CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 201



"Tuan, biar saya yang mengantar anda." Jhosua menahan Al yang akan mengemudi mobil. Alvaro dengan cepat berjalan ke kursi disamping kemudi.


"Secepatnya ke Earth Corp!" perintahnya. Jhosua mengerti dan segera memacu mobilnya menuju kantor Bumi.


"Sudah kutebak, dia pasti menyembunyikan istriku!" omel Al. M


Setelah 25 menit perjalanan mereka tiba di kantor Bumi. Sepanjang jalan, Al terus saja mengerutu. Jhosua dengan sabar mendengarkan segala sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Begitu tiba di depan pintu masuk, Alvaro bergegas masuk.


"Dimana ruangan tuanmu?" tanyanya pada reseptionis.


"Apa anda sudah punya janji sebelumnya?" tanya wanita muda itu.


"Katakan saja dimana tuanmu?" bentak Al, wanita itu terkejut, wajahnya pucat.


"L-lantai 3, Tuan." ucapnya dengan waja ketakutan. Tanpa menunggu lagi, Al segera berlari menuju lift.


"Kamu kenapa?" tanya rekan wanita yang baru saja tiba.


"Dia baru saja membentakku!" tunjuknya pada Alvaro yang sudah memasuki lift. Jhosua yang mendengar itu, bergegas menghampiri kedua wanita itu.


"Dimana tuan Bumi?" tanya Jo pelan. Mereka menatapnya, kemudian saling pandang.


"Tuan ada di ruangannya." jawab wanita berkemeja satin berwarna navy.


"Dimana ruangannya?" tanya Jhosua lagi.


"Lantai 3, Tuan." jawabnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Jhosua segera menuju lift.


"Ada apa ini? Kenapa mereka mencari tuan Bumi?" tanyanya, wanita yang masih pucat itu menggeleng.


"Bumiii!!!" Al berteriak di depan pintu ruangannya. Alvaro tidak bisa masuk karena sekretaris Bumi menghalanginya. "Bumi, keluar kau!" Al kembali berteriak.


"Maaf, Tuan! Anda tidak bisa membuat keributan disini." ucap wanita berambut pendek sebahu itu. Alvaro tidak menghiraukannya. Saat akan berteriak lagi, pintu ruangan Bumi terbuka.


"Silahkan, Tuan!" ucap Kai. Alvaro masuk dan sedikit mendorong tubuh Kai. Jhosua yang baru keluar dari lift, melihat Al memasuki ruangan Bumi. Diapun segera mengejar Bumi.


"Kau terlambat!" ucap Bumi saat melihat Al mendekat.


"Sialan kau!! Dimana istriku??" Alvaro menarik kerah kemeja Bumi sehingga membuat pria itu berdiri.


"Bersikaplah yang sopan!" Bumi menghempaskan tangan Al dari bajunya.


"Cepat katakan dimana istriku? Sejak awal aku tahu, kau yang menyembunyikannya." Alvaro kembali maju, tapi Kai melindungi Bumi. "Minggir kau!" Al melayangkan tinjunya tepat di wajah Kai.


"Tuan!!" ujar Jo.


"Minggir!!" teriaknya.


"Kau tidak akan mendapatkan apapun, jika masih berlaku seenakmu." ucap Bumi sambil membantu Kai. "Kau tidak apa-apa?" tanya Bumi, Kai menggeleng.


"Harusnya sejak awal aku menghajarmu. Sudah kuduga kau menyembunyikan Ayuna." Jhosua masih menahan Alvaro.


"Aku juga baru mengetahui keberadaannya. Jika bukan karena saat ini dia sedang hamil, aku tidak akan memberitahumu apapun." mata Al membesar.


"Bagaimana kau tahu kalau istriku sedang hamil?" tanyanya, Al melepaskan tangan Jo.


"Sejak awal aku sudah tau. Apa kau masih layak untuk disebut suami? Kau bahkan tidak memberinya kesempatan untuk memberitahu kabar baik itu." Alvaro terdiam. "Dia pingsan saat bersamaku. Aku membawanya ke rumah sakit. Disana, aku tahu bahwa Ayuna sedang mengandung. Saat itu dia begitu bahagia, tapi karena kecemburuanmu, kau malah mengabaikannya." Bumi menjelaskan semua kesalahpaham diantara mereka.


"Semua ini salahmu!" Alvaro mulai terlihat tenang.


"Jangam salahkan aku atas ketidakmampuanmu." ucap Bumi. Dia berjalan menuju sofa, Al mengikutinya.


"Kalau saja kau tidak menganggu istriku, semua tidak akan menjadi seperti ini." Al menatap tajam padanya, Bumi tersenyum tipis.


"Harusnya kau berterima kasih padaku, aku menjaga istrimu disaat kau tidak ada." ledeknya.


"Tidak perlu bertele-tele! Katakan saja dimana kau menyembunyikan istriku?" Al tidak ingin mendengar Bumi meledeknya terus-terusan.


