
Malampun tiba, Al dan Ayuna sudah berbaur dengan para tamu undangan. Ayuna tampak cantik dengan gaun pengantin yang dirancang oleh Gilang. Gaun putih itu, terlihat elegan di tubuhnya. Gilang sengaja mendesignnya agar Ayuna mudah bergerak.
"Selamat ya!" Gina memeluknya, begitupun dengan Karin. Sementara Gandhi baru saja bergabung dengan mereka.
"Bukannya tadi pagi sudah?" tanya Yuna.
"Ngelihat lo pakai gaun pengantin begini, buat kita pengen ngucapin lagi." jawabnya diiringi oleh tawa yang lain.
"Aku senang banget kalian memutuskan untuk tetap disini." Gina dan Karin awalnya akan kembali setelah akad Yuna selesai.
"Kita mana berani melawan perintah CEO." jawab Gina. Yuna menatap Al yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.
"Apa Al meminta kalian untuk tetap tinggal?" tanyanya.
"Iya. Tuan Al gak mau kamu sedih. Karena cuma kita yang kamu punya." Ayuna merasa beruntung dengan semua perhatian yang Al berikan.
"Ayunaaa!! Selamat ya!!" Refa berlari kecil ke arahnya.
"Makasih ya!" jawab Yuna sambil menerima pelukan Refa.
"Kenapa baru datang?" tanya Yuna yang baru melihat kehadiran rekannya itu.
"Aku harus menyelesaikan tugas dari tuan Al. Kalian asyik bisa liburan, tuan Al melimpahkan semua pekerjaannya padaku." Refa terlihat sedih dengan beban kerja yang diberikan Al.
"Sudah, jangan manyun begitu. Nikmati saja pestanya." Refa kembali tersenyum.
"Rekan setimmu itu lucu juga ya!" ucap Gandhi.
"Kenapa? Naksir?" tanya Karin.
"Yah, aku harus akui selain lucu dia juga cantik." mata Gandhi belum beralih dari Refa.
"Lalu, apa yang ditunggu? Udah sana mas, samperin! Dia itu masih single." Yuna malah mendukungnya. Mendapat dukungan dari Yuna, Gandhi memberanikan diri mendekati Refa.
"Dan, kalian? Dimana pasangan kalian?" tanya Yuna pada kedua sahabatnya.
"Jangan pikirkan kami, itu tuan Al datang " mereka menoleh ke arah Al yang hampir mendekat pada mereka.
"Sayang, ikutlah denganku. Tuan Brian ingin bertemu denganmu." ucapnya.
"Aku kesana dulu." pamitnya pada mereka.
"Aku ke toilet dulu. Apa kamu mau ikut?" tanya Karin.
"Gue tunggu disini aja." tolak Gina. Karin masuk ke dalam hotel, karena toiletnya memang berada disana.
"Kita perlu bicara!" suara Jo mengagetkan Gina.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan." jawabnya.
"Tunggu, Na! Dengerin penjelasanku dulu."Jo mencengkram tangannya.
"Lepas!" Gina melihat ke sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kita bicara." ucap Jo.
"Baiklah." Jo membawa Yuna keluar dari acara itu.
"Bukankah itu Gina dan tuan Jo! Mau kemana mereka?" Karin yang baru keluar dari toilet melihat Jhosua mengenggam tangan sahabatnya.
🍀🍀🍀
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" sikap Gina sangat dingin.
"Kenapa menghindariku? Apa kamu marah karena masalah di restoran itu?" tanya Jo.
"Untuk apa aku marah?" jawabnya.
"Dengar, dia hanya rekan bisnis tuan Al. Tuan Al memintaku untuk menyelesaikan beberapa kerjasama yang tertunda." Jhosua menjelaskan wanita yang dia temui di restoran cepat saji kemarin.
"Tapi, kenapa kamu harus berbohong? Bukankah kamu bilang rekan bisnis tuan Al itu pria. Tapi, yang aku lihat kamu malah asyik tebar pesona padanya." Gina meluapkan kekesalannya.
"Aku juga gak tahu kenapa nona Vani yang datang. Tapi, aku berkata jujur dia itu rekan bisnis tuan Al." Jhosua mencoba membuat Gina percaya. "Dan siapa yang tebar pesona? Apa menurutmu aku ini pria seperti itu?" Jhosua menarik Gina agar mendekat kepadanya.
"Terserahlah! Aku tidak peduli." Gina mendorongnya.
"Kalau begitu bicaralah dengannya." Jo mengambil ponsel yang tersimpan di jasnya dan menghubungi seseorang. Gina meraih ponsel itu.
"Apa yang kau lakukan?" Gina memutus panggilan di ponsel Jhosua. Jhosua menarik Gina, hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Untuk membuatmu percaya." sambil terus menatapnya. Gina tertunduk malu saat Jhosua kembali menariknya ke dalam pelukannya. Gina menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Jo.
"Tuan Jo dan Gina? Apa hubungan mereka?" Karin yang mengikuti mereka, melihat semua adegan yang terjadi diantara mereka.
"Aku harus segera kembali. Karin bisa curiga padaku." Gina melepaskandirinya dari Jo.
"Lalu, bagaimana denganku?" tanyanya.
"Memangnya kenapa denganmu? Kamu bisa bergabung dengan yang lain." jawabnya.
"Apa kamu tidak bisa terus disisiku?" bisik Jo di telingannya.
