CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 189



"Kenapa lama sekali?" Alvaro terlihat sangat kesal. Begitu Yuna masuk dia segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yuna tidak banyak bicara, dia masih terkejut dengan ucapan Valerie tadi. Begitupun dengan Al, dia hanya menoleh sesekali padanya. Al tidak kembali ke kantor, dia mengarahkan mobilnya menuju rumah.


"Kita harus bicara!" ucap Al saat mereka sampai. Ayuna menoleh dan melihat Al begitu serius. Alvaro turun dan segera berjalan menuju kamar. Ayuna hanya bisa mengikutinya. Dia tidak tahu apa yang membuat Al bersikap dingin padanya.


"Kamu kenapa?" tanya Yuna begitu mereka berada di kamar.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Al.


"Siapa?" Yuna tidam paham.


"Bumi! Kenapa kamu nggak bilang kalau kalian saling kenal?" cecarnya.


"Aku nggak tahu kalau dia itu CEO Earth Corp." jawabnya.


"Jadi, kamu memang mengenalnya?" Alvaro menatap tajam ke arahnya.


"Tidak." jawab Yuna.


"Jangan bohong padaku!" Al sedikit berteriak. Ayuna sangat terkejut. "Jelas-jelas dia bilang kalau kalian saling kenal." lanjutnya.


"Aku benar-benar nggak kenal dia.Yang aku tahu dia itu adalah pria menyebalkan yang kutemui di mall." jawabnya jujur.


"Mall?"


"Iya, akukan pernah cerita ke kamu." Al ingat Yuna pernah dibuat kesal oleh seorang pria sewaktu dia berbelanka di Mall.


"Aku nggak suka kalau kamu dekat dengannya." ucap Al dengan wajah cemberut.


"Kenapa? Kamu cemburu?" godanya. Alvaro menatap tajam ke arahnya.


"Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat dengannya." Al berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ayuna tertawa kecil melihat suaminya dipenuhi rasa cemburu.


"Aku sangat yakin pria itu menaruh perasaan pada istriku. Jika saja tidak ada kerja sama ini, maka sudah kubuat dia menjauh selamanya." Al menguyur kepalanya dengan air. Dia berharap dengan cara ini, amarahnya bisa mereda.


🍀🍀🍀


"Kamu baik-baik saja?" tanya Gina pada Jo saat mereka berada di depan rumahnya.


"Apa orangtuamu sudah tahu?" Gina menggeleng. Jhosua menarik napas dalam.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Gina.


"Tidak. Aku hanya gugup!" ucapnya.


"Kamu tenang saja, orangtuaku nggak segalak itu. Yah, walaupun sedikit berbeda dengan papaku." Jo menoleh padanya.


"Kenapa dengan papamu?" tanya Jo.


"Kamu akan tahu jika sudah bertemu dengannya." Gina membuka pintu mobil. "Ayo!" ajaknya.


"Tenang saja! Semua akan baik-baik saja." Jhosua memotivasi dirinya sendiri.Jika selama ini dia terkenal dingin dan cuek. Tapi tetap saja, jika sudah berhadapan dengan calon mertua semua keberanian itu pudar.


"Ayo!!" ulang Gina. Jo keluar dan mengikuti Gina memasuki rumahnya. Jhosua memandang ke sekeliling rumah itu. Tampak dua buah mobil, salah satunya yang biasa Gina gunakan. Dan satu lagi mobil minibus berwarna silver. Rumah Gina cukup asri, terlihat dengan banyaknya tumbuhan yang berada di perkarangan rumah yang tidak besar.


🍀🍀🍀


"Assalamu'alaikum!" ucap Gina sebelum memasuki rumahnya. Jo masih berdiri di luar, tapi Gina memaksanya untuk masuk. Tampak seorang wanita dengan kepala tertutup hijab berjalan ke arah mereka.


"Wa'alaikumusalam." jawab wanita itu. "Kamu dari mana saja?" tanya wanita itu.


"Aku tadi ada urusan sebentar, Ma." jawabnya. Jhosua langsung tahu bahwa wanita itu adalah ibu Gina.


"Siapa ini?" tanyanya saat melihat ada seorang pria yang berdiri di sebelah putrinya.


"Ma, papa dimana?" tanya Gina tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ada di dalam." jawabnya. "Pa!! Papa!!" panggil wanita itu. Tak lama tampak seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka. Pria yang dipanggil Gina dengan sebutan papa itu, hanya menggunakan celana pendek dan sepotong kaos dalam.


"Aduh, Pa! Itu bajunya di pakai dulu. Malu ada tamu!" Mama Gina melihat ke arah Jo, diikuti dengan papanya. Pria itu masih berdiri, menatap tajam pada Jhosua.


"Papaaa!!" dia kembali masuk ke dalam saat mendengar suara istrinya naik satu oktaf.


"Maafin papa Gina ya. Maklum abis berkebun di belakang." ucapnya. " Ayo, silahkan duduk." ucapnya. "Sayang, masa teman kamu dianggurin? Sana minta bibi buatin minum." Gina berdiri dan berjalan menuju ke dalam.


"Nah, gitukan cakep!" puji mama Gina saat melihat suaminya keluar dengan pakaian yang lebih santai. Celana panjang dan kaos pendek berwarna navy. Pria itu segera duduk di sofa yang ada di dekat Jo.


