CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 182



"K-kamu istri Alvaro?" ulangnya.


"Iya." jawab Yuna.


"T-tapi, kenapa kamu nggak pernah cerita? Bahkan, saat aku minta tolong untuk mendekati tuan Al." Valerie masih belum percaya kenyataan yang dia dengar.


"Kamu nggak memberiku kesempatan untuk mengatakannya. Ditambah lagi, aku tidak ingin membuatmu kecewa." jelas Yuna.


"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanyanya.


"Belum genap setahun." Valerie terdiam. "Maaf, sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu. Tapi, aku juga nggak bisa membiarkanmu larut dalam perasaan yang salah." ujarnya.


"Tidak apa. Aku mengerti kenapa kamu melakukan itu." jawabnya. "Kalau begitu aku pulang dulu." Valerie berdiri. Masih terlihat kesedihan di wajahnya.


"Maafkan aku! Aku juga nggak mau kamu menjadi racun dalam rumah tanggaku." ucapnya setelah Valerie pergi. Ayuna berjalan kembali memasuki perusahaan.


"Pagi, Nyonya!" Refa yang tidak ingin kena amukan Al, mulai bersikap sopan pada Yuna.


"Pagi. Tuan Al ada?" tanyanya.


"Ada." setelah mendengar jawaban Al, Yuna segera menuju ruangan Al.


"TOK TOK TOK." Al menoleh, dan bibirnya langsung tertarik ke atas saat melihat Ayuna berjalan menghampirinya.


"Sayang." Alvaro berdiri dan memeluknya. "Gimana urusan dengan Gina?" tanyanya.


"Sudah beres." jawab Yuns. Mereka duduk di sofa.


"Aku masih ada sedikit pekerjaan. Kutinggal dulu nggak apa-apa ya?" tanyanya.


"Iya." Al kembali ke meja kerjanya. Ayuna melihat ke sekeliling ruangan. Kemudian menatap Al yang sibuk dengan kertas-kertas di depannya.


"TOK TOK TOK."


"Nyonya, barusan ada kurir yang nganterin ini." Refa meletakkan paparbag berisi makanan itu di meja. Ayuna membukanya dan mengambil satu kotak.


"Ini untukmu." Yuna menyerahkannya pada Refa.


"Nggak usah, Nyonya. Saya bisa makan di bawah." tolaknya. Refa tidak enak pada Al.


"Aku memang sengaja membelikannya untukmu." jawab Yuna. Dengan hati-hati Refa mengambil bekal itu.


"Terima kasih, Nyonya." ucapnya kemudian pamit pada Yuna dan Al.


"Sayang, ayo makan dulu!" Yuna mengeluarkan dan meletakkan kedua kotak itu diatas meja.


"Sebentar." Al kembali menyelesaikan pekerjaannya. Ayuna membiarkan Al melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu belum makan?" tanya Al setelah Yuna menunggunya selama setengah jam. Yuna menggeleng. "Kenapa belum makan?" Al duduk disebelahnya.


"Nungguin kamu." Al tersenyum dan membelai kepala Yuna.


"Apa kakek sudah sampai?" tanyanya.


"Entahlah! Dia belum mengabariku." jawab Al. Al langsung menyantap fetucinni kesukaannya itu. Ayuna selalu tahu apa yang dia sukai.


"Oh, iya, apa tadi kamu bertemu Valerie?"


"HUK!!" Ayuna memberinya air mineral.


"Dari mana kamu tahu? Apa Refa yang mengatakannya?" tanya Al.


"Aku bertemu dengannya saat di lift. Dia terlihat murung." jawabnya.


"Dia kesini untuk membahas mengenai resort." jawab Al.


"Tapi, kenapa dia murung?" tanyanya.


"Entahlah!" Al tidak ingin menceritakan apa yang terjadi. Dia tidak mau Yuna kesal, karena Al memperlakukan sahabatnya seperti tadi.


"Jadi, apa kamu sudah siapin semua yang diperlukan besok?" tanya Al.


"Sudah. Aku tadi sekalian belanja bareng Gina." Alvaro kembali ke mejanya.


"Apa kamu belum selesai?" tanya Yuna.


"Nanggung, tinggal satu ini." Al menunjukkan dokumen yang dia periksa.


"Aku ke bawah dulu ya." ucapnya.


"Mau kemana?" tanya Al.


"Divisi keuangan." Yuna segera keluar.


"Nyonya, tadi ada wanita yang nanyain anda." ucap Refa saat Yuna singgah di meja kerjanya.


"Siapa?" tanya Yuna.


"Rekan bisnis, Tuan Al. Namanya, Valerie Naomi Tan." jawab Refa.


"Oh, dia itu sahabatku!" Refa mengangguk.


"Aku ke bawah dulu ya!" Yuna segera menuju lift.


🍀🍀🍀


"Siang." semua yang berada di ruangan itu menoleh dan terkejut saat mendapati Yuna berdiri di depan pintu.


"Yuna eh Nyonya, apa yang anda lakukan disini?" ucap Karin yang menghampirinya.


"Aku ingin berbicara denganmu." mereka turun ke lantai 1. Sesampainya di coffee shop, Yuna dan Karin memesan menu yang sama. Mereka memilih duduk di tempat yang tidak begitu ramai oleh karyawan.


"Ada apa, Na?" tanya Karin.


"Mbak, besok kamu ada acara?" tanya Yuna. Besok adalah hari sabtu, dan kantor libur.


