CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 130



"Ayo cepatan, Al!" teriak Yuna dari depan pintu.


"Kamu ini, mau kerja seperti mau liburan saja." jawab Al begitu sudah di depan Yuna.


"Aku kangen kerja!" Ayuna terlihat begitu senang.


"Baru kali ini aku bertemu orang aneh sepertimu. Dimana-mana orang kangen liburan, ini malah kebalikannya." Alvaro geleng-geleng kepala.


"Aku kangen kerja bareng kamu!" setelah mengatakan itu Ayuna segera keluar dari sana, Alvaro mengejarnya.


"Jadi kamu gak sabaran untuk aku marahi?" godanya.


"Aku pengen lihat kamu bisa marah ke aku atau tidak." Ayuna merangkul Al dan mereka bersama-sama memasuki lift.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa beberapa karyawan yang melihat kedatangan Al.


"Pagi." jawabnya. Mereka yang berada disana terperangah dan saling pandang. Ayuna memberikan senyuman manisnya untuk karyawan yang ada disana.


"Itu mulut gak usah begitu." Al menunjuk bibir Yuna.


"Emang kenapa?" tanyanya.


"Mulai hari ini kamu gak boleh senyum ke karyawan lain." ucap Al saat mereka menunggu lift.


"Kenapa?" Yuna bingung.


"Aku gak mau semua karyawan pria di kantor ini kena diabetes karena senyumanmu."


"TING." pintu lift terbuka.


"Apaan sih,Tuan!" Yuna menyusul Al yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Sudah ku bilang jangan tersenyum." Al kembali protes saat mereka berpapasan dengan karyawan lain, setelah mereka keluar dari lift.


"Senyum itu ibadah, jadi aku mau cari pahala dulu." jawabnya.


"Disini aku bosnya, jadi kamu harus ikuti perkataanku." Al menunjuk pada Yuna.


"Tapi aku ...!"


"Selamat pagi, Tuan." sapa wanita cantik yang berdiri di meja Yuna. Al tidak menjawabnya.


Ayuna memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah. Wajah putihnya dipoles dengan make up natural, sehingga cantiknya benar-benar alami. Tapi, bola mata Yuna langsung membesar saat melihat pakaian yang dia gunakan. Kemeja putih tipis dan sangat pas ditubuhnya, dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya beberapa centi diatas lutut, sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya.


"Tuan, saya baru saja meletakkan kopi dan juga sarapan anda di dalam." wanita itu tersenyum pada Al. Wajah Yuna memanas, tangannya mengepal. Ayuna segera masuk ke ruangan Al begitu saja, meninggalkan Al bersama wanita itu.


"Sayang, apa yang ...?"


"BRUK!" sebuah dokumen mendarat di wajah tampan Al.


"Kamu kenapa?" Al melihat Yuna yang saat ini berada di meja kerjanya.


"Siapa dia?" tanya Yuna.


"Siapa?" Al balika bertanya.


"Wanita yang di depan itu." Ayuna menunjuk meja kerjanya.


"Dia Refa, sekretaris baru." jawab Al.


"Baru beberapa hari aku gak masuk. ternyata kamu sudah punya sekretaris baru. Pinter ya kamu pilihnya, cantik, seksi lagi." Yuna cemburu, Alvaro bukannya marah malah tersenyum melihat kecemburuannya.


"Kenapa? Kamu cemburu?" Al mendekat padanya. "Salah siapa ninggalin aku begitu saja. Selain cantik dan seksi, dia juga selalu melayaniku. Sebelum aku datang, sarapan sudah tersedia di meja." Al menunjuk sarapan yang ada diatas mejanya. Ayuna semakin kesal karena Al memujinya. Ayuna menghindar dari Al, dia berjalan menjauh, tapi Al menahan tangannya.


"Lepas!" Ayuna berontak.


"Kamu mau kemana?" tanya Al.


"Lepasin aku!" teriak Yuna.


"Maaf, aku hanya bercanda!" Al memeluk Yuna dari belakang. Alvaro bisa merasakan bahu Yuna yang naik turun. Al berjalan ke depannya, dan dia bisa melihat airmata Yuna yang sudah menetes di pipinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya bercanda." Al menghapus airmata Yuna.


"Kamu jahat!" Yuna memukul-mukul dadanya. Al menangkap kedua tangan Yuna.


"Tidak akan ada yang bisa mengantikanmu." ucapnya. "Dia disini hanya untuk membantumu. Aku tidak mau kamu sampai dibebani dengan semua perkerjaan ini." Al menarik Yuna ke dalam pelukannya. Ayuna masih sesegukan.


"Tapi, kenapa dia harus melayanimu seperti ini?" tanya Yuna.


"Aku juga tidak tahu. Karena sekarang kamu sudah disini, jadi dia aku serahin ke kamu." ucap Al. Ayuna menatap wajah Al.


"Kamu sendiri yang memilihnya?" selidiknya.


"Bukan aku, Jhosua yang memilihnya." jawab Al jujur.


"Jhosua!!" geramnya.


"Tuan, ini laporan dari PT. Dirgantara yang dikirim kemarin." Refa masuk dan menganggu mereka, Ayuna menjauh dari Al, sementara Alvaro berjalan menuju kursinya. Refa meletakkan laporan itu diatas meja Al. Dia melirik sekilas pada Yuna yang berdiri di sebelah Al.


"Yuna, dia sekretaris baru yang akan membantumu." ucap Al tanpa menatap ke arah Refa. Refa melihat ke arahnya, begitupun dengan Yuna.


