CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 195



"Apa kau butuh bantuan?" Bumi menawarkan diri saat mereka keluar dari pesawat.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." tolak Yuna, dia menarik koper kecil miliknya.


"Tidak bail bagimu membawa barang seorang diri." Bumi mengambil koper itu dari tangan Yuna dan menariknya, membiarkan Yuna yang terdiam memperhatikannya. Jhosua yang melihat tindakan Bumi itu ingin menghentikannya, tapi Kai menahannya.


"Apa yang kau lakukan?" Jhosua menatap tajam padanya.


"Harusnya kau berterima kasih pada tuanku. Sebagai asisten seharusnya kau lebih memperhatikan nyonya Ayuna." setelah mengatakan itu, Kai segera menyusul Bumi dan juga Yuna.


"Apa maksudnya?" Jo tidak mengerti dengan apa yang Kai katakan.


"Naiklah!" Bumi membuka pintu mobil itu untuk Yuna.


"Kenapa aku harus pergi bersamamu? Kami punya jemputan sendiri." jawab Yuna.


"Kita akan mempersingkat waktu jika pergi bersama." ucapnya, Yuna melihat sekilas pada Jo, kemudian dia masuk ke mobil itu. Kai meminta sopir itu untuk naik di mobil jemputan Yuna, sementara mereka berada dalam satu mobil. Termasuk Jhosua, dia duduk di deoan bersama Kai.


"Apa kau selalu suka memaksa?" tanya Yuna saat mereka dalam perjalanan.


"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar." jawabnya. "Kau suda memeriksa file yang kukirim?" tanya Bumi.


"Sudah." jawabnya. Bumi mengambil sebotol air mineral, dia membuka tutupnya dan memberikannya pada Yuna. "Minumlah! Aku dengar air putih sangat baik untukmu." Ayuna mengambil botol itu dan langsung meminumnya.


"Terima kasih." ucapnya. Jhosua memasang telinganya, dia tidak ingin menimbulkan masalah untuk Al lagi. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat Yuna menyetujui perkataan Bumi.


"Apa setelah ini akan ada acara lainnya?" tanya Yuna. Saat ini mereka hanya melakukan serah terima resort milik Bumi. Ayuna harus datang sebagai perwakilan dari Ivander Construction.


"Aku rasa tidak." jawab Bumi.


"Baguslah! Setelah acara selesai, aku bisa langsung kembali ke Jakarta." jawabnya.


"Kenapa terburu-buru? Kau tidak bisa memaksakan kesehatanmu. Ingat saat ini kau tidak boleh terlalu letih." Ayuna menoleh pada Bumi. Pria itu sangat perhatian padanya.


Dia teringat pada.Al yang bahkan sama sekali tidak mempedulikannya. Sudah beberapa hari terakhir, Al bahkan tidak menghubunginya. Bahkan, telepon dari Yuna tidak dia angkat. Hingga kini Al bahkan belum tau bahwa Ayuna sedang mengandung buah cinta mereka.


"Kapan bosmu kembali?" Bumi bertanya pada Jo.


"Sama tidak tahu, Tuan." jawabnya.


"Bosmu itu terlalu angkuh. Dia tidak sadar keangkuhannya itu malah merugikan dirinya sendiri." Jhosua menahan dirinya saat mendengar Bumi mengatakan hal buruk tentang Al.


"Kenapa kau mengatai suamiku seperti itu?" Yuna protes.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku heran gimana kau bisa bertahan dengan pria seperti itu." ledek Bumi.


"Kau tidak akan pernah mengerti." jawab Yuna ketus.


"Aku hanya ingin membantumu." jawab Bumi. "Jika dia kembali, pasti semuanya akan sangat mudah untukmu. Kau tidak perlu bersusah payah seperti ini." Ayuna terharu mendengarnya.


"Kita sudah sampai, Tuan." ucap Kai. Mereka tiba di resort milik Bumi. Lahan yang semula kosong, kini tampak indah dengan adanya resort mewah yang dibangun di dekat pantai.


"Indahnya." puji Yuna yang baru pertama kali melihat langsung proyek yang dijalani Al.


"Semua ini terjadi berkat suamimu." Ayuna tersenyum, begitupun dengan Bumi. "Ayo, masuk!" Yuna mengangguk, mereka memasuki resort itu. Jhosua membawa mereka berkeliling. Ayuna tak henti-hentinya berdecak kagum, terlebih lagi saat melihat aquarium raksasaa yang terhubung dengan lautan.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Jo pada Bumi.


"Apa kau menyukainya?" bukannya menjawab pertanyaan Jo, Bumi malah mengalihkan pertanyaan pada Yuna.


"Tentu saja. Ini sangat indah." jawab Yuna.


"Aku sangat puas dengan hasil kerja kalian. Tidak salah aku memilih Ivander untuk menghandle semuanya." Bumi memberi jawaban untuk pertanyaan Jo.


"Kalau begitu, apa serah terimanya bisa kita mulai?" Jhosua ingin segera menyelesaikan urusan mereka. Agar dia bisa secepatnya menjauhkan Bumi dari Yuna.


"Tentu saja." jawab Bumi. Mereka berjalan menuju kantor yang dikhususkan untuk Bumi. Sesampainya disana, Jo memyerahkan berkas yang harus Bumi tanda tangani, begitupun sebaliknya.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi." ucap Jo setelah urusan mereka selesai. Ayuna mengambil tasnya dan berdiri.


