
"Ini berkas yang anda minta, Tuan." Jo meletakkannya di meja.
"Jo, kamu carikan untukku sekretaris baru." Jo kebingungan.
"Sekretaris baru?" tanyanya.
"Aku ingin ada yang membantu Yuna."
"Baik, Tuan." Jo mengerti.
"Jo, apakah laporan Permata Bank bulan lalu ada di kamu?" tanya Yuna saat melihat Jhosua keluar.
"Hmm, sepertinya masih berada di Divisi Keuangan." jawab Jo. "Biar saya ambilkan, Nona." jawabnya.
"Biar aku minta tolong Gina saja, Jo." Yuna segera menghubungi Gina.
"Hallo." ucap Gina saat tahu yang menghubunginya adalah Yuna.
"Na, kamu sibuk gak?" tanya Yuna.
"Hmm, gak begitu sih, kenapa?" tanya Gina.
"Tuan Al butuh laporan dari Permata Bank yang bulan lalu, bisa gak kamu tolong bawakan ke sini? Soalnya aku ada beberapa pekerjaan jadi gak bisa ke bawah."
"Baiklah, akan segera kubawakan." ucapnya. Gina segera mencari laporan yang Yuna minta.
"Dimana ya?" Gina kembali memeriksa file yang ada di dekatnya.
"Cari apa?" tanya Karin.
"Laporan Permata Bank bulan lalu. Lo lihat gak?" tanyanya.
"Bukannya kemarin diserahi Gandhi ke Tuan Mahen? Coba deh kamu tanya Gandhi." sarannya.
"Gan, lo lihat laporan Permata Bank bulan lalu gak?" tanya Gina sesampainya di meja Gandhi.
"Di ruangan tuan Mahen." jawabnya.
"Tolong mintain dong!"
"Lo aja, gue lagi banyak kerjaaan nih." tolaknya.
"Ayo, dong! Please!" Gina mengoyang-goyang tubuh Gandhi.
"Ogah gue! Lo gak lihat gimana wajah Tuan Mahen tadi?" Gina ingat saat datang tadi wajah Mahen sudah sangat kusut. Tidak ada yang berani mendekat padanya.
"Emang buat apa?" tanya Gandhi.
"Tuan Al yang minta, Yuna gak bisa ke bawah lagi banyak kerjaan." jelasnya.
"Ya sudah sana, lo minta aja ke beliau. Ntar kalau kelamaan lo yang abis sama tuan Al." dengan terpaksa Gina berjalan menuju ruangan Mahen.
"TOK TOK TOK." karena tidak ada jawaban, Gina memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Mahen.
"Permisi, Tuan!" ucapnya, tapi Mahen sama sekali tidak menoleh padanya.
"Maaf, Tuan, saya ingin mengambil laporan Permata Bank bulan lalu." Gina tetap menyampaikan maksudnya walaupun Mahen mangacuhkannya.
"Untuk apa?" akhirnya dia membuka suaranya.
"Tuan Al membutuhkannya, Tuan." Mahen mengangkat kepalanya saat mendengar nama Al disebutkan.
"Kenapa bukan Yuna yang mengambilnya?" Mahen menatap tajam padanya.
"Ayuna sedang banyak pekerjaan, Tuan, itu sebabnya dia meminta bantuan saya." Mahen mencari laporan yang diminta Gina.
"Ini." dia menyerahkan laporan itu ke tangan Gina.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." ucapnya.
"Tunggu!" Mahen menghentikannya. "Bisakah kamu membantuku?" tanyanya.
"Membantu apa, Tuan?" Gina sudah menebak pasti berkaitan dengan Yuna.
"Tolong katakan pada Yuna, aku ingin menemuinya di Star Cafe jam 12.30 wib." Tebakan Gina benar.
"Baik." Gina segera keluar dari ruangan Mahen. Dia menarik napas setelah keluar dari sana.
"Gimana?" Gandhi menghampirinya.
"Aman. Gue ke atas dulu ya!" Gina bergegas menuju lift.
"Na, ini dia yang lo minta." Gina menyerahkannya pada Yuna.
"Makasih ya!" ucap Yuna. "Aku ke dalam dulu." Yuna membawa laporan itu ke ruangan Al.
"Ini, laporan yang anda minta, Tuan." Yuna menyerahkannya pada Al.
"Gimana perutmu?" tanyanya.