🍀🍀🍀


"Saya Jhosua, Om!" Jo memperkenalkan diri. Pria itu menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Jo merasa membutuhkan udara ekstra saat melihat calon mertuanya itu.


"Saya Fredi, papanya Gina dan ini mamanya." dia juga memperkenalkan dirinya dan istrinya. Jhosua tersenyum dan mengangguk. Gina datang dengan membawa nampan ditangannya. Dia meletakkan gelas yang berisi minuman di depan papanya dan Jhosua. Kemudian dia duduk di sebelah Jo.


"Kenapa kamu duduk disana? Itu sofanya masih luas." dia tidak setuju melihat mereka duduk bersebelahan.


"Udahlah, Pa! Kenapa juga aku harus pindah kesana?" jawabnya.


"Dia itu bukan mahrammu. Kamu nggak bisa berdekatan seperti itu. Sana pindah!" dengan rasa dongkol, Gina duduk di sebelah mamanya.


"Jadi, apa hubungan kalian?" lanjutnya.


"Jadi sebenarnya, kedatangan saya kesini untuk meminta izin untuk menikahi putri anda."


"Brrmpp!!" air yang di minum papa Gina seketika muncrat. Untung saja tidak mengenai Jo.


"Papa apaan sih?" gerutu Gina.


"Hati-hati dong, Pa!" istrinya memberikan tissu dan membantu membersihkan tumpahan yang mengenai celananya.


"Gimana aku nggak kaget, tiba-tiba saja dia bilang mau nikahin Gina?" ucapnya. Dia kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu serius?" tanyanya.


"Iya, Om! Saya serius ingin menikahi putri bapak." Jo membalas tatapannya. Dia tidak terlihat gentar sedikitpun. Fredi menoleh pada Gina yang sejak tadi menatap Jo.


"Sudah berapa lama kalian saling kenal? Dan dimana? Apa selama ini kalian berhubungan di belakang kami?" dia memberondong Jo dengan berbagai pertanyaan.


"Jhosua atasan Gina di kantor." sela Gina, Fredi dan istrinya bukan main terkejut.


"D-dia putra Ivander?" tanyanya.


"Bukan, Om!" Jo segera menyelanya. Kedua orangtua itu terlihat bingung. "Saya asisten tuan Alvaro." jelasnya.


"Jadi, Jhosua ini orang kepercayaannya tuan Al. Dimana ada tuan Al, maka Jo juga ada disana." Fredi manggut-manggut mendengar penjelasan putrinya.


"Ayo, diminum! Keburu air kamu dingin." mama Gina mencairkan suasana yang diam sejak tadi.


"Terima kasih, Tante." jawabnya. Lalu mulai mencicipi kopi buatan Gina itu.


"Kenapa tidak mengabari kami sebelumnya? Jika tahu bahwa putri kami akan dilamar, kami pasti akan mempersiapkan semuanya." Fredi mulai terdengar ramah.


"Saya kemari hanya untuk meminta izin anda. Jika anda setuju, maka lusa saya akan melamar Gina secara resmi." mereka kembali dibuat kaget dengan perkataan calon menantunya itu.


"Lusa??" tanyanya.


"Kenapa begitu cepat?" Fredi menatapnya tajam.


"Iya, Om." tegasnya.


"Apa kamu sudah apa-apain putriku?" Jhosua terbatuk, Gina melotot pada papanya. "Kenapa? Aku hanya heran kenapa kalian tiba-tiba mau nikah. Apa kamu lagi hamil?" wajah Gina memerah, begitupun dengan Jo.


"Bukan begitu, Om. Saya hanya dapat cuti selama tiga hari. Makanya saya ingin mengadakan lamarannya lusa.


"Kamu juga kenapa nggak bilang dulu padaku? Seharusnya kamu beritahu aku, jadi mereka nggak kaget begini." omelnya.


"Kamu kalau sama calon suamimu, itu ngomongnya yang sopan. Gimanapun juga dia nantinya akan jadi suamimu." potong Fredi. Jhosua tersenyum bahagia, secara tidak langsung dia diterima oleh keluarga itu.


"Jadi, Om dan Tante setuju?" tanya Jo. Fredi menatap istrinya, lalu mereka berdua menganggukkan kepala. Jhosua langsung bersyukur.


"Tapi, Nak, apa lusa tidak terlalu cepat?" tanya Hana, mama Gina.


"Tante nggak perlu khawatir itu. Saya akan mempersiapkan semuanya." Fredi tersenyum memdengar kesanggupannya. "Tapi, sebelumnya saya harus memberitahu Om dan Tante." mereka diam, mendengarkan apa yang akan Jo katakan, terlebih Gina. Dia juga penasaran apa yang akan dikatakan oleh Jo.


"Saya ini yatim piatu. Saya tidak mempunyai siapapun lagi." mereka tak kalah terkejutnya, terlebih Gina. Karena selama ini Jo tidak pernah menceritakan itu padanya. "Jadi, acara lamaran itu akan diwakilkan oleh tuan Alvaro dan keluarganya. Karena selama ini merekalah keluarga saya.


"Kami tidak mempermasalahkan itu. Yang penting bagi kami adalah kamu bisa bertanggung jawab nantinya terhadap Gina. Kamu mampu menjaga dan melindunginya seumur hidupmu." jawab Fredi.


"Om nggak perlu khawatir, mulai sekarang Gina adalah tanggung jawab saya." Jhosua menatap lembut pada Gina yang sudah tersipu malu.


~tbc