CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 20



Namun, bukarnya menyetujui, Antonio justru menolaknya. "Aku akan mengantarmu ke panti asuhan lalu kita pulang."


"Apa?" gumam Manda refleks menatap Antonio Senyum simpul pun mengembang di kedua sis


bibir Celine


Bagus, Antonio. Mama tahu, Nok. Kamu jugo


menyukai Manda, batin Celine


Enak aja kamu menyuruhku pulang, sementara kamu nanti bisa berduaan dengan lelaki itu di sana, pikir Antonio.


Merasa tidak punya dalil untuk menolak lagi, akhirnya Manda menerima takdirnya ikut pulang bersama Antonio. Hubungan keduanya yang semakin dingin tentu membuat jarak di antara mereka kembali renggang


Bahkan, sepanjang perjalanan menuju panti asuhan pun keduanya masih diam. Bertahan dengan ego mereka masing-masing. Kesunyian tampak jelas terasa di dalam mobil.


Satu panggilan telepon berdering masuk di ponsel


Antonio. Dia biasa menggunakan wireless bluetooth yang


961 CEO Bucin-Missecha


langsung terkoneksi ke mobilnya tanpa harus memegang ponsel.


Nadine, batin Antonio.


Dia pun menekan tombol aktif untuk bisa berbicara dengan lawan bicara di seberang telepon.


"lyah, Nadine," ucap Antonio


Dia berbicara sangat lembut kepada wanita lain


batin Manda.


"Antonio! Makasih buat hari ini, yal Kamu udah belin aku baju, tas, dan sepatu," seru Nadine dengan suara riangnya.


Tentu saja ucapan Nadine bisa didengar jelas oleh Manda. Dia memilih memalingkan wajah dan menatap jalanan di luar. Pikirannya berjalan ke mana-mana, tetapi tidak bisa dipungkiri hatinya benar-benar terasa sakit.


Apalagi kini nama 'Antonio' yang sudah tersemat di


...dalam hatinya sedang bermesraan dengan wanita lain....


Jangan nangis, Manda. Untuk apa kamu


menangis? Jangan nangis. Ya, Tuhan! Air mataku ...


tolonglah berhenti, ucap Manda di dalam hati


97 CO B.tin - Missech


Antonio refleks menengok ke arah Manda yang


memalingkan wajah. Telinganya tidaklah tuli untuk menangkap suara-suara seperti orang menangis.


"Hmmm, Nadine. Aku lagi di jalan. Aku tutup ne.


"Oh, oke. Baiklah, Antonio. Sampai bertemu lagi,"


balas Nadine.


Tut tut ... (Sambungan telepon pun terputus) Kring .. (Kini dering ponsel Manda yang berbunyi) "Halo, Bu Angel? Hmmm, Manda sudah di jalan.


Tujuh menit lagi mungkin sampai, Bu."


Suara Manda mendadak menjadi parau dan para


serak. Antonio bisa menangkap itu dengan indera pendengarannya


"Baby Niel kenapa, Bu?" tanya Manda cemas.


"lbu, sabar, yah. Manda akan segera sampai." Usa berbicara, Manda pun menutup teleponny


Mobil tiba di depan panti asuhan. Di sana sudah berdiri Bu Angel yang sedang menggendong anak kecil berusia sekitar 1 tahun 3 bulan bernama Baby Niel. Di amping Bu Angel ada juga beberapa pengasuh panti


san


suhan.


981 CEO Bucin- Missecha


Manda langsung membuka pintu mobil dan mengecek keadaan batita kecil yang digendong Bu Angel.


"Baby Niel kenapa, Bu?"


"Badannya panas tinggi, Manda. Sudah ibu kasih obat, tapi panasnya belum turun juga," ucap Bu Angel cemas


Antonio pun ikut turun dan menghampiri sang


istri.


"Selamat malam.


"Oh, malam, Pak," jawab Bu Angel


"bu takut, Manda," lirih Bu Angel


"Ada apa, Bu?" tanya Antonio.


"Hmmm, ini .. Pak. Baby Niel badannya panas tinggi. Tadi sempat kejang, Pak."


Mendengar dan melihat raut cemas di wajah Bu


Angel, Antonio pun memutuskan untuk membawa Baby


Niel ke dokter. "Kita bawa ke dokter saja," serunya.


"Apakah boleh?"


99 CEO Bucin - Missecha