CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 166



Tuan, ada keributan apa di dalam?" Refa yang melihat Jhosua baru keluar dari ruangan Al segera menanyainya. Dia sangat penasaran karena teriakan Al terdengar hingga keluar.


"Bukan apa-apa." jawabnya.


"Tapi, itu kenapa tuan Al ada di dalam? Perasaan tadi gak ada siapa-siapa disana." ujarnya.


"Kamu kalau masih mau bekerja disini, lebih baik tutup mulut dan matamu. Jangan banyak tanya." amuknya.


"B-baik." Refa kembali ke mejanya. Jhosua menoleh ke ruangan Al, lalu berlalu dari sana.


"Sebelum tuan Al memanggilmu, jangan masuk kesana." pesannya sebelum pergi.


"Baik, Tuan." Refa kembali duduk. "Kenapa dengannya? Aku hanya penasaran saja, tapi dia malah memarahiku." gerutunya.


"Sayang, ini baju gantinya." Al mengedor pintu kamar mandi.


"Letakkan saja disana." Alvaro meletakkan paperbag itu diatas sofa.


"Sayang, apa kamu membutuhkan seseuatu?" Al masih belum beranjak dari ruangan itu. Tidak terdengar lagi suara air dari kamar mandi. Ayuna keluar hanya dengan menggunakan sepotong handuk yang menutupi bagian dada hingga pahanya.


"Kamu kenapa masih disini?" Ayuna mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar mandi.


"Aku menunggumu." Alvaro berdiri dan berjalan ke arah Yuna.


"Al, aku udah mandi." Yuna mendorong agar Al menjauh darinya.


"Aku hanya ingin membantumu." Al meraih paperbag yang ada disebelahnya, lalu memberikannya pada Yuna.


"Terima kasih." ucap Yuna dengan wajah tersipu malu, lalu dia kembali masuk ke kamar mandi. Alvaro tersenyum karena berhasil menggodanya.


"Apa tuan Al ada didalam?" tanya Ibra, kepala tim pemasaran.


"Iya." jawab Refa. "Eeh, mau kemana?" Refa mencegahnya untuk masuk ke ruangan Al.


"Aku harus memberikan laporan ini pada tuan Al." ucapnya.


"Eh, nanti saja, biar saya yang kasih ke tuan Al." ujarnya.


"Memangnya kamu tahu apa yang harus dijelaskan mengenai laporan ini?" Ibra menatap tajam pada Refa yang berdiri di hadapannya. "Udah, minggir! Tuan Al, udah nungguin ini dari tadi." Ibra mengeser tubuh Refa ke samping, lalu membuka pintu ruangan Al. Refa menutup mata sambil mengigit bibirnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Al terlihat bingung melihat Refa dengan mata tertutup di berada di depan pintu. Refa membuka matanya dan mendapati Al dan Ibra sedang menatap ke arahnya.


"I-itu, tuan ..., S-saya ..." Refa bingung bukan main.


" Al, aku pulang sekarang ya!" ucap Yuna yang baru keluar dari ruang pribadi Al. Refa melonggo, dia baru sadar kalau ternyata pasangan itu berada disana.


"Siang, Nyonya!" sapa Ibra. Ayuna hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Al mendekat dan meraba dahi Yuna. "Sepertinya demammu belum sembuh benar. Istirahatlah di rumah, nanti aku minta Andreas untuk memeriksa kondisimu." Ayuna mengangguk, dia meraih tasnya yang ada di sofa.


"Fa, aku pulang dulu ya!" ucapnya saat melintas di depan Refa.


"Hah, I-iya!!" Refa terus melihat Ayuna hingga memasuki lift.


"Kamu kenapa masih disana?" tanya Al dengan suara dingin. Refa menutup pintu itu dan bergegas kembali ke mejanya.


"Kenapa Yuna pulang secepat ini? Dan, kenapa dia keluar dari sana? Apakah tadi mereka ...?" Refa cekikikan menyadari sesuatu yang terjadi diantara mereka.


"Pantas saja, tuan Jo marah sewaktu aku bertanya tadi." Refa baru sadar dengan sikap Jhosua sebelumnya.


🍀🍀🍀


"Bi, kalau nanti dokter Andreas datang, tolong langsung diantar ke kamar saya ya." ucap Yuna begitu dia sampai di rumah.


"Memangnya nyonya kenapa?" tanyanya.


"Badan saya rasanya sakit semua." ucapnya. Setelah mengatakan itu, Ayuna segera menuju kamarnya.


"Ayuna kenapa, Bi?" tanya Soraya.


"Oh, nyonya muda lagi gak enak badan, Nyonya. Tadi pesan, kalau dokter datang minta dianterin ke kamarnya." Soraya mengerti, lalu segera menuju kamar Al dan Yuna.