"Hi!" Gina terlihat salah tingkah saat melihat Karin sedang menatapnya.
"Kamu darimana saja?" tanya Karin.
"Aku ... Aku dari kamar. Ada barang yang tertinggal." bohongnya, Karin melihat Jhosua yang juga baru kembali. Karin bergantian menatap mereka.
"Aku sudah tahu semuanya." batinnya.
Acara berlanjut meriah, Al dan Yuna sejak tadi sibuk menyapa para tamu undangan yang hadir. Begitupun dengan Hans dan Oma. Soraya juga tak kalah sibuknya, banyak rekannya yang juga turut hadir dalam acara ini. Soraya terlihat menikmati pesta itu.
🍀🍀🍀
"Agghh!! Letihnya!" Alvaro merebahkan dirinya di atas kasur. "Akhirnya semuanya selesai." ucapnya dengan mata tertutup. Ayuna tidak mengatakan apapun, dia berjalan ke arah koper dan mengambil piyama. "Mau kemana?" tanya Al.
"Aku mau mandi. Gerah banget." jawabnya.
"Mau kutemani?" Alvaro kembali menggodanya.
"T-tidak, aku bsa sendiri." Yuna langsung mengambil langkah seribu, sebelum Al mengikutinya ke kamar mandi.
Ayuna sengaja berlama-lama di kamar mandi. Dia merasa canggung saat berdua saja dengan Al. Apalagi status mereka saat ini yang sudah menjadi suami istri.
"Sayang, kenapa lama sekali?" Al mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, sebentar lagi!" jawabnya dari dalam.
"Sudah hampir satu jam kamu di dalam sana." balasnya.
"Sebentar, Al!" Yuna bergegas keluar dari bathtub. Dia buru-buru memakai piyamanya. Ayuna sengaja menggunakan piyama panjang.
"CKLEK!!" pintu terbuka, Ayuna keluar dan melihat Al sedang berdiri di hadapannya.
"A-apa yang kamu lakukan disini?" ujar Yuna.
"Aku menunggumu!" jawabnya.
"Kamu boleh masuk, aku sudah selesai." Ayuna memberinya jalan, tapi Al bukannya masuk malah memeluknya.
"Al, sebaiknya kamu mandi dulu." jawabnya saat merasakan napas Al di pundaknya.
"Apa aku masih harus menunggu?" Al terlihat begitu mendambakannya. Alvaro tidak mempedulikan Yuna, bukannya mengikuti perkataannya, Al malah kembali mendaratkan ciuman di pundak Yuna.
"Al ..." Yuna yang belum pernah merasakan sentuhan dari lawan jenis mulai sedikit terbius.
"Kamu sangat wangi, membuatku ingin lebih menikmatimu." bisik Al di telinga Yuna, Ayuna mematung.
"Sebaiknya kamu masuk atau kamu tidak akan mendapatkan apapun."Ayuna yang sudah tersadar, mendorong Alvaro ke dalam kamar mandi.
"Baiklah, tapi beri aku satu ciuman." Al kembali menarik Yuna ke dalam pelukannya.
"Tidak ada ciuman sebelum kamu membersihkan dirimu." ancamnya.
"Sudah halalpun cobaannya masih saja banyak. Aku harus bergegas!" Al segera menguyur tubuhnya dengan shower.
"Sayang, aku sudah selesai!" Alvaro keluar hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Rambutnya dibiarkan basah. "Sayang? Kemana dia?" Al mencari keberadaan Yuna di sekeliling ruangan, tapi yang dia cari tidak terlihat wujudnya.
Alvaro mencoba menghubungi ponsel Yuna, tapi suara ponselnya terdengar dari dalam kamar itu. Al bergegas memakai bajunya. Setelah itu, dia keluar dari kamar dan langsung menuju ke kamar oma. Alvaro teringat dengan ancaman oma pagi tadi.
"Hey, pengantin baru! Apa yang kau lakukan disini?" Andreas meledeknya saat mereka bertemu di koridor.
"Aku harus ke kamar oma Tyas." ucapnya.
"Oma Tyas? Bukankah beliau sudah pulang bersama kakekmu?" Al menatap tajam padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Al.
"Iya, baru saja aku melihat mobil mereka meninggalkan hotel." wajah Al berubah merah.
"Ayuna? Apa kau melihatnya?" tanyanya.
"Apa Ayuna memakai piyama panjang berwarna pink?" Andreas malah balik bertanya.
"Iya, kau benar!" Al ingat denga jelas seperti apa piyama yang Yuna kenakan.
"Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku memang melihat seorang wanita menggunakan piyama panjang berwarna pink masuk ke dalam mobil mereka." Al langsung lemas begitu mendengar penjelasan Andreas. Alvaro memeriksa ponselnya saat ada pesan masuk. Lututnya semakin lemas saat melihat foto yang oma kirimkan, ada Ayuna didalam foto itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Andreas saat melihat Al yang terduduk di karpet hotel.
"Ayuna pulang bersama mereka." jawabnya dengan wajah sayu. Al lalu berdiri dan berjalan menuju lift.
"Al, kau mau kemana?" Andreas berteriak padanya.
"Aku mau mendinginkan kepalaku." Al masuk ke lift dengan langkah gontai. Andreas terbahak-bahak melihat Alvaro tidak berdaya.
"Tau rasa kau!" Andreas kembali terbahak.
~tbc