
"Kenapa oma tega sekali padaku?" Al melempar kaleng minuman soda yang ada ditangannya. Lama Al termenung di taman hotel. Setelah dirasa dinginnya angin malam menembus kulitnya, Alvaro kembali masuk ke dalam hotel. Baru saja dia sampai di dalam, hujan turun dengan derasnya.
"Sepertinya alampun tahu suasana hatiku saat ini. Huh, aku harus tidur sendiri lagi. Sial sekali nasibku. Belum sehari merasakan bahagia memiliki istri." Alvaro membuka pintu kamar dengan wajah tertunduk lemas.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" Al terperajat, dia mengangkat wajahnya dan melihat Ayuna sedang berdiri di tak jauh darinya.
"Sayang!!" Al berlari ke arah Yuna dan langsung memeluk erat tubuhnya. "Aku pikir kamu benaran pergi bersama oma." ucapnya.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu disini sendiri." Ayuna menepuk-nepuk pelan punggung Al.
"Benarkah?" Al melepas pelukannya, dan menatap lekat mata Yuna. Kemudian, Al membungkuk dan mencium bibir Yuna dengan lembut. Tubuh Yuna bergetar, namun dia menikmatinya. Ada rasa aneh tiba-tiba mengaliri di tubuh Yuna. Al melepaskannya, Ayuna merasa sedikit kecewa. Al kembali menatap mata pekat itu, lalu mendaratkan ciuman di dahi Yuna. Alvaro tidak berhenti disana, dia mencium mata dan wajah Yuna, lalu kembali menelusuri bibirnya. Al mendorong Yuna hingga tubuhnya merapat ke dinding. Al kembali mengulum bibir Yuna, kaki Yuna bergetar saat Al menekan kakinya agar merapat padanya. Tangan Al mulai membuka kancing piyama Yuna satu persatu, tanpa memberi celah untuk Yuna mengambil napas.
"Al... !?"
"Kenapa?" Al menatap wajah Yuna yang memerah.
"Tidak disini, Al." tangannya menahan agar piyamanya tidak melorot. Al menjawabnya dengan kembali mengulum bibirnya kemudian mengangkatnya dan membawa Yuna ke tempat tidur.
Ayuna bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi Al menuntunnya. Al memberikan sentuhan lembut pada bibir dan tubuh Yuna. Ayuna mengeliat setiap kali merasakan sentuhan pada bagian tubuhnya yang sensitif. Ayuna tidak lagi malu, dia sudah bisa membalas setiap sentuhan Al.
Tapi, Ayuna tidak siap dengan apa yang terjadi. Ayuna merasakan sakit yang luar biasa. Dia hanya mampu mengigit bibirnya dan merintih. Tangannya mencengkram punggung Al dengan sangat kuat.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Al saat merasakan sakit pada punggungnya.
"T-tidak." jawabnya.
"Maafkan aku! Aku gak tahu kalau ..."
"Tidak perlu minta maaf, aku baik-baik saja." Yuna mencoba meyakinkannya, tangannya berada di leher Al. Melihat Ayuna menginginkannya, Al kembali masukinya, tapi kali ini lebih perlahan, karena dia tidak ingin Ayuna tersakiti.
Ayuna tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Rasa sakit itu berganti menjadi sensasi kenikmatan yang belum pernah dia rasakan. Al terus memacu tubuhnya, Ayuna kembali merasakan sesuatu yang mengelora dalam dirinya. Semakin kuat Al berolahraga, semakin menguat juga gelora yang Yuna rasakan Kamar itu dipenuhi dengan hawa panas yang keluar dari tubuh keduanya. Peluh mengalir dari tubuh mereka, hingga akhirnya Ayuna mengeluarkan teriakan kecil. Ayuna memeluk erat tubuh Al saat ini dia sangat bahagia, dia memberikan apa yang selama ini dia jaga untuk lelaki yang begitu dia cintai.
"Aku mencintaimu, Al!" ucapnya.
"Aku lebih mencintaimu!" Al mengecup dahinya, dan memeluknya erat.
🍀🍀🍀
"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Hans saat melihat Tyas mulai mengepak barang-barangnya.
"Iya, sudah lama aku meninggalkan rumah." jawabnya.
"Apa kau tidak bisa tinggal disini saja?" Hans duduk di tempat tidur.
"Aku tidak bisa meninggalkan rumahku terlalu lama." jawabnya.
"Apa tante akan pulang?" Soraya yang melihat Tyas sedang berkemas. Dia bergabung dengan Hans.
"Iya, kasihan rumah jika ditinggal terllau lama." jawabnya.
"Ayolah, Tan. Bukankah disana ada yang ngurusin? Aku sangat senang jika tante disini. Aku punya teman untuk berbagi cerita." dia kembali membujuknya untuk tetap tinggal. Sejak kepergian Mahen, Soraya merasa senang dengan kehadiran Tyas. Tyaa membantunya untuk bangkit dan tak jarang mereka menghabiskan waktu berdua. Baik itu di dapur ataupun di taman.
