CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 135



"Selamat pagi, Tuan." sapa para karyawan pada Al.


"Pagi." pagi ini semua karyawan dibuat terkejut dengan perubahan sikap Al. Sejak masuk kantor Al selalu tersenyum pada siapapun yang menyapanya, tak jarang sesekali dia membalas sapaan dari mereka.


"Kalian lihat tuan Al? Makin cakep aja ya!" gosip mereka.


"Benar! Udah gitu makin ramah aja. Tapi gue nyapa eh dijawab terus dikasih senyuman lagi. Oh, tuhan makin ngefans aja gue." puji mereka.


"Hati-hati, udah ada yang punya. Dan gue yakin semua ini ada campur tangan nona Ayuna." sela yang lainnya.


"Iya, lo benar! Sejak mereka bertunangan, banyak sekali perubahan pada tuan Al." mereka terus saja membicarakan Al dan Yuna. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang telinga dan hatinya sudah terasa panas.


"Selamat pagi!" Ayuna menyapa Tari dan OB lainnya.


"Pagi, Nona!" jawab mereka, sementara Al segera menuju ruangannya.


"Selamat pagi, Tuan." ucap Refa, Al tidak menjawab ataupun menoleh padanya.


"Selamat pa ..." Ayuna yang berniat menyapa rekan satu timnya itu segera tercengang saat melihat perubahan yang terjadi padanya.


"Pagi, Nona." ucap Refa terlebih dahulu.


"Pagi." balasnya. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Yuna saat melihat penampilan Refa berbeda dari biasanya.


"Memangnya kenapa? Jelek ya?" tanyanya.


"Gak, tetap cantik!!" puji Yuna. Hari ini Refa menggunakan pakaian yang begitu tertutup, Celana panjang dipadukan dengan blazer yang senada dengan celana yang dia gunakan.


"Nona, bisa aja!" ucapnya.


"Hari ini kamu aneh banget deh." ucap Yuna.


"Aneh kenapa?"


"Sejak tadi sikapmu sopan banget." tanyanya.


"Ah, itu karena aku sudah tahu semuanya." jawabnya.


"Tahu apa?"


"Kalau anda itu tunangan tuan Al." Ayuna tertawa.


"Jadi, karena itu kamu berubah seperti ini?" Refa mengangguk.


"Ya, ampun! Kamu gak perlu seperti ini. Tetap seperti biasa aja." pinta Yuna.


"Benarkah?" Refa tersenyum.


"Tentu saja." ucap Yuna.


"Baiklah, tapi kamu yang kasih tau asisten Jo ya. Aku gak mau dia salah paham lagi." Ayuna mengerti mengapa rekan satu timnya ini berubah seperti ini.


"Ok." Refa langsung bernapas lega.


"Hasil rapat kemarin kamu sudah pindahin?" tanya Yuna.


"Sudah, aku simpan disini." Refa menunjukkan dimana dia menyimpan file kemarin. Mereka mulai akur dan disibukkan dengan berbagai pekerjaan.


"Fa, aku tadi pesan makan siang, aku kel lobby dulu ya." ucap Yuna.


"Biar aku aja yang ambilin." Refa menawarkan diri.


"Gak usah, kamu disini aja. Aku cuma sebentar kok." setelah berkata seperti itu, Ayuna segera turun ke lantai 1.


"Nona Ayuna mau kemana?" Jhosua mengagetkan Refa.


"H-hm, i-itu mau ambil makan siang. Tadi beliau pesan makan via online." jelasnya.


"Kenapa bukan kamu yang ke bawah?" tanya Jo.


"Tadi saya sudah bilang seperti itu, tapi nona Ayuna menolaknya." jawabnya.


"Ya sudah, kamu harus tetap jaga sikap, karena semua orang tahu bahwa beliau sangat baik." Jhosua kembali memperingatkannya.


"Pak, pesanan atas nama Ayuna?" Yuna mendekati driver berjas ojek online yang sedang berdiri di depan pintu masuk perusahaan.


"Benar, Nona." jawabnya.


"Saya , Ayuna!"


"Oh, ini pesanan anda, Nona." driver itu memberikan beberapa paperbag padanya.


"Terima kasih, sudah pakai go wallet ya!" Yuna memberitahunya dan driver itu mengangguk. Setelah itu, Yuna segera menuju lift.


"Ting." pintu lift terbuka.


Saat akan masuk Yuna kaget melihat Mahen ada disana. Ayuna tidak ingin Mahen salah paham, akhirnya memilih untuk masuk. Ayuna menekan tombol 20. Ayuna berdiri membelakangi Mahen, hanya ada mereka berdua disana.


"Bagaimana kabarmu?" Mahen yang terlebih dahulu berbicara.


"Baik. Kamu?" tanyanya.


"Tidak baik." jawabnya. Ayuna tidak lagi bertanya.


"Dari mana kamu tahu?" tanyanya.


"Kamu lupa kalau aku masih bagian dari keluarga Ivander?" ucapnya. "Lalu, apakah baik-baik saja untukmu tetap bersamanya?" tanyanya.


"Sebenarnya, apa yang ingin kamu katakan?" Ayuna menatap tajam padanya.


"Kamu tahu dia adalah penyebab kematian kedua orangtuamu. Kenapa kamu masih kembali?" Mahen bersikap begitu dingin.


