
"Na, lo berani banget!" ucap Gina saat mereka sudah jauh dari cafe tadi.
"Memangnya kenapa?" tanya Yuna.
"Gimana kalau dia ngejar kita? Dari mobilnya aja gue tahu kalau dia bukan orang biasa." ujar Gina.
"Kenapa kita harus takut? Dia yang salah. Hanya karena dia naik mobil mewah, bukan berarti dia bisa bertindak sesuka hatinya." jawabnya, Yuna terlihat cuek.
"Wah, mentang-mentang udah jadi istri CEO gak ada takutnya lagi." ledek Gina.
"Bukan begitu! Yang salahkan memang dia. Siapa bilang kita bergosip hingga gak lihat kanan kiri?" ujarnya.
"Iya deh, Nyonya Alvaro!" jawabnya.
"Apaan sih, lo!" ucapnya, Gina tertawa.
"Apa masih ada yang harus kami perbaiki?" tanya Al pada Kai. Kai adalah sekretaris pribadi Bumi Arkana.
"Kenapa bukan tuan Smith sendiri yang menemui saya?" tanya Al dengan nada sinis.
"Jadi, anda sudah tahu kalau CEO dari Earth Corp adalah tuan Smith?" tanya Kai seolah mengejeknya.
"Tentu saja saya tahu. Apa proyek sebesar ini pantas untuk diwakilkan begitu saja?" tanya Al.
"Saya rasa itu terserah tuan Smith. Dia berhak untuk menyuruh siapa saja untuk menemui orang yang membutuhkannya." Kai terlihat sangat angkuh.
"Saya rasa meeting kita cukup sampai disini. Jika tuan Smith setuju dengan presentasi anda, maka saya akan menghubungi anda kembali." Kai berdiri dan meninggalkan restoran di hotel bintang lima itu.
"Dia sangat angkuh. Jika bawahannya saja seperti itu, aku semakin penasaran akan seperti apa majikannya." ucap Al, mereka juga meninggalkan lokasi.
"Jo, kita mampir ke toko kue." perintah Al.
"Baik, Tuan." jawabnya. Mereka sampai di toko roti yang biasa Ayuna kunjungi. Al berjalan mengelilingi etalase untul mencari kue kesukaan Yuna.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya pelayan toko padanya.
"Chocolate Red Velvet."
"Chocolate Red Velvet." Al menoleh ke suara yang ada disebelahnya.
"Maafkan kami, tuan. Chocolate Red Velvet-nya tinggal satu. Dan, tuan ini yang lebih dulu datang." ucap pelayan toko tadi. Pria itu juga menoleh pada Al.
"Apa saya bisa mendapatkan kue ini?" tanya pria berkaca mata itu.
"Tapi, saya juga menginginkannya." jawab Al.
"Apa anda tidak bisa menukarnya dengan kue lain?" tanyanya lagi.
"Kenapa bukan anda saja yang mencari kue lain?" balas Al.
"Maafkan saya, tapi adik saya hanya menyukai kue yang ada di toko ini." jawab pria itu.
"Begitupun dengan istri saya. Dia juga hanya menyukai Red Velvet di toko ini." Alvaro tidak mau mengalah sama sekali.
"Kalau begitu anda boleh mengambilnya. Saya angkat tangan jika itu untuk istri anda." pria tadi mengalah dan memilih keluar dari toko itu. Alvaro tidak mau ambil pusing. Dia membayar pesanannya dan segera kembali ke mobil.
🍀🍀🍀
"Tuan Al belum kembali?" tanyanya pada Refa.
"Belum." jawabnya. Ayuna duduk di sebelah Refa.
"Fa, aku bisa minta tolong gak?" tanya Yuna.
"Apa?" Refa menghentikan pekerjaannya dan menoleh pada Yuna.
"Kalau misalkan aku udah gak kerja lagi, kamu tolong awasi tuan Al ya." ucapnya, Refa terkejut.
"Emang kamu mau resign?" tanyanya. Ayuna mengangguk.
"Kenapa? Apa tuan Al tidak setuju kamu bekerja?" tanya Refa lagi.
"Bukan seperti itu. Dia malah senang jika aku tetap bekerja. Tapi, ada sesuatu yang ingin kulakukan." ucap Yuna. "Jika statusku masih karyawan, aku takut akan muncul kesenjangan diantar karyawan lainnya." lanjutnya.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Refa, dia mengerti dengan apa yang Ayuna sampaikan.
"Awasi siapa saja yang berani-berani menggoda suamiku. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati milikku." Refa menertawakan kecemburuannya.
"Aku baru tahu kalau kamu seposesif ini." ucapnya.
"Itu karena aku begitu mencintainya. Aku gak rela ada bibit-bibit pelakor diantara kami." Yuna teringat dengan apa yang Angela lakukan kemarin.
"Siap, Nyonya! Saya akan menuruti perintah anda." Ayuna beenapas lega. "Tapi, dengan satu syarat!" Refa cengegesan.