"Kau sudah dengar? Dia masih membutuhkanmu." ucap Hans.
"Ayolah! Kau bisa lihat putrimu sudah sebesar ini. Dia bahkan sebentar lagi akan menjadi nenek." jawabnya.
"Apa tante tidak akan menunggu Al dan Yuna dulu? Ayuna pasti kecewa saat tahu tante pergi tanpa bertemu dengannya." Soraya mengerahkan semua cara untuk mencegah Tyas pergi. Rasa nyaman membuatnya melakukan itu.
"Soraya benar!" Tyas menatapnya.
"Baiklah!" mereka tersenyum puas karena berhasil menghentikannya.
"Aku penasaran apakah mereka sudah berhasil memberikan kita cucu?" kelekar Hans.
"Dasar kau! Apa kau pikir dengan sekali percobaan maka akan cucumu akan datang?" sela Tyas.
"Aku sudah lama ingin mendengar tangis bayi di rumah ini." Hans membayangkan jika dirumahnya kembali diisi dengan tangis dan tawa dari makhluk kecil itu.
"Papa benar! Akupun berharap seperti itu." timpal Soraya.
🍀🍀🍀
"Selamat pagi!" melihat Yuna baru membuka matanya, Al mendekat dan mengecup pipinya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Yuna.
"Iya. Aku sudah membawakan sarapanmu." ucap Al sambil membelai wajahnya.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Yuna menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Kamu tidur sangat lelap, aku tidak mungkin membangunkanmu." jawabnya.
"Tubuhku rasanya sakit dan remuk semua." jawabnya.
"Tenang saja, itu baru yang pertama. Selanjutnya kamu tidak akan merasakan apapun." Al terbahak saat melihat mata Yuna yang membesar.
"Pertama apanya? Kamu membuatku berolahraga hingga subuh." protesnya. Al kembali tertawa.
"Itu karena aku menahannya hingga bertahun-tahun." ucapnya.
"Ayo, bangun dan sarapan! Kamu harus mengembalikan tenangamu agar bisa bertahan untuk ronde selanjutnya." Ayuna melemparkan bantal yang ada disebelahnya. Ayuna melilitkan selimut di seluruh tubuhnya.
"Mau kemana?" Al berdiri dihadapannya.
"Aku harus mandi, tubuhku terasa lengket semua." Ayuna berteriak kaget karena Al tiba-tiba menggendongnya.
"Al, apa yang kamu lakukan?" teriaknya.
"Mengantarmu ke kamar mandi." Al berjalan menuju kamar mandi.
"Stop, Al! Turunkan aku! Aku bisa sendiri." Ayuna menghentikannya.
"Aku takut kamu tiba-tiba pingsan di dalam sana." jawabnya.
"Al, aku letih!" Yuna sangat yakin Al mempunyai niat tersembunyi.
"Aku tidak akan melakukan apapun." Ayuna menatap tajam.
"Janji?" tanyanya.
"Hhmm." Alvaro membawa Yuna ke kamar mandi. Dan seperti perkiraan Yuna, Alvaro membuatnya kembali berkeringat di tempat dingin itu. Satu hal baru yang Ayuna ketahui tentang sisi suaminya. Alvaro tidak pernah merasa puas. Ayuna bingung bagaimana bisa dia menahan semua hasratnya selama ini.
"Ayolah! Jangan ngambek terus." Alnyang masih menggunakan handuk mencoba membujuk istrinya itu.
"Kamu sih! Gak tahu aku letih dan lapar." jawab Yuna sambil mengeringkan rambutnya.
"Gak baik loh, marah-marah ke suami. Dosa!" Al berjalan menuju lemari, dia mengambil baju kaos berwarna putih, dan celana jeans berwarna biru. Ayuna terus saja memperhatikannya. Ayuna melihat bekas luka yang ada di kaki Al. Dia berdiir dan mendekat padanya.
"Ada apa?" tanya Al yang baru selesai memakai baju.
"Ini... kenapa?" Yuna menunjuk bekas jahitan di lutut Al.
"Apa kamu baru melihatnya?" Al mengangkat sedikit handuknya. Hingga Yuna bisa melihat secara menyeluruh bekas luka itu.
"Tidak, kemarin aku sempat melihatnya. Tapi aku tidak sempat bertanya." Yuna memegang pelan lutut Al. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ini luka yang aku dapat saat kita kecelakaan dulu" Ayuna terkejut.
"Aku harus menjalani operasi berkali-kali untuk dapat berdiri seperti ini. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku sudah benar-benar sembuh." Al seperti tahu apa yang dia pikirkan.
"Benarkah?" Al mengangguk.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku yakin kita tidak akan bisa pulang hari ini." Ayuna menarik tangannya yang masih berada dilutut Al, matanya tidak sengaja menatap handuk Al yang masih terangkat hingga paha.
"Aagghhh!!" teriaknya, lalu segera berlari ke ruang tv. Alvaro hanya bisa tertawa melihatnya.
~tbc