CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 70



Awas jangan pada esmosi bacanya yah😁


Bram berjalan keluar rumah sakit, anak buahnya sudah menunggunya didepan rumah sakit, ia menaiki mobil tersebut dan menuju kemarkasnya.


Sesampainya dimarkas Bram berjalan sedikit cepat, didalam ruangan Bram melihat seorang wanita yang duduk dikursi dengan mata dan mulut ditutup serta tangan diikat kebelakang dan tengah meronta.


Bram membuka penutup kepala tersebut dan mata Aliva berbinar melihat sosok yang ia sangat sukai ada didepannya.


Bram kemudian membuka lakban yang menutupi bibir Aliva dengan kasar.


"Aaaau..." teriak Aliva karena terasa panas dibekas lakban yang ditarik paksa oleh Bram.


"Kak Bram, kau pasti datang untuk membawaku pergi dari asisten gila itu kan kak, dia mungkin mencintaiku kak makanya dia mengikatku seperti ini dan berbohong akan membawaku padamu, sekarang tolong lepaskan aku kak, aku ingin menghajar asisten gila itu yang sudah menyakitiku" ucap Aliva dengan percaya dirinya.


Bram tertawa mendengar ucapan Aliva, sedangkan Haris hanya tersenyum devil.


"Oooh apa Haris menyakitimu sayang" ucap Bram bermain drama.


"Iya kak dia sangat menyakitiku" jawab Aliva dengan suara manja.


"Haris, berani sekali kau menyakitinya seperti ini, Aliva pasti sangat ketakutan, benar kan sayang" ucap Bram dan Aliva hanya mengangguk senang.


"Mengapa kau mengikat tangannya seperti ini Haris, harusnya kau po**ng saja tangannya seperti aku memo**ng tangan Aron" ucap Bram masih dengan nada lembut namun penuh kemarahan dan Aliva pun terkejut mendengar perkataan yang keluar dari bibir Bram, ia pun menggelengkan kepalanya mulai merasakan takut.


"Kak, kamu kenapa kak, kenapa kamu berbicara seperti itu, aku sangat takut kak" ucap Aliva dengan manja namun gugup dan takut.


"Hahaha, kau takut, kemana keberanianmu saat menabrak istriku hah"


"Aaaaaaà......." Aliva menjerit saat Bram menarik rambut Aliva hingga kepalanya mendongak keatas.


"Aku juga saat ini sedang takut adik ipar, aku sangat takut, aku sudah kehilangan calon anakku dan sekarang aku takut kehilangan istriku adik ipar, jika istriku tak selamat apa kau ingin menggantikannya" ucap Bram berubah ekspresi dari wajah marah menakutkan dan berteriak menjadi wajah sedih dan suara lembut.


"Aku akan menggantikan kakak disisimu kak, aku akan menjadi pengganti kakak yang lebih baik darinya kak" ucap Aliva merasa ada angin segar menerpanya.


"Apa kau yakin akan menjadi penggantinya adik ipar" ucap Bram dan Alivapun mengangguk senang.


"Kalau begitu jika istriku tak selamat kau bisa menggantikan nyawanya agar istriku hidup kembali dan kau saja yang mat* oke" ucap Bram dan Aliva pun menggeleng takut.


"Tidak kak, kau tidak boleh seperti itu padaku kak, aku adik iparmu dan aku sangat mencintaimu kak, kau tak boleh menyakitiku kak" ucap Aliva dengan cepat.


"Aku tak boleh menyakitimu tapi kau boleh mencelakai istriku sampai ia tengah sekarat dan sedang berjuang hidup dan mati dimeja oprasi bahkan calon anakku yang belum lahir pun sudah tiada, seperti itu maksudmu hah" teriak Bram memenuhi isi ruangan tersebut.


"Aku tak memukul wanita" lanjut Bram dan Aliva merasa lega.


"Haris panggil Sumi kesini, biar Sumi yang suruh menanganinya" ucap Bram.


Aliva terkejut mendengar nama Sumi, ia berfikir apakah Sumi yang disebutkan oleh Bram adalah Sumi yang menjadi pengasuh Aberlie, namun tak mungkin Bram mengenali Sumi dengan baik karena Sumi hanya seorang pengasuh.


"Oke Bram" ucap Bram lalu Haris pergi keluar untuk menelfon Sumi.


