
"Tuan?" ucap Jo saat Al melintas di depannya. Alvaro menatap tajam padanya, kemudian bergegas menuju mobil yang masih terparkir di luar. "Tuan anda mau kemana? Dimana nona Ayuna?" Al tidak mengindahkannya, dia masuk ke mobil. Meninggalkan Jhosua yang kebingungan seorang diri. "Kenapa dengan tuan Al?" Jhosua bergegas menemui Yuna.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Sopir pada Al.
"Bandara." Al menatap hampa keluar jendela. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini pada Yuna. Tapi, melihat Ayuna tertawa bersama Bumi membakar amarahnya. Al tidak terima jika ada pria lain yang bisa membuat istrinya seceria itu. Dan, yang paling membuatnya marah adalah, Ayuna seolah tidak menjaga jarak dengan Bumi. Padahal menurut Al, Yuna tahu seperti apa perasaan Bumi padanya. Melihat itu, Al berpikir kalau Yuna juga memberikan Bumi kesempatan. Itulah alasannya dia begitu marah pada istrinya itu. Mobil itu melaju menuju bandara.
"Nona, apa yang terjadi?" Jhosua terkejut melihat Yuna yang masih menangis.
"Jo, dimana Al?" tanya Yuna.
"Tuan, sudah pergi!" Ayuna kembali menitikkan airmata.
"Sebenarnya ada apa, Nona?" tanya Jo, dia menatap sekilas pada Bumi yang berdiri di belakang Yuna.
"Al ...., Dia salah paham padaku. Dia berpikir aku ada hubungan dengan tuan Bumi." mendengar itu Jhosua mengeram dan mendekati Bumi.
"Saya sudah peringatkan anda untuk tidak menganggu nona Yuna." Jo memegang kerah jas Bumi.
"Jo, apa yang kau lakukan?" Yuna yang menyadari situasi sedang memanas mencoba menghentikan Jo.
"Semua ini kesalahannya! Jika, dia tidak menganggu anda, mungkin saat ini Tuan Al tidak akan marah." mata Jo memancarkan kemarahan.
"Bukan aku yang salah! Dia saja yang berlebihan."
"Anda ...."
"Hentikan, Jo!" teriak Yuna saat melihat Jo akan melayangkan bogeman untuk Bumi.
"Dia tidak melakukan apapun. Lebih baik kita pergi dari sini." ucap Yuna. "Aku minta maaf untuk semua yang terjadi."
"Tapi, Nona ....?" Jo belum puas.
"Sudahlah! Aku sangat letih." Ayuna berjalan menjauh dari mereka.
"Jangan pernah dekati nona Ayuna lagi." ancam Jo, setelah itu dia berlari menyusul Yuna.
"Jika aku mau, aku pasti bisa menghancurkan tuanmu." ujar Bumi pelan.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Kai yang baru tiba.
"Aku tidak apa-apa. Ayo!!" ajaknya. Kai menatap Jo, kemudian menyusul Bumi.
🍀🍀🍀
"Kenapa ponselnya nggak bisa dihubungi?" sejak tadi Yuna berusaha menghubungi Al.
"Kenapa, Nona?" tanya Jo yang baru masuk ke kamar Yuna.
"Jo, aku nggak bisa menghubungi Al. Tolong bantu aku!" pintanya. Jhosua mengangguk dan mengambil ponselnya.
"Tuan tidak dapat dihubungi, Nona." jawab Jo. Mendengar itu, Ayuna berdiri dan mulai mengemasi barang-barangnya.
"Anda mau kemana?" tanya Jo.
"Aku harus segera menyusul Al. Aku nggak mau dia kembali ke Jerman." Yuna terlihat tergesa-gesa.
"Tapi ini sudah malam, Nona." Jhosua mencoba menghentikannya.
"Aku harus pulang, Jo! Aku harus bertemu Al." Yuna selesai mengemas barangnya.
"Tapi, sudah tidak penerbangan untuk malam ini." Ayuna terhenyak. "Saya sudah memeriksanya." lanjut Jo.
"Bagaimana dengan bus atau kapal? Aku bisa naik pesawat di Bali." Ayuna tidak kehilangan ide.
"Ini sudah larut, Nona. Saya tidak akan membiarkan anda pulang dalam keadaan seperti ini. Kita tunggu hingga pagi. Saya akan memesan penerbangan pertama." Yuna terdiam, Jhosua meletakkan kembalu koper Yuna di tempatnya. "Sebaiknya anda istirahat!" ucap Jo sebelum keluar dari kamar Yuna.
"Bagaimana jika besok dia sudah pergi? Aku bahkan belum sempat memberitahunya kabar baik ini." Yuna kembali mengelus perutnya. "Maafkan, Mama, hampir saja mama melupakanmu." Untuk sesaat Yuna lupa kalau saat ini dia sedang hamil. Untung saja dia tidak berbuat nekat untuk pulang malam ini juga.
"Tuan???" Dea terkejut saat mendapati Al berada di depan rumah. Tanpa berkata apapun, Al segera menaiki anak tangga. Dia membuka pintu dan nengedarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian, Al berbaring di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar.
"Aku pulang karena merindukanmu. Tapi, kau malah bersenang-senang dengan pria brengsek itu." gumamnya. Al mengingat lagi bagaimana Ayuna tertawa lepas di depan Bumi. Dia terlihat sangat cantik, pantas saja Bumi begitu menginginkan istrinya itu. Lama Al melamun, hingga tanpa sadar dia terlelap dengan sendirinya.