"Kamu salah! Bukan Al yang menyebabkan orangtuaku meninggal. Tapi, para penculik itu. Aku dan Al adalah korban, termasuk kedua orangtuaku." jelasnya.


"Pikirkan lagi! Jangan sampai kamu malah menyakiti kedua orangtuamu, karena bersama dengan lelaki yang telah mencelakai mereka." pintu lift terbuka.


"Aku yakin pada cintaku. Cepat atau lambat kami pasti akan menemukan pelaku sebenarnya." Mahen segera keluar saat pintu lift terbuka. Dia menatap Yuna hingga pintu lift itu kembali tertutup, mengantarkan Yuna ke lantai atas.


🍀🍀🍀


"Mas ...!" Soraya tersenyum bahagia saat melihat suami yang dia cintai sudah berada di depannya. Dia segera memeluknya.


"Dimana Mahen?" tanyanya saat tidak melihat kehadiran putranya.


"Dia sangat ingin datang, tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan." Soraya terpaksa berbohong.


"Anak itu selalu saja?" jawab Candra.


"Sabar, Mas! Ayo, kita pulang!" ajaknya.


"Bagaimana keadaan di rumah?" tanyanya saat mereka sudah dalam perjalanan menuju kediaman Ivander.


"Semua baik." jawabnya.


"Alvaro apa kabar? Apa dia masih tinggal di apartemen?"


"Iya, tapi dia sudah bertunangan. Dan kamu tahu, tunangannya adalah gadis kecil yang bersama dengannya waktu penculikan itu terjadi." Soraya memberitahunya apa yang terjadi selama Candra tidak ada disana.


"Oh ya? Bagaimana bisa?"


"Entahlah, sepertinya takdir yang mempertemukan mereka." jawab sang istri. Candra diam, dia tampak memikirkan sesuatu.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai? Kamu akan menetap disinikan?" tanyanya.


"Aku belum tahu. Masih banyak yang harus aku urus disana." jawabnya.


"Mas, kamu jangan sibuk kerja terus. Apa kamu gak bisa memantau dari sini? Kamu harusnya bersama kita disini, Mahen juga membutuhkanmu. Masalah Al dan papa biar aku yang ngomong ke mereka." Candra memegang tangannya.


"Aku tidak apa-apa. Bukankah kalian bisa berkunjung ke sana?" ucapnya.


"Tapi Mas, kita ini kan suami istri. Masa berjauhan seperti ini? Atau setelah ini aku ikut kamu saja?"


"Jangan! Kamu dan Mahen tetap disini saja. Kalau kamu ikut aku kasihan papa, siapa yang ngurusin beliau." Candra kembali mencegahnya.


"Disini banyak yang jagain papa. Ada sektetaris Ken, Mbak Monika, Mahen dan juga Al. Sementara disana kamu hanya seorang." Soraya sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya.


Sejak kejadian penculikan Al, dia harus hidup terpisah dari mereka. Karena Al selalu menuduhnya kalau Candralah pelaku penculikan itu. Jadi, untuk menghindari kesalahpahaman itu, dia lebih memilih untuk tinggal di Jerman.


"Kamu jangan khawatirin aku, disana aku baik-baik saja. Lagipula, Mahen harus tetap disini agar dia bisa membantu Al memimpin perusahan papa. Aku yakin itu juga yang diinginkan oleh papa." jawabnya.


"Tapi, Mas ...?"


"Sstt, sudahlah! Nanti kita bahas, ada telpon masuk dari rekan bisnisku." Soraya tidak lagi bersuara. Hanya terdengar Candra yang sedang sibuk berbicara di telepon dengan rekan bisnisnya.


"Sayang, kita sudah sampai." Candra membangunkan Soraya yang ketiduran. Soraya membuka mata dan melihat bahwa mereka sudah tiba di rumah. "Ayo!" ajaknya. Asisten pribadi Candra membantu menurunkan barang bawaannya. "Biar aku saja. Kamu boleh istirahat." Candra mengambil alih travel bag miliknya, kemudian membawanya masuk ke rumah.


"Dimana papa?" Soraya bertanya pada pelayan yang sudah menyambut kedatangan mereka.


"Tuan ada di ruang kerjanya, Nyonya!" jawab pelayan itu.


"Selamat siang, Tuan." sapanya pada Candra.


"Siang." jawabnya.


"Ayo, Mas, kita temui papa dulu." ajaknya. Mereka segera menuju ruang kerja Hans.


"TOK TOK TOK." Soraya mengetuk pintu besar yang ada di depannya.


"Pa ..." panggilnya begitu mereka masuk, Hans mengangkat kepalanya dari buku yang sedang dia baca dan melihat pada mereka yang sudah berdiri di depan Hans.


"Kau sudah datang?" tanya Hans pada menantunya.


"Iya. Bagaimana kabar papa?" tanyanya.


"Seperti yang kau lihat, aku masih sehat dan kuat." jawab Hans.


"Pa, kalau begitu kami ke atas dulu. Mas Candra pasti letih setelah melakukan perjalanan jauh." Soraya memotong percakapan mereka.


"Pergilah!" jawab Hans. Hans terus memperhatikan mereka hingga pintu ruangannya tertutup.


"Ken, jangan lengah! Terus awasi dia." setelah kepergian mereka, Hans menelepon orang kepercayaannya.


~tbc