CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 145



"Na, apa yang lo lakuin?" Gina sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapannya. Mahen memegang pipi kirinya yang terasa sakit.


"Ada apa ini?" Mahen terlihat bingung, kenapa Ayuna menamparnya.


"Tidak perlu berpura-pura. Aku yakin yang terjadi semalam adalah perbuatanmu." wajahnya memerah.


"Aku benar-benar tidak mengerti." tanyanya.


"Kamukan yang menyerang Al semalam? Apa ini ancaman yang kamu maksud?" keributan mereka terdengar oleh para karyawan yang berada disana.


"Menyerang Al? Apa maksudmu? Aku tidak pernah melakukan itu." Yuna tidak percaya begitu saja.


"Aku tidak akan memaafkanmu untuk apa yang terjadi." Yuna meninggalkan Mahen saat pintu lift yang disebelah terbuka. Mahen hanya mampu menatap kepergian dengan penuh tanda tanya.


"Na, Ayuna!!" teriak Gina, tapi Yuna tidak menoleh sedikitpun.


"Penyerangan apa?" Mahen sangat bingung.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Gina.


"Aku tidak apa-apa." Mahen segera masuk ke dalam lift, begitupun dengan Gina.


"Kamu dari mana saja?" tanya Al saat melihat Yuna baru saja sampai di meja kerjanya.


"Aku membeli ini." Yuna menunjukkan paper bag yang dia pegang pada Al.


"Ikut aku." Al kembali masuk ke ruangannya, Yuna meletakkan paper bag itu diatas meja.


"Aku ke dalam dulu." ucapnya pada Refa.


"Ok."


"Apa yang kamu lakukan?" Yuna yakin sepertinya Al sudah tahu apa yang terjadi barusan.


"Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar." jawabnya.


"Tapi, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga membuatmu sangat marah?" Yuna diam, dia tidak ingin Al tahu apa yang terjadi di ruangan Mahen kemarin.


"A-aku hanya kesal melihatnya." Melihat Yuna tidak mampu menatapnya, Al tahu bahwa wanita di depannya itu berbohong.


"Aku tahu kamu sedang berbohong." Yuna mengangkat kepalanya. "Jadi, katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Ayuna tidak lagi dapat berkilah.


"Sebenarnya, kemarin Mahen mengancam akan menghancurkanmu."


"Kurang ajar!" Al berjalan tergesa menuju pintu.


"Tunggu, Al!" cegah Yuna.


"Lepaskan aku!" Al memghempaskan tangannya.


"Tidak. Kamu tidak boleh pergi." Yuna mendekap Al dari belakang. "Aku sudah memperingatinya, jadi aku rasa cukup."


"Tapi dia harus diberi pelajaran. Berani-beraninya dia mengancammu." Alvaro sangat murka.


"Aku tidak takut dengan ancamannya, Aku sudah menegaskan padanya bahwa dia tidak akan bisa memisahkan kita." Ayuna bisa merasakan kemarahan Al sedikit mereda. Alvaro berbalik dan menghadap padanya.


"Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Al membelai wajah Yuna.


"Aku baik-baik saja. Aku tidak selemah itu." Yuna memegang tangan Al.


"Kenapa dengan tanganmu?" Al melihat pergelangan tangan Yuna yang sedikit memerah.


"Oh ini, kemarin aku mencoba gelang dan ternyata sedikit sempit, makanya jadi merah." bohongnya.


"Begini lebih baik, dari pada terjadi huru hara lagi." batin Yuna.


"Coba aku lihat!" Al menarik lengan bajunya ke atas. Alvaro memperhatikan pergelangan tangan Yuna, dia masih bisa melihat bekas merah disekeliling pergelangannya. "Kamu yakin?" selidiknya.


"Iya." Yuna menarik tangannya dan memperbaiki kembali lengan bajunya. "Sudah, lupakan saja! Ayo! kita harus cepat kalau tidak kamu bisa telat meetingnya." Yuna keluar dan langsung menuju mejanya.


🍀🍀🍀


"Apa maksudnya? Aku bahkan belum melakukan apapun. Penyerangan apa?" Mahen masih memikirkan semua tuduhan Yuna padanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" suara Candra mengagetkannya.


"Papa? Apa yang papa lakukan disini?" Mahen memperbaiki duduknya dan meminta Candra untuk duduk.


"Kebetulan tadi papa ada meeting tidak jauh dari sini. Makanya papa mampir." jawabnya.


"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanyanya.


"Aku hanya sedang bingung."


"Kenapa?"


"Ayuna menuduhku melakukan penyerangan pada Al. Padahal, aku sama sekali tidak melakukannya." jelasnya., Candra tersenyum tipis.


"Lalu, bagaimana kondisi Al saat ini?" Candra penasaran.


"Aku tidak tahu." Mahen menggeleng.


"Aku yakin dia pasti akan kesusahan menggunakan salah satu tangannya." Mahen menatap Candra dengan penuh tanda tanya.


"Bagaimana papa bisa tahu kalau Alvaro terluka ditangannya?" Mahen mulai curiga padanya.


"Papa hanya asal tebak saja." Candra kembali berkilah.


"Papa jangan bohong. Apa semua itu perbuatan papa?" Mahen yang sudah curiga langsung menuduh Candra.


"Tapi, karena papa Ayuna jadi semakin membenciku." Mahen terlihat kesal.


"Tenangkan dirimu! Papa yakin dia hanya terbawa emosi." Candra berusaha membujuknya.


"Seharusnya, papa mengatakan padaku terlebih dahulu. Kalau begini, aku akan semakin susah untuk mendapatkannya."