"Sayang, apa kamu masih demam?" tanyanya begitu masuk.


"Sepertinya begitu, Tante." jawabnya lemah.


"Dimana Al?" tanyanya.


"Al masih di kantor, Bi. Yuna tadi pulang dianterin sopir." jelasnya.


"Nyonya, dokter Andreas sudah datang." lapor pelayan tadi, Andreas dipersilahkan masuk.


"Ada kabar apa pengantin baru? Apa sudah ada Alvaro junior di sana?" tanyanya sambil membuka tas kerjanya.


"Kamu ini ngawur aja! Mana mungkin baru seminggu nikah udah hamil aja." Soraya menyela.


"Benarkah, Sayang?" tanya Soraya.


"Jangan percaya dia tante. Cassanova sepertinya hanya tahu begituan terus." Ayuna masih bisa membalas ucapannya.


"Wah, aku rasa tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Dia masih kuat untuk mencelaku." Soraya tertawa, sementara Yuna hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana?" tanya Soraya begitu Andreas selesai memeriksanya.


"Apa akhir-akhir ini kamu sering pusing?" tanyanya.


"Iya."


"Maul dan muntah? Apakah kamu sering merasakannya. Yuna mengangguk.


"Jadi, kamu bemaran hamil?" Soraya terkejut mendengar keluhan Yuna.


"Bukan seperti itu, Tan." Andreas menghentikannya. Lalu, tangannya beralih ke ulu hati Cleo. "Sakit?" Cleo menangguk lemah saat merasakan nyeri di ulu hatinya.


"Sepertinya kamu terkena maag. Aku akan meresepakan obat untukmu." Andreas menuliskan sesuatu di kertas putih itu, setelah itu memberikannya pada Soraya.


"Aku langsung balik, Tan." Soraya menganggul. "Katakan pada Al agar tidak membuatmu selalu telat makan." pesannya pada Yuna, wajah Ayuna memerah.


"Dasar dokter mesum!" Andreas tertawa.


🍀🍀🍀


"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Gina saat melihat Jhosua sejak tadi lebih banyak diam. "Apa ada masalah?" tanya Gina.


"Aku yang berada dalam masalah." Gina kaget dan menoleh padanya.


"Ada apa?" tanya Gina.


"Tuan Al sedang marah padaku." ucapnya.


"Kenapa?" Gina meletakkan sendok yang ada ditangannya dan menatap tajam pada pria yang saatt ini duduk di hadapannya.


"Aku ..." Jhosua mengalihkan pandangannya dari Gina.


"Kenapa?" Gina memegang tangannya.


"Aku tidak sengaja melihat Ayuna." jawabnya, Gina terbahak.


"Aneh banget tuan Al itu. Apa salahnya kalau kamu melihat Ayuna? Bukankah itu sudah biasa?" Gina kembali melanjutkan makannya.


"Tapi, aku melihat Ayuna hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya." Jhosua berbicara jujur.


"Huk, huk, huk." Gina tersedak saat mendengar penjelasan Jo. "Maksudmu?" Jhosua menceritakan apa yang terjadi siang tadi pada Gina. Mata Gina terlihat nanar, wajahnya memerah.


"Kamu mau kemana?" Jo mencengkram tangannya saat Gina sudah meraih tasnya.


"Pulang!" jawabnya dengan wajah cemberut.


"Kenapa pulang? Kita baru saja sampai." ucap Jo menghentikannya.


"Buat apa aku bersama orang yang sudah melihat tubuh wanita lain." Gina akui di cemburu.


"Tapi, aku'kan gak sengaja. Itu terjadi begitu saja." Jhosua membela diri.


"Sama saja! Tetap saja matamu sudah ternoda." Gina berjalan menuju pintu keluar.


"Kalau begitu, menikahlah denganku?" seketika Gina berhenti saat mendengar teriakan Jo. Saat dia berbalik Jhosua sudah berada dihadapannya. Semua pengunjung cafe memperhatikan mereka.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Yah, jika kamu cemburu aku melihat wanita lain. Maka, menikahlah denganku!" Jo serius dengan ucapannya.


"Terima! Terima! Terima!" pengunjung yang melihat mereka mendukung Jhosua. Beberapa dari mereka malah bertepuk tangan.


"A-aku ..." Gina begitu terkejut dengan lamaran Jo yang tiba-tiba.


"Maukah kamu menikah denganku?" Jhosua kembali melamarnya.


"Tapi, bagaimana bisa kamu melamar seperti ini?" tanyanya.


"Kamu tinggal jawab ya atau tidak." Jo memegang tangannya.


"Ya!" semua orang bersorak saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Gina. Jhosua memeluknya erat.


"Percuma saja aku memikirkan berbagai cara untuk melamarnya." Jhosua tersenyum penuh arti.


~tbc