
Sudah hampir gelap, tapi Al masih belum mengetahui dimana keberadaan Ayuna. Al mulai terlihat panik, dia takut apa yang dikatakan oleh Monika terjadi.
“Dimana aku harus mencarinya?” Al terlihat sangat bingung. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Al melihat Mahen yang menghubunginya. Alvaro mengabaikan panggilan itu, dia sedang malas berurusan dengannya.
“Kenapa dia tidak menjawab teleponnya?” Mahen terlihat kesal. Saat ini, dia masih berada di lokasi yang tidak jauh dari mercusuar, tempat dia melihat Leo.
“Datanglah ke lokasi ini.”Mahen memilih untuk mengiriminya pesan, karena Al tidak kunjung menjawab teleponnya.
“TING.” Bunyi pesan masuk di ponsel Al.
“Mau apa dia?” Dengan malas Alvaro membuka pesan itu. “Apa maksudnya?” Al menekan nomor Mahen dan menghubunginya.
“Lokasi apa ini?” tanya Al saat Mahen menjawab panggilannya.
“Cepatlah datang! Aku melihat Leo dan beberapa anak buahnya berada disini.” Jawab Mahen.
“Aku akan segera datang!” Al menunjukkan lokasi itu pada Jo.
“Kita membutuhkan setidaknya 30 menit untuk sampai disana, Tuan.” Ucap Jo saat melihat titik lokasi itu.
“Bergegaslah! Aku tidak ingin Yuna kenapa-napa.” Perintahnya. Jo menambah lagi laju kendaraannya.
“Bertahanlah, aku akan segera menyelamatkanmu!” batin Al.
“Dimana dia?” tanya Leo pada orang suruhannya.
“Di dalam, Tuan.” Jawabnya.
“Urus dia! Sebentar lagi kapal akan tiba.” Perintahnya. Ayuna mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Dia mengangkat satu-satunya kursi di ruangan itu, dan membawanya ke belakang pintu. Terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Ayuna mengangkat kursi itu.
“Dimana dia?” pintu terbuka tapi pria itu tidak melihat keberadaan Yuna.
“BRAKK.” Pria tadi memegang kepala bagian belakangnya, saat merasakan benda keras menghantamnya. Melihat pria itu masih bisa berdiri, Ayuna kembali memukulkan kursi itu ke tubuhnya. Pria itu terjatuh tak sadarkan diri. Ayuna bergegas keluar. Dia sangat terkejut saat melihat puluhan anak tangga yang ada di depannya.
“Dimana aku?”batinnya. Ayuna melihat ke arah jendela kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Laut?” Takut pria tadi terbangun, Ayuna berusaha menuruni anak tangga itu dengan perlahan.
Ayuna berusaha sekecil mungkin membuat langkah kakinya tidak terdengar. Ayuna sampai di anak tangga terakhir. Dia melihat kesana kemari, mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya, Ayuna bergegas bersembunyi di dalam peti yang tak jauh dari tempat itu.
“Kenapa dia lama sekali? Cepat lihat dia.” Ayuna kaget saat melihat Leo sedang memerintah pria yang dia temui kemarin. Pria itu berlari menaiki anak tangga. Leo berjalan keluar.
“Tuan, wanita itu kabur!!” teriak pria itu dari atas. Leo yang mendengar teriakannya kembali masuk ke dalam.
“Ada apa?” teriak Leo dari bawah.
“Wanita itu kabur, Tuan!” lapor pria itu yang sudah hampir sampai di anak tangga terakhir.
“Dasar bodoh! Cari dia!” Leo marah, dia segera keluar dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari Ayuna disekitar mercusuar. Ayuna menahan napasnya, dia tidak ingin ketahuan oleh Leo dan para anak buahnya.
“Kenapa mereka berlarian seperti itu?” ucap Mahen yang memutuskan untuk berjalan mendekati tempat itu.
“Ada?” terdengar suara Leo.
“Tidak ada, Tuan!” jawab mereka.
“Dia pasti belum jauh, cepat kejar!” Leo naik ke mobilnya, sebagian anak buahnya mencari Yuna disekitar mercusuar. Dan sebagian lain menyusuri bibir pantai. Saat melihat tempat itu kosong, Mahen mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“BRUUKK!!”
“Aaghhhh!!” Ayuna memberontak saat tangannya dicengkram oleh seseorang.
“Ayuna, ini aku!” Ayuna mengenali suara itu. Dia segera membuka matanya dan melihat Mahen berdiri di depannya.
“Mahen!!” Yuna berlari kepelukannya.
“Tenanglah! kamu akan baik-baik saja.” Mahen menenangkan Yuna yang sedang menangis ketakutan. “Sudah, jangan menangis lagi. Ayo, kita pergi dari sini!” Mahen memegang tangan Yuna.
Mereka berlari meninggalkan lokasi itu. Tapi, saat akan menuju mobil salah satu anak buah Leo melihat mereka.
