CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 191



"Saya rasa sebaiknya kita pulang, Nona." ucap Jo. Sejak tadi mereka sudah mencari di lokasi jatuhnya Yuna.


"Apa mungkin ponselku ada padanya?" ujar Yuna.


"Tuan Bumi?" Yuna mengangguk. Jhosua segera menghubungi Kai.


"Hallo!" jawab Kai.


"Apa tuan Bumi ada?" tanya Jo.


"Beliau ada di rumahnya. Ada apa?" tanya Kai.


"Aku ingin menanyakan, apakah ponsel nona Ayuna ada padanya?" jawab Jo.


"Aku tidak tahu. Nanti akan kutanyakan." Kai berbohong, padahal dia tahu bahwa ponsel itu ada pada Bumi. Tapi, dia tidak bisa mendahului Bumi.


"Baik, tolong kabari saya jika ponsel itu ada pada beliau." Jhosua menutup panggilan itu.


"Gimana, Jo?" tanya Yuna.


"Asisten Kai tidak tahu, Nona. Saat ini dia tidak bersama tuan Bumi." Ayuna terdiam.


"Sebaiknya kita pulang, Nona. Wajah anda terlihat pucat." ajaknya, Yuna mengangguk lemah. "Apa anda mau kita membeli ponsel baru, Nona?" tanya Jo saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Tidak usah. Aku bisa memakai ponsel Dea." jawabnya. Yuna yakin ponselnya ada pada Bumi. "Atau anda coba lagi, mungkin saja tuan Al sudah bisa dihubungi." Jhosua menyodorkan ponselnya. Ayuna mengambil ponsel itu dan segera menghubungi Al.


"Hallo!" setelah tiga kali panggilan akhirnya Yuna bisa mendengar suara Al.


"Sayang, ini aku!" ucap Yuna. "Maaf ya, aku tidak tahu ponselku ada dimana. Makanya aku ...."


"Ponselmu ada pada Bumi." potong Al.


"Benarkah?" ternyata dugaannya benar.


"Kenapa kau bertemu dengannya?" Ayuna terkejut, karena nada bicara Al sangat berbeda.


"Aku ingin mengetahui alasan dia melakukan itu." Yuna mencoba untuk tidak terpancing dengan perubahan Al.


"Kamu bisa pergi dengan Jo. Apa kau sengaja ingin berduaan dengannya?" ucap Al.


"Apa yang kamu katakan?" jawab Yuna.


"Sudahlah! Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu."


"Tapi, Al ....?" telepon itu terputus.


"Kenapa dengannya?" tanya Yuna. Ayuna mencoba menghubungi Al lagi, tapi pria itu tidak mengangkatnya sama sekali.


"Ada apa, Nona?" tanya Jo.


"Kenapa dia marah?" Yuna seolah bertanya pada dirinya sendiri. Jhosua memilih untuk tidak menanggapinya. Mereka memasuki gerbang utama keluarga Ivander.


"Hati-hati, Nona." Jhosua membantunya masuk ke dalam.


"Nyonya kenapa?" tanya Dea saat melihat Ayuna masuk dengan dipegangi Jo. Dea mengambil alih.


"Jaga nona baik-baik." pesan Jo, Dea mengangguk. "Saya permisi, nona. Jika anda membutuhkan bantuan saya, minta Dea untuk menghubungi saya." Ayuna mengangguk lemah. Dia masih kepikiran dengan sikap Al tadi.


"Ayo, saya antar ke kamar, Nyonya." ucap Dea. Mereka berjalan perlahan menaiki anak tangga.


"De, mulai besok aku mau tidur di kamar tamu saja." ucap Yuna.


"Kamar tamu? Tapi kenapa, Nyonya?" tanya Dea.


"Tidak apa-apa." Yuna ingin Alvaro adalah orang pertama yang tahu mengenai kehamilannya. Itu sebabnya dia tidak mengatakan pada siapapun bahwa saat ini dia sedang mengandung.