"Kalau begitu saya ke depan dulu." Ayuna meninggalkan Al begitu saja.


"Apa masih ada yang anda butuhkan, Tuan?" tanyanya.


🍀🍀🍀


"Mbak, bawa ini ke pantry." ucapnya pada Tari yang sedang bersama dengan Yuna. Tari mengambil nampan yang ada ditangannya dan membawanya ke pantry.


"Kamu sudah kerja dengan tuan Al?" Refa duduk disebelah Yuna.


"Belum." jawab Yuna singkat.


"Kenapa aku baru melihatmu hari ini? Abis cuti?" tanyanya.


"Iya." jawab Yuna, Ayuna memeriksa jadwal Al yang ada di tabletnya.


"Aku sudah mengatur semua jadwal tuan Al." ucapnya saat melihat apa yang Yuna lakukan.


"Aku hanya memeriksa ulang." jawab Yuna. Refa mengambil kaca yang ada di laci mejanya dan mulai men-touch up wajahnya. Ayuna mengabaikan apa yang sedang dia lakukan, Ayuna mulai fokus dengan tugasnya.


"Tuan Al ada didalam?" tanya Jo yang baru datang.


"Ada, masuk saja!" jawab Yuna yang baru saja datang dari kamar mandi.


"Nona ..." ucap Jo, tapi Ayuna mengabaikannya dan segera kembali ke mejanya.


"Masuk saja asisten, Jo!" Refa berbicara sangat lembut. Jhosua berjalan menuju ruangan Al dengan perasaan bingung.


"Siapa yang dia panggil Nona?" tanyanya pada Yuna.


"Tidak tahu!" jawab Yuna.


"Ayuna." Mahen terkejut saat melihat Yuna ada disana. "Kamu kemana saja?" Mahen mendekat dan memegang tangan Yuna.


"Mahen, aku ..." Ayuna menarik tangannya.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa yang terjadi?" Yuna bisa melihat kalau Mahen benar-benar khawatir padanya.


"Tidak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja." jawab Yuna. "Kamu mau ketemu tuan Al?" tanyanya.


"Iya. Aku harus menyerahkan laporan ini." Mahen memperlihatkan file yang dia bawa.


"Masuk saja, tuan Al sedang bersama Jhosua." ucap Yuna. Mahen mengangguk dan segera masuk ke ruangan Al.


"Kamu cukup terkenal ya disini." ucap Refa yang sejak tadi memperhatikan interaksi diantara mereka. Ayuna hanya tersenyum.


"Ayuna sudah kembali." ucap Mahen setelah menyerahkan laporannya pada Al.


"Seperti yang kau lihat." jawab Al.


"Aku senang." Mahen memperlihatkan lesung pipinya.


"Ini." Al menyerahkan kembali laporan yang sudah dia tanda tangani itu.


"Tapi, aku masih penasaran apa yang terjadi padanya? Kenapa kau seperti orang gila saat dia pergi." ucap Mahen.


"Bukan urusanmu! Jangan ganggu dia, kembalilah ke ruanganmu." usir Al. Mahen keluar, tapi dia tetap singgah di meja Yuna.


"Yuna, apa kamu mau makan siang denganku?" tanya Mahen.


"Maaf, Mahen, aku banyak pekerjaan." tolak Yuna.


"Tapi, banyak sekali yang ingin kutanyakan padamu." jawabnya.


"Jangan ganggu dia!" kali ini perintah itu bukan dari Al melainkan Hans. Mahen menatap sinis pada kakeknya.


"Aku duluan ya! Kalau kamu berubah pikiran hubungi aku." Mahen meninggalkan Yuna. Saat berada disebelah Hans dia berhenti sebentar.


"Kakek selalu saja mengangguku." setelah berkata seperti itu dia segera meninggalkan Hans.


"Dasar anak nakal!" ucap Hans. "Dimana Al?" tanyanya pada Yuna.


"Ada di dalam, Tuan." jawab Yuna. Hans berjalan ke ruangan Al dan segera masuk saat Jhosua keluar. Refa berjalan ke pantry dan membuatkan kopi untuk mereka.


"Kamu mau kemana?" tanya Yuna saat melihat Refa berjalan ke ruangan Al dengan dua gelas kopi ditangannya.


"Aku mau mengantarkan ini untuk tuan Ivander." jawabnya.


"Biar aku saja!" Yuna mengambil nampan itu dari tangannya dan masuk ke ruangan Al.


"Selalu saja dia cari muka. Padahal ini kesempatanku untuk bertemu dengan pemilik Ivander Group." gerutunya.


"Langsung saja, apa yang ingin kakek katakan?" Al tetap melanjutkan pembicaraan mereka saat melihat Ayuna yang masuk. Yuna meletakkan kopi itu di hadapan Hans dan Al. Hans menatapnya.


"Kamu apa kabar?" tanya Hans.


"Baik, Tuan." jawab Yuna.


"Kamu mau kemana?" tanya Al saat melihat Yuna akan keluar. "Tetaplah disini." pintanya. Ayuna mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Jadi, apa yang ingin kakek tanyakan?" Al kembali fokus pada pria sepuh yang ada di depannya.


"Sejak kapan kau tahu bahwa Monika bukan ibu kandungmu?" Ayuna terkejut mendengar pertanyaan Hans. Dia menatap lekat pada Al.


"Di hari meninggalnya papa." Hans kaget begitupun dengan Yuna.


~tbc