CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 120



"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Yuna saat melihat Mahen berada di depannya.


"Menurutmu?" Mahen tersenyum. "Tentu saja aku ingin naik ke lift." jawabnya.


"Oh, kalau begitu kamu bisa naik." Ayuna memberi jalan untuk Mahen agar bisa masuk ke lift.


"Tidak jadi. Sepertinya kamu sedang membutuhkan seorang teman." ucapnya. "Kamu mau kemana?" tanya Mahen.


"Kantin." jawabnya. Kebetulan ini adalah jam istirahat.


"Aku ikut ya! Perutku juga sangat lapar." Mahen mengusap-usap perutnya. Ayuna tidak bisa menolaknya. Mereka berjalan bersama menuju kantin yang sudah ramai oleh para karyawan lainnya.


Saat mereka masuk, semua karyawan melihat ke arah mereka. Sebenarnya Yuna merasa sedikit bingung, tapi Ayuna berusaha mengabaikannya. Ayuna ikut mengantri seperti yang lainnya, begitupun dengan Mahen. Dia selalu mengikuti kemanapun Yuna pergi.


"Kita duduk disana saja." Mahen menunjuk meja yang kebetulan masih kosong. Ayuna hanya menoleh sekilas, kemudian matanya tertuju pada Gina dan yang lain.


"Kamu saja, aku mau gabung dengan mereka." Ayuna berjalan menuju meja Gina.


"Aku gabung ya!" Yuna langsung duduk sebelum yang lain menyetujuinya. Melihat Mahen bersama Yuna suasana di meja mereka yang sebelumnya ramai mendadak sepi.


"Silahkan, Tuan!" Gandhi memberi ruang agar Mahen bisa duduk.


"Kalian apa kabar?" tanya Yuna pada ketiga sahabatnya.


"Baik." jawab mereka bersamaan.


"Tumben lo makan di kantin?" tanya Gina yang duduk disebelahnya.


"Abis aku lapar banget." jawabnya.


"Emang tuan Al gak ngajakin kamu makan diluar?" Gandhi ikut menimpali. Gina dan Karin menatap tajam padanya. Gandhi tidak tahu apa-apa tentang kisah mereka bertiga, makanya dia terlihat begitu santai.


"Gak, dia lagi banyak kerjaan." bohong Yuna, Mahen tersenyum tipis.


"Enak ya kalau pacaran sama bos, mau apa saja tinggal bilang." ledek Gandhi. "Aww!!" Gandhi berteriak karena Karin menginjak kakinya. "Lo kenapa nginjak kaki gue?" protesnya.


"Maaf, aku gak sengaja!" Karin menatap Gina kemudian Mahen. Mahen kelihatan sangat kesal dan Yuna tahu itu.


"Kamu bisa saja, Mas. Gak begitu juga kali." Yuna menaggapi ocehannya. 


"Eh, weekend kita jadi nontonkan?" tanya Gandhi pada kedua rekannya. "Gimana, Na?" tanyanya pada Yuna.


"Hmm, aku gak janji ya!" jawab Yuna.


"Kenapa? Lo takut tuan Al marah? Kalau gitu lo ajak aja sekalian tuan Al gabung dengan kita." ucapnya.


"Memangnya kalau tuan Al mau, lo sanggup?" Gina menyela pembicaraan mereka.


"Yah, kalau cuma gue aja sih gak. Tapi, kalau ada Yuna gue berani, soalnya tuan Al kan bucin banget sama Yuna." Gandhi tertawa, tapi Karin kembali menginjak kakinya. Gandhi kembali meringis kesakitan. "Apaan sih lo?"


"Lagian, kamu becanda kebangetan. Kamu lupa kalau saat ini ada tuan Mahen?" bisik Karin. Gandhi segera menutup rapat mulutnya.


"Ternyata kalian sangat mengasyikan ya?" Mahen yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. Mereka bertiga tersenyum padanya.


"Kamu benar! Itu sebabnya aku meilih mereka untuk menjadi sahabatku." Yuna menekankan kata sahabat, agar Mahen tidak berbuat semena-mena pada mereka.


"Yah, aku bisa merasakan itu." dia tersenyum pada mereka semua.


"Aku sudah selesai. Duluan ya!" Yuna berdiri dan mengangkat piringnya menuju ke tempat piring kotor. Karena begitulah peraturan di Ivander Group. Selesai makan setiap karyawan harus meletakkan piringnya masing-masing ke tempat penampungan piring kotor. Melihat Yuna selesai, Mahen juga ikutan selesai.


"Yuna, tunggu!" dia mengejar Yuna.


"Kenapa gue merasa tuan Mahen sedang dekatin Yuna ya?" ucap Gandhi yang sejak tadi memperhatikan mereka. Dia belum pernah melihat Mahen selalu tersenyum seperti tadi. Biasanya Mahen selalu memasang tampang cool saat bersama karyawan lainnya.


