CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 186



"Lo kenapa?" Gina duduk di kursi yang ada dihadapan Yuna.


"Al nggak bisa dihubungi." jawabnya dengan waja tertekuk ke meja.


"Mungkin tuan Al sedang sibuk." jawab Gina.


"Seharusnya sesibuk apapun, dia harus menyempatkan untuk menghubungiku." Ayuna mulai curhat.


"Sudahlah! Lo nggak perlu khawatir. Bukankah dia pergi bersama tuan Hans?" Ayuna mengangguk.


"Jika dia bersama dengan tuan Hanas apa yang lo cemaskan? Sudahlah, mending lo fokus saja dengan kerjaan disini." bujuknya.


"Kamu benar." Yuna kembali tegak.


"Lo ini buat satu gedung heboh." ucap Gina.


"Maksudnya?" tanyanya.


"Abis, sejak tadi lo itu uring-uringan. Bahkan lo nyuruh Refa buat ngabisin makanan yang lo minta." Gina geleng-geleng kepala melihat kelakuan Yuna hari ini.


"Awalnya aku memang pengen makan itu, tapi kelamaan, cacing-cacing diperutku nggak bisa diaja kompromi." Ayuna menoleh saat ponselnya berdering. Dia langsung tersenyum lebar saat melihat nama yang tertera disana.


"Sayang, kamu kemana aja?" tanpa mengucap salam, Yuna langusung menodong Al dengan pertanyaan.


"Maafkan aku! Aku sibuk banget sampai nggak bisa pegang handphone." jawab Al. "Kamu sedang apa?" tanyanya.


"Aku nungguin telepon darimu." jujurnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Al.


"Sudah. Kamu gimana?" Yuna bertanya balik.


"Ini aku lagi sama kakek baru saja selesai sarapan." jawab Al.


"Gimana dengan perusahaan? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanyanya.


"Yah, semua baik-baik saja." jawab Yuna.


"Syukurlah! Sayang, udahan dulu ya! Kakek memanggilku." Al menutup ponselnya. Yuna belum sempat mengatakan apapun. Ayuna berbalik dia kaget karena tidak lagi mendapati Gina di sana.


"TOK TOK TOK." Jhosua berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Yuna.


"Apakah anda susah siap?" tanya Jo.


"Memangnya kita mau kemana?" Yuna terlihat bingung.


"Apa anda belum melihat jadwal hari ini?" tanyanya. Yuna menggeleng.


"Maafkan aku!" ucap Yuna saat lihat wajah Jo yang serius.


"Tidak apa, Nona." jawabnya. "Tapi, mulai saat ini anda harus bisa fokus."


"Baiklah!" Yuna mulai mengikuti arahan dari Jhosua. Dia mulai mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan.


Ayuna mulai mengerti dan paham apa saja yang harus dia lakukan. Mereka membahas segalanya hingga jam pulang kantor. Jo mengantar Yuna hingga ke rumah.


"Rumah ini terasa begitu sepi." ucapnya saat melihat kamar mereka yang terasa kosong.


🍀🍀🍀


"Gimana dengan Yuna?" tanya Gina saat Jhosua datang ke rumahnya.


"Aku sudah mengantarnya pulang." jawab Jo.


"Kenapa tuan Al harus mikirin perusahaan orang lain sih?" gerutu Gina.


"Itu bukan perusahaan orang asing. Itu milik tante Soraya." sela Jo.


"Iya, aku tahu! Tapi, harusnya tuan Al lebih mempriorotaskan perusahaannya sendiri ketimbang itu." jawabnya.


"Banyak pertimbangam yang membuat tuan Al harus turun tangan." Jhosua maaih membela Al.


"Lalu, apakah semuanya telah selesai?" Jhosua menggeleng.


"Perusahaan itu benar-benar tidak tertolong. Tuan besar dan Tuan Al sudah memyuntikkan dana besar agar saham mereka kembali naik. Tapi, itu saja tidak cukup. Paling tidak, mereka harus menemukan investor lainnya atau seseorang yang mau membeli saham yang sudah anjlok itu." jelas Jo.


"Tapi, itu nggak mungkin! Siapa juga yang mau memberikan uangnya pada perusahaan yang jelas-jelas sudah hancur?" timpal Gina.


"Itu sebabnya mereka disana." jawab Jo cepat.


"Jika aku jadi tuan Al, aku nggak akan mau masuk ke kapal yang sudah karam." Gina bergidik sendiri.


"Setiap orang punya pandangan sendiri." Gina menoleh padanya.


"Tapi, mau sampai kapan beliau disana?Kasihan Yuna, dia pasti kesepian." Gina terbayang wajah sedih Yuna.


"Dia tidak akan mungkin kesepian. Ada kamu dan aku disisinya." Jhosua memegang tangannya.


"Yang saat ini dia butuhkan itu bukan kita, tapi tuan Al." Gina bersikeras.