"Kenapa terburu-buru?" tanya Bumi.


"Kami harus segera kembali ke Jakarta." Jo yang menjawab mewakili Yuna.


"Apa kau lupa yang aku katakan tadi? Kau tidak dalam kondisi dimana kau bisa bebas pergi begitu saja." Ayuna menoleh padanya.


"Maaf, Tuan, Tapi anda tidak berhak mencegah nona Ayuna." sela Jo, Bumi menatap tajam padanya.


"Dia benar, Jo. Kita akan menginap untuk malam ini. Besok pagi kita kembali ke Jakarta." Ayuna membenarkan perkataan Bumi. Dia harus menjaga kondisi kandungannya.


"Tapi, Nona ...."


"Saya sudah menyiapkan kamar untuk anda." ucap Kai.


"Terima kasih." Kai mengarahkan Yuna untuk mengikutinya.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Jo yang masih bersama dengan Bumi.


"Anda tidak perlu repot mengurusi beliau. Karena saya bisa menjaga dan melindunginya." jawab Jo.


"Aku rasa kau bahkan tidak tahu kondisi Ayuna saat ini." ujarnya.


"Apa maksud anda?" Jo tidak mengerti.


"Apakah tuanmu juga tidak tahu apapun?" alis Jo mengerinyit. "Sungguh terlalu, dia sibuk mengurusi perusahaan orang. Tapi, dia bahkan tidak tahu kondisi istrinya saat ini." Bumi meninggalkan Jhosua yang kebingungan.


"Apa yang dia katakan?" Jhosua benar-benar tidak mengerti.


🍀🍀🍀


"Kalian dimana?" tanya Al yang baru saja memasuki mobil.


"Resort, Tuan." jawab Jo.


"1 jam lagi aku akan tiba disana. Dimana istriku?" tanya Al.


"Beliau masih di kamar." jawabnya.


"Jaga terus dia! Jangan sampai pria itu mendekatinya." setelah mengatakan itu, Al meminta sopir untuk meninggalkan Bandara.


Sesampainya di Jakarta, dia segera menyusul Ayuna ke Lombok. Hatinya tidak tenang, mengetahui Bumi bersama dengan Yuna.


"Kenapa lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi." ucap Bumi begitu melihat Ayuna memasuki restoran.


"Untuk apa kau menungguku?" tanya Yuna.


"Aku yakin, kau pasti tidak suka makan sendiri." jawabnya, Bumi menarik kursi kemudian mempersilahkan Yuna untuk duduk.


"Terima kasih." ucapnya.


"Kau mau makan apa?" tanya Bumi.


"Apa ikan bakar ada?" tanya Yuna tanpa melihat menu.


"Aku yakin ini pasti permintaan Alvaro junior." ledeknya, Yuna tertawa kecil.


"Kau tahu saja." jawab Yuna.


"Ayah dan anak sama saja." Bumi kembali meledeknya. Kemudian dia memanggil pelayan. Mereka harus menunggu sekitar 30 menit hingga permintaan Yuna datang.


"Apa kau bisa beristirahat dengan tenang?" tanya Bumi.


"Yah, aku sangat puas dengan pelayanan disini." puji Yuna.


"Syukurlah!" jaawabnya.


"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanya Yuna. Sejak Bumi tau dia hamil, Bumi begitu memperhatikannya.


"Aku tahu bagaimana susahnya hamil tanpa ada suami disisimu." Ayuna tertegun.


"Kau mengasihaniku?" tanyanya.


"Tidak, tapi lebih tepatnya aku mendukungmu." Ayuna tersenyum mendengarnya. "Bukankah wanita hamil harus selalu bahagia?" Ayuna mengangguk dan tertawa.


"Kau sangat menyenangkan." mereka tertawa bersama.


"Jadi ini yang kau lakukan selama aku tidak ada?" Ayuna yang mendengar suara Al segera menoleh ke belakang.


"Al ....?" dia tersenyum bahagia. Ayuna berdiri dan berlari menghampirinya.


"Ayuna, hati-hati!" teriak Bumi.


"Al, kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahuku?" Ayuna memeluknya, tapi pria itu diam tak bergeming.


"Jangan sentuh aku!" Ayuna kaget, karena tiba-tiba Al mendorongnya. Untung saja Bumi dengan sigap menangkap tubuh Yuna.


"Al, apa yang kau lakukan?" Ayuna terlihat bingung.


"Aku tidak menyangka, ternyata seperti inilah dirimu. Disaat aku disana berjuang, kau malah tertawa bahagia bersama pria lain." tudingnya.


"Jaga bicaramu!" teriak Bumi.


"Diam kau! Kalian berdua sama-sama menjijikkan." setelah mengatakan itu, Alvaro meninggalkan Ayuna begitu saja.


"Al!!! Al!!" Ayuna berusaha mengejarnya, tapi Bumi mencegahnya.


"Tenanglah! Ingat bayimu!" ucap Bumi. Ayuna tersadar, dia hanya bisa menangisi kepergian Al.


"Dia hanya salah paham. Nanti kita jelaskan padanya." Bumi berusaha menenangkannya. Ayuna masih menangis.


~tbc