"Apa?" tanya Yuna.
"Kamu harus pastikan kalau tuan Al tidak akan pernah mendepakku dari perusahaan ini. Aku butuh jaminan masa depan." lanjutnya.
"Kamu tenang saja! Selama pekerjaanmu bagus, aku jamin Al tidak akan memecatmu." Yuna menyanggupinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Al saat melihat mereka.
"Tidak ada." jawab Yuna.
"Ayo, masuk!" Ayuna segera mengikuti Al, sementara Jo langsung menuju ruangannya.
"Ini untukmu!" Al meletakkan bungkusan yang dia bawa.
"Apa ini?" tanyanya.
"Bukalah!" Ayuna segera membuka paperbag itu dan melihat kotak kue dari toko yang dia kenal. Ayuna langsung sumringah saat melihat isi dalam kotak itu.
"Terima kasih, Suamiku!" ucapnya dengan nada manja.
"Apa aku tidak mendapatakan apapun?" tanya Al. Ayuna mendekat dan segera duduk di pangkuan Al.
"Aku mencintaimu." ucapnya sambil mengecup pipi Al, Ayuna beranjak dari pangkuan Al dan langsung menyerbu kue berwarna merah itu.
"Enak?" tanya Al, dia mengangguk.
"Kamu mau?" tawarnya.
"Untukmu saja. Biar, badanmu semakin berisi." jawabnya. Ayuna hanya memajukan mulutnya.
🍀🍀🍀
"Tuan, ini email baru dari Earth Corp." Jo memberika tabletnya pada Al.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka meminta kita untuk mengubah designnya?" Alvaro terlihat sangat kesal.
"Tuan Smith tidak menyukai design kita yang sebelumnya, Tuan." lapor Jo.
"Lalu, apa yang dia inginkan?" tanya Al.
"Ini." Jo kembali memberikan tabletnya. Alvaro membaca email yang dikirimkan oleh Kai.
"Aku sudah menduga tidak akan semudah itu bekerja sama dengan mereka. Aku sangat penasaran seperti apa pria itu." ucap Al setelah membaca semua permintaan kliennya. "Apa kamu sudah mendapatkan info tentangnya?" tanyanya.
"Tidak banyak yang bisa saya dapatkan, Tuan. Dia menutup rapat semua kehidupan pribadinya. Yang saya tahu dia dulunya berkuliah di LBS." jawab Jo.
"Fotonya?" tanya Al, Jhosua menggeleng.
"Bukankah dia salah satu pengusaha berpengaruh di luar sana, lalu kenapa tidak ada satupun berita maupun foto yang dipunyai media?" tanya Al.
"Dia sangat tertutup, Tuan. Hanya orang-orang terdekatnya yang tahu siapa dia. Selebihnya, dia akan mengutus orang kepercayaannya untuk mengurus semuanya." Jhosua menjelaskan info yang dia dapat mengenai Bumi.
"Orang seperti itu pasti punya banyak musuh. Itu sebabnya, dia tidak pernah maju kehadapan lawan." Al mencemoohnya.
"Siapa yang kalian bicarakan?" Ayuna tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"CEO Earth Corp." jawab Al.
"Kenapa lagi dengan Angela?" tanya Yuna.
"Sayang, dia itu bukan CEO." Ayuna terkejut.
"Kenapa bisa? Bukankah, kemarin dia yang menandatangi Mou kalian?" Yuna terlihat bingung.
"Salahku tidak memeriksanya lebih jauh. Angela itu hanya orang kepercayaan tuan Smith." jelasnya.
"Lalu, apa ada masalah dengan kerja sama kalian? Maksudku, apa mereka menipumu?" Al menggeleng mendengar pertanyaan Yuna. "Terus, kenapa?"
"Aku tidak suka caranya yang bermain di belakang." jawab Al.
"Intinya kamu gak dirugikan. Jadi, untuk apa diambil pusing? Mungkin dia punya alasan melakukan itu." ucao Yuna.
"Aduh, istriku ini sudah semakin bijak." puji Al.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya." Jo segera keluar dari sana.
"Al, aku sudah mengambil keputusan. Mulai besok aku akan berhenti." Al terkejut mendengarnya.
"Kamu yakin?" tanyanya. Yuna mengangguk.
"Tapi, apa aku boleh melakukan kegiatan sosial? Aku ingin aktif memberikan bantuan pada anak-anak yang kehilangan orangtuanya?" izinnya.
"Tentu saja. Kamu boleh melakukan apa saja." Yuna senang Al memberinya izin.
"Apa jawaban mereka?" tanya Bumi.
"Mereka setuju untuk mengubahnya." ucap Kai.
"Bagus! Aku ingin lihat seperti apa kemampuan penerus Ivander itu." Bumi memutar kursinya menghadap kaca besar yang ada di belakangnya.
~tbc