
"Hi, gimana keadaanmu?" tanya Al saat Ayuna baru bangun.
"Apa aku ketiduran?" Yuna bertanya saat melihat lampu yang hidup di kamar mereka. Ayuna mencoba duduk, tapi Al melarangnya.
"Sudah istirahat aja." ucapnya.
"Apa kamu baru pulang?" tanyanya.
"Sudah dari tadi. Saat aku pulang, aku melihatmu tertidur pulas."
"Aku letih banget!" jawabnya lemah.
"Ya sudah, istirahatlah!" Ayuna mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya. Al mengelus lembut wajah Yuna, membuat Yuna semakin terlelap.
"Apa Ayuna masih tidur?" tanya Tyas saat melihat Al turun sendiri.
"Iya, Oma." Al bergabung bersama keluarga.
"Makanya, kamu jangan terus-terusan ngerjai Yuna dong." Al kaget karena oma memukul bahunya.
"Oma kamu benar. Ayuna itu lemah, jika kamu terus-terusan mengajaknya olahraga yang ada tubuhnya akan semakin kurus." timpal Soraya.
"Apa kakek juga ingin seperti mereka?" Al bertanya pada Hans yang sejak tadi diam.
"Aku hanya ingin segera memomong Alvaro junior." Al segera melakukan tos dengan Hans.
"Kalian, para lelaki sama saja." ujar Tyas. Al dan Hans tertawa.
"Bagaimana kerjasama dengan Earth Corp?" tanya Hans.
"Berjalan lancar, Kek. Minggu depan kita sudah mulai bekerja." lapornya.
"Baguslah! Aku sempat berpikir akan banyak kendala, mengingat CEO mereka yang perfeksionis. Banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan mereka. Tapi, CEO Earth Corp sangat sulit ditaklukkan." ucap Hans.
"Tidak juga, mereka malah sangat bebas." Hans mengeriyitkan dahinya.
"Bebas?" tanyanya.
"Iya, setelah MoU ditandatangani, mereka meminta kami untuk menemani mereka bersenang-senang." Hans memperbaiki duduknya.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Hans.
"Angela, CEO Earth Corp." jawab Al.
"Apa yang kau katakan? Dia itu bukan CEO di perusahaan itu. Angela itu hanya orang kepercayaan saja. Pemilik sebenarnya Earth Corp adalah Bumi Arkana Smith." Alvaro tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi, dia mengaku sebagai CEO dari Earth Corp. Kakek sendiri yang memintaku untul menemui mereka." jawab Al.
"Seperti itulah Bumi. Dia tidak akan pernah terjun langsung, sebelum dia tahu pasti bagaimana perusahaan yang akan menjadi mitranya. Dia pasti memantaumu melalui tangan kanannya." jelas Hans.
"Jadi, mereka menipuku?" Alvaro terlihat kesal, dia memang tidak menyelidiki lebih jauh perusahaan itu. Karena semuanya sudah dihandle oleh Hans. Al hanya berusaha meyakinkan mereka saja.
"Mereka tidak menipumu. Tapi, kau yang ceroboh. Seharusnya, kau memeriksa kembali perusahaan mereka." tegur Hans.
"Kakek yang memintaku untuk menghandle mereka, jadi buat apa aku memeriksanya kembali." jawabnya.
"Dasar kau ini!" Hans memukul bahunya.
"Kau harus maklum, saat ini yang ada dikepalanya hanya cucuku saja." ledek Tyas.
"Ah, sudahlah! Lebih baik aku menemani istriku." Al berdiri meninggalkan mereka begitu saja.
"Ingat, Al, jangan sampai besok cucuku tidak bisa bangun." Tyas memperingatkannya.
"Siap, Nyonya!" teriaknya dari lantai atas.
"Kau lihatlah itu kelakuan cucumu." ucap Tyas pada Hans.
"Kenapa? Bukankah itu bagus!" jawabnya.