"Itu sebabnya mulut lo harus dijaga." sahut Gina.


"Maksud, Lo?" Gandhi tidak sabar menunggu jawaban dari mereka.


"Ntar lo tahu sendiri." jawab Gina. "Ayo!" ajaknya pada Karin.


"Hey! Tungguin gue!!" Gandhi mengejar mereka. "Jelasin ke gue, maksud lo apa?" Gandhi sangat penasaran. Ginaemdekat dan membisikkan sesuatu di telinganya. "WHAT??" Gandhi kaget dengan berita yang Gina sampaikan. "Kalian serius?" dia masih tidak percaya. 


"Kami sangat serius." jawab Gina.


"Mati, Gue!!" ucapnya setelah menyadari kesalahannya.


"Makanya, itu mulut jangan kayak ember bocor." Gina tertawa melihatnya yang kebingungan. 


"Kalian tolongin gue dong!" Gandhi merengek pada kedua sahabatnya.


"Ogah, gue gak mau berurusan dengannya." tolak Gina.


"Aku juga." ucap Karin. Gandhi mengacak- acak rambutnya. 


🌸🌸🌸


"Kamu gak balik ke ruangan?" tanya Yuna saat melihat Mahen masih terus mengikutinya.


"Aku harus memastikan kamu selamat sampai tujuan." jawabnya.


"Apaan sih? Sudah sana turun." Yuna menahan pintu lift saat mereka berada di lantai 15.


"Ok." Mahen segera keluar dari lift. "Oh iya, Na, gimana kalau kita ikut saja nonton dengan mereka." Mahen teringat dengan ajakan Gandhi tadi. Dia berpikir, jika Yuna mau maka dia bakal ada kesempatan untuk dekat dengannya.


"Nanti aku kabari." pintu lift tertutup. 


"Nona, anda darimana saja?" tanya Jo setelah Yuna kembali ke mejanya.


"Kenapa?" tanya Yuna.


"Tuan, Al ..."


"Kenapa dengannya?" tanya Yuna.


"Rooftop? Untuk apa?" Yuna bingung kenapa Al memintanya untuk datang kesana.


"Saya tidak tahu, tapi yang pasti tuan sudah menunggu anda disana." jawabnya.


"Dia mau apa sih?" Yuna mengambil ponselnya dan kembali menaiki lift.


"Semoga berhasil, Tuan." ucap Jo pelan.


Ayuna sampai di rooftop Ivander group. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar lantai paling atas dari Ivander group itu. Matahari bersinar sangat terik, sehingga tak akan ragu untuk membakar tubuh orang-orang yang menantangnya.


"Dimana dia?" Yuna masuh terus mencari keberadaan Al. Sampai dia melihat sebuah tenda terpasang disana. Dan Al terlihat duduk di kursi yang telah disediakan.


"Akhirnya kamu datang juga." ucap Al saat Yuna berjalan mendekat padanya.


"Apa ini?" tanya Yuna saat melihat di atas meja sudah ada makanan kesukaannya.


"Suprise untukmu!" jawab Al. Al berjalan dengan membawa sebuket bunga yang ada di tangannya. Alvaro kemudian menyodorkan buket bunga itu pada Yuna.


"Maafkan, aku!" ucapnya. "Aku salah, dan aku menyesali semuanya. Kamu boleh menghukumku apa saja tapi jangan lagi marah padaku" Al menunggu jawaban Yuna. Ayuna menatap tajam padanya, tangannya terulur ke depan untuk mengambil bunga dari Al. Al tersenyum, akhirnya Yuna bersedia memaafkannya.


"Jangan ulangi lagi." ucap Yuna setelah menerima bunga itu.


"Siap, Boss!!" canda Al dan Yuna tertawa kecil.


"Ayo!" Al menganjaknya menuju satu-satunya meja yang ada disana.


"Buat apa semua ini?" tanya Yuna saat melihat berbagai masakan Korea di atas meja.


"Tentu saja untuk dimakan."  jawab Al, sambil menarik kursi untuk Yuna.


"Tapi, aku sudah makan!" jawabnya. Al kaget dan kecewa. Padahal dia sudah susah payah menyulap tempat itu menjadi sedemikian rupa. Bahkan dia bela-belain mengerjakan sendiri semuanya. Ayuna bisa melihat kekecewaan di wajah Al.


"Baiklah, aku akan mencicipinya." Yuna mengambil kimbab dan memasukkannya ke mulutnya. "Ini, enak banget!" Yuna kembali mencomotnya. Alvaro tersenyum melihat Yuna menghargai usahanya.


"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Yuna saat melihat banyaknya bunga yang bertebaran di lantai.


"Siapa lagi kalau bukan calon suamimu." Al berbangga diri. Ayuna tersenyum meledeknya.


