CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 105



"Aku boleh kembali bekerja, ya?" Sejak pagi tadi Ayuna terus saja merengek meminta Al untuk mengizinkannya masuk kerja.


"Tidak." tolak Al.


"Ayolah, Al, aku bosan di rumah terus." bujuknya.


"Aku bilang tidak ya tidak." ucap Al. "Kamu harus beristirahat. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit." Al mengoles rotinya dengan selai coklat.


"Aku bosan, Al. Sudah empat hari aku istirahat terus." Ayuna merangkul Al dari belakang. "Boleh ya?"


"Tidak." Al tetap tidak merubah keputusannya.


"Uh, kamu menyebalkan." Ayuna meninggalkan Al di ruang makan dan kembali ke kamarnya.


"Huh, mau ngapain coba di rumah mulu." gerutu Yuna begitu dia sampai di kamar. Ayuna berjalan menuju tempat tidurnya.


"TOK TOK TOK." Ayuna sudah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya, karena hanya mereka yang tinggal di sana.


"Kamu lagi apa?" tanya Al setelah membuka pintu kamar Yuna.


"Menurutmu?" Ayuna menjawab dengan ketus.


"Kamu marah?" Al mendekat padanya. "Aku hanya tidak ingin membebanimu dengan perkerjaan." Al mengelus kepala Yuna yang saat ini berbaring membelakangi Al. "Aku janji akan cepat pulang. Setelah itu kita pergi jalan, bagaimana?" tanyanya. Ayuna segera berbalim begitu mendengar ajakan Al.


"Benarkah?" tanyanya.


"Tentu saja." Yuna langsung memeluk Al.


"Apa kamu mau aku tidak masuk kerja?" tanya Al.


"Kenapa?" Ayuna bertanya tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku akan dengan senang hati menemanimu disini." Alvaro mengelus-elus punggung Yuna. Ayuna segera menjauhkan diri darinya.


"Kenapa?" Al bertanya dengan senyuman mengoda.


"Kamu bisa telat, sudah sana pergi."


"Tiba-tiba saja aku jadi malas berangkat kerja." Al berbaring disisi Yuna.


"Alvarooo!!" seketika Ayuna duduk, dan mendorong tubuh Al. Al tertawa melihat wajah Yuna yang memerah.


"Ok, ok, aku pergi dulu." Al mendekat dan mengecup dahi Yuna. "Kamu baik-baik di rumah ya, jangan melakukan apapun kecuali beristirahat. Nanti aku pesanin makan siang buatmu." setelah berkata seperti itu Al keluar dari kamar Yuna.


"Apaan sih!" Ayuna mengibas-ngibaskan tangan di wajahnya.


"Tuan, pagi ini anda ada pertemuan dengan Direktur Omiland." ucap Jo sambil mengemudikan mobil. Karema tidak ada jawaban dari Al, Jo melihatnya melalui kaca. Jhosua melihat kalau Al sedang melamun dan senyum-senyum sendiri. Sadar bahwa Jonsedamg mengamatinya Al kemudian menghentikan lamunannya.


"Ada apa?"


"Maaf, Tuan, tapi pagi ini anda ada pertemuan dengan Direktur Omiland." ulang Jo.


"Kamu sudah siapkan bahannya?"


"Sudah, Tuan."


"Ok, minta mereka membawa berkas aslinya." perintahnya. Mobil yang dikendarai Jo memasuki area parkir khusus untuk Al yang ada di Ivander Group.


🌸🌸🌸


"Suruh putramu untuk pulang." ucap Hans pada Soraya. Saat ini mereka sedang berbincang di kamar Hans.


"Aku sudah mencobanya, Pa, tapi Mahen tetap menolaknya.


"Hubungi lagi dia, atau aku akan melakukan sesuatu pada Ayuna." ucap Hans.


"Apa yang papa lakukan pada gadis itu?" Soraya yakin papanya pasti sudah mengatakan sesuatu pada Yuna.


"Aku memintanya untuk menjauhi cucu-cucuku." ucapnya.


"Papa!!" Soraya terkejut. "Apa yang papa lakukan? Kenapa papa mengatakan itu pada Yuna?" Soraya tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Hans.


"Untuk kedamaian keluargaku, Aku harus melakukan itu." jawabnya.


"Tapi, Ayuna tidak melakukan kesalahan. Cucu-cucu papa yang mencintainya." ucapnya. "Papa sadar dengan apa yang sudah papa lakukan? Bagaimana jika Al tahu?" Soraya terlihat begitu khawatir.


"Aku tidak ingin keluargaku hancur." ucap Hans.


"Tapi, Pa, bukan seperti ini caranya? Dengan begini kita bisa kehilangan Al selamanya." Soraya memegang tangan papanya, Hans menatap putrinya.


"Aku akan mencoba untuk menasehati Mahen. Papa jangan temui Yuna lagi. Kasihan dia, putraku yang bersalah." ucapnya.