"Aku juga baru tahu dia disana." jawabnya.


"Jangan bohong!" suara Al mulai meninggi.


"Kalau dia memang bersamaku, untuk apa aku memberitahumu. Lebih baik aku membawanya jauh darimu." rahang Al kembali mengeras.


"Kau!!!"


"Ayo, Jo!" ucapnya.


"Al ...." dia menoleh saat mendengar Bumi memanggilnya.


"Jika kau kembali menyia-nyiakannya, maka aku tidak akan memberimu kesempatan lagi." setelah mendengar ancaman Bumi, Al segera pergi dari sana.


"Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya." ucap Bumi lirih. Kai hanya menatapnya dalam diam.


🍀🍀🍀


"Kenapa aku tidak boleh masuk?" Andreas memaksa masuk ke kamar tamu di rumah Cleo.


"Lebih baik kau pulang ke apartemen." usirnya. Andreas menatap tajam pada Cleo yang berdiri menghalangi pintu masuk.


"Apa yang kau sembunyikan di dalam?" Andreas mulai curiga.


"Aku tidak menyembunyikan apapun." jawabnya.


"Jangan bohong! Gelagatmu mencurigakan." Andreas menarik tangan Cleo.


"Lepaskan aku!" Cleo bersikeras tidak mau bergeser dari sana.


"Apa kau menyembunyikan pria lain di dalam sana?" dia masih berusaha membuat Cleo menjauh dari sana.


"Tutup mulutmu! Memangnya aku itu kau!" Cleo tidak terima dituduh yang bukan-bukan olehnya.


"Makanya minggir!!" Andreas mendorong Cleo hingga menjauhi pintu kamar. Andreas mencoba membukanya, tapi pintu itu terkunci.


"Mana kuncinya?" tanyanya.


"Kunci apa? Kamar itu rusak, itu sebabnya tidak bisa dibuka." jawab Cleo. "Syukurlah, Ayuna mengunci pintunya."


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja?" setelah mengatakan itu, Andreas mendobrak pintu dengan tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Cleo. "Kau akan merusak pintuku." Andreas tidak menghiraukan perkataannya. Hatinya memanas membayangkan Cleo menyembunyikan pria lain di dalam sana.


"BRAK!!" pintu itu terbuka, Andreas segera masuk untuk mencari simpanan istrinya itu.


"Dimana kau ...., Ayuna??" dia sangat terkejut karena mendapati Ayuna di kamar itu. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Hi!!" Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. "Apa semua ini ulahmu?" dia menoleh pada Cleo.


"Ini bukan kesalahan Cleo, dia malah membantuku. Jika dia tidak ada, entah aku harus kemana." jawabnya.


"Apa kau tahu, saat ini Al sudah seperti orang gila mencarimu." ujar Andreas. "Bagaimana kalau dia sampai tahu, bahwa kau ada disini?" Andreas menatap Yuna dan Cleo bergantian.


"Jika kau tidak membuka mulut, aku yakin dia tidak akan tahu." jawab Yuna.


"Kau tidak bisa ada disini. Ayo, aku akan mengantarmu pulang." ujarnya.


"Aku tidak mau!" tolak Yuna.


"Apa yang kau katakan? Apa kau tidak mengkhawatirkan Al dan juga bayimu?" Yuna terdiam.


"Dia bahkan tidak peduli, aku hamil atau tidak." jawabnya ketus.


"Kau salah! Dia sangat peduli. Dia benar-benar menyesali sikapnya padamu." Yuna mengangkat kepalanya. "Ayolah!" bujuknya lagi. "Kalau dia tahu kau disini, dia bisa membunuhku. Dia pasti berpikiran aku yang menyembunyikanmu." Andreas terus berusaha menyakinkan Yuna untuk pulang.


"Baiklah!" Yuna setuju. Dia mendekat pada Cleo. "Sepertinya aku harus pulang." Cleo mengangguk.


"Jika terjadi sesuatu, kau bisa menghubungiku." ucap Cleo. Ayuna mengangguk, kemudian mereka berpelukan.


"Urusan kita belum selesai!" ucap Andreas saat dirinya melewati Cleo. Sementara Ayuna sudah terlebih dahulu keluar. Cleo mengikuti mereka dari belakang. Setelah berpamitan pada Bi Ita, Yuna dan Andreas berjalan menuju pintu keluar. Cleo mengantar mereka. Ayuna tidak membawa apapun kecuali ponselnya.


"Ayo!" Andreas membuka pintu, tapi dia dikejutkam dengan keberadaan Al dan Jo disana.


"Kau?? Apa yang kau lakukan di ...." Al kaget karena mendapati Ayuna disana. "Jadi semua ini ulahmu! Bruk!!" Al melayangkan tinjunya ke perut Andreas.


"Al!!" teriak Yuna.


~tbc