CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 190



"Kamu nggak bercandakan?" tanya Yuna.


"Kamu bisa lihat ini." Andreas menunjuk kantung kecil yang ada di monitornya. "Ini kantong hamil. Usia kehamilanmu saat ini 8 minggu." seketika airmata Yuna menetes. Dia sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya.


"Aku turut bahagia untukmu." ucap Andreas, Yuna mengangguk haru.


"Terima kasih." jawabnya sambil mengelus perutnya.


"Baiklah, aku akan meresepkan vitamin untukmu. Apa selama ini kamu ada keluhan?" tanyanya.


"Tidak ada. Sejauh ini aku merasa baik-baik saja. Hanya saja tadi aku pusing, kupikir mungkin karena aku nggak sempat sarapan." jelasnya.


"Sebaiknya kamu lebih berhati-hati." ujar Andreas.


"Tentu saja." jawabnya.


"Dimana Jhosua?" tanya Andreas karena tidak melihat Jo.


"Aku tidak bersamanya." jawab Yuna.


"Lalu, siapa pria itu? Apa kau mengenalnya?" Andreas teringat pada Bumi yang kemungkinan masih di luar.


"Dia itu rekan bisnis Al." jawab Yuna, dahi Andreas berkerut.


"Apa sudah selesai?" Bumi yang mendengar mereka membicarakannya segera membuka tirai.


"Apa yang anda lakukan?" Andreas terlihat kesal.


"Apa kalian sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah." jawab Andreas.


"Baguslah! Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang." ucap Bumi.


"Aku bisa pulang sendiri." tolak Yuna.


"Tidak baik untukmu pergi sendirian. Gimana kalau kamu pingsan lagi?" Bumi terlihat khawatir.


"Anda tidak perlu khawatir. Aku yang akan mengantarnya pulang." sela Andreas. Bumi menatap sinis padanya.


"Kau tidak perlu mengurusi orang lain. Urus saja pekerjaanmu." jawabnya ketus.


"Tapi, aku tidak akan membiarkan Ayuna pergi dengan pria yang tidak dia kenal." Andreas merasa perlu melindungi Yuna, karena Ayuna adalah sahabatnya.


"Kau mungkin tidak mengenalku. Tapi dia mengenal baik diriku." ucap Bumi. Ayuna terlihat bingung dengan situasinya saat ini.


"Apa yang kalian lakukan? Aku akan pulang dengan Jhosua." ucap Yuna begitu melihat Jhosua yang baru tiba. Mereka menoleh pada Jo.


"Baguslah kau datang." ucap Andreas.


"Apa yang terjadi, Nona?" Jhosua mendekat ke arah Yuna.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." jawab Yuna.


"Tapi, kenapa anda bisa ada disini?" Jo menatap dingin ke arah Bumi.


"Tidak, Jo! Aku pingsan karena kepalaku tiba-tiba pusing. Dia yang membawaku kesini." seolah tahu apa yang Jhosua pikirkan, Ayuna menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Kenapa dengan nona Ayuna?" dia beralih pada Andreas.


"Ayuna ...."


"Aku hanya terlalu letih." Andreas terlihat bingung, begitupun dengan Bumi.


"Jo, apa kau bisa menebus obatku?" pinta Yuna.


"Tentu saja." Jhosua mengambil resep yang ada ditangan Andreas. "Tolong jaga nona sebentar." Andreas mengangguk.


"Kenapa kamu tidak memberitahunya?" tanya Andreas.


"Aku nggak mau Al mendengar kabar bahagia ini dari orang lain." jawabnya. Bumi tidak mengatakan apapun.


"Yah, baiklah! Kau berhak untuk itu." Andreas tersenyum. "Kenapa anda masih ada disini?" tanyanya saat melihat Bumi belum beranjak dari sana.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Bumi.


"Apa kalian saling kenal?" tanya Yuna.


"Tidak." jawab Andreas, sementara Bumi tidak mengatakan apapun.


"Tapi kenapa menurutku kalian mempunyai hubungan yang buruk? Apa anda mengenalnya tuan Bumi?" tanya Yuna, Bumi kembali menatap sinis pada Andreas.


"Kau istirahatlah! Jaga kandunganmu. Masalah perusahaan anggap saja sudah selesai. Kau tidak perlu memikirkan apapun lagi." ujarnya.


"Tapi aku ...."


"Kita akan melanjutkan pembahasan jika kondisimu sudah memungkinkan." setelah mengatakan itu Bumi keluar dari IGD.


"Ada apa dengannya?" tanya Andreas.


"Apa kau yakin tidak mengenalnya?" tanya Yuna lagi.


"Tidak." jawab Andreas.


"Tapi kenapa aku merasa dia tidak menyukaimu?" Ayuna penasaran dengan tatapan Bumi pada Andreas.


"Entahlah!" sebenarnya Andreas juga merasa Bumi seperti tidak menyukainya. Tapi, dia tidak tahu kenapa.