"Sudahlah! Papa minta maaf, seharusnya papa tidak melakukan itu." ucapnya, Candra kembali berpura-pura. Mahen hanya diam, tidak mengatakan apapun.


"Kalau begitu papa pulang dulu. Kasihan mamamu, pasti sejak tadi nungguin papa." Candra berdiri.


"Jangan ulang lagi! Aku tidak mau papa mengacaukan semua rencanaku." Mahen mengatakan itu tanpa mau menatapnya.


"Baiklah." Candra keluar, diikuti dengan Leo. Mereka menunggu lift yang sedang turun dari lantai atas.


"TING." pintu lift terbuka, Candra terkejut karena ada Al, Yuna dam Jo. Alvaro menatapnya tajam.


"Mau sampai kapan kalian berdiri disana?Jika kalian tidak ingin masuk, maka lepaskan tombol itu." Al menatap ke arah tangan Leo yang sedang memegang tombol lift. Candra segera bergabung bersama mereka.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Candra pada Al.


"Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja." jawabnya. Ayuna mengenggam tangan Al. Al bisa merasakan tangan Yuna yang dingin dan berkeringat.


"Syukurlah!" jawab Candra.


"Yah, walaupun ada seseorang yang berusaha untuk mencelakaiku." sindir Al.


"Benarkah? Lalu, apa kamu sudah berhasil mendapatkan mereka?" Candra sengaja mencari informasi mengenai pelaku pemukulan pada Al.


"Anda tidak perlu khawatir, Paman. Aku pasti berhasil menangkap mereka. Bahkan aku pasti m akan membawa dalang dibalik semua ini." Alvaro menatap tajam padanya.


"Semoga berhasil!" ucap Candra. Al mengepalkan tangannya menahan emosi di dadanya.


"Silahkan, Tuan!" Leo segera mempersilahkan Candra untuk keluar terlebih dahulu.


"Ayo!" ajak Al pada Yuna dan Jhosua.


Mereka berjalan di belakang Candra. Ayuna sejak tadi terus saja menatap ke arah Leo. Matanya fokus pada pergelangan tangan Leo.


Sesampainya di depan pintu masuk perusahaan, Leo kembali memperlakukan Candra seperti seorang raja. Dia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Candra masuk. Semua jelas terlihat di mata Yuna. Karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh,Yuna bisa melihat dengan jelas tato naga yang ada di pergelangan tangan Leo.


"Sayang! Ayo!" suara Al mengagetkannya. Al berdiri di dekat pintu mobil dan sedang membukakan salah satunya untuk Yuna. Ayuna masuk, diikuti dengan Al. Jo mengendarai mobilnya menuju Royal Mall.


"Aku sangat yakin pernah melihat tato itu." batinnya. "Tapi, dimana?" Yuna berusaha keras mengingat dimana dia pernah melihat tato Leo tadi.


"Apa semua bahannya sudah siap?" tanya Al. Tidak ada jawaban, Al menoleh pada Yuna yang duduk disebelahnya.


"Sayang? Apa yang kamu pikirkan?" Al mengelus kepala Yuna. Sehingga Ayuna tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Yuna.


"Kamu kenapa? Kenapa dari tadi melamun terus?" tanyanya lembut.


"Tato itu, rasanya tidak asing untukku." jawab Yuna.


"Tato? Tato siapa?" Al tidak mengerti.


"Leo. Tato yang ada dipergelangan tangan Leo." jawabnya.


"Aku tidak perhatian, tato seperti apa yang kamu maksud?"


"Tato naga. Aku merasa sangat familiar dengan tato itu." jawabnya.


"Sudahlah! Tidak usah dipikirkan, mungkin kamu pernah melihat tato seperti itu sebelumnya." ucap Al.


"Yah, mungkin kamu benar." jawabnya.


"Jo, apa kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Al.


"Belum, Tuan."


"Kenapa belum juga? Aku tidak mau tahu, kamu harus segera menemukan mereka. Aku harus tahu siapa yang berani melakukan itu padaku." Al memegang lengan kanannya yang masih terasa sedikit nyeri. Al melihat ke arah Yuna, tapi Ayuna sedang tertidur.


"Dia pasti kelelahan menjagaku." Al membelai wajah Yuna, tiba-tiba dia melihat Ayuna sangat gelisah dalam tidurnya.


"Lepasin!! tolong!! tolong!! Mamaaa!!" Ayuna berteriak dan terbangun dari tidurnya.


"Sayang, ada apa? Kamu kenapa?" tanya Al saat melihat Ayuna menangis, keringatnya mengucur didahinya. Jhosua menghentikan mobilnya.


"Al ... aku ..." Yuna masih histeris.


"Tenanglah! Katakan ada apa?" Al memeluknya. Tapi, Yuna melepaskan pelukan Al dan menatapnya dengan airmata yang masih mengalir.


"Aku melihatnya! Tato itu, aku melihatnya." Ayuna sangat panik.


"Tato? Tato apa?" Alvaro tidak mengerti apa yang ingin Yuna sampaikan.


"Minumlah, Nona." Jo memberikan air mineral padanya. Al mengambilnya dan membukakan tutupnya, lalu menyerahkannya pada Yuna. Ayuna meneguk air itu hingga setengah.


"Ada apa? Tato apa yang kamu maksud?" tanya Al saat melihat Yuna sudah mulai tenang


"Aku melihat tato yang ada dipergelangan asisten tuan Candra, sama dengan tato yang dimiliki penculik itu." jelasnya.


"Apa?" Al terkejut, begitupun dengan Jhosua.


~tbc