"Ternyata kamu sweet juga ya. Coba aja kalau saat ini malam, pasti sangat romantis." ucap Yuna.


"Harusnya kamu datang lebih awal, lihatlah kulitku sudah mulai terbakar." Al menarik lengan bajunya dan terlihat kulitnya yang sedikit belang.


"Lagian salah kamu sendiri, siapa suruh melakukan ini di siang bolong begini?" tanya Yuna.


"Demi kamu, apapun akan aku lakukan, asalkan kamu gak marah lagi padaku." jelasnya. Ayuna terharu melihat perjuangan Al untuk meluluhkan kemarahannya.


"Mau coba ini?" Yuna menawarkan Al bulgogi. Alvaro mengangguk, Ayuna menyuapkan bulgogi itu pada Al. Merekapun tertawa bersama.


🌸🌸🌸


"Mau sampai kapan kamu menghindariku?" tanya Hans saat melihat Soraya yang telah selesai makan.


"Aku hanya tidak ingin bertengkar lagi dengan papa." jawabnya.


"Duduklah, ada yang ingin kubicarakan pada kalian." Hans meminta Soraya untuk kembali ke kursinya.


"Ada apa, Pa?" tanya Monika.


"Mulai saat ini aku merestui hubungan Al dan Yuna." ucapan Al membuat putri dan menantunya terkejut.


"Apa maksud papa?" Monika protes. "Papa tidak bisa begitu saja memutuskan masa depan Al."


"Menurutku, Ayuna sangat pantas dengannya. Dan yang lebih penting lagi, Al mencintainya. Jadi, aku akan mendukung apapun keputusan Al." jelasnya. Soraya tidak berkata apapun, dia hanya menatap gelas yang ada di depannya.


"Aku tidak setuju!" Monika emosi. "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah merestui mereka." ucapnya.


"Aku tidak membutuhkan persetujuanmu." jawab Hans.


"Apa papa sudah tidak peduli dengan keutuhan keluarga papa lagi? Bagaimana dengan Mahen? Apa papa akan menghancurkan hidupnya." Soraya menatap tajam padanya, begitupun dengan Hans. "Aku sudah tahu semuanya, kalau putramu juga mencintai wanita murahan itu."


"Tutup mulutmu!" Hans berteriak padanya. "Jangan pernah mengatakan satu hal buruk lagi tentang calon istri anakmu." Hans memperingatinya. Soraya mengalihkan pandangannya pada Hans. Dia bingung kenapa Hans tiba-tiba menyetujui hubungan Al dna Yuna. Terlebih lagi sekarang Hans begitu membela Yuna.


"Kenapa denganmu, Pa?" tanya Monika. "Kenapa papa tidak menyetujui Mahen dengan wanita itu saja? Kenapa harus dengan Al yang seorang penerus Ivander? Apa yang akan orang-orang katakan, saat tahu penerus Ivander beristrikan wanita yang tidak jelas bibit, bobit dan bebernya." Monika masih saja menghina Yuna.


"Cukup!!" Hans mengebrak meja. Monika terkejut begitupun dengan Soraya. Mereka sama sekali tidak menyangka reaksi yang diberikan Hans.


"Keputusanku sudah bulat. Untuk masalah Mahen, dia sudah dewasa. Aku yakin dia akan segera sembuh dari patah hatinya." Hans berdiri dan segera meninggalkan mereka.


"Apa papamu sudah gila?" Monika masih terus emosi. Soraya berdiri dan mengejar Hans ke ruang kerjanya.


"Mau kemana dia?" tanya Monika.


"Kenapa papa berubah secepat ini?" Soraya segera mempertanyakan keputusan Hans.


"Inilah yang terbaik untuk semuanya." jawab Hans.


"Bagaimana dengan Mahen?" Soraya sangat mengkhawatirkan putranya.


"Aku sudah bilang, dia pasti akan segera menemukan pengganti Yuna." jawabnya.


"Tapi Mahen sangat mencintai Yuna. Dia akan hancur jika mengetahui papa merestui hubungan Al dan Yuna." Soraya menangis.


"Al lebih mencintai Yuna, kamu tahu itu." ujar Hans.


"Aku tahu kalau Yuna adalah wanita yang selama ini Al cari. Aku tahu kalau Yuna adalah malaikat penolong untuk Al. Tapi ini pasti berat untuk Mahen, Pa." Hans mendekat dan memeluk putrinya.


"Kita akan membantu Mahen untuk sembuh dari lukanya. Jika dia tahu bahwa Yuna adalah wanita yang selama ini kakaknya cari, aku yakin Mahen pasti akan menerima keputusanku." Hans menenangkan Soraya.


"Apa? Jadi wanita murahan itu adalah gadis kecil yang menyelamatkan Al?" Monika yang menguping pembicaraan mereka sangat terkejut dengan fakta yang dia dengar.


~tbc