"Sudah baikan." jawab Yuna.
"Saya keluar dulu, Gina masih disana." Al melihat Gina yang berdiri di depan meja Yuna. Alvaro mengangguk, Yuna segera keluar.
"Sorry ya, Na, karena aku kamu jadi repot." ucapnya. Gina duduk sebelah Yuna. "Ada apa?" tanya Yuna.
"Tuan Mahen." jawabnya.
"Kenapa dengan Mahen?" tanyanya.
"Tuan Mahen ingin bertemu denganmu di Star Cafe jam 12.30 wib." Yuna menoleh padanya saat Gina menyampaikan pesan Mahen.
"Mau apa?" tanyanya, Gina mengangkat bahunya.
"Entahlah, aku gak tahu bisa atau tidak. Karena aku harus izin ke tuan Al dulu. Apalagi ini berkaitan dengan Mahen." jelasnya.
"Apa kamu tahu? Sepertinya tuan Mahen sedang ada masalah." ujar Gina.
"Masalah?" Gina mengangguk.
"Gue juga gak tahu pasti, tapi akhir-akhir ini dia sangat menakutkan, tidak ada senyuman apalagi tegur sapa. Tadi aja gue minta laporan dipelototi." Gina bergidik mengingat sikap Mahen tadi.
"Nanti, aku coba tanya tuan Al dulu. Kalau dia mengizinkan, ntar aku kabari dia langsung." Yuna juga merasa iba mendengar Mahen seperti itu.
"Ya udah, gue balik ya!" dia segera berdiri.
"Gak mampir dulu?" tanya Yuna.
"Tu ..." Yuna menunjuk ruangan Jhosua.
"Apaan sih, lo!" Gina cepat-cepat pergi dari hadapan Yuna, sebelum dirinya semakin malu. Ayuna tersenyum melihat Gina yang malu-malu. Sesampainya di Divisi keuangan, Gina segera menuju mejanya.
"Na, lo dicariin tuan Al!" ujar Gandhi yang baru keluar dari ruangan Al.
"Ok." Gina bergegas menuju ruangan Mahen. Gina mengetuk pintu ruangan itu dan segera masuk saat mendengar perintah dari Mahen.
"Gimana?" tanyanya begitu melihat yang datang adalah Gina.
"Yuna bilang dia gak bisa janji, Tuan, karena dia harus izin dulu ke tuan Al." jawabnya. Gina bisa melihat perubahan pada wajah Mahen. "Tapi, dia bilang nanti akan langsung menghubungi anda."
"Baiklah, kamu bisa keluar!" ujarnya, Gina segera keluar dari ruangannya.
🍀🍀🍀
"Hmm, Al apa makan siang ini aku boleh keluar?" tanya Yuna saat hanya ada mereka berdua disana.
"Kamu mau makan siang di luar?" tanya Al.
"Sebenarnya, Mahen mengajakku untuk bertemu di Star Cafe." Al menatap tajam padanya setelah mendengar apa yang Yuna sampaikan.
"Mau apa lagi dia?" Alvaro mencoba menahan emosinya, dia tidak ingin Yuna kembali kesal padanya.
"Aku tidak tahu!" jawab Yuna. "Tapi, tadi Gina cerita sepertinya Mahen sedang ada masalah, Karena akhir-akhir ini dia selalu terlihat murung." Yuna menyampaikan apa yang dia dengar.
"Tapi, itu bukan urusanmu!" jawab Al. "Dia sudah besar, jadi dia bisa mengurus masalahnya sendiri."
"Al, aku hanya ingin tahu apa yang ingin dia katakan." sela Yuna.
"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menemuinya." jawab Al.
"Tapi Al ..."
"Apa kamu lupa apa yang terjadi padamu saat kamu pergi seorang diri menemuinya?"
"Aku tahu, tapi itukan hanya kecelakaan." Ayuna masih saja beralasan.
"Itu bukan kecelakaan tapi kesengajaan. Dan kamu sudah tahu itu." Al mengingatkannya tentang perbuatan Natalie.
"Mau sampai kapan kamu mengekangku seperti ini?" Ayuna berdiri dari kursinya.
"Aku tidak mengekangmu! Aku hanya berusaha untuk melindungimu." Al mendekati Yuna dan memegang tangannya.
"Melindungiku dari apa?" Alvaro terdiam.
