CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 109



"Kapan oma bisa ketemu dengan kakekmu?" Ayuna menatap Al.


"Oma, sebenarnya ada yang belum kita ceritain ke oma." jawab Al.


"Apa?"


"Sebenarnya, keluargaku tidak mendukung hubungan kami." jawab Al dan Yuna berharap oma tidak terkejut dengan ini. Oma Tyas tidak bereaksi apa-apa, beliau tidak terkejut sama sekali.


"Oma sudah menduga hal ini." Ayuna dan Al yang terkejut.


"Maksud, Oma?" tanya Yuna.


"Itulah alasan oma datang kesini. Oma sudah menduga ada sesuatu yang terjadi dalam hubungan kalian."


"Apa oma dengar semua yang dikatakan mamanya Al?" Yuna menatap oma Tyas dengan penuh tanda tanya.


"Oma tahu dari mana?" Al bingung bagaimana oma bisa tahu, dia menatap Yuna dan Ayuna menggeleng.


"Bukan Yuna!" Oma mengerti tatapan Al pada Yuna.


"Jadi, darimana oma tahu kalau keluargaku tidak merestui kami?" Al masih penasaran.


"Oma bisa melihat dari sikap kalian. Selama ini, kalian belum pernah mempertemukan oma dengan keluargamu. Jadi oma bisa menilai itu, apalagi Yuna hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja." oma Tyas tidak ingin menyakiti perasaan Al. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia mendengar bagaimana mamanya menghina cucu kesayangannya.


"Tapi, Al tidak pernah mempermasalahkan itu, Oma. Al malah beruntung memiliki Yuna, karena Ayunalah Al bisa disini."


"Oma, tahu bahwa cinta kamu tulus untuk cucu oma. Jadi, tolong kamu pertemukan saya dengan kakekmu."


"Baiklah, Oma, Besok Al akan mengatur supaya oma bisa ketemu dengan kakek." Alvaro setuju untuk mempertemukan oma dengan kakeknya.


"Kalau begitu oma ke kamar dulu. Kalian lanjutkan makannya." setelah berkata seperti iti oma Tyas meninggalkan mereka di meja makan.


"Kamu yakin?" tanya Yuna.


"Mau bagaimana lagi? Oma bersikeras." jawab Al.


"Tapi, bagaimana jika kakek malah buat oma sedih?" Ayuna khawatir jika keluarga Al akan menyakiti omanya. Apalagi melihat sikap mama Al padanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi." Al berjanji padanya. "Aku hubungi kakek dulu." Al mengambil ponselnya dan menghubungi Hans.


"Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Hans setelah mengangkat telepon dari Al.


"Apa besok kakek ada acara?" tanya Al.


"Kenapa?"


"Jika tidak, bisakah kita bertemu?"


"Ada apa?" Hans bertanya-tanya, kenapa Al tiba-tiba ingin menemuinya.


"Besok aku jelasin, bagaimana?" tanyanya.


"Baiklah, aku tunggu di rumah jam 11.00 wib." jawab Hans.


"Kita tidak akan bertemu di rumah, aku akan menunggu kakek di La Pasta Resto." ucap Al.


"Baiklah." Hans setuju, karena menurutnya sudah lama juga dia tidak pernah kesana bersama Al. Terakhir kali sewaktu Al masih remaja.


🌸🌸🌸


"Bagaimana Al?" tanya Oma saat melihat Al bersiap untuk berangkat kerja.


"Sudah oma, siang nanti Al jemput oma." ucapnya.


"Kalau begitu Al berangkat dulu ya." pamitnya.


"Tunggu, aku ikut!" Ayuna yang baru keluar dari kamarnya berjalan tergesa-gesa.


"Kamu tidak perlu masuk, temani saja oma disini." cegah Al.


"Tidak apa-apa, Al, Oma yakin kamu juga sangat membutuhkan Yuna disana." oma menyuruh Al untuk pergi bersama Yuna.


"Tapi, Oma ..."


"Baiklah, Oma, kita berangkat dulu. Kalau ada apa-apa kabari Al maupun Yuna. Dan nanti, ada asisten rumah tangga yang akan datang." setelah menjelaskan semuanya, Al dan Yuna segera berangkat ke kantor, karena hari pagi ini Al ada jadwal meeting.


"Kamu yakin, oma gak apa-apa dibiarin sendiri?" Al masih ragu untuk meninggalkan oma di apartemen sendirian.