🍀🍀🍀
"Selamat pagi, Tuan." sapa Dea saat melihat Al turun dari tangga.
"Nyonya meminta saya untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu, Tuan." lapor Dea. Alvaro terkejut mendengarnya.
"Kenapa dia melakukan itu?" Dea menggeleng. Dia juga tidak tahu alasan Yuna pindah ke kamar tamu. Alvaro bergegas menuju kamar tamu. Begitu Al membukanya, terlihat kamar itu penuh dengan barang-barang milik Yuna.
"Ternyata dia sudah merencanakan semua ini." Alvaro terlihat marah, wajahnya kembali memerah. Setelah melihat semua itu, Al bergegas menuju mobilnya. Dia bahkan mengabaikan sarapan yang telah dipersiapkan untuknya.
"Aku tidak menyangka, ternyata dia berniat pisah dariku. Apa dia sudah tidak menganggap aku ini suaminya? Pria itu benar-benar telah merubahnya." Alvaro memacu mobilnya menuju Ivander Group.
"Dimana Al?" tanya Yuna begitu dia sampai di rumah.
"Saya tidak tahu, Nyonya." jawab Dea.
"Apa semalam dia pulang?" Dea mengangguk, Yuna bernapas lega. Ayuna mengambil ponselnya dan mulai menghubungi nomor Al. Al yang melihat nama Yuna, di layar ponselnya memilih untuk mengabaikan panggilan itu. Dia kembali memeriksa berkas-berkas yang lama dia tinggalkan, begitupun dengan berkas yang Ayuna tanggani.
"Dia masih mengabaikan teleponku." ucap Yuna. Ayuna kembali menekan tombol hiaju di ponselnya, tapi kali ini dia menghubungi Refa.
"Hallo, Nyonya!" jawab Refa.
"Fa, apa Al ada di kantor?" tanyanya.
"Iya, Nyonya, Tuan ada di ruangannya." Yuna kembali menuju mobil, disana masih ada Jo yang menunggunya. "Makasih, Fa!" Yuna masuk dan memutus panggilan itu. "Kita ke kantor, Jo!" ucapnya.
"Ini berkasnya, Tuan." Refa menyerahkan beberapa dokumen yang Al minta.
"Apa kamu tahu siapa saja yang pernah kemari menemui istriku?" Refa mengerinyit.
"Maksud anda?" Refs tampak bingung.
"Apa kamu pernah melihat istriku pergi dengan pria lain?" Al memperjelas pertanyaannya. Refa menggeleng.
"Nyonya hanya pergi dengan asisten Jo." lapornya.
"Bagaimana dengan CEO Earth Corp? Apa dia pernah kesini?" Alvaro menatap tajam ke arahnya.
"Pernah beberapa kali, Tuan." mendengar itu semakin mematik rasa cemburunya. Mereka menoleh ke arah pintu, saat mendengar pintu terbuka.
"Fa, bisa kamu tinggalkan kita sebentar?" Refa mengangguk, sementara Al tampak acuh. Refa berjala keluar dengan rasa penasaran.
"Ada apa, asisten Jo?" tanyanya begitu melihat Jo berjaga di depan pintu.
"Kembali saja ke mejamu!" perintah Jo.
"Al, kita harus bicara! Aku bisa jelaskan." Yuna mendekat pada Al. Tapi, Alvaro tidak mengubrisi sama sekali. "Al, kamu salah paham. Aku dan tuan Bumi tidak ada hubungan apa-apa." jelasnya.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan apapun." jawabnya tanpa menatap Yuna yang berdiri di sebelahnya.
"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Semalam aku nggak sengaja bertemu dia di restoran." ujar Yuna.
"Tidak perlu memberiku alasan." Alvaro bersikap ketus.
"Tapi memang itu yang terjadi." potong Yuna. Dia memegang tangan Al, tapi Al malah menepisnya.
"Kamu tahu bahwa dia menyukaimu. Tapi, bukannya menjaga jarak, kamu malah terlihat bahagia dengannya." Yuna bisa melihat kecemburuan dari perkataan Al.
"Gimana aku harus jaga jarak, kamu tahu sendiri kalau saat itu aku berurusan mengenai kerjasama kita dengannya." Alvaro menoleh dan menatap tajam pada Yuna.
"Jangan jadikan itu alasan. Apa kamu juga yang memintanya untuk membantuku?" Ayuna mengerinyitkan dahinya.
"Membantu apa? Aku ngga ngerti." jawabnya.
"Sudahlah! Tidak perlu berpura-pura. Aku yakin kamu yang meminta dia untuk berinvestasi di perusahaan tante Soraya. Apa kamu pikir aku selemah itu, hingga kamu harus meminta bantuan padanya?" Ayuna tercengang.
"Apa yang kamu katakan? Aku benar-benar nggak mengerti." Yuna bingung kenapa Al bisa menuduhnya seperti itu.
"Sudahlah! Aku tahu kamu sudah tertarik padanya. Bahkan kamu sudah memilih untuk pisah kamar denganku, bahkan tanpa mengatakan apapun padaku." Alvaro mengeluarkan semua kemarahannya. Ayuna semakin terkejut.
"Al, kamu salah paham. Aku pindah kamar itu karena ...."
"Ku bilang cukup!" Al membentaknya. "Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!" Ayuna sangat kaget karena Al mengusirnya.
"Al, kamu ....?" Ayuna berlari keluar dengan mata merah menahan tangis. Karena marahnya, Alvaro bahkan tidak melihat kepergian Yuna.
~tbc