"Baik, Nyonya." jawabnya.


"Apa aku bisa meminjam ponselmu? Ponselku hilang, dan aku belum sempat menghubungi Al." jelasnya. Dea mengambil ponselnya dari kantong dan menyerahkannya pada Yuna. "Terima kasih." ucap Yuna.


"Kalau begitu saya keluar dulu, Nyonya." Yuna mengangguk, dia mulai sibuk dengan ponsel Dea.


"Kenapa dia tidak menjawab ponselnya?" Yuna sudah berulang kali mencoba menghubungi Al. Tapi, Alvaro sengaja tidak mengangkatnya.


"Keluarga tuan Hans Ivander?" panggil perawat yang bertugas. Alvaro memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.


"Iya." jawabnya.


"Dokter ingin bicara dengan anda." Alvaro segera mengikuti perawat tadi.


"Mau kemana?" tanya Soraya yang baru kembali dari toilet.


"Dokter memanggil kita." mendengar itu Soraya mengikuti Al.


"Silahkan, Tuan." Al dan Soraya segera duduk dihadapan dokter bule itu.


"Bagaimana kondisi ayah saya?" tanya Soraya.


"Saat ini pasien sudah sadar." mereka segera tersenyum lega.


"Benarkah, Dok?" tanya Soraya. Dokter itu mengangguk.


"Untuk saat ini tuan Hans sudah melewati masa kritisnya. Karena ring yang terpasang sudah mulai membuat jantungnya bekerja kembali." jelas dokter itu.


"Terima kasih, Dok." jawab Al.


"Apa kami bisa bertemu dengan pasien?" tanya Soraya.


"Silahkan!" setelah mendapatkan izin dari dokter yang bertanggung jawab, mereka segera menuju ICU.


"Tante saja yang duluan." Soraya mengangguk. Alvaro memilih untuk menunggu di luar. Dia sengaja memberikan waktu untuk Soraya. Al mengambil ponselnya dan menghubungi Jhosua.


"Hallo, Tuan." jawab Jo.


"Saya sudah di apartemen." jawabnya.


"Tolong pantau terus pria itu. Begitu kerjasama ini berakhir, aku tidak ingin berhubungan kembali dengannya." perintahnya.


"Tapi, Tuan, Bukankah tuan Bumi sudah mengumumkan kalau mereka akan memilih kita untuk pembangunan perusahaannya?" tanya Jo.


"Kita tidak perlu mengambil proyek itu." jawab Al.


"Tapi, seluruh pemegang saham sudah menyetujuinya, Tuan." sela Jo.


"Tidak perlu memikirkan mereka. Aku yang akan mengurus mereka nanti. Saat ini, kau pastikan saja pria itu tidak mendekat pada istriku." Jo tahu bahwa saat ini Al sedang terbakar cemburu.


"Baik, tuan." jawab Jo. "Tuan, tadi ...."


"TUT TUTTTTT." Al sudah memutus panggilannya sebelum Jo selesai mengatakan mengenai Ayuna.


🍀🍀🍀


"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Dea begitu masuk ke kamar pribadi Yuna.


"Pagi, De!" jawabnya. Ayuna melihat jam yang ada diatas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 wib.


"Apa anda mau saya siapkan air panas?" tanya Dea.


"Tidak perlu!" tolaknya. Ayuna segera bangun, dia memilih bersandar saat merasakan penglihatannya tiba-tiba berkunang-kunang.


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Dea, saat measakan ada yang salah dengan majikannya itu.


"Aku baik-baik saja." jawabnya cepat. Ayuna bangun dan segera berjalan menuju kamar mandi. Dea merapikan kamar Yuna, dia juga mempersiapkan beberapa kebutuhan Yuna yang akan dipindahkan ke kamar tamu yang ada di bawah.


"Apa lagi yang harus saya pindahkan, Nyonya?" tanya Dea. Yuna memberitahunya apa saja yang harus dia bawa. Setelah itu, Ayuna turun ke ruang makan.


