CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 200



Ayuna dan Bumi saling pandang. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama, Bi Ita datang mengantarkan minuman untuk mereka.


"Silahkan, Tuan!" ucapnya sopan pada Bumi.


"Terima kasih, Bi!" Bumi mengambil gelas yang berisi kopi itu dan langsung meminumnya.


"Dimana Cleo?" tanya Bumi pada Bi Ita.


"Nona sudah berangkat kerja, Tuan." jawabnya.


"Kau kenal dengan Cleo?" akhirnya Yuna buka suara.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa ada disini?" Bumi malah balik bertanya, dia meletakkan gelas yang dia pegang ke tempatnya.


"Jawab dulu pertanyaanku." Ayuna terlihat kesal.


"Baiklah! Cleo itu adikku!" Ayuna tercengang. "Apa kau kaget?" Yuna mengangguk. "Jadi, kenapa kau bisa disini? Seingatku, Cleo tidak pernah bercerita kalau dia berteman denganmu." sadar Bumi menatapnya, Ayuna mengalihkan pandangannya.


"Dia temanku!" jawab Yuna. " Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengannya. Dan, dia mengajakku untuk tinggal disini." Ayuna menjelaskan pertemuannya dengan Cleo.


"Pantas saja tidak satupun dari kami yang berhasil menemukanmu." timpal Bumi. "Apa kau tahu suamimu mencari kesana-kemari?" Yuna menggeleng lemah. "Dia bahkan mencarimu di apartemenku." Ayuna menoleh.


"Apartemenmu?" tanyanya tidak percaya.


"Dia berpikir, aku menyembunyikanmu." Ayuna tidak percaya Al sanggup melakukan itu.


"Itu sama saja dia curiga kalau aku berselingkuh dengannya." batinnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bumi.


"Bukan apa-apa." Yuna tidak mau menceritakan masalah pribadinya pada Bumi.


"Bagaimana kondisi kehamilanmu?" tanyanya.


"Adikmu menjagaku dengan sangat baik." ucapnya.


"Sampai saat ini, aku bahkan masih bertanya-tanya bagaimana kau bisa mengenalnya." ucap Bumi. Tak lama ponselnya berbunyi, Bumi mengambil dan menjawab panggilan dari Kai.


"Ada apa?" tanyanya.


"Tuan William sudah tiba di lokasi, Tuan." lapornya.


"Aku segera kesana." setelah menyimpan ponselnya, Bumi kembali menatap Yuna. "Aku harus pergi!" Bumi berdiri, begitupun dengan Yuna. "Bagaimana jika Alvaro mendatangiku lagi? Apa aku harus berkata jujur?" Yuna terlihat berpikir, kemudian dia menggeleng.


"Jangan katakan apapun!" ucapnya. Bumi menatapnya dalam diam.


"Aku senang karena ternyata kau baik-baik saja." ujar Bumi. "Kalau begitu aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada Cleo." Ayuna mengangguk, kemudian dia mengantar Bumi hingga ke pintu. Dia terus memperhatikan Bumi hingga menghilang bersama dengan mobilnya.


Setelah kepergian Bumi, Yuna segera menemui bi Ita.


"Ada apa, Non?" tanya bi Ita yang sedang membersihkan sayuran.


"Bi, dia benaran kakaknya Cleo?" tanya Yuna. Bi Ita tersenyum, kemudian membersihkan tangannya.


"Benar, Non. Tuan Bumi adalah kakak sepupunya nona Cleo." Ayuna yang berdiri di sebelah bi Ita manggut-manggut.


"Jadi mereka sepupu?" ujarnya.


"Nona kenal tuan Bumi?" bi Ita penasaran, karena saat pertama bertemu, dia melihat mereka sama-sama terkejut.


"Itu karena nona belum mengenal beliau. Sebenarnya, tuan Bumi itu sangat baik. Setelah tuan besar meninggal, keluarganya yang menjaga nona Cleo. Tapi, hanya berselang 6 bulan setelah kepergian tuan besar, kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan. Sejak saat itu, tuan Bumi mengambil alih untuk menjaga dan melindungi nona Cleo. Bibi juga nggak tahu, entah bagaimana kehidupan mereka disana." saat menceritakan kisah kedua kakak beradik itu, wajah bi Ita tampak sedih. "Tapi, untunglah, keadaan tidak membuat mereka terpuruk. Mereka kembali dengan membawa kesuksesan." ucapnya.


