CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 60



Pagi menjelang Aberlie merasa begitu sesak, ia merasakan ada sesuatu yang menindihi perutnya, ia membuka matanya perlahan, dilihat disampingnya ada wajah tampan yang tengah terlelap.


Aberlie memindahkan tangan Bram secara perlahan, ia menyingkap selimutnya dan menggelengkan kepalanya.


Entah berapa banyak energi yang ia punya, ia tak pernah merasa lelah walaupun sudah sibuk seharian naf sunya masih begitu tinggi, gumam Aberlie menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan naf su besar sang suami.


Disaat Aberlie akan turun dari tempat tidurnya tiba tiba ada tangan yang melingkar diperutnya.


"Kau mau kemana by?" tanya Bram dengan suara yang masih serak.


"Aku ingin kekamar mandi dear, bisa tolong lepaskan aku" ucap Aberlie.


"Hmm hmm" Bram menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah pagi, katanya kita akan berangkat kedesa x pagi ini"


"Iya tapi gak pagi pagi juga by, nanti jam sepuluh kita berangkat, sekarang temani aku tidur lagi hm, jangan pergi kemana mana" Bram dengan suara manjanya namun matanya masih tertutup.


"Ayolah dear" tiba tiba Bram menariknya hingga Aberlie tersungkur diatas dada bidang Bram yang tak mengenakan apapun.


Buah kenyal milik Aberlie menindih Bram seketika membuat sibeo tiba tiba bereaksi.


"Ayo by" Bram membuka matanya kemudian mengedipkan sebelah matanya menggoda Aberlie.


"Ya sudah ayo bangun" ucap Aberlie yang tak tahu maksud dari perkataan Bram.


"Ini sudah bangun, sempurna malah, sudah siap"


"Apanya sih yang sempurna, sudah siap apanya orang mandi saja belum" Aberlie yang mulai bingung.


"Sibeo sudah bangun sempurna by sudah siap buat tempur, mumpung masih belum pakai baju hm" Bram berbisik ditelinga Aberlie membuat Aberlie geli dan seketika membelalakan matanya.


"Astaga Braaaaaam, kamu tuh yah"


"Tampan, aku tahu by, dan pria tampan ini milikmu"


Aberlie akhirnya menyerah karena ia tahu tak akan menang melawan singa kelaparan tersebut.


Akhirnya mereka memadu kasih bertukar keringat dipagi hari yang masih dingin.


Setelah selesai Bram bangun dan menggendong tubuh Aberlie didepan membawanya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama daaaaaaan bermain ronde kedua didalam kamar mandi, karena Bram tak pernah merasa cukup jika sudah berada didekat Aberlie.


Setelah selesai mandi Aberlie langsung menuju dapur untuk membuat sarapan untuk ia dan Bram.


Seperti biasa Bram akan mengikutinya dibelakangnya, karena Bram tak ingin berada jauh dari Aberlie.


Didapur sudah ada Mirna yang sedang bersih bersih.


"Pagi nyonya muda, tuan muda" sapa Mirna.


"Pagi bu" jawab Aberlie dan Bram hanya diam saja, ia duduk dikursi meja makan seperti biasa.


"Aku buat nasi goreng yah dear, atau kau mau roti isi?" ucap Aberlie.


"Apapun yang kau buat untukku pasti akan ku makan by" jawab Bram mengusap pipi merona sang istri.


Aberlie akhirnya memutuskan untuk membuat nasi goreng, namun sebelum itu ia akan membuatkan kopi terlebih dahulu seperti biasa.


"Ini kopinya dear" Aberlie meletakkan kopi meja makan depan Bram.


"Makasih by"


Jika biasanya ia menemani sang istri dengan menyambi pekerjaannya berbeda dengan hari ini, ia tak memiliki pekerjaan apapun yang harus ia tangani, pasalnya ia telah menyerahkan urusan kantor pada Haris serta Harun untuk satu bulan kedepan.


Rencananya Bram dan Aberlie ingin menghabiskan waktu berdua didesa x selama satu bulan lamanya.


Aberlie datang dengan dua porsi nasi gereng ditangannya dan tak lupa ia juga membuat susu untuk dirinya pula.


Mereka sarapan dengan romantis seperti biasa.


Setelah selesai sarapan mereka bersiap untuk berangkat menuju desa x, Bram sibuk memasukan koper dan barang bawaan lainnya seperti belanjaan yang sudah mereka beli sehari sebelum bwrangkat.


