CEO BUCIN

CEO BUCIN
106



"Ayunaa, kenapa lama sekali?" sudah lebih tiga kali Alvaro bolak balik mengetuk kamar Yuna, tapi tidak ada jawaban. "Yuna, buka pintunya." teriak Al. "Apa yang terjadi dengannya?" Alvaro tidak lagi ingin menunggu lebih lama. Dia berjalan menuju kamarnya dan mengambil kunci cadangan.


"Agh, tidak bisa lagi!." Alvaro melempar kunci yang dia pegang, Al mencoba membukanya tapi tidak bisa karena kunci Yuna mengantung disana. "Ayuna, buka! atau aku dobrak pintunya." Al mendobrak pintunya, tapi sangat sulit membuat pintu itu terbuka.


Ayuna tidak mendengar apa-apa, selain karena kamarnya kedap suara juga karena telinganya ditutup dengan headphone. Untuk menghilangkan rasa kesalnya dia sengaja memasang musik sangat kuat, dan itu membuatnya tertidur, ditambah lagi dengan obat yang dia konsumsi membuat tidurnya semakin nyenyak.


"Jo, kamu hubungi ahli kunci, dan suruh ke apartemenku sekarang juga." Al tidak kehabisan ide begitu saja.


"Baik, Tuan." Jo tidak bertanya apapun, karena menurutnya ini pasti berhubungan demgan Ayuna.


Alvaro begitu khawatir. Saat dia pulang apartemennya dalam keadaan sepi tidak ada tanda keberadaan Yuna disana. Dia mencoba mengetuk pintu Yuna tapi tidak ada jawaban. Dalam pikirannya, mungkin Ayuna sedang tidur. Itu sebabnya dia langsung menuju kamarnya dan bersiap-siap karena dia sudah berjanji akan mengajak Yuna keluar. Tapi, saat dia mencoba kembali Ayuna masih tidak bergeming. Alvaro takut Yuna kenapa-napa.


"TINN!" Bel pintu berbunyi. Al segera bergegas membuka pintu.


"Tuan, saya ..."


"Kamu ahli kunci bukan?" Pria itu mengangguk. "Ayo, cepat!" Al segera membawa pria itu menuju kamar Yuna.


"Cepat kamu buka pintu ini." perintahnya. Pria paruh baya itu segera bertindak, dia mencoba berbagai cara untuk bisa membuka pintu kamar Yuna. Dan dalam waktu kurang lebih 10 menit, pria itu berhasil membukanya. Alvaro bergegas masuk, dia melihat Ayuna sedang tertidur dengan headphone di telingnya. Al yang melihat itu segera menarik headphone itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yuna yang terbangun karena kaget. Al tidak menjawab dan malah berjalan menuju balkon dengan kedua benda itu ditangannya. "Kamu mau bawa kemana headphoneku?" Ayuna bangun dan mengejar Al. Alvaro membuka pintu balkon dan membuang headphone Yuna.


"Allll!!" Ayuna berteriak saat melihat Alvaro membuang benda kesayangannya. "Apa yang kamu lakukan?" teriaknya sambil menatap headphonenya yang meluncur sangat cepat.


"Aku yang harusnya bertanya, apa yang kamu lakukan? Sejak tadi aku mengkhawatirkanmu. Aku takut terjadi apa-apa denganmu, dan kamu malah mengkhawatirkan barang murahan itu?" Alvaro sangat kesal.


"Aku tidur, jadi tidak dengar kamu memanggilku." jawab Yuna.


"Bagaimana kamu akan mendengarnya, jika telingamu tertutup seperti itu." jawab Al.


"Tapi bisakan kamu ngomong baik-baik. Tidak perlu sampai membuang barangku." Yuna menatapnya tajam.


"Aku bisa belikan banyak untukmu." ucap Al santai.


"Kamu menyebalkan!" Ayuna meninggalkan Al di balkon seorang diri. Dia berjalan keluar dari kamarnya. Saat diluar, dia melihat seorang pria parahi baya berdiri di ruang tamu.


"Maaf, bapak siapa ya?" tanyanya lembut.


"Hmm, saya ahli kunci, Non. Tadi, tuan itu memanggil saya kemari." ucap si bapak. Ayuna melihat pada Al yang berjalan menuju mereka.


