
“Diam!!” bentak salah satu penjaga padanya.
“Lepasin aku!” Ayuna masih terus memberontak, berusaha melepaskan diri.
“Percuma saja! Kau tidak akan bisa melepaskan ikatan itu.” Ucapnya.
“Apa yang kalian mau?” tanya Yuna.
“Makanlah!” salah satu dari mereka meletakkan makanan di dekatnya.
“Bagaimana aku bisa makan, dengan mata tertutup dan tangan terikat seperti ini?” geramnya.
“Gimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Buka ikatan dan penutup matanya.” Ucap yang lain. Pria itu melaksanakan perintahnya, dia membuka ikatan Yuna, kemudian penutup matanya.
Saat membuka matanya, Ayuna segera melihat ke sekelilingnya. Ayuna hanya bisa menebak kalau dia berada di sebuah rumah atau apartemen. Dia disekap di sebuah kamar kecil yang tidak memiliki jendela. Dia hanya bisa mendengar suara bising dari luar. Di kamar itu Hanya terdapat satu tempat tidur kecil dan kursi tempat dia sebelumnya terikat, dan ada satu kamar mandi.
“Makanlah!” pria tadi menyodorkan sebuah bungkusan, yang sudah pasti isinya nasi. Ayuna menatap tajam pada pria itu.
“Siapa kalian?” tanya Yuna.
“Kau tidak perlu tahu.” Jawabnya.
“Ayo, makan!” perintahnya. Ayuna tidak menanggapinya, dia hanya menatap bungkusan itu tanpa mau mengambilnya.
“Tinggalkan saja! Kalau lapar dia pasti makan.” Ucap pria berbadan besar yang berdiri di depan pintu. Mereka berjalan keluar dan memgunci pintu dari luar.
Ayuna melihat ke sekelilingnya, dia berharap ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan diri. Tapi nihil, karena mereka sudah menyingkirkan apapun dari sana.
“Al ...!” Ayuna menangis, dia tahu tidak ada yang bisa dia perbuat saat ini.
“Tuan, sebaiknya kita lapor polisi.” Ucap Jo. Alvaro tidak mengatakan apapun, dia seperti kehilangan arah tidak tahu harus berbuat apa.
“Bagaimana hasil rekaman cctv di lokasi kejadian?” Al tiba-tiba teringat akanhal itu.
“Saya sudah periksa, tapi sepertinya mereka sudah tahu titik cctv di sekitar sana. Tidak ada yang bisa kita dapatkan, Tuan.” Jawab Jo.
“Apa yang harus kita lakukan, Jo?” Al sangat mengkhawatirkan keadaan Yuna.
“Sebaiknya anda istirahat, Tuan. Besok pagi kita lanjutkan pencarian.” Jo
menyarankan itu karena melihat keadaan Al yang begitu memprihatinkan.
“Aku tidak akan bisa tenang sebelum Ayuna ditemukan.” Tolaknya.
“Dimana Candra?”
“Dia masih berada di hotel. Belum ada pergerakan darinya sama sekali.” Lapor Jo.
“Dia pasti tahu saat ini kita mengawasinya.” Jawab Al. “Leo?”
“Diapun tidak terlihat keluar dari sana, Tuan.” Al terlihat berpikir, dimana kira-kira mereka menyembunyikan Yuna.
“Dimana mereka menyembunyikannya?” Al masih menebak-nebak tempat yang biasa Candra datangi.
🍀🍀🍀
“Ma ...?” Soraya membuka matanya dan saat dia menoleh dia melihat Mahen duduk disebelahnya.
“Sayang!” Soraya duduk dan memeluknya.
“Bagaimana keadaan, Mama?” tanyanya lembut.
“Mama tidak apa-apa. Apa kamu sudah bertemu dengan papamu?” tanyanya. Mahen mengangguk.
“Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?” rasa cintanya yang begitu dalam membuat Soraya melupakan semua perkataan Hans.
“Iya, mama tidak perlu khawatir. Papa baik-baik saja.” Soraya bernapas lega.
“Mama tidak percaya kata-kata kakekmu. Tidak mungkin papamu melakukan itu. Kita tahu seperti apa papamu itu.” Ucapnya. Mahen menggenggam tangannya.
“Ma, tapi kata-kata kakek tidak sepenuhnya salah.” Soraya menoleh padanya.
“Apa maksudmu? Kamu juga mencurigai papamu?” dia terlihat kesal mendengar ucapan putranya.
“Tapi, Ayuna memang menghilang, Ma.” Ucapnya, Soraya terdiam.