"Sudahlah! Percuma saja bicara padamu." Tyas juga ikut berdiri, dan meninggalkan Hans begitu saja. Sementara Soraya sudah terlebih dahulu masuk ke kamarnya.
🍀🍀🍀
"Selamat pagi!" sapa Yuna saat melihat Al baru bangun.
"Pagi! Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya saat melihat Yuna meletakkan secangkir kopi diatas nakas.
"Apa? Aku hanya melayani suamiku saja." jawabnya. "Ayo, bangun! Sudah waktunya ke kantor." ucapnya.
"Tapi, aku masih ingin bersamamu." Al mendekap Yuna dari belakang.
"Al, pagi ini kamu ada meeting." Ayuna ingat jadwal Al seminggu ke depan.
"Untung kamu ingatkan! Jika bersamamu, aku selalu lupa waktu." Al mengecup Yuna, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ayuna memilihkan baju yang akan digunakan Al, begitupun dengan keperluan lainnya. Dia meletakkan semua itu di atas sofa yang ada di walk in closet.
"Sayang, baju kamu sudah aku siapin ya." teriaknya dari luar. Ayuna kemudian menuruni anak tangga bergabung dengan yang lainnya.
"Dimana Al?" tanya Hans padanya.
"Lagi mandi." jawabnya.
"Suamimu itu, udah tahu ada meeting, jam segini baru mandi." gerutu Hans.
"Aku sudah siap, kakek gak perlu mengomel." ucap Al yang baru sampai di ruang makan. Ayuna memberikan nasi goreng buatan oma padanya.
"Terima kasih, Sayang!" ucapnya.
"Nak, apa gak sebaiknya kamu berhenti kerja saja?" tanya Tyas pada Yuna.
"Berhenti? Kenapa, Oma?" Yuna terlihat keberatan.
"Oma pikir sebaiknya kamu di tetap di rumah saja." oma Tyas mengatakan ini karena khawatir dengan kondisi cucunya.
"Oma kamu benar. Untuk apa lagi kamu bekerja, kalau Ivander sudah menjadi milikmu." timpal Hans.
"Sayang, maksud oma dan kakek itu, ada baiknya kamu mencari kesibukan di bidang lain. Kamu bisa melakukan kegiatan sosial atau hal bermanfaat lainnya. Biarkan suamimu yang mencari uang untuk membahagiakanmu." jelas Soraya.
"Aku akan memikirkannya." Ayuna menatap Al, Alvaro mengganguk pelan.
🍀🍀🍀
"Kamu kenapa?" sejak dalam perjalanan tadi Ayuna lebih banyak diam.
"Aku memikirkan kata-kata, Oma." jawabnya. "Menurutmu, aku harus apa?" tanyanya.
"Aku tidak ingin memaksamu. Bagiku sama saja, jika kamu ingin berhenti itu baik untukmu. Kamu tidak akan kerepotan dengan semua beban pekerjaan, jadi kamu bisa fokus denganku. Tapi, jika kamu mau tetap bekerja, aku juga mendukung. Aku malah senang bisa selalu bersama denganmu." Al menjelaskan pendapatnya.
"Aku akan memikirkannya." jawab Yuna.
"Kalau begitu aku dan Jo ke ruangan meeting dulu. Kamu tetaplah disini." Ayuna mengangguk.
"Fa, aku ke lantai 15 dulu ya!" ucap Yuna setelah kepergian Al.
"Ok." jawab Refa. Yuna segera menuju lift.
"Hi!" sapanya pada Karin dan Gina.
"Ya ampun, Nyonya, apa yang anda lakukan disini?" Gina menyambutnya dengan gurauan.
"Gak lucu!" jawab Yuna.
"Ada apa, Na? Tumben kamu kesini?" tanya Karin.
"Kalian sibuk gak? Kalau gak sibuk, kita ngobrol yuk." ajaknya.
"Kamu bisa tunggu sebentar gak? Gue selesaiin ini dulu." Gina menunjuk komputer yang ada di depannya.