Saat mereka selesai memasukkan barang barang yang akan dibawa mereka berpamitan pada Mirna dan Joko untuk menjaga mansion selama mereka pergi.


Mobil melaju meninggalkan mansion setelah mereka berpamitan.


***


Dirumah sakit seorang pria membawa kotak berukuran sedang mendekati Surya, Lisa dan Siska, ia memberikan kotak tersebut langsung pada Siska.


"Apa ini?" tanya Siska.


"Hadiah dari seseorang untuk bu Siska" jawab pria tersebut.


"Ia tapi ini dari siapa dan apa isinya?"


"Dari seseorang, bu Siska akan mengetahuinya jika membukanya, saya permisi" ucap pria tersebut setelah kotak tersebut diterima oleh Siska.


Setelah pria yang mengantar kotak tersebut pergi Siska langsung membuka kotak tersebut.


"Aaaaaaa" Siska melempar kotak tersebut ketika melihat isi dalam kotaknya, Surya dan Lisa pun terkejut dengan isinya.


"Dasar anak kurang ajar, apa belum puas dia membuat anakku cacat seumur hidupnya, sekarang ia ingin membuatku terkena serangan jantung, lihat bagaimana aku akan membalasmu nanti" ucap Siska geram.


"Kamu tak usah macam macam, kau akan berakhir dengan nama saja jika kau macam macam dengannya, lebih baik kau mengurus anakmu saja dengan benar jika kau ingin hidup tenang" ucap Surya memperingati.


"Kau membela anak kesayanganmu pah" Siska geram dengan ucapan Surya.


"Bukan aku membela, aku hanya memberitahumu untuk tidak berbuat diluar batas pada Bram karena kau tak akan selamat jika kau berbuat seperti itu, dan akupun tak bisa menolongmu jika Bram sudah bertindak"


"Lihatlah aku, karena aku menyayangi Bram, aku dan Risa selalu baik baik saja, jika kau menyeyanginya kau akan tahu jika dia adalah anak yang baik dan periang serta penyayang, aku tak menyesal menyayangi Bram seperti anakku sendiri karena pada akhirnya dia menerimaku walaupun dia masih memanggilku dengan sebutan tante, yang lebih penting lagi dia menyayangi anakku dan selalu melindunginya, Bram juga menganggap Risa sebagai adik satu satunya" imbuh Lisa.


"Apa kau ingin pamer didepanku *** ***!" ucap Siska geram.


"Aku bukan pamer, aku hanya berbicara apa adanya, jika dari awal kau menganggap dan menyayanginya seperti anakmu sendiri dia berbalik seperti itu padamu, namun kau salah memperlakukan Bram sebagai saingan Aron, Aron tak akan pernah menjadi saingannya karena dimata ayah mertua dengan sikap dan sifatmu yang seperti itu mereka tak pernah menganggapmu keluarga, jadi sekeras apapun kau berusaha kau dan anakmu tak akan meraih apapun juga" jelas Lisa.


"Pergi kau *** ***, jangan kau ceramah disini, aku tak butuh ceramah darimu" Siska mendorong Lisa dengan keras sehingga Lisa terjatuh duduk kelantai.


"Ayu kita pulang" ajak Surya seraya membantu Lisa untuk bangun, Surya sudah terlalu muak dengan kelakuan Siska dan Aron.


"Kau ingin meninggalkanku sendiri disini pah?" ucap Siska.


"Kau membuatku muak, kau tak pernah merubah sifatmu yang tamak itu, kau sudah menjerumuskan anakmu sendiri sehingga dia menjadi seperti sekarang, jika kau tak meracuni otak Aron dengan menyuruhnya merebut kekuasaan yang sebenarnya tak pernah bisa Aron raih dan mengajarkannya untuk berfoya foya ia tak meungkin menjadi seperti sekarang, jika kau mengijinkan Lisa untuk mendidik Aron mungkin Aron akan menjadi anak yang baik, namun kau juga meracuni otak Aron ùntuk memusuhi Lisa, aku sudah muak dengan sifat dan sikapmu yang seperti itu" ucap Surya dan mereka pun meninggalkan Siska seorang diri dirumah sakit.


Siska pun terduduk diruang tunggu dengan hati yang penuh dengan amarah dan dendam pada Bram.


*****


Selamat membaca yah jangan lupa tinggalkan jejak kalian untuk memberi semangat buat author😊


Salam hangat dari ku untuk kalian🙏😊🤗🥰