Apa kau sudah menyelidiki yang aku minta?" tanya Bumi begitu Kai dihadapannya.


"Sudah, Tuan." jawab Kai.


"Lalu?"


"Perusahaan itu benar-benar tidak akan tertolong. Mereka membutuhkan suntikan dana yang cukup besar. Yang saya tahu Ivander Group sudah melakukan apapun untuk memikat investor." jelasnya.


"Aku mau kau pantau terus." Kai mengangguk.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" seorang wanita muda bergabung bersama mereka.


"Kapan kamu sampai?" tanya Bumi sambil memeluk wanita itu.


"Sudah sejak tadi. Tapi, kalian sibuk ngobrol sampai tidak menyadari kehadiranku." wanita cantik itu berpura-pura cemberut.


"Maaf, Sayang! Kita sedang membahas kerjaan." jawab Bumi. "Kamu mau makan apa?" tanyanya. Malam ini, Bumi memang sengaja meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Cleopatra, adik sepupunya.


"Aku sudah pesan." jawabnya. "Aku perhatikan sepertinya kamu lagi senang, Mas? Wajahmu berbinar. Aku tahu kau pasti sedang jatuh cintakan?" tebak Cleo.


"Benarkah?" Bumi memegang salahbsatu pipinya.


"Serius??? Siapa wanita itu? Apa aku mengenalnya?" Bumi hanya tertawa kecil.


"Ayolah! Siapa? Katakan padaku?" Cleo mengoyang-goyangkan lengan Bumi.


"Kau tidak ada tahu." jawabnya.


"Kai, apa kau tahu?" Kai menunduk, dia tidak sanggup menatap wajah cantik Cleo. "Kai!!" Cleo gantian menganggu Kai. Kai menatap Bumi dan pria yang dia tatap menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua nggak asyik." Cleo cemberut karena keinginannya tidak terpenuhi. Melihatnya itu Bumi malah tertawa keras, dia mengacak-acak rambut Cleo.


🍀🍀🍀


Ponsel Yuna berdering saat dia sudah di rumah. Yuna yang berada di kamar mandi tidak mendengar suaranya.


"Kemana dia?" Alvaro terlihat khawatir, sudah lebih dari tiga kali panggilannya tidak ada jawaban.


"Tuan, semua sudah menunggu." panggil Ken.


"Baiklah." Al mematikan ponselnya dan masuk ke ruang rapat. Ayuna yang baru selesai mandi segera menghampiri ponselnya yang ada diatas nakas. Dia melihat ada 7 panggilan tak terjawab dari Al.


"Al ....?" dia segera memanggil nomor Al. "Kok nggak aktif?" Yuna terlihat bingung. Dia ulang kembali, dan jawabannya tetap sama. "Apa dia lagi sibuk?" Yuna berbaring dan meletakkan ponsel itu di dekat bantal. Dia berharap saat Al menghubunginya, dia bisa langsung menjawab panggilan itu. Tak lama setelah itu Ayuna terlelap. Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa tubuhnya cepat lelah dan bawaannya mau tidur terus.


"Nyonya!! Nyonya!!" Ayuna kaget saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia bangun dan melihat sudah pukul 02.30 wib.


"Ada apa, De?" tanya Yuna saat tahu Dea yang membangunkannya.


"Nyonya, barusan tuan muda telepon." lapornya, Ayuna tersenyum tapi dia bingung karena melihat wajah sedih dan panik pada Dea.


"Ada apa?" tanya Yuna.


"T-tuan besar, Nyonya." jawabnya terbata.


"Kakek? Kenapa dengan kakek?" tanya Yuna bingung.


"T-tuan besar mengalami serangan jantung."


"Apaaa???"


~tbc