"Ini buat kamu." Al menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah pada bapak itu.


"Terima kasih, Tuan, saya permisi." pria itupun segera keluar dari apartemen Al.


"Kamu mau kemana?" tanya Al saat melihat Yuna berjalan keluar.


"Cari makan." jawabnya dan membuka pintu.


"Tunggu!" Alvaro mencegah Yuna. "Biar aku antar." ucap Al.


"Tidak perlu, aku hanya ingin ke mini market yang ada di bawah." jelas Yuna.


"Tidak ada restoran disana, jadi apa yang akan kamu beli?" tanyanya.


"Mie instan." jawab Yuna ketus dan kembali meninggalkan Al. Alvaro segera meraih kunci mobilnya, dan mengejar Yuna yang sudah terlebih dahulu masul ke dalam lift. Ayuna melirik pada Al yang berdiri di sebelahnya. Begitu pintu lift terbuka Yuna segera keluar.


"Ikut, Aku!" Al mencengkram tangan Yuna dan membawanya menuju parkiran.


"Mau kemana?" tanya Yuna yang berusaha melepaskan tangannya dari Al.


"Makan." jawab Al. Begitu sampai di depan mobilnya, Al menyuruh Yuna masuk. Ayuna mengikuti perkataan Al tanpa membantah. Alvaro mengendarai mobilnya menuju restoran yang terdekat.


"Kenapa kesini?" tanya Yuna saat mereka berhenti di depan restoran Itali.


"Bukankah kamu bilang mau makan?" tanya Al.


"Benar, tapi aku tidak bilang mau makan masakan Itali." jawab Yuna.


"Lalu, kamu mau makan apa?"


"Aku mau makan nasi padang." Alvaro segera melajukan kembali mobilnya, dia tidak ingin berdebat dengan Yuna yanh saat ini sedang kesal.


"Kamu masih marah?" tanya Al.


"Iya."


"Kenapa kamu yang marah? Harusnya aku yang marah." ucap Al.


"Aku tidak suka kamu membuang barangku begitu saja." jawab Yuna ketus.


"Maaf, aku tadi begitu emosi." Al menyadari kesalahannya. Seharusnya dia bisa berbicara baik-baik pada Yuna. "Nanti aku belikan gantinya." ucapnya.


"Kamu mungkin bisa membelikan yang lebih bagus untukku, tapi kamu tidak akan bisa mengganti kenangan yang ada disana." jawab Yuna.


"Kenapa? Apakah headphone itu sangat berharga untukmu?" tanyanya.


"Iya, itu sangat berarti untukku."


"Apa itu pemberian mantanmu?"


"Itu hadiah dari papaku." Al sangat kaget begitu tahu bahwa headphone yang dia buang adalah pemberian Dion.


"Yuna ... maaf, aku..." Ayuna memejamkan matanya tidak ingin mendengar apapun dari Al. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu." Al menyesali perbuatannya. Ayuna tidak berkata apapun lagi. Al tahu bahwa saat ini Yuna masih marah padanya. Mereka sampai di restoran padang, Ayuna segera keluar dan memesan makannya. Al hanya mengikuti Yuna dalam diam.


"Aku mau tidur." ucap Yuna begitu mereka sampai di apartemen. "Dan, jangan ganggu aku!" Ayuna berjalan menuju kamarnya dan kembali mengunci pintu kamar Yuna. Alvaro kembali keluar, dia mengitari Apartemen mencari lokasi dimana dia menjatuhkan headphone Ayuna.


🌸🌸🌸


"Seharusnya disini." ucapnya sambil terus melihat kesana kemari. Al menatap ke arah atas untuk memastikan kembali bahwa lokasinya sudah benar dengan balkon yang ada di kamar Yuna.


"Anda sedang apa, Tuan?" tanya security yang sejak tadi memperhatikan gerak geriknya.


"Saya sedang mencari headphone yang jatuh dari balkon." jawabnya.


"Wah, pasti sudah hancur tuan." ucap Security setelah menatap gedung tinggi yang ada di depannya.


"Tolong bantu saya mencarinya." ucap Al. Security itu segera melaksanakan perintah Al. Dia membantu Al mencari di setiap sudut bahkan sampai ke pepohonan besar yang ada disana.


"Ini, Tuan?" tanyanya sambil mengangkat headphone berwarna hitam itu.


