CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 93



Haris dan Risa bersiap untuk pulang ke apartemen terlebih dahulu. Setelah selesai membereskan pekerjaannya yang masih berantakkan di meja Haris menuntun Risa ke luar dari ruangannya. Mereka berjalan manuju area parkir di mana mobil Haris terparkir di sana.


Setelah berada di dalam mobil dan memakai sabuk pengaman Haris melajukan mobilnya menuju apartemennya. Di dalam kamar Haris tak langsung membersihkan tubuhnya melainkan merebahkannya di atas tempat tidur. Risa yang melihat sang suami tiduran di atas tempat tidur langsung ikutan merebahkan tubuhnya.


"Rasanya jika sudah berada di dalam kamar seperti ini aku tak ingin keluar lagi Honey," ucap Risa yang tengah memejamkan natanya.


"Jika kau tak ingin ke luar kamar maka kita tak jadi pergi saja ke tempat Kakek," usul Haris yang merubah posisinya menjadi tengkurap dan kepalanya berada di atas kepala Risa.


"No Honey, aku ingin ke rumah utama, aku merindukan Kakek dan Nenek, apa lagi Kakak ipar akan ke sana," tolak Risa segera.


"Ya sudah mandi sekarang," balasnya.


"Bersama," tawar Risa.


"Akan lama Honey," jawab Haris.


"Tak masalah, masih ada waktu sampai dua permainan." Risa mengedipkan matanya nakal.


"Oke, lets go." Haris dan Risa bangun dari tidurannya bersama.


Risa langsung menyambar bibir sang suami penuh ga irah tanpa ampun seraya berdiri. Ia melepaskan kancing kemeja Haris satu persatu hingga terbuka semuanya dan membuangnya kesembarang tempat. Kemudian berganti membuka ikat pinggang dan celana yang di kenakan Haris hingga si beo mencuat dari dalam sana.


Haris pun tak kalah sibuknya, ia juga melucuti pakaian sang istri sampai tak tersisa. Bibir mereka masih saling berpagut dan sambil berjalan perlahan menuju kamar mandi tanpa melepaskan pagutan bibir tersebut. Di depan pintu kamar mandi Haris membuka pintu tersebut dan masuk bersama tanpa menutupnya kembali.


Sore menjelang malam itu mereka akhirnya berolah raga di bawah kucuran air hangat. Selesai mandi Haris mengeringkan rambut sang istri menggunakan hair dryer dan menyisirnya hingga rapi. Setelah selesai mereka segera berpakaian dan berangkat menuju rumah utama.


Sesampainya di rumah utama Bram dan Aberlie sudah berada di sana, mereka sedang mengobrol bersama di ruang keluarga sambil menunggu dua Haris dan Risa datang. Haris dan Risa menghampiri mereka di ruang keluarga dan ikut menimbrung. Tak lama Aron dan Aliva pun datang, mereka dihubungi oleh Fatma atas permintaan Aberlie dan Brampun menyutujuinya.


"Waaaah ada acara apa nih ko lu tumben ngumpulin kita semua Men?" tanya Haris penasaran.


"Makan malem ajah dulu kali yah baru abis itu kita ngobrol, kasian Ratu gua udah laper hehe," jawab Bram memberi saran.


"Ya sudah kita langsung menuju meja makan ajah kebetulan juga udah siap," imbuh Fatma.


Mereka menuju meja makan menggandeng pasangan masing masing. Di meja makan para istri sibuk melayani suaminya mengambilkan makanan untuk sang suami. Tapi berbeda dengan Bram, ia justru yang sibuk mengambilkan makanan untuk sang istri malah sampe menyuapinya segala


Pasangan lain terkejut melihat kelakuan Bram yang begitu memanjakan Aberlie seperti itu. Setelah selesai makan Bram baru mulai makan menggunakan piring bekas menyuapi Aberlie. Lagi lagi membuat yang lain terbengong bengong.


Mungkin jika bersama denganku Aberlie tak akan mendapatkan perlakuan yang seperti itu, Kak Bram memang sangat mencintainya, aku turut bahagia melihat wanita yang pernah ku perjuangkan dengan mengorbankan tanganku ini tersenyum bahagia, batin Aron tersenyum melihat Aberlie dan beralih ke tangannya.


Aliva yang menyadari tingkah sang suami langsung menggenggam erat tangan Aron dan tersenyum. Aron yang tangannya di genggam menoