CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 192



"Apa kau sadar dengan yang kau katakan?" tanya Yuna.


"Tentu saja." jawabnya.


"Kau gila! Bagaimana mungkin kau bisa menyukai wanita yang sudah menikah?" tanyanya.


"Memangnya ada hukum yang melarang menyukai istri orang?" Ayuna semakin terkejut dengan pemikiran Bumi. "Rasa ini hanya satu sisi, kecuali kau membalas perasaanku. Maka itu jelas terlarang!"


"Itu tidak akan pernah terjadi." tegas Yuna.


"Lalu, apa yang harus dipermasalahkan? Aku punya hak untuk menyukai siapa saja." Ayuna hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Tapi kau bisa menghancurkan hubunganmu dengan Ivander Group. Jika Al tahu kau menyukai istrinya, dia pasti tidak akan tinggal diam." untuk yang satu ini Ayuna sangat yakin.


"Suamimu saja yang berlebihan. Aku bisa pastikan, selama kau bahagia dengannya, maka aku tidak akan merebutmu darinya." Ayuna semakin tercengang.


"Apa yang kau katakan?"


"Sudahlah! Ini ponselmu." Bumi menyerahkan benda pipih itu pada Yuna. "Apa kau terkena masalah karena ini?" tanyanya.


"Itu bukan urusanmu." jawab Yuna.


"Dari wajahmu aku sudah tahu jawabannya. Apa kau masih tahan dengan pria dingin sepertinya?" Ayuna berdiri.


"Tidak ada yang lebih mengenalnya dibanding aku." bela Yuna. Setelah mengatakan itu dia berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu, Yuna!" Ayuna berbalik. "Jika kau tidak bahagia dengannya, maka datanglah padaku!" Bumi terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Itu tidak akan terjadi." Yuna keluar, Jhosua segera menghampirinya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Jo.


"Aku tidak apa-apa. Ayo, kita pergi!" ajaknya.


"Apa terjadi sesuatu, Tuan?" tanya Kai.


"Tidak." jawabnya. "Apa kau sudah menjalankan perintahku?" tanyanya.


"Saya sudah mencari tahu mengenai perusahaan itu. Ini laporan keseluruhannya, Tuan." Bumi menerima berkas itu dan mulai memperlajarinya.


🍀🍀🍀


"Ada apa, Al?" tanya Soraya saat melihat wajah Alvaro sangat kusut. "Apa ada masalah dengan perusahaan?" Al menggeleng. "Lalu?"


"Ayuna." jawabnya.


"Kenapa dengan Yuna? Apa kamu sudah memberitahu bahwa papa sudah sadar?" Al kembali menggeleng.


"Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kamu tidak mengabarinya?" Soraya terlihat bingung.


"Aku sedang bertengkar dengannya." jawab Al.


"Apa? Yang benar saja?" Soraya tidak percaya. Wajah Al terlihat tegang. "Kamu serius?" Al mengangguk. "Apa yang terjadi?" Al menceritakan mengenai pertemuan Bumi dengan Yuna kemarin. Bahkan, menegani usaha Bumi membantu perusahaan yang sedang dipimpin oleh Yuna.


"Jadi kamu cemburu?" tebak Soraya, Alvaro terdiam.


"Apa menurut tante itu wajar? Dia hanya rekan bisnisku. Kenapa dia sampai harus turun tangan membantu perusahaanku. Dia pasti ingin mendekati istriku." Soraya tersenyum tipis.


"Apa yang kamu pikirkan tidaklah salah. Tapi, kenapa kamu malah marah pada Yuna? Memangnya apa yang telah dia lakukan? Apa dia juga tertarik pada pria itu?" Alvaro bingung.


"Aku tidak tahu, Tante." jawabnya pelan.


"Sebaiknya kamu pulang. Temui Yuna, hilangkan kegundahanmu." sarannya.


"Itu nggak mungkin, Tan. Aku nggak bisa ninggalin kakek seperti ini. Lagi pula, masalah perusahaan belum selesai." jawabnya.


"Untuk masalah perusahaan kamu tidak perlu risau. Biarkan saja! Lagi pula perusahaan itu memang sudah tidak tertolong." ucapnya. Soraya sudah lama menyerah pada perusahaan yang dibangun oleh mantan suaminya itu.


"Aku nggak bisa, Tan. Kakek menjadi seperti ini karena ingin menjayakan kembali perusahaan itu. Aku nggak mungkin membiarkan usaha kakek sia-sia." Soyara terdiam, dia membenarkan perkataan Al.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi, sebaiknya kamu hubungi Yuna dulu." pesannya sebelum kembali masuk ke ruangan Hans. Saat ini, Hans sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Alvaro membenarkan perkataan Soraya. Karena kecemburuannya dia malah menyalahkan istrinya. Dengan cepat Al segera memanggil nomor Yuna.


"Ini, Nona." Jo memberikan file yang harus dia tanda tangani.


"Masih ada lagi?" tanya Yuna setelah dia selesai dengam dokumen yang terakhir.


"Kalau begitu, Ayo!" ajaknya. Yuna segera berdiri dan mengambil tasnya. Dia melupakan ponsel yang sedang di charger.