"Tidak apa-apa. Oma juga tidak suka jika kita selalu menempel padanya. Oma juga butuh privacy." Ayuna terlihat santai, berbeda dengan Al.


"Aku hanya tidak mau oma bosan, dan merasa kita tidak memperhatikannya." jelas Al.


"Itu karena kamu belum mengenalnya. Nanti jika kamu sudah terbiasa dengan Oma, maka kamu akan terkejut dengan sifat asli oma." jawab Yuna, Alvato manggut-manggut.


"Kita sudah sampai." ucap Al. "Ayo!" ajaknya saat mobil yang dia kendarai sudah berada di parkiran. Dan, mereka berjalan bersama memasuki Ivander Group.


Seluruh peserta rapat masuk dan duduk di kursi yang ada. Dan, disana juga ada Mahen, Ayuna menatapnya, lelaki itu tidak mempedulikannya. Akhirnya meeting mereka selesai. Baik Al maupun Mahen sama-sama bersikap profesional, Mereka mengesampingkan masalah pribadi diantara keduanya.


🌸🌸🌸


"Kita jemput oma dulukan?" tanya Yuna saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Tidak, Jo sudah menjemput oma. Jadi, kita langsung saja. Kakek tua itu tidak akan mau menunggu lama." jawabnya. Dan benar saja, saat mereka sudah masuk ke La Pasta resto, Hans sudah berada disana.


"Kakek sudah lama?" tanya Al begitu sampai di depan Hans.


"Tidak, Aku baru datang." jawabnya. "Ada apa?" tanyanya saat Al dan Yuna sudah duduk di meja yang sama dengannya. "Apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Sebenarnya, kami ..."


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." ucap Al.


"Siapa?" tanyanya.


"Omanya Yuna." jawab Al.


"Mau apa omamu ingin bertemu denganku?" dia menatap tajam pada Yuna. "Kaliankan sudah tahu bahwa aku masih belum merestui hubungan kalian." ucapnya, membuat Yuna terluka. "Jika kedatangannya untuk membuatku setuju, maka batalkan saja. Aku tidak akan merubah keputusanku."


"Oh ya? Apakah kau seyakin?" Ayuna mendengar suara oma yang datang dari belakang mereka. Oma Tyas datang sendiri, tidak ada Jhosua yang mengantarnya. Hans menatap ke arah suara yang tidak jauh dari meja mereka.


"Anastasya!" Hans berdiri saat tahu siapa yang berdiri di depannya.


"Kenapa kau sekaget itu?" Oma mendekat dan duduk di meja yang sama dengan mereka.


"Benarkah ini kamu?" Hans masih belum percaya.


"Tentu saja. Tapi, ada apa dengan ekspresimu itu? Kenapa kau seperti baru melihat hantu?"


"Kamu darimana saja?" Hans melupakan sebentar keberadaan Yuna dan Al.


"Apa perlunya untukmu?" tanya Oma.


"Tentu saja, kamu tidak tahu gimana khawatirnya aku." jawab Hans.


"Lupakan tentang kita, aku memintamu datang kesini untuk membahas hubungan cucu kita." Hans semakin kaget.


"Cucu? Jadi dia ...?"


"Iya, dia cucu kesayanganku, Ayuna!" Hans terkejut begitupun dengan Al dan Yuna. "Jadi, apa yang telah kau lakukan padanya? Ku dengar kau tidak merestui hubungan mereka?" Oma Tyas memberondongnya dengan bebagai pertanyaan yang sejak kemarin menari-nari di benaknya.


"Aku ..." Hans tidak bisa berkutik saat bersama oma Tyas.


"Apa yang menjadi masalahmu? Kenapa kau tidak membiarkan mereka bersatu?" oma mulai emosi.


"Kamu tenanglah, aku bisa jelaskan semuanya." Hans mencoba menenangkannya. Sementara Al dan Yuna hanya bisa diam melihat drama yang terjadi diantara kakek dan oma mereka.


"Jadi, jelaskan padaku? Kenapa kau menentang hubungan mereka." oma Tyas berpangku tangan, dan menatap tajam padanya.


"Apa yang harus ku katakan padamu?" batin Hans. Sementara oma sudah mulai tidak sabar.


"HANSSS!!" teriak oma, karena melihat Hans masih tidak berbicara. Sementara yang lain begitu terkejut saat melihat bagaimana oma Tyas berteriak pada Hans Ivander.


~tbc


🐼Jangan lupa like, comment dan vote ya. Biar author makiiinnn semangat😍Terima kasih!