"Aku sih kalau libur biasanya di rumah aja. Kenapa?" tanyanya.


"Memangnya kenapa?" Karin tampak bingung.


"Gina besok lamaran, Mbak." Karin yang kaget sampai memuncratkan esspreso miliknya.


"Lamaran?" Yuna menganggul.


"Kenapa dia tidak memberitahuku? Apa dia tidak menganggapku teman?" Karin terdengar kesal.


"Bukan begitu, Mbak. Gina belum mau kalau orang kantor tahu bahwa dia akan segera menikah." ucapnya.


"Kenapa harus malu? Harusnya dia bangga dong bisa nikah sama tuan Jhosua." Yuna kaget, dia tidak menyangka kalau Karin tahu.


"Mbak, tahu?" Karin mengangguk. "Sejak kapan?" Yuna bingung.


"Di hari pernikahanmu." Yuna semakin ksget.


"Kalau mbak udah tau, kenapa nggak beritahu Gina?"


"Buat apa? Toh, dia nggak mau ada yang mengetahui hubungan mereka." jawabnya.


"Terus gimana? Mbak maukan datang?" tanyanya.


"Tentu saja." Yuna lega, karena Karin tidak mengatakan apapun pada karyawan lainnya. Setelah memberitahu Karin lokasi lamaran Gina, Ayuna segera kembali ke ruangan Al. Sementara Karin kembali ke ruangannya.


"Sudah?" tanya Al begitu melihatnya. Yuna mengangguk. "Ayo, kita pulang!" ajak Al. Al mengandeng Yuna dan mereka keluar dari ruangan.


🍀🍀🍀


"Kakek!!" mereka tidak menyangka Hans sudah ada di rumah. "Kapan kakek sampai?" tanya Yuna.


"Siang tadi." jawab Hans.


"Kenapa tidak mengabariku?" Al duduk disebelah Hans.


"Kamu pasti sangat sibuk. Lagipula ada Ken bersamaku." jawabnya.


"Dimana Oma?" Yuna mencari keberadaan Tyas.


"Omamu tidak ikut. Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan." Yuna terlihat murung.


"Sudah, lain kali kita pergi menemui oma." Alvaro tahu apa yang ada dipikiran istrinya.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu." Yuna beranjak dari sana.


"Gimana dengan perusahaan?" tanya Hans, selama ini dia hanya memantau dari jauh.


"Tidak ada masalah yang serius." jawab Al.


"Proyek tuan Smith?" mendengar nama Bumi disebut, Alvaro sedikit kesal.


"Pria itu terlalu banyak maunya." Al menceritakan apa yang terjadi pada Hans.


"Baguslah, kau bisa mengatasinya. Jadi, kau suda bertemu dengannya?"


"Iya." suara Al terdengar berat.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" tanyanya.


"Tidak. Keberadaannya adalah ancaman buatku." Alvaro berkata jujur. Dia bukan mengatakan tentang perusahaan. Tapi, Ayuna.


"Kenapa begitu?" Hans tampak bingung.


"Pria itu sepertinya mengincar sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku." Hans tidak percaya. Yang dia tahu Bumi memang terkenal kejam terhadap lawan bisnisnya. Tapi, dia tidak akan menyerang rekannya sendiri.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Ayuna. Dia mengincar istriku." jawabnya.


"Itu tidak mungkin." Hans tertawa, dia tidak mempercayai perkataannya.


"Aku serius." jawabnya.


"Al, aku tahu saat ini kau pasti hanya cemburu dan merasa tersaingi olehnya. Dia tidak akan mungkin menyukai istri orang. Banyak wanita yang mau dengannya." Hans masih saja menertawakan kecemburuan cucunya.


"Terserah kakek saja. Tapi, aku tidak akan tinggal jika dia mendekati istriku." Al berjalan menuju kamarnya. Hans masih tidak mempercayai ucapan Al.


🍀🍀🍀


"Wah, cantik banget kamu!" puji Yuna pada Gina yang sudah selesai didandani.


"Lo, bisa aja!" Gina tersipu, dia memperhatikan lagi tampilannya melalui cermin.


"Beneran, Na. Lamaran aja udah secantik ini, gimana sama nikahannya nanti?" Gina mengulum senyum.


"Apa aku boleh masuk?" ucap Karin dari depan pintu kamar.


"Karin ....?" Gina menoleh pada Ayuna.


"Ayo! Sini, Mbak! ajak Yuna. Karin mendekat.


"Cantik banget kamu." puji Karin saat melihat Gina yang susah menggunakan kebaya.


"Maafin gue ya! Bukan maksud gue buat nggak kasih tahu lo." Gina merasa bersalah.


"Udah, nggak apa-apa." jawabnya.


"Gimana, Mbak? Cantikkan?" tanya Yuna, Karin mengangguk.


"Cantik banget." pujinya lagi. Tak lama, mereka di minta keluar. Gina berjalan didampingi Ayuna dan Karin. Gina terlihat sangat anggun. Bahkan, Jhosua tidak mampu mengalihkan matanya dari Gina.


Acara dimulai, pihak WO yang dipilih Jo benar-benar membuat tempat itu terlihat sangat indah. Gina di dampingi oleh orangtuanya, sementara Jo, di dampingi Kakek Hans dan Tante Soraya. Soraya baru tiba malam tadi. Tanpa terasa acara telah selesai. Gina dan Jhosua sudah resmi bertunangan. Ayuna tampak ikut bahagia melihat pancaran kebahagiaan di wajah Gina.


~tbc