"Kenapa tidak di makan, Nyonya?" tanya mbok Nia.


"Aku minum susu aja, Mbok." Yuna meneguk susu itu, tapi belum habis setengah gelas, Yuna sudah berlari ke wastafel yang ada di dapur.


"Hoek!!! Hoek!!" Yuna memuntahkan kembali susu yang baru dia minum.


"Anda baik-baik saja?" tanya mbok Nia. Dia memberanikan diri menepuk-nepuk punggung Yuna.


"Kenapa rasa susunya aneh banget, Mbok? Apa sudah kadarluarsa?" tanyanya sambil menyeka mulutnya menggunakan tisu.


"Nggak, Non. Susunya baru di beli kemarin." jawab wanita paruh baya itu.


"Coba di cek lagi, Mbok. Kok rasanya seperti basi begitu." Mbok Nia berjalan ke kulkas dan mengambil kotak susu. Seperti permintaan Yuna , dia memeriksa kembali tanggal yang tertera di kemasan.


"Masih lama, Nyonya." dia menunjukkan pada Yuna.


"Kalau begitu, mulai besok aku nggak mau minum itu lagi. Mbok belikan susu yang rasa strowberi aja." ucapnya. Ayuna lalu berjalan keluar, saat melihat Jhosua dia segera mengambil tasnya.


"Jo, kita temui tuan Bumi." ucapnya setelah duduk di kursi belakang.


"B-baik, Nona." setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat Bumi.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Bumi." ucap Yuna pada Kai yang menemui mereka.


"Silahkan, Nona." Kai membuka pintu. Ayuna masuk dan mendapati Bumi sedang menikmati sarapannya.


"Akhirnya kau datang." Bumi mempersilahkan dia untuk duduk. "Apa kau sudah sarapan?" tanyanya.


"Aku kesini untuk mengambil ponselku." jawab Yuna.


"Kenapa buru-buru? Kau terlihat sangat pucat dan lemah." jawabnya.


"Kemarikan ponselku!" pinta Yuna.


"Nanti akan kuberikan. Duduklah dulu, seenggaknya temani aku makan." Bumi kembali melanjutlan sarapannya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Yuna. "Kenapa kau hadir dan mengacaukan hidupku?" teriaknya. Bumi menoleh dan melihat Yuna mulai berlinang airmata. Sejak semalam dia mencoba bertahan. Gara-gara Bumi, Alvaro saat ini marah padanya.


"Apa yang terjadi?" Bumi yang terkejut segera berdiri dan menghampirinya.


"Jangan dekati aku!" Yuna mundur.


"Kau tidak boleh seperti ini. Kasihan bayi yang ada dalam perutmu." bujuknya. Ayuna segera tersadar, dengan cepat dia memegang perutnya yang masih datar itu.


"Duduklah!" Ayuna mengikuti perintahnya.


"Ini, sebaiknya kamu minum dulu." Bumi membuka botol air mineral dan memberikannya pada Yuna. Ayuna meneguk air dalam botol itu.


"Apa yang terjadi?" tanyanya lembut.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau selalu mengangguku?" kali ini Yuna mulai bisa mengontrol emosinya. Menurutnya, inilah saatnya untuk mengetahui apa tujuan Bumi yang sebenarnya.


"Aku hanya ingin membantumu." jawabnya.


"Aku punya suami, jadi aku tidak membutuhkan bantuanmu." jawab Yuna.


"Lalu, dimana suamimu saat ini? Kenapa dia meninggalkanmu yang sedang hamil? Apakah perusahaan orang lain jauh lebih penting dibanding istri dan calon anaknya?" Yuna tercengang, apa yang Bumi katakan benar.


"D-dia ...."


"Aku tidak punya niat buruk padamu. Percayalah!" ujarnya.


"Lalu, apa kau melakukan ini karena kau menyukaiku?" Yuna langsung mengutarakan apa yang ada dipikirannya.


"Iya!" setelah lama terdiam, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.


~tbc