“Ma, aku yang mengajaknya untuk bertemu. Itupun atas permintaan dari papa.” Soraya sangat terkejut. “Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi, kenapa papa tiba-tiba ingin bertemu dengannya? Apa papa memang menggunakanku untuk menangkap Ayuna? Karena sejak Ayuna memberitahu mengenai Leo, Al tidak pernah membiarkan pergi sendiri. Apalagi untuk menemui papa seorang diri. Tapi, papa malah memintaku untuk merahasiakannya. Dia ingin bertemu Yuna, dengan syarat Ayuna tidak boleh tahu bahwa itu permintaannya. Coba mama pikir, apa ini masuk akal?” Soraya mencerna setiap perkataan Mahen. Jika sebelumnya dia tidak mempercayai ucapan Hans, maka tidak dengan Mahen.
Putranya tidak akan mengarang cerita.
“Jadi, menurutmu papa memang terlibat?” tanyanya.
“Aku rasa seperti itu. Untuk itu aku harus membuktikannya sendiri.” Ucapnya.
“Kalau memang papamu terlibat, kita harus menghentikannya. Jika memang papamu adalah dalang penculikan Al dulu, saat ini Ayuna berada dalam bahaya.” Soraya mulai mengkhawatirkan Ayuna. Dia teringat dengan kecelakaan yang menimpa Al dulu.
“Apa mama tahu tempat yang biasa papa kunjungi?” Soraya menggeleng.
“Tidak ada tempat special untuknya. Papamu hanya sering berkunjung ke panti asuhan tempat dulu dia dibesarkan.” Jelas Soraya.
“Panti asuhan?” Mahen terkejut, dia baru tahu kalau ternyata papanya dibesarkan di panti asuhan.
“Iya, panti asuhan Mutiara Bunda.” Jawabnya.
“Besok pagi aku akan mencari tahu kesana.” Jawabnya, Soraya setuju.
“Sekarang mama istirahatlah! Tidak perlu memikirkan apapun.” Mahen membantunya kembali berbaring. Setelah itu, dia keluar dari kamar Soraya.
“Bagaimana mamamu?” tanya Hans saat melihatnya berjalan keluar.
“Sudah jauh lebih baik.” Jawabnya.
“Apa kau masih mempercayai papamu?” tanya Hans.
“Tentu saja, Dia papaku!” jawabnya.
“Bukankah kau mencintai Yuna? Apa kau tidak mengkhawatirkannya? Bagaimana jika papamu melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawanya?”
“Papaku bukan orang seperti itu.” Jawab Mahen.
“Aku hanya tidak mau kau menyesal.” Hans memegang bahunya.
“Aku tidak akan menyesali apapun. Papaku tahu betapa aku sangat mencintai Yuna, jadi dia tidak akan mungkin melakukan itu padanya.” Mahen meninggalkan Hans begitu saja.
“Apa yang tante lakukan?” langkahnya terhenti saat melihat Monika berada di anak tangga.
“A-aku ...” Monika mengenggam erat ponsel yang ada ditangannya. “Aku mau ke dapur.” Dia bergegas menuju dapur.
Mahen menatap curiga padanya, kemudian dia menoleh ke belakang. Hans masih berdiri di tempat yang sama. Tatapan mereka menyiratkan sebuah pesan, yang hanya diketahui oleh mereka.
🍀🍀🍀
“Hampir saja aku ketahuan oleh putramu.” Ucap Monika di telepon.
“Apa dia mencurigaimu?” tanyanya.
“Tidak.”
“Apa yang kau dapatakan?” tanya Candra.
“Kau bisa melihat video yang kukirim tadi. Beruntunglah kau putramu tidak mempercayai mereka. Tapi, sepertinya dia benar-benar mencintai wanita itu.” Monika memberikan informasi tentang yang terjadi di rumah utama padanya. “Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.
“Aku tetap pada rencana awal.” Jawabnya.
“Tapi, bagaimana jika putramu tahu?”
sela Monika.
“Kau tenang saja. Jika kau bisa menutup mulutmu itu, tidak ada yang akan tahu. Jangan lupa besok datanglah ke tempat biasa.” Dia segera mematikan sambungan telepon itu.
Candra melihat video yang Monika kirimkan. Disana terdapat rekaman perdebatan antara Mahen dan Hans.
“Aku tidak ingin melukaimu." ucapnya saat melihat Mahen. "Tapi, jika dia kubiarkan hidup, maka dia akan menjadi masalah terbesar untuk hidupku.” lanjutnya saat mendengar mereka membahas mengenai Ayuna.
Candra memeriksa rekaman cctv yang ada di ponselnya. Dalam rekaman itu terlihat Ayuna sedang berjalan mondar-mandir. Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya.
"Hey! Lepaskan aku!" Ayuna kembali berteriak. "Kalian dengar aku tidak? Keluarkan aku dari sini!" Ayuna berteriak sambil terus mengedor-gedor pintu.
"Teruslah berteriak sampai suaramu habis. Tidak ada satu orangpun yang akan mendengarnya." Candra tertawa melihat ketidakberdayaan Ayuna.
~tbc