“Itu dia!” teriaknya. Mahen menoleh ke asal suara. Beberapa pria berbadan besar berlari ke arah mereka.
“Ayo, Na!” Mahen membantu Yuna yang baru saja tersandung batu. Keadaan yang gelap membuat mereka kesusahan melihat ke sekeliling. Beberapa orang berada di dekat mobil Mahen. Mahen yang melihat itu segera menarik Yuna menuju ke arah pantai.
“Kita mau kemana?” tanya Yuna saat mereka masih berlari.
Mereka terus berlari menyusuri pantai, sementara anak buah Leo sudah semakin dekat, karena mereka menggunakan mobil. Keadaan disana gelap, hanya cahaya bulan yang menjadi penerang. Dari kejauhan Mahen kembali melihat sorot lampu mobil yang mendekat. Ayuna sudah tidak mampu lagi berlari, mereka terkepung. Mahen mencoba melindungi Yuna dengan tubuhnya.
“Tuan muda?” Leo kaget saat dia melihat Mahen berada disana.
“Leo? Kau?” Mahen lebih terkejut.
“Apa yang anda lakukan disini?” tanya Leo.
“Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau menculik Yuna? Apa papa yang menyuruhmu?” Mahen menatap tajam pada orang kepercayaan papanya itu.
“Anda tidak perlu tahu, Tuan. Serahkan dia padaku!” Leo meminta Yuna.
“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu membawanya.” Mahen melindungi Yuna. Ayuna semakin ketakutan.
“Tuan, anda minggirlah!”ucapnya. Mahen tidak beranjak sedikitpun dari posisinya.
“Kamu tenang saja! Aku akan melindungimu.” Ucapnya pada Yuna.
Leo mengode anak buahnya untuk membawa Ayuna. Mahen menghalangi, dia memukul siapa saja yang mendekat ke arahnya.
“Tuan, jangan salahkan saya jika anda terluka.” Anak buah Leo kembali menyerang Mahen. Mahen kewalahan karena jumlah mereka jauh lebih banyak. Mahen jatuh ke atas pasir, mereka menarik Yuna.
“Tidak, lepaskan aku! Mahennnn!” Yuna berteriak, dia melihat Mahen terkapar dengan wajah berlumuran darah.
“A-a y-y u-u na ...!” Mahen berusaha bangun.
“Bawa dia!” perintah Leo. Ayuna ditarik paksa menuju mobil.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan penuh melaju ke arah mobil yang akan digunakan untuk membawa Yuna. Anak buah Leo berlari menyelamatkan diri. Ayuna yang lemah terjatuh ke atas pasir.
“Yuna!!” Al menangkap tubuh lunglai itu.
“Al ...!?” ucapnya saat melihat Al berada disisinya.
“Tenanglah! Semua akan baik-baik saja.” Al mendekap dan menenangkan Yuna.
Leo yang menyadari kehadiran Al segera memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Al.
Jhosua membantu Alvaro, dia berhasil melumpuhkan beberapa anak buah Leo.
“Yuna ...?” ucap Mahen yang berhasil mendekati mereka.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Al saat melihat kondisinya yang cukup parah.
“Aku baik-baik saja.” Jawabnya.
“Jaga dia!” Al menyerahkan Yuna pada Mahen. Mahen mengangguk setuju.
Alvaro yang sudah dikuasai oleh amarah segera bergabung dengan Jhosua. Dia tidak memberi ampun siapapun yanga da di dekatnya. Beberapa anak buah Leo sudah berhasil dilumpuhkan. Al yang melihat Leo, segera mendekat dan mendaratkan pukulan di perutnya. Leo tidak tinggal diam, dia membalas pukulan Al. Terjadi pertarungan di antara mereka.
“Ayo, kita pergi dari sini.” Mahen membantu Yuna berdiri. Dia berniat membawa Yuna menuju mobil milik Al.
“Habisi dia, jangan biarkan dia lolos!” perintah Leo saat melihat Mahen akan membawa Yuna pergi.
Anak buah Leo yang lain mengejar mereka. Alvaro yang melihat itu segera menghalangi mereka. Mahen terus membantu Yuna berjalan.
“Ayo, Na!” ucapnya saat melihat Ayuna berhenti. Ayuna menatap Mahen, kemudian kembali melangkah.
“Nonaaa!!" teriakan Jhosuamembuat Al menoleh ke arah Yuna.
“Ayunaaa, awasss!!” Al berteriak saat melihat mobil yang dikendarai Leo melaju dengan kencang menuju ke arah Yuna.
“BRAAKKK.”
~tbc
🌸 Jangan lupa mampir di novel kedua aku ya🤗 ceritanya tentang kisah cinta Andreas. Yang udah baca CEO BUCIN pasti tahu siapa Andreas😁 Ditunggu ya readers😘😘