
“Ayuna!! Yu ...?”
“Al ..., Ma-mahen ...?” Ayuna menangis sambil mencoba membangunkan pria yang sudah tidak sadarkan diri itu.
“Mahen!! Bangun!! Bertahanlah!!” Al terlihat panik. “Joooo!!!” Jhosua segera menghubungi ambulance.
Sementara itu, Leo yang menyadari kalau yang dia tabrak adalah anak dari majikannya berusaha untuk kabur. Al yang melihat itu segera menghentikannya. Dia menarik Leo keluar dari mobil dan mulai memukulinya. Jhosua membantu Al, sehingga dia tidak bisa melarikan diri lagi. Leo terkapar tak sadarkan diri.
“Mahen, bangunlah!” Yuna tak henti mencoba membangunkannya.
“A-ayuna ... A-aku ...”
“Iya, ini aku! Bertahanlah, ambulance akan segera datang!” ucapnya.
“A-aku ...” Mahen mencoba mengangkat tangannya, Ayuna yang melihat itu membantunya. Dia memegangi tangan Mahen. “A-a-ku ...s-se-nang ... kaa-mu ... se-la-mat. A-aku ... m-men-ccin-ttai-mu.” Tangan Mahen seketika jatuh ke pasir.
“Mahen!!! Maheennn!!!” Ayuna menangis histeris. Al berlari mendekati mereka.
“Mahen ... Mahen ... Bangunnn!!” Al menguncang-guncang tubuhnya.
Ambulance datang, mereka segera membawa Mahen menuju rumah sakit terdekat. Sementara Leo dan anak buahnya dibawa oleh pihak kepolisian.
“Aku ingin melihat kondisinya.” Ayuna masih khawatir dengan Mahen.
“Kamu tetap disini. Kamu juga butuh perawatan. Lihatlah kakimu.” Al menunjuk kaki Yuna yang terluka. Dia berlari tanpa mengunakan alas kaki sama sekali.
“Tapi, Mahen?”
“Sudah, tenanglah!” Al memeluk Yuna. “Aku keluar dulu, Jo kamu jaga Ayuna.” Setelah mengatakan itu Al menuju ke tempat Mahen berada.
“Bagaimana, dok?” tanya Al saat dokter yang menanggani Mahen keluar.
“Kami minta maaf, Tuan. Tapi pasien mengalami pendarahan hebat, sehingga kami tidak bisa menyelamatkannya. Kami sangat menyesal.” Ucap dokter yang menangganinya. Alvaro termenung, dia tidak menyangka sepupunya sudah tiada. Dokter tadi kembali masuk ke ruang operasi.
“Al, dimana Mahen? Bagaimana kondisi putraku?” tanya Soraya yang baru saja sampai. Di belakangnya terlihat Hans dan juga Ken. Al menatap Soraya dengan mata berkaca-kaca.
“Al, gimana kondisi adikmu?” Soraya menyentuh tangannya.
“Tante, Mahen ...” Alvaro tidak dapat melanjutkan perkataannya.
“Ada apa, Al? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Hans.
“Kakek, Mahen sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya.” Airmata Al jatuh, saat memberitahu kabar duka itu pada keluarganya.
“Tidaakkk!! Mahen, putraku!!” Soraya menangis histeris, Al memeluknya. “Kamu pasti bohong! Al, tidak mungkin Mahen meninggalkanku.” Alvaro memeluk erat tantenya.
“Maafin, Al, Tante!” ucapnya pelan.
“Mahenn!! Anakku!!” Soraya tidak sadarkan diri.
“Aya!!” Hans panik.
"Kakek disini saja, biar aku yang membawa tante." Al mengendongnya dan membawanya ke UGD. Sementara Hans dan Ken tetap berjaga di depan ruang operasi.
“Tolong, Dok, Tante saya pingsan.” Ucap Al pada dokter yang berada disana. Alvaro meletakkannya di atas tempat tidur.
“Silahkan tunggu diluar!” ucap perawat yang bertugas.
“Al, ada apa?” mendengar suara Al,Yuna yang masih berada di UGD berjalan tertatih dan menghampirinya.
“Kamu kenapa turun?” Alvaro menatap tajam ke arah Jhosua, yang dia tugaskan untuk menjaga Yuna.
“Kenapa dengan tante Soraya?” tanyanya.
“Tante pingsan, udah kamu balik ke tempat tidurmu.” Al membantu Yuna kembali ke tempatnya. “Kapan dia bisa dipindahkan ke kamar?” tanya Al pada perawat yang bertugas.
“Nona Ayuna akan segera kami bawa ke kamar, Tuan.” Jawabnya. Salah satu perawat membawa kursi roda ke arah mereka. “Mari, Nona!” ucapnya. Ayuna duduk di kursi roda itu.
“Al, kenapa tante bisa pingsan? Keadaan Mahen gimana?” Ayuna masih ingin mendapatkan informasi mengenai Mahen.
“Kamu ke kamar dulu, nanti aku akan menyusul.” Alvaro belum memberitahunya bahwa Mahen sudah tiada.
“Tapi, Al ...?”
“Sus, tolong bawa dia.” Suster mendorong kursi roda itu keluar dari UGD.
“Jo, tolong kamu jaga Ayuna.” Perintahnya.
“Tuan, bagaimana kondisi tuan Mahen?” Jhosua juga mengkhawatirkannya.