"Otw Bram" ucap Haris setelah kembali menelfon Sumi.


Haris berjalan mendekati Aliva, ia tersenyum merendahkan pada Aliva.


"Mau apa kau asisten gila" ucap Aliva yang tak pernah mengenal rasa takut.


Tak lama Sumi datang dengan mengenakan jaket kulit, topi dan masker, ia datang menggunakan motor sportnya agar cepat sampai, walaupun sudah tua namun energi mudanya terus membara.


Aliva terkejut saat Sumi membuka topi dan maskernya, ia mengenali sosok tersebut dengan sangat baik, sosok yang mengurus Aberlie dan selalu melindunginya jika ia tengah mengusiknya.


"Bu Sumi, sedang apa ibu ada disini, dan mengapa ibu mengenal asisten Haris dan kak Bram" ucap Aliva.


"Hahaha aku adalah bagian dari mereka sajak dulu hingga sekarang" ucap Sumi tertawa renyah.


"Namun mengapa kau bekerja sebagai pengasuh kakak dirumah kami"


"Aku hanya menjalankan perintah nyonya dan tuan besar untuk menjaga calon istri masa depan tuan muda"


Aliva terkejut berkali kali mendengar ucapa Sumi. (SAVAGE gak tuh terkejutnya Aliva😂)


"Tak mungkin, kau pasti bohongkan bu Sumi" ucap Aliva menggelengkan kepalanya.


"Buat apa aku membohongimu, nyonya muda kami memang sedari bayi sudah menjadi calon istri dari tuan muda Bram, aku dikirim oleh nyonya dan tuan besar untuk menjaganya agar kalian tak menyakitinya" ucap Sumi membelai wajah dan rambut Aliva bergantian.


"Tuan muda, anda ingin aku berbuat apa pada ja**ng kecil yang berani mencoba membunuh nyonya muda ini" ucap Sumi seraya memegang wajah Aliva dengan kedua tangannya dari belakang Aliva.


***


Sementara dirumah sakit Fatma sedang menunggu dengan cemas ditemani oleh Harun.


Hari mulai petang Fatma masih menunggu dengan cemas, tak lama salah satu dokter yang menangani Aberlie keluar, Fatma langsung menghampirinya.


"Bagaimana kondisi Aberlie dok?" tanya Fatma.


"Operasi berjalan lancar, sebentar lagi nona Aberlie bisa dipindahkan keruang rawat, saat ini belum bisa ditemui dulu" jelas sang dokter.


Fatma merasa sedikit lega mendengar operasinya berjalan lancar, namun Fatma belum ingin mengabari pada Bram.


"Sebaiknya kita kekediaman Wijaya mah, kita beritahu apa yang terjadi pada tuan Wijaya, kita juga harus menyampaikan pesan yang dititipkan oleh Bram pada tuan Wijaya" ucap Harun.


"Baik pah"


Saat Fatma dan Harun akan beranjak pergi dokter Agam datang menghampiri mereka.


"Bagaimana operasinya kek, nek, apa berjalan lancar?" tanya dokter Agam.


"Sukurlah operasinya berjalan lancar Gam, nenek minta tolong titip Aberlie yah Gam, nenek sama kakek akan kerumah Wijaya ada sesuatu yang harus dibicarakan, jika ada apa apa segera hubungi nenek atau kakek yah Gam" ucap Fatma meminta tolong pada dokter Agam.


"Tenang saja nek, Agam pasti bakal ngabari nenek dan kakek jika ada sesuatu, kalian bisa pergi biar aku yang jaga disini, kebetulan aku sudah tak ada pasien" ucap dokter Agam mengusap tangan keriput Fatma untuk menenangkan.


*****


Waaaaah gimana nih kak harapan kalian othor musnahkan untuk liat Aberlie punya anak kembar nih kak😁 maafkanlah othor kak karena othor mau kasih Aliva pelajaran dulu kak jadi Aberlienya Bram jadi korban deh kak😁 tapi tenang kak nanti bakal ada sesi bahagianya ko😊


kira kira hukuman apa yah buat Aliva kak, apa sama seperti Aron ajah hukumannya🤔, boleh kasih saran yah kak dikolom komentar, nanti saran terbanyak atau saran yang waw insyaallah othor pake😊


selamat membaca yah kak aku dah update 3bab loh kak jangan lupa kalian tinggalin likenya yah😊


salam hangat dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