"Apa-apaan ini?" mereka tidak tahu kalau sejak tadi Monika menguping pembicaraan mereka. "Aku harus membuat perhitungan dengan wanita murahan itu." Monika meninggalkan kamar Hans dengan emosi.


🌸🌸🌸


"Assalamu'alaikum, Oma." tanpa membuang waktu Yuna segera menjawab telepon itu.


"Wa'alaikumusalam, Sayang." jawab oma.


"Oma apa kabar?"


"Sehat, kamu bagaimana? Gak tahu kenapa oma dari kemarin kepikiran kamu terus."


"Oma pasti bisa ngerasain yang terjadi padaku." batin Yuna. " Yuna juga baik-baik saja, Oma." bohong Yuna. Dia tidak ingin oma Tyas khawatir jika tahu kalau dia baru saja kecelakaan.


"Bagaimana kabar Al?" tanya Oma.


"Dia juga baik." ucap Yuna.


"Sayang, oma kangen banget sama kamu." dari nada suaranya Yuna bisa merasakan kalau saat ini oma benar-benar merindukannya.


"Yuna juga kangen oma." Yunapun merindukan omanya, ingin rasanya saat ini dia terbang ke Malang.


"Kamu lagi apa? Oma ganggu kamu ya?"


"Gak, Oma. Malah Yuna senang banget Oma nelpon Yuna." jawabnya.


"Memangnya kamu gak kerja?"


"Hmm, gak Oma. Yuna lagi libur."


"Libur? Bukankah ini masih hari kerja?" Oma Tyas terlihat bingung.


"H-hm, itu, Yuna lagi ada sedikit urusan. Jadi, tuan Al menyuruh Yuna untuk mengambil libur." lagi-lagi Yuna harus berbohong.


"Oma lagi apa? Udah sarapan belum? Bagaimana kondisi Oma sekarang?"


"Nanyanya satu-satu dong. Oma susah buat jawabnya." ucap Oma, Ayuna hanya bisa tertawa.


"Oma, sebentar ya, sepertinya ada yang datang." Ayuna yang mendengar bel berbunyi segera ke depan.


"Kamu ada tamu?" tanya Oma.


"Mungkin ini bibi yang biasa kesini, Oma." Ayuna membuka pintu tanpa melihat ke monitor siapa yang datang.


"Dimana Al?" Ayuna terkejut saat yang datang adalah Monika.


"Tuan Al tidak ada disini." jawab Yuna.


"Jangan bohong kamu." Monika mendorong Yuna dan segera masuk ke apartemen Al.


"Apa yang anda lakukan, Nyonya?" tanya Yuna.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh masuk ke rumah putraku sendiri?" Monika terlihat begitu sombong, dia segera duduk di sofa yang ada disana.


"Dimana Al?"


"Dia di kantor." jawab Yuna.


"Aku sudah dari kantornya, tapi dia tidak ada disana." jawab Monika.


"Kalau begitu saya tidak tahu. Kenapa tidak anda telpon saja?" mendengar Yuna berkata seperti itu, Monika menatap tajam padanya.


"Mau sampai kapan kamu disini?" tanyanya. "Kamu harusnya malu, wanita serakah sepertimu tidak pantas berada disini. Apalagi menjadi pendamping hidup putraku. Apa kau mengabaikan peringatan papaku?" Monika kembali menghina Yuna.


"Apa maksud anda?"


"Apa kamu tidak malu mengoda kedua penerus Ivander? Ternyata, selain tidak tahu malu, kamu juga serakah ya." Monika menatap rendah Yuna. "Dasar wanita murahan!" makinya.


"Cukup, Nyonya!!" teriak Yuna. "Siapa anda berani mengatakan semua itu padaku?" Ayuna sangat emosi karena dari tadi Monika terus-terusan menghinanya. "Jika anda tidak tahu apapun, lebih baik anda diam."


"Berani sekali kau berteriak padaku?" Monika berdiri dan ingin menampar Yuna, tapi Ayuna berhasil menangkap tangannya.


"Kau ..." mata Monika memerah melihat Ayuna mencengkram tangannya.


"Jangan pernah berbuat kasar padaku, karena aku tidak akan tinggal diam." Yuna menghempaskan tangan Monika. "Lebih baik anda keluar!" Ayuna mengusirnya.


"Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasmu dan mengusirmu dari hidup putraku." Monika meraih tasnya dan segera keluar dari apartemen Al. Ayuna yang masih syok terduduk di atas sofa, airmatanya mengalir.


"Astaga, Oma!" saat melihat ponsel yang ada ditangannya, Ayuna tersadar kalau tadi dia belum sempat mematikan sambungan telepon dengan oma Tyas. Ayuna memeriksa ponselnya dan melihat sudah tidak ada lagi panggilan masuk dari oma.


"Syukurlah, ternyata oma sudah menutupnya." Yuna terlihat lega.


Sementara itu di tempat oma Tyas. "Ivander? Apakah Hans Ivander?" oma Tyas terlihat berpikir keras setelah mendengar nama itu.


~tbc