
"Oma, kenal dengan kakek?" Al menengahi mereka.
"Ya, aku sangat mengenalnya." oma menatap Hans, tapi semua orang bisa melihat tatapan yang oma berikan pada Hans bukanlah tatapan bersahabat.
"Bagaimana bisa?" Al masih penasaran.
"Itu tidak penting, hubunganku dengannya adalah masalalu. Yang terpenting saat ini adalah kalian." jawab oma.
"Oma, lebih baik oma duduk dulu." Ayuna mencoba membujuk oma.
"Jadi, kenapa kau tidak merestui mereka?" setelah duduk, oma masih menuntut jawaban darinya.
"Aku hanya berusaha menjaga keutuhan keluargaku." jawabnya.
"Memangnya apa yang dilakukan cucuku sehingga kau sebegitu takutnya, dia akan menghancurkan keluargamu?"
"Dia menjadi rebutan kedua cucuku." oma Tyas bergantian menatap Al dan Yuna.
"Mahen, cucu keduaku juga mencintai cucumu." Hans menatap oma.
"Ternyata takdir masih sama ya." Al dan Yuna tidak mengerti apa maksud perkataan oma. "Dan kau masih tidak berubah sedikitpun." lanjutnya.
"Tasya, harusnya kamu bisa mengerti. Aku tidak ingin hubungan mereka membuat Mahen hancur." ucap Hans.
"Kenapa kau malah menyalahkan mereka? Apa salahnya jika mereka saling mencintai?" tanya Oma.
"Tasya, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama." oma menatap Hans tajam, saat ini Al dan Yuna tidak bisa ikut campur.
"Bagaimana ini?" bisik Yuna.
"Kita biarkan saja, sepertinya masalah mereka lebih pelik dari kita." jawab Al dan Yuna mengangguk setuju.
"Sayang, apakah kamu mencintai cucunya yang lain?" oma beralih menatap Yuna.
"Aku dan Mahen hanya berteman, Oma." jawab Yuna. Al mengenggam tangannya.
"Sudah dengar? Cucumu yang salah, harusnya kau menjelaskan padanya, bukan malah berusaha memisahkan mereka." Oma kembali menyerang Hans.
"Aku hanya ingin kedua cucuku bahagia." Hans menunduk lemas. Al terkejut dengan sikap Hans, baru kali ini dia melihat kakeknya tidak bisa berkata apa-apa di depan seseorang, itupun seorang wanita.
"Keputusanmu ini tidak akan membuat mereka bahagia. Al mencintai Yuna, jika kau memisahkan mereka maka Al yang akan terluka." jawab Oma.
"Tapi, jika mereka bersama Mahen yang akan terluka." sela Hans.
"Apakah cucumu masih bocah? Apakah dia tidak bisa mengobati lukanya sendiri? Dia seorang lelaki, jadi bertindaklah seperti pria sejati." oma masih emosi. "Katakan pada cucumu, jangan jadi pengecut!" ucapan oma sangat sarat makna. Entah kepada siapa dia tujukan, Mahen ataukah Hans. Al masih menelaah apa yang sedang terjadi didepannya.
"Hubungan apa yang mereka miliki?" Al bertanya-tanya.
"Aku tetap tidak bisa menyetujui mereka!" ucap Hans. "Aku tidak bisa melihat cucuku bahagia diatas derita adiknya sendiri." jelasnya.
"Apa kau sadar dengan yang kau katakan?" Hans menatap Oma. "Kau mengulang kesalahan yang sama." tekannya. "Dulu kau menghancurkan hidupku, dan kini kau mau menghancurkan hidup cucuku?" Ayuna dan Al terkejut dengan fakta yang baru saja mereka dengar.
"Bukan, begitu, aku ...!"
"Cukup, Hans! Dulu aku terima keputusanmu, tapi kali ini tidak. Aku tidak akan membiarkan cucuku terluka dengan keputusan bodohmu itu." Oma berdiri dari kursinya.
"Jika kau tidak merestui mereka, maka aku yang akan menikahkan mereka. Persetan dengan keputusanmu." semua terkejut dengan keputusan oma. "Ayo sayang, kita pulang!" oma menarik tangan Yuna dan membawanya keluar dari sana. Al membiarkan mereka pergi, karena masih ada yang ingin dia bicarakan dengan Hans.
"Jadi, itukah alasan kakek ingin memisahkan kami?" tanyanya.
"Apakah itu salahku?" tanya Al lagi. "Aku tidak pernah meminta semua ini. Kakek yang memberikannya padaku. Jika dia menginginkannya dia boleh ambil semua." Hans terdiam.
"Cintanya pada Yuna tulus." ucapnya.
"Begitupun denganku, aku mencintainya melebihi dia." Al tidak mau kalah. Dia tidak terima jika di bandingkan dengan Mahen. "Dia baru mengenalnya beberapa bulan belakangan ini, sementara aku sudah mencarinya selama 10 tahun. Aku yakin kakek sudah tahu itu." Hans tidak dapat menyembunyikannya dari Al, Alvaro yakin bahwa Hans pasti sudah mencari tahu latar belakang Yuna.