"Kenapa dia nggak angkat teleponku? Apa dia marah? Atau dia sedang bersama dengan pria brengsek itu?" Alvaro berasumsi sendiri.


Dia segera menghubungi ponsel Jhosua, sayangnya Jo tidak mendengarnya. Karena saat ini mereka sudah berada di ruang meeting dan Jo sedang presentasi di depan klien. Alvaro terlihat kesal karena tidak ada salah satupun dari mereka yang menjawabnya.


🍀🍀🍀


"Gimana, Jo?" tanya Yuna. Saat ini mereka berada di pusat perbelanjaan. Tiba-tiba saja Yuna sangat ingin membeli beberapa baju anak untuk dia bagikan ke panti yang terakhir kali dia datangi.


"Bagus semua, Nona." jawab Jo.


"Kamu jangan tanya dia. Untuk urusan seperti ini harusnya lo bertanya pendapat gue." sela Gina yang ikut bersama mereka.


"Aku hanya ingin tau pendapatnya. Seenggaknya kamu tahu apakah calon suamimu ini bisa menjadi ayah yang baik atau tidak." mereka menoleh pada Jo. Sadar dirinya menjadi bahan perbincangan kedua wanita cantik itu, Jo hanya tersenyum tipis.


"Nggak ada hubungan juga kali, Na." bela Gina.


"Ya, adalah. Kalau dia mau ikut andil dalam hal kecil seperti ini, dia juga nantinya pasti mau bantuin kamu ngurusin anak." jawab Yuna.


"Lo ini, dari tadi bahas anak-anak mulu. Emang lo udah mau punya anak?" ujarnya.


"Hah? Bukan gitu. Kebetulan kita lagi bahas masalah anak, makanya aku bilang begitu." Yuna mengalihkan pembicaraan. "Ini gimana?" Yuna memperlihatkan baju anak cowok pada Gina.


"Bagus!" jawabnya. Yuna memasukkan baju-baju itu ke dalam kantong belanjaan yang dipegang oleh Jo.


"Apa ini nggak kebanyakan?" tanya Gina, Yuna menggeleng.


"Kebetulan anak-anak disana itu banyak. Jadi, mereka pasti senang. Kita kesana, Yuk!" Yuna berjalan menuju ke toko mainan. Gina dan Jo hanya bisa saling pandang, kemudian mengikuti wanita itu.


"Udah?" tanya Gina. Ayuna seperti orang yang kalapan. Segala mainan dia masukkan ke dalam keranjang. Saat Gina menghentikannya, Yuna malah tidak peduli.


"Udah." jawabnya. Mereka berjalan menuju kasir. "Kita langsung ke panti aja ya. Aku nggak sabar mau lihat wajah bahagia anak-anak disana." ucap Yuna setelah mereka selesai berbelanja.


🍀🍀🍀


Akhirnya mereka tiba di Mutiara Bunda. Jhosua menurunkan semua belanjaan Yuna. Sementara Yuna dan Gina terlebih dahulu memasuki ruangan ibu panti.


"Assalamu'alaikum." sapa Yuna, ibu panti mengangkat kepalanya. Dia langsung tersenyum saat mengetahui Ayuna yang datang.


"Wa'alaikumusalam, Nyonya. Mari silahkan masuk." ucapnya ramah. "Silahkan duduk, Nyonya." Ayuna dan Gina duduk bersebelahan.


"Gimana kabarnya, Bu?" tanya Yuna.


"Alhamdulillah, Baik." jawab Yuna ramah. "Kedatangan saya kemari untuk memberikan ini untuk anak-anak disini." Yuna meminta Jo meletakkan bawaannya diatas meja.


"Alhamdulillah. Anak-anak pasti senang mendapat hadiah dari anda." ibu panti sangat berterima kasih. Kemudian dia memanggil asistennya untuk membawa pakaian itu ke kamar anak-anak.


"Na, gue mau ke toilet bentar ya." bisik Gina, Ayuna mengangguk.


"Kamu mau kemana?" cegah Jo saat melihat Gina hendak keluar.


"Aku mau ke toilet." bisiknya.


"Biar kuantar." Jhosua berjalan keluar dari ruangan itu.


"Kalau kamu mengantarku, Yuna gimana?" tanyanya.


"Beliau masih lama." setelah melihat Yuna asyik berbincang dengan ibu panti, Gina setuju dengan Jo. Mereka berjalan menuju toilet.


"Bu, ada tamu." saat mereka masih berbincang, salah satu petugas panti datang menghampiri.


"Siapa?" tanyanya.


"Donatur tetap." jawab wanita berhijab itu.


"Ya sudah, suruh masuk saja." wanita tadi mengangguk dan berjalan keluar.


"Assalamu'alaikum." terdengar suara pria. Ayuna merasa tidak asing dengam suara berat itu.


"Wa'alaikumusalam." jawab bu panti. Ayuna menoleh, dan betapa terkejutnya dia begitu melihat Bumi disana. Begitupun dengan Bumi, dia tidak menyangka akan bertemu Yuna disana.


~ tbc


🍒Maaf kalau akhir-akhir ini telat up ya🙏🙏