"Ok." Gina kembali fokus dengan pekerjaannya, sesekali dia menatap ke arah Yuna yang terlihat tidak bersemangat.
"Jadi, lo kenapa?" tanya Gina saat mereka berada di cafe. Karin tidak bisa ikut karena harus memberikan laporan pada direktur keuangan.
"Aku lagi bingung!" jawabnya.
"Kenapa?"
"Keluarga ingin aku berhenti bekerja." Yuna mengaduk-ngaduk jus yang dia pesan.
"Lalu, apa yang akan lo lakuin?" tanya Gina.
"Entahlah! Itu sebabnya aku bingung." Yuna menarik napas dalam.
"Apa yang membuat lo berat untuk berhenti. Secara saat ini lo itu udah istri CEO ternama." Ayuna terdiam.
"Aku ingin mandiri. Aku gak mungkin selamanya mengandalkan Al." mendengar jawaban Yuna, Gina malah tertawa. "Kenapa ketawa?"
"Abis lo aneh! Menikah dengan Tuan Al adalah rezeki buat lo. Semua wanita memimpikan itu. Tuhan udah kasih kehidupan terbaik untuk lo. Ini adalah buah dari penderitaan yang lo alami dulu. Jadi, kenapa lo harus pusing? Bahagia aja dengan hidup lo saat ini." Gina menjelaskan panjang lebar.
"Terima kasih." Ayuna memeluknya.
"Udah, balik yuk! Gue masih ada kerjaan." ajak Gina. Mereka berjalan keluar dari cafe tersebut.
"TIN TIN!!" Saat mereka berjalan menuju mobil Gina, mereka dikejutkan dengan suara klakson mobil yang tiba-tiba.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Yuna saat melihat Gina hampir jatuh.
"Aku baik-baik aja." jawabnya.
"Itu mobil resek banget sih?" Yuna terlihat kesal. "Kamu tunggu disini."
"Na!! Ayuna!!" Gina berteriak mencoba menghentikan Yuna.
"TOK TOK TOK." Yuna yang emosi mengetuk jendela mobil itu. Pemilik mobil menurunkan kacanya. Tampak seorang pria berkulit putih menggunakan kacamata hitam menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanyanya. Dia terlihat malas menaggapi Yuna.
"Kalau bawa mobil hati-hati dong. Kamu hampir saja menabrak temanku." Ayuna mengarahkan pandangannya pada Gina yang masih berdiri di depan mobilnya.
"Aku lihat dia baik-baik saja." jawabnya.
"Kamu udah salah masih aja ngeyel. Lain kali bawa mobil hati-hati. Mobil aja yang mewah, tapi bawa mobil masih amatir." ledeknya.
"Hey! Nona! Bukan aku yang salah, kalian yang terlalu asyik bergosip sehingga tidak memperhatikan jalan." jawabnya.
"Udah jelas kamu yang salah. Tahu ini sudah di area cafe, bawa mobil dengan kecepatan tinggi." omelnya.
"Na, sudah!" Gina yang melihat kondisi sudah tidak kondusif, berusaha menghentikannya.
"Biar aja! Biar dia tahu, kalau dia tidak bisa berbuat seenaknya di fasilitas umum." amuknya.
"Sudah, Na!" ucap Gina lagi.
"Tolong bawa teman kamu menjauh dariku." pinta pria itu pada Gina.
"Ayo, Na!" Gina menarik tangan Yuna.
"BRUK!" Ayuna yang kesal menendang pintu mobil pria tadi.
"Hey!" pria itu berteriak.
"Ayo, Na! Buruan!" Ayuna yang melihat pria itu berusaha membuka pintu mobilnya, meminta Gina untuk segera meninggalkan lokasi itu.
"Hey! Jangan kabur!" dia berusaha mengejar mobil Gina, Ayuna melambaikan tangan kirinya.
"SIAL!!" pria itu terlihat sangat kesal.
~tbc