"Mau sampai kapan kita membicarakan mereka?" tanya Jo, Gina kembali menoleh. "Aku kesini karena merindukanmu." wajahnya merona.


"Tentu saja. Buat apa aku malu di depan kekasihku sendiri?" Jo menariknya ke dalam pelukannya.


:Apa yang kamu lakukan? Gimana kalau nanti papa dan mama melihat kita?" Gina berusaha menghindar.


"Kenapa? Aku hanya memelukmu saja?Apa aku tidak boleh memeluk kekasihku sendiri?" Jo kembali menariknya.


"Apa kamu nggak malu sama papa atau mama?" tanya Gina.


"Tidak, untuk apa malu? Aku hanya memelukmu. Kecuali jika saat ini aku menciummu." Jhosua memajukan tubuhnya.


"Hem!! Hem!!" mereka segera menjauh saat mendengar suara dari dalam rumah. Jhosua dan Gina saling pandang, kemudian mereka tersenyum.


🍀🍀🍀


"Saya ingin bertemu dengan nona Ayuna." Refa terkesan saat melihat seorang pria dengan wajah tampan, berdiri di depannya.


"A-apa anda sudah ada janji?" Refa grogi sendiri, saat mata elang itu menatap tajam ke arahnya.


"Belum." jawabnya.


"Mohon tunggu sebentar, saya akan memberitahu Nyonya Ayuna." Refa menekan nomor ruangam Yuna.


"Hallo!" jawab Yuna.


"Maaf, Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." lapornya.


"Siapa?" tanya Yuna. Seingatnya dia tidak mempunyai janji dengan siapapun.


"Maaf, tuan, anda dari mana?" tanya Refa.


"Saya, Bumi, CEO Earth Corp." Refa langsung melapor pada Yuna yang masih menunggunya di sambungan telepon.


"Suruh masuk." ucap Yuna.


"Silahkan, Tuan." Refa menuntunnya ke ruangan Yuna.


"TOK TOK TOK." Refa membuka pintu.


"Maaf, Nyonya, tuan Bumi ingin bertemu anda." Ayuna menoleh pada Bumi yang berdiri di belakang Refa.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Yuna, Refa masih berada di sana. Ayuna sengaja tidak memintanya untuk keluar.


"Aku ....? Apa lagi kalau bukan ingin bertemu denganmu." Bumi duduk walaupun tanpa dipersilahkan.


"Bukakah saya sudah bilang, saya akan menghubungi tuan Kai, jika semuanya sudah selesai." jawab Yuna, dia bahkan tudak bergerak dari mejanya.


"Tapi aku tidak sabar ingin bertemu denganmu." Bumi tersenyum, sementara Yuna melotot. "Maksudku, aku ingin melihat apakah semuanya berjalan lancar." ralat Bumi saat Refa terlihat penasaran.


"Aku akan memanggil Jo." Yuna meminta Refa untuk memanggil Jhosua.


"Apa kau sudah makan?" Bumi terlihat perhatian.


"Itu bukan urusanmu." jawab Yuna.


"Sayang sekali, padahal aku meminta Kai untuk membelikanmu strawberry cake." Baru saja namanya di sebut, Kai datang dengan sebuah kotak persegi. Dari aromanya, Yuna bisa menebak isinya apa. Kai meletakkan kotak itu di depan Yuna.


"Darimana kau tahu kalau aku menyukai strawberry?" tanya Yuna.


"Bukan hal sulit bagiku mencari informasi mengenaimu." jawabnya. Kai berdiri di belakangnya.


"Apa kau stalker?" Bumi tertawa mendengar pertanyaannya.


"Apa menurutmu aku penjahat?" tanyanya.


"Zaman sekarang, banyak penjahat yang bertampang baik." ucap Yuna.


"Aku bukan penjahat. Aku hanya ingin mengenal rekan bisnisku lebih baik lagi. Dengan begitu kerja sama kita akan berjalan lebih baik juga." dia menjelaskannya.


"Benarkah?" Yuna terlihat ragu. Apakah dia bisa mempercayai perkataan Bumi, setelah apa yang dia dengar dari Natalie.


"Tuan, anda kemana saja?" Refa yang bertemu Jhosua di lantai dasar.


"Ada apa? Kenapa kau mencariku?" tanya Jo.


"Nyonya meminta saya untuk menemui anda." Refa sudah berhasil mengatur napasnya.


"Kenapa dengan nona Ayuna?" tanya Jo. Dia baru saja kembali dari cabang perusahaan.


"Nyonya meminta anda untuk segera ke ruangannya." ucap Refa.


"Ada apa?" Jhosua merasa ada sesuatu yang salah.


"Disana ada tuan Bumi." mendengar nama Bumi, Jhosua segera berlari menuju lift.


"Tuan ....?" Refa mengejarnya.


"Mau apa dia? Bukankah kemarin dia sudah tahu kalau nona Ayuna akan mengabarinya." Jhosua juga penasaran apa yang Bumi inginkan.


.~tbc