"Iya kamu benar, bawa kesini." perintahnya.


"Wah, ini mah headphone jadul, Tuan, Kenapa anda tidak beli yang baru saja." ucapnya sambil menyerahkan headphone Yuna pada Al.


"Tutup mulutmu! Ambil ini, dan pergilah!" Security itu segera pergi setelah Al memberinya beberapa lembar uang merah. Al memperhatikan headphone yang ada ditangannya.


"Benar katanya." ucap Al saat melihat headphone yang hancur itu adalah keluaran lama. "Apakah masih bisa diperbaiki?" Al mengambil ponselnya dan menghubungi Jhosua.


"Ada apa, Tuan?" tanya Jo begitu menjawab ponselnya.


"Kamu bisa ke apartemenku sekarang? Saya tunggu kamu di lobby." ucapAl.


"Baik, Tuan." Jhosua segera bergegas menuju apartemen Al yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatnya.


"Kamu cari orang yang bisa memperbaiki ini seperti semula." begitu Jo bertemu Al di lobby, Al segera memberikan headphone rusak itu padanya. Jhosua memperhatikan benda yang sudah hancur itu.


"Maaf, Tuan, tapi akan sangat sulit memperbaiki ini." ucap Jo.


"Saya tidak peduli, gimanapun caranya saya mau headphone ini kembali seperti semula." perintahnya.


"Baik, Tuan." Jo segera berpamitan begitu tugasnya selesai.


🌸🌸🌸


"Sudah dong marahnya." sejak pagi tadi Al terus berusaha membujuk Yuna. Ayuna masih mengabaikannya. "Aku sudah minta Jo untuk memperbaikinya." Ayuna menatapnya. "Maafin aku ya." ucapnya.


"Kamu benar-benar menyebalkan." jawab Yuna.


"Iya, aku memang sangat menyebalkan." ucap Al dengan mimik wajah lucu. Ayuna berusaha menahan tawanya.


"Maafin aku ya!" ulang Al.


"Ok, aku akan memaafkanmu, tapi dengan dua syarat."


"Aneh banget, biasa orang cuma minta satu syarat." jawab Al.


"Ya sudah kalau gak mau." Ayuna berjalan dari ruang tamu.


"Apa?" cegah Al.


"Satu, aku mau headphoneku kembali utuh seperti sedia kala. Aku tidak ingin kamu mengantinya. Dan yang kedua, hari ini aku mau kembali bekerja." Ayuna memberi tahu Al dua syarat yang dia inginkan.


"Baiklah, baiklah, kamu boleh bekerja." Al tidak ingin lagi berdebat dengannya. Mendengar itu Ayuna segera menuju kamarnya untuk bersiap berangkat kerja.


"Ayo." ajaknya saat melihat Al sudah menunggunya di sofa.


"Baiklah, sesuai perintah anda, Nyonya." canda Al.


Mereka berangkat bersama menuju kantor. Semua karyawan yang berpapasan dengan mereka menyapa Al dan Yuna. Ayuna sangat senang karena akhirnya dia bisa bebas dari tahanan Al.


Sesampainya di mejanya, Ayuna kembali memeriksa jadwal Al dan semua pekerjaan yang telah beberapa hari dia tinggalkan. Untung saja Jo membantunya jadi dia tidak lagi kesulitan.


"Sebentar, Jo, ponselku bunyi." Ayuna mengambil ponselnya yang berada di tasdan melihat bahwa yang menghubunginya adalah oma Tyas.


"Assalamu'alaikum, Oma." ucap Yuna.


"Wa'alaikumusalam."


"Ada apa oma nelpon Yuna sepagi ini?" tanyanya.


"Sayang, kamu sibuk gak?" tanya Oma.


"Tidak terlalu oma, ada apa?" Yuna menunggu apa yang akan oma Tyas katakan, mengingat terakhir kali pembicaraan mereka terhenti saat Monika ke rumah Al.


"Kalau kamu tidak sibuk, bisa jemput oma ke bandara?"


"Bandara?" tanyanya, Jho menatap ke arahnya. "Maksud Oma?"


"Oma baru sampai di bandara, tapi Oma tidak tahu dimana kamu tinggal."


"APA??" Yuna terkejut mendengar jawaban Oma.


~tbc