
"Gimana ini?" Yuna terlihat panik begitu tahu bahwa oma Tyas datang ke Jakarta.
"Kenapa mesti panik? Anda tinggal ke bandara dan jemput beliau. Biar saya antar." Jo menenangkan Yuna.
"Gimana aku gak panik? Ini omaku Jo." jawabnya.
"Ada apa ini?" tanya Al yang baru keluar dari ruangannya.
"Tuan, saya izin ke bandara ya." ucap Yuna.
"Bandara? Memangnya kamu mau kemana?"
"Aduh, saya sudah tidak punya waktu lagi. Saya izin dulu." Ayuna menyambar tas dan juga ponselnya.
"Nona, biar saya antar." ucap Jo.
"Jangan, kamu disini saja temani tuan Al. Sebentar lagi ada meeting dengan perwakilan Omiland kan?" Ayuna menolak tawaran Jo.
"Tunggu dulu, kamu mau kemana?" Al mencengkram tangan Yuna.
"Tuan, saya buru-buru! Oma lagi nungguin di bandara." jawabnya.
"Bandara?" Al terkejut. "Oma Tyas ke Jakarta?" tanya Al, Ayuna mengangguk.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi. Ya sudah, ayo kita jemput oma." ucap Al. "Jo, kamu handle meeting hari ini." setelah melimpahkan pekerjaan pada Jhosua, Al dan Yuna segera menuju bandara.
"Kenapa kamu terlihat panik begitu?" Alvaro sejak tadi memperhatikan Yuna yang begitu gelisah.
"Gimana aku gak panik? Oma kesini gak kasih kabar sebelumnya. Dan lagi, bagaimana kalau oma tahu aku tinggal bareng kamu? Pasti oma bakal kaget."
"Kamu tenang dulu."
"Gimana bisa tenang?"
"Kamu gak perlu khawatir, oma kesini mungkin karena merindukanmu. Dan masalah kita tinggal bareng, oma pasti bisa mengerti." Alvaro terlihat begitu santai.
"Kamu gak akan mengerti, aku gak bisa bayangin gimana reaksi oma nanti." Ayuna mengacak-acak rambutnya.
"Sudah, nanti kita hadapi bersama. Kamu bersiap saja kalau hari ini oma bakal nikahin kita." Ayuna menatap tajam padanya.
"Aawww!!" Al berteriak saat Yuna mencubit pinggangnya. "Sakit, Yang!" ucap Al.
"Aku cubit lagi nih." Ayuna bersiap untuk mengulang perbuatannya barusan.
"Bisa gak cubitan kamu diganti sama ciuman aja." canda Al. "Aaww!! Sayang, aku lagi nyetir nih." Alvaro mencengkram kuat kemudinya.
"Abis kamu, dari tadi becanda mulu. Gak tahu aku lagi panik." Yuna cemberut.
"Biar kamu rileks, dari tadi tegang mulu." ucap Al. "Seharusnya, aku nih yang tegang sejak tadi tangan kamu disana terus." Al mengarahkan pandangannya ke pinggang, begitupun dengan Yuna.
"Gak lucu." Ayuna segera menarik tangannya, tapi Al terlebih dahulu menahannya dan mengenggam tangan Yuna erat.
"Kamu tenang saja, saya yang akan jelasin semuanya ke oma." Entah mengapa, mendengar itu hati Yuna sangat tenang.
Akhirnya mereka sampai di bandara, Ayuna mengambil ponselnya dan menghubungi nomor oma.
"Assalamu'alaikum, Oma." ucap Yuna.
"Wa'alaikumusalam." jawab oma.
"Oma, Yuna sudah sampai. Oma dimana?" tanyanya.
"Kamu dimana?" Oma terlihat celingak-celinguk.
"Itu oma bukan?" tanya Al saat melihat seorang wanita paruh baya mengenakan batik coklat dan kacamata yang sama dengan bajunya.
"Oma." panggil Yuna, dan wanita itu menoleh pada Yuna.
"Sayang." Oma Tyas memeluk Yuna. "Al." ucap oma saat melihat Al. Alvaro segera mencium tangan oma Tyas.
"Oma apa kabar?" tanya Al.
"Seperti yang kamu lihat, oma sangat baik." mereka tertawa bersama.
"Oma kenapa gak bilang ke Yuna kalau mau datang?" tanya Yuna.
"Nanti saja kita ngobrolnya di mobil. Kasihan oma, pasti letih nungguin kita." Alvaro lalu membantu membawa travel bag oma, dan mereka berjalan menuju ke mobil Al.
"Minum dulu, Oma." Yuna menyerahkan air mineral pada oma.
"Terima kasih." Oma meraih botol air mineral yang sudah dibuka oleh Yuna dan segera meneguknya.
"Sekarang beritahu Yuna, kenapa oma datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu?"cecar Yuna saat mereka dalam perjalanan ke apartemen Al.
"Namanya suprise ya tanpa pemberitahuan." jawab Oma.
"Ih, Oma, seharusnya oma kasih tahu Yuna dulu, jadi oma gak perlu lama-lama nungguin Yuna di bandara." ucapnya.
"Oma, sudah makan?" tanya Al.
"Belum, Kenapa? Kamu mau traktir oma?" candanya.
"Tentu saja, selama oma disini semuanya keperluan oma aku yang tanggung." jawab Al.
"Wah! Belum apa-apa kamu sudah buat oma betah." Mereka berdua tertawa, sementara Yuna masih belum mengerti kenapa omanya tiba-tiba datang.