"Bagaimana aku bisa mengatakannya padamu?" batin Al.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, tolong beri aku sedikit saja kebebasan. Lagipula aku tidak pergi dengan pria asing, aku hanya menemui adikmu." Ayuna bersikeras karena dia ingin mendengar apa yang ingin Mahen sampaikan. "Al, aku gak tega melihatnya hancur seperti itu. Bagaimana kita bisa bahagia diatas penderitaannya. Aku bisa bayangkan gimana sakitnya dia melihat kita." Yuna mencoba untuk membujuk Al.
"Itu bukan kesalahan kita. Dia sendiri yang memilih untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kita." Al masih tetap pada keputusannya.
"Aku hanya ingin membuatnya mengerti. Aku ingin kita bertiga bisa menjalin hubungan baik. Terlebih lagi dia adalah keluargamu." Ayuna menjelaskan maksud dia ingin bertemu dengan Mahen. "Boleh ya!" bujuknya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar!" akhirnya izin itu keluar juga dari mulut Al.
"Ok." jawab Yuna.
"Aku yang akan mengantarmu." Ayuna mengeleng.
"Tidak. Aku akan pergi dengan Gina."
"Gina mana bisa menjagamu." Alvaro kembali protes. Ayuna melepaskan tangannya dari Al dan segera berbalik.
"Baiklah, kamu boleh pergi dengan Gina." Al kembali mengalah, Yuna tersenyum.
"Apa setelah itu kami boleh jalan-jalan?" tanyanya.
"Tidak." jawab Al cepat.
"Huh, kamu gak asyik." Yuna segera berjalan menuju pintu keluar.
"Dasar keras kepala! Untung aja cinta, kalau tidak ..."
"Aku mendengarmu!" teriak Yuna, kemudian menutup kembali pintu ruangan Al. Alvaro tertawa lebar, dia tidak menyangka Yuna mendengarnya.
🍀🍀🍀
"Gak apa-apa nih kalau gue ikut?" tanya Gina saat mereka dalam perjalanan menuju Star Cafe.
"Ya gak apa-apalah. Lagian, kita sekalian makan siang." jawabnya.
"Gue takut ntar yang ada Tuan Mahen kesal karena gue ganggu kalian." Gina tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Kamu tenang aja, Aku yang urus!" Yuna mengirim chat pada Mahen kalau mereka akan segera sampai.
"Tuan Al benar-benar ya! Kenapa harus pergi denganku sih?" sejak Yuna mengajaknya Gina terus saja mengerutu. "Gue rasa keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau." ujarnya.
"Jadi kamu ngatain Al buaya?"
"Iya, buaya darat!" mereka berdua tertawa.
"Gimana hubungan kamu dengan Jo?" Gina tercekat saat mendengar Yuna membahas Jhosua di depannya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Udah jadian belum?" tanya Yuna.
"Jadian apaan? Mulai aja belum." jawabnya.
"Kamu dong yang harus agresif, udah tahu Jhosua itu kaku begitu. Kalau gak kamu duluan yang buka jalan, Jo itu gak akan ngerti. Udah tahu gebetan kamu kayak beruang kutub." ledek Yuna.
"Apaan sih, lo!"
"Ye, yang marah gebetannya disamain sama beruang kutub." Ayuna kembali meledek Gina.
"Udah ah, ini kita udah sampai." mobil Yuna memasuki area parkir Star Cafe. Setelah selesai memarkir mobilnya, Yuna segera turun, sementara Gina masih mengambil beberapa barang-barangnya.
"Itu, Mahen." Yuna melihat Mahen yang juga baru turun dari mobilnya. Mereka harus menyebrang sedikit untuk bisa menuju Star Cafe, sementara Mahen memarkir mobilnya di parkiran khusus. Mahen yang melihat Yuna langsung tersenyum, tapi senyumannya mendadak hilang saat melihat Gina muncul dari belakang. Ayuna melambaikan tangannya pada Mahen. Dia berjalan terlebih dahulu, sementara Gina mengikutinya di belakang. Saat Yuna akan menyebrang, Mahen melihat sebuah mobil suv berwarna hitam melaju dengan sangat kencang.
"Yuna, Awasss!" teriak Gina.
"Yuna, Awasss!" Jo berlari dan menarik tubuh Yuna, mereka jatuh ke lantai. Sementara mobil yang berusaha menabrak Yuna segera melarikan diri.
*tbc