Mendengar itu, Ayuna mengingat bagaimana dia terpuruk dulunya. Dia sangat tahu seperti apa duka yang dialami Bumi dan juga Cleo. Kemudian dia ingat bagaimana Bumi di panti asuhan.


"Mungkin itu alasan dia selalu berbagi dengan anak-anak yang sama dengannya. Tidak seharusnya aku bersikap sekasar itu padanya." batinnya.


🍀🍀🍀


Alvaro terlihat awut-awutan. Sudah beberapa hari ini dia tidak tidur sama sekali. Hari-harinya dihabiskan dengan melamun. Al sudah meminta orang untuk memeriksa apakah Yuna bersama oma Tyas, tapi hasilnya tidak seperti yang dia mau.


"Tuan, saatnya kita berangkat!" ucap Jo. Al berdiri dan membawa ponselnya. Jhosua mengambil berkas yang berserakan di atas meja. Kemudian mengejar Al yang sudah berdiri di depan lift.


"Wajah tuan Al benar-benar menyeramkan! Ayuna, kamu dimana?" ujar Refa yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"BRUK." tanpa sengaja salah satu karyawan menyenggol Al yang baru saja keluar dari lift. Karyawan itu segera pucat saat mengetahui bahwa yang dia senggol. Dan benar saja, Alvaro terlihat marah.


"Pecat dia!" tanpa peringatan, dia sudah terlebih dahulu memberi perintah mematikan itu. Jhosua hanya bisa mengangguk. Setelah itu, mereka meninggalkan staff tadi begitu saja. Semua orang hanya bisa memandang iba padanya. Mereka juga bingung kenapa atasan mereka bersikap seperti dulu.


🍀🍀🍀


"Senang bekerja sama dengan anda." ucap pria berambut putih itu pada Al. Setelah saling berjabat tangan, pria tadi beserta asistennya meninggalkan Al yang menatap ke arahnya.


"Silahkan, Tuan." Al berjalan meninggalkan restoran itu. Mereka menunggu di depan lift Al mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Yuna lagi. Tapi, ponselnya tidak aktif.


"TING!" lift terbuka, Al mengurungkan langkahnya saat melihat Bumi ada di sana.


"Apa kau tidak akan masuk?" tanya Bumi. Alvaro melangkah ke dalam dan berdiri di sebelah Bumi. Sementara Jo berdiri di belakangnya bersama Kai.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bumi, Alvaro bersikap cuek. Dia sama sekali tidak ingin berbicara padanya. Sadar Al sengaja mengabaikannya, membuat Bumi semakin terpancing untuk mengodanya.


"TING!" Lift terbuka di lantai 1 hotel. Bumi dan Kai berjalan keluar, tapi sebelum pintu lift tertutup Bumi berbalik dan menatap tajam pada Al.


"Sayang sekali kau tidak mau berbicara denganku. Padahal, aku ingin memberitahumu mengenai Yuna dan juga bayinya." pintu lift kembali tertutup, Al terlambat menekan tombol. Tapi, dia mendengar dengam jelas kalau Bumi mengetahui keberadaan Yuna.


"Sial!!" maki Al saat melihat lift mereka turun ke basement. "Apa yang kau tunggu? Cepat kejar mereka!!" teriaknya pada Jhosau begitu pintu lift terbuka. Jhosua menekan lift agar segera kembali ke atas. Begitu sampai mereka sudah tidak ada disana. Jhosua mengejar merea ke parkiran depan, tapi mobil yamg biasa di kendarai Kai sudah tidak terlihat.


"Bagaimana?" tanya Al begitu sampai di dekat Jo.


"Mereka sudah pergi, Tuan." jawabnya.


"Sial!!" Alvaro meraih ponselnya dan menghubungi nomor Bumi. "Dimana istriku??" teriak Al begitu Bumi menerima panggilannya.


"Kenapa kau berteriak padaku?" Bumi menjauhkan sedikit ponselnya, dan mulsi mengusap-usap telinganya.


"Brengsek!! Katakan padaku, dimana Ayuna??" maki Al.


"Bukankah kau tidak ingin berbicara denganku?" Al semakin emosi mendengar Bumi mempermainkannya.


"Jangan main-main denganku! Cepat katakan dimana Ayuna?" teriaknya.


"Santai!! Ayuna dan calon anakmu baik-baik saja. Jika kau mau tahu dimana mereka, aku tunggu di ruanganku 15 menit dari sekarang." Setelah mengatakan itu, Bumi segera menutup teleponnya.


"Aakkhh!!" Al menendang pot bunga yang ada di depannya.


~tbc