"Kalau begitu, gimana kalau kita makan dulu? Soalnya di apartemen gak ada makanan oma." ucap Al. Mendengar itu Ayuna melotot padanya.
"Boleh. Kebetulan oma juga lagi lapar." Oma Tyas setuju.
"Untung saja oma gak konek dengan ucapannya." Yuna terlihat lega.
"Oma mau makan apa?" kali ini Yuna yang bertanya.
"Hmm, apa saja boleh." jawabnya.
"Gimana kalau nasi padang?" Ayuna yakin oma tidak akan menolaknya. "Yuna yakin, oma butuh tenaga ekstra."
"Kamu memang cucu oma." Yuna tersenyum padanya. Karena restoran sudah ditentukan, Al segera mengarahkan mobilnya menuju restoran padang.
"Aku harus memikirkan alasan yang tepat agar oma tidak terkejut dan marah." Ayuna masih memikirkan cara untuk memberitahu oma bahwa mereka tinggal bersama.
Mobil Al memasuki restoran padang, setelah memarkirkan mobilnya, mereka berjalan bersama masuk ke sana.
"Ini yang oma suka makan di restoran padang, tidak perlu menunggu lama. Begitu datang, makanan sudah terhidang diatas meja." ucap Oma saat mereka mulai menyantap hidangan yang ada di depan mereka.
"Oma benar!" sambung Al.
"Kamu kenapa makannya sedikit banget?" tanya Oma saat melihat Yuna tidak tertarik dengan makanannya, padahal biasanya dia yang paling doyan.
"Oh, ini, Yuna lagi diet." jawabnya ngasal.
"Diet apaan? Tubuh kamu sudah kurus begitu." jawab Oma.
"Yuna masih kenyang, Oma."
"Biarkan saja oma, nanti juga kalau lapar dia bakal makan lagi." Ayuna berpura-pura mengabaikan ucapan Al.
"Kamu kenapa dari tadi cemas begitu? Masih kepikiran oma?" tanya Al saat mereka sedang menunggu oma yang sedang ke toilet.
"Iya." ucapnya pelan.
"Akukan sudah bilang, gak perlu khawatir. Aku yakin oma gak akan berkata apa-apa." hibur Al.
"Tapi ..."
"Sudah? Kalau sudah, ayo kita pulang." ucap oma yang tiba-tiba datang dari arah toilet. Mereka segera keluar dari restoran itu, dan Al segera memacu mobilnya agar cepat sampai di apartemen.
"Kita sudah sampai, Oma." ucap Al. Mereka keluar dari mobil, Al membantu oma membawakan travel bagnya kembali.
"Ayo, Oma." ajak Al. "Sayang, kamu sedang apa?" Al menyadarkan Yuna dari lamunannya.
"Hah, E-eh, A-aku ..." Ayuna terbata-bata.
"Ayo." Yuna menerima ajakan Al untuk berjalan bersama.
"Apartemen ini mewah sekali." ucap Oma setelah melihat lobby apartemen itu. "Pasti kamu harus merogoh kocek yang tidak sedikit, agar bisa tinggal disini, Al?" Oma begitu terpesona dengan design yang mereka miliki.
"Ah, tidak juga oma." jawabnya.
"Ayo masuk, Oma." Al membuka pasword pintunya dan mempersilahkan oma masuk. Oma semakin terpesona dengan luasnya apartemen yang Al miliki. Ditambah lagi dengan berbagai furniture yang minimalis, membuat apartemen Al terlihat sangat modern.
"Jadi ini tempat tinggal kamu?" Oma menatap Al.
"Iya, Oma." jawabnya. "Oma pasti letih, lebih baik oma istirahat dulu." Al melihat Yuna masih berdiri di depan pintu masuk. "Sayang, anterin oma ke kamar kamu ya." Oma Tyas menatap Yuna yang terlihat bingung.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Oma setelah Yuna mendekat pada mereka.
"Oma, sebenarnya ada yang belum Yuna ceritain ke oma." Ayuna ragu dan takut. Perasaannya bercampur aduk, dia benar-benar tidam siap jika oma berpikiran negatif padanya.
"Apa?" Oma menunggu apa yang akan Yuna katakan.
"S-sebenarnya, Yuna dan tuan Al t-tinggal bersama." Ayuna menutup matanya dan mengigit bibir bawahnya. Melihat tidak ada reaksi apa-apa dari oma, Yuna memberanikan diri membuka sedikit demi sedikit matanya. Ayuna melihat saat ini oma Tyas sedang menatap tajam ke arahnya. "M-maaafin Yuna oma. Tapi, Yuna jamin kalau hubungan kami sehat. Benarkan, Al?" Ayuna meminta dukungan pada Al.Oma Tyas juga ikut menatap Al.
"Jadi, ini yang buat kamu dari tadi murung?" tanya Oma padanya, Ayuna mengangguk. "Tapi kekhawatiranmu tidak beralasan, karena oma sudah tahu kalau kalian tinggal bersama." Ayuna melonggo saat mendengar jawab Oma.
"Oma tahu? Kok bisa? Yunakan gak pernah cerita." Ayuna memberondong oma dengan berbagai pertanyaan.
"Tentu saja bisa, waktu kalian berkunjung, Al sudah memberitahu oma." Oma mengedipkan sebelah matanya pada Al.
"Jadi, aku dikerjai?" Ayuna menatap Al. "Alllll!!" teriaknya, sementara yang diteriaki hanya bisa tertawa. "Awas kamu!" Al berusaha menghindar saat Yuna terus saja mengejarnya. Oma Tyas begitu bahagia melihat cucunya mempunyai seseorang yang bisa diandalkan.
~tbc