"Jadi, berhentilah mengatakan jika Mahen menderita." ucap Al dengan emosi. "Dia yang lebih menderita, karena aku dia harus kehilangan orangtuanya. Bukannya berterima kasih, kakek malah terus menyakitinya?" ucap Al. "Jadi berhenti menganggunya, karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi termasuk kakek." Hans terdiam, dia hanya bisa menatap punggung Al sudah menjauh darinya.
🌺🌺🌺
"Oma, apa yang sebenarnya terjadi?" begitu mereka sampai di apartemen, Yuna meminta penjelasan dari oma Tyas. Oma menghela napas panjang, dan menatap Yuna begitupun dengan Al yang saat ini sedang duduk di depannya.
"Semua ini terjadi saat kami masih menjadi mahasiswa. Saat itu oma, kakekmu dan Bima berkuliah di PTPG Malang." Oma mulai bercerita.
"Yang oma maksud Bima itu, apakah opa Bima yang aku kenal?" tanya Al sebelum oma Tyas melanjutkan.
"Benar, Dia sepupu kakekmu." ucap Oma, Al semakin penasaran tentang hubungan mereka bertiga. "Saat itu kami bertiga adalah sahabat, tapi lambat-laun mulai muncul rasa yang berbeda diantara oma dan opamu." Ayuna dan Al tidak lagi bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.
"Oma dan opa Bima pernah menjalin kasih?" tanya Yuna, dan Oma Tyas mengangguk. Ayuna semakin terkejut, begitupun dengan Al.
"Kami saling melengkapi, saling berbagi asa dan mulai merangkai masa depan berdua. Tapi, semuanya kandas saat Bima tahu bahwa Hans juga mencintaiku. Dia tidak ingin melukai hati Hans, sehingga dia memilih untuk meninggalkanku dan menikah dengan wanita pilihan orangtuanya." ada nada kecewa saat oma menceritakan kisahnya.
"Tapi, opa Bima tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya." ujar Al.
"Dia tidak menikah?" oma terkejut dengan kabar yang Al katakan.
"Iya, Oma, Opa tidak pernah menikah. Padahal dari cerita yang aku dengar, sudah banyak gadis yang dijodohkan dengannya, tapi opa menolak mereka semua. Apa oma tidak tahu?" Oma Tyas menggeleng.
"Sejak dia mengakhiri hubungan kami secara sepihak, aku tidak lagi pernah berhubungan dengannya ataupun mencari tahu bagaimana hidupnya." jawab Oma.
"Mungkin beliau terlalu mencintai oma, hingga tidak ada tempat untuk wanita lain di hatinya." ucap Yuna. Oma Mengenggam tangannya.
"Semua hanya masalalu, oma tidak menyesalinya, oma beruntung bertemu dengan opamu. Kami diberi kebahagian dengan kehadiran papamu dan juga dirimu."ucapnya. Ayuna segera memeluk wanita yang sangat dia sayangi.
"Jadi, mulai saat ini kamu tidak boleh lemah." ucapnya pada Yuna. "Perjuangkan apa yang menurutmu benar. Jika kalian saling mencintai, jangan biarkan orang lain mengendalikan hati dan pikiran kalian. Cinta itu bukan kesalahan, yang salah adalah mereka yang masuk ke dalam hubungan orang lain." Oma Tyas menasehati keduanya. "Untuk, Hans kalian tidak perlu pikirkan. Aku yang akan menghadapinya. Aku tahu harus bagaimana menghadapi pria bodoh itu." Al dan Yuna saling pandang. Setelah bercerita panjang lebar, oma Tyas kembali ke kamarnya.
"Aku masih tidak percaya!" ucap Al saat hanya ada mereka berdua di ruang tamu.
"Aku juga." ucap Yuna.
"Bagaimana bisa takdir seperti ini?" Al menoleh padanya.
"Entahlah, kita tidak tahu seperti apa rencana tuhan." jawabnya.
"Tapi, aku senang, akhirnya kakek tua itu memiliki tandingan."
"Hus, kamu ngomong apa sih?" Ayuna memukul lengannya.
"Kenapa? Aku hanya senang, akhirnya ada yang mampu menjinakkan pria tua yang angkuh dan menyebalkan itu."
"Yah, 11 12 lah dengan cucunya." melihat Al melotot padanya, Yuna segera menjauh dari Al.
"Mau kemana kamu?" teriaknya, saat melihat Yuna mulai menghilang di balik pintu kamarnya. "Buka!! Sayang buka!!" Al mengedor-gedor pintu kamar Yuna. "Awas, kamu ya!" ancam Al.
"Lihatlah, bagaimana mereka saling mencintai. Kenapa kau tega untuk memisahkan mereka?" Oma tersenyum mendengar Al dan Yuna yang beradu argumen di depan pintu kamar.
~tbc