"Ini, Nona." Jo menyodorkan obat yang telah dia ambil di apotek.


"Iya. Hati-hati!" Andreas kembali mengingatkan Yuna.


"Makasih ya!" Yuna dan Jo berjalan keluar dari IGD Giant Hospital.


🍀🍀🍀


"Tuan!!" Kai berdiri di samping Bumi.


"Ayo!" Bumi segera masuk ke mobilnya.


"Apa yang terjadi, Tuan?" Kai bingung karena Bumi sejak tadi hanya berdiam diri.


"Dia hamil!"


"CITTTT!!" Kai refleks menekan rem.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Bumi, karena kaget dia sampai terdorong ke depan.


"Maaf, Tuan! Tapi, siapa yang hamil?" tanya Kai.


"Ayuna."


"Hah?" Kai terkejut.


"Kenapa ekspresimu seperti itu? Dia punya suami, jadi wajar saja kalau dia hamil." ucapnya.


"Apa anda baik-baik saja?" Kai melihat ke belakang.


"Tentu saja. Aku hanya merasa khawatir." jawabnya.


"Maksud anda?"


"Dia hamil tapi suaminya tidak ada bersamanya." jawabnya.


"Saya yakin begitu tuan Alvaro tahu, dia pasti akan langsung pulang." ucap Kai. Bumi menatap ke arahnya.


"Bagaimana perkembangan perusahaan itu?" tanya Bumi.


"Belum ada kemajuan, Tuan. Apalagi saat ini tuan Hans masih di rawat, mereka pasti tidak akan fokus kesana." Bumi membenarkan perkataan Kai.


"Apa aku bantu mereka saja?" ucapnya pelan. Kai melihatnya melalui spion.


"Yang benar saja? Kenapa dia harus susah payah membantu semua permasalahan mereka? Padahal, dia tahu bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan Ayuna." batin Kai.


"Apa kau mengataiku?" tanya Bumi tanpa melihat ke arah Kai.


"Hah? Tidak!" jawabnya cepat.


"Dia selalu tahu apa yang kupikirkan." Kai kembali fokus dengan kemudinya.


🍀🍀🍀


"Apa semuanya baik-baik saja, Nona?" tanya Jo. Karena sejak tadi dia perhatikan Ayuna selalu tersenyum.


"Iya." jawabnya dengam wajah ceria.


"Ada apa? Sepertinya anda begitu bahagia?" Jo penasaran.


"Nanti kamu juga tahu." jawab Yuna.


"Nona, sejak tadi tuan Al menghubungi anda. Kenapa anda tidak menjawab panggilan beliau?" Ayuna langsung celingak-celinguk di dalam mobil Jo. "Ada apa, Nona?"


"Ponselku! Dimana ponselku?" tanya Jhosua.


"Sejak tadi saya tidak melihat ponsel anda." jawab Jo.


"Apa ketinggalan di rumah sakit?" ucapnya. Jhosua menghentikan mobilnya, lalu menghubungi Andreas.


"Apa?" tanya Andreas.


"Apa ponsel nona Ayuna tertinggal disana?"


"Ponsel?" tanyanya.


"Iya."


"Tunggu sebentar!" Jo bisa mendengar kalau Andreas sedang berbicara di telepon. "Tidak ada. Ayuna bahkan tidak membawa ponselnya." jelasnya setelah menghubungi perawat IGD.


"Tidak ada disana, Nona." lapor Jo.


"Lalu, dimana ponselku? Apa tertinggal di cafe atau jatuh saat aku pingsan tadi?" Yuna terlihat panik. "Jo, kita kembali ke cafe tadi aja." perintahnya.


"Baik." Mereka kembali ke cafe tempat Yuna dan Bumi bertemu. Jhosua menemani Yuna untul bertanya mengenai ponselnya pada pengelola cafe. Tapi, tidak ada yang melihatnya.


"Tuan, ponsel anda berbunyi!" ucap Kai.


"Itu bukan suara ponselku." jawab Bumi. Dia mencari-cari sumber suara itu dan mendapati handphone yang ada di bawah kursi. Bumi meraih dan melihat panggilan dari 'suamiku'. "Ini pasti milik Yuna." Bumi mengangkat panggilan yang dia sudah tahu pasti dari Alvaro.


"Kamu dimana saja? Sejak tadi aku menghubungimu." suara Alvaro terdengar khawatir dan juga kesal.


"Ini aku, Bumi!" jawabnya.


"Kau??? Apa yang kau lakukan dengan ponsel istriku??? Dimana Ayuna??" Alvaro berteriak.


"Tenanglah!" jawab Bumi. "Ponsel istrimu tertinggal di mobilku. Tadi dia ...." Bumi hanya bisa menatap ponsel itu. Karena Alvaro sudah memutusnya tanpa mendengar penjelasannya.


"Aku mengkhawatirkannya, sementara dia bersama pria brengsek itu???" mata Alvaro memancarkan kemarahan.