“Mahen sudah meninggal.” Jo sangat terkejut. “Jangan katakan apapun pada Ayuna. Aku yang akan memberitahunya.” Jhosua mengangguk.
“Nyonya Soraya sudah sadar, Tuan.” Lapornya. Al membuka tirai penutup dan melihat Soraya yang sedang menangis.
“Tante.” Panggil Al pelan.
“Al, Mahen?” Soraya tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
“Maafin aku, Tan.” Cuma itu yang bisa Al ucapkan.
“Siapa yang melakukan itu pada putraku?” tanyanya. Al terdiam, dia tidak mampu mengatakan apa yang tejadi padanya. “Al?” desaknya.
“Leo, Tante.” Soraya terkejut. Alvaro lalu menceritakan semua yang terjadi, hingga Mahen mengalami kecelakaan itu. Wajah Soraya yang semula pucat berubah menjadi merah.
“Aku ingin ke tempat Mahen berada.” Pintanya. Alvaro membantunya turun.
Awalnya Al menawarkan kursi roda, tapi Soraya menolak. Mereka kembali menuju ruang operasi. Terlihat Hans duduk dengan wajah tertekuk.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hans, Soraya mengangguk.
“Mereka sedang membersihkannya. Sebentar lagi kita bisa membawa Mahen pulang.” Ucapnya sambil memegang tangan putrinya. Soraya mengangguk.
“Papa sudah menghubunginya?” tanyanya.
“Dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Hans tahu siapa yang dimaksud oleh Soraya.
“Mahen? Dimana putraku?” tiba-tiba terdengar suara yang sangat mereka kenali. Candra melihat Al sedang berdiri di depan ruang operasi. Dia segera berlari menuju Al, tampak olehnya Soraya dan Hans yang sedang duduk di bangku ruang tunggu.
“Dimana putraku?” tanyanya pada Al. Alvaro tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap tajam pada pamannya itu.
“Dia di dalam.” Soraya yang menjawab.
“Sayang, bagaimana kondisi puta kita?” Candra begitu panik. Saat mendapat telepon kalau Mahen mengalami kecelakaan, dia segera menuju ke rumah sakit. Dia tidak lagi berpikir panjang atas apa yang telah dia rencanakan. Gimanapun juga Mahen adalah putra kesayangannya. Walaupun dia membenci Hans, tapi tidak dengan putranya. Mahen adalah penerus kerajaan yang sudah dia bangun.
“PLAK!” sebuah tamparan mendarat di pipinya. Candra terkejut karena Soraya tiba-tiba menamparnya.
“Tidak perlu berpura-pura kalau kau mengkhawatirkannya.” Kesedihan karena kehilangan putranya, dia luapkan dalam kemarahan pada suaminya.
“Apa yang kau katakan? Dia putraku, tentu saja aku mengkhawatirkannya.” Jawabnya.
“Ayah mana yang tega membunuh anaknya sendiri?” Soraya berteriak.
“Membunuh? Apa maksudmu?” dia masih belum tahu kalau Mahen sudah tiada.
“Putraku sudah tiada. Dan kau adalah penyebabnya. Kau yang telah membunuh putraku.” Soraya memukul-mukul tubuh suaminya. Candra terdiam, dia membiarkan Soraya melakukan itu padanya. “Kau pembunuh! Kau membunuh putraku!” Soraya kembali menangis dan terjatuh ke lantai. Hans memeluknya.
“Sudah, Sayang!” ucap Hans.
“Putaku, Ayah!” ucapnya dalam tangisnya.
“Itu tidak mungkin. Anakku tidak mungkin meninggal.” Candra berjalan mundur, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Pintu ruang operasi terbuka. Terlihat dua orang perawat mendorong brankar dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuh pasien.
“Sus, apakah ini sepupuku Mahen?” tanya Al yang berdiri di depan pintu.
“Benar tuan, ini jenazah tuan Mahendra Ivander.” Jawabnya. Mendengar nama putranya disebut Soraya segera berdiri. Soraya mendekat dan memeluk putranya.
“Putraku!!” tangis Soraya semakin kencang.
“I-ini tidak mungkin.” Candra menolak untuk percaya. Dia mendekat dan membuka kain putih yang menutupi wajah Mahen.
“Lihatlah, akibat dari perbuatanmu. Kau melenyapkan putraku. Kembalikan putraku!! Kembalikan!!” Soraya memukul-mukul dan menarik baju Candra.
"Aya, cukup!” Hans menariknya menjauhi Candra. Sementara Candra langsung jatuh disisi brankar putranya.
“Anakku!!” tangis Soraya kembali pecah saat menatap tubuh kaku Mahen.
“Sudah, Nak!” Hans mencoba menenangkan putrinya.
“Ayah, putraku ...!” hanya itu yang mampu dia ucapkan.
“Sabar, Nak! Ikhlaskan!” ucap Hans.
“Lebih baik, kita segera membawanya pulang.” Saran Al. Al memberi izin pada perawat untuk menutup kembali wajah Mahen.
“M-mahen ...?” mereka semua menoleh, Al lebih terkejut karena Yuna berdiri tak jauh dari tempat mereka. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Yuna dari kejauhan. "Kenapa kalian diam? Apa yang terjadi padanya?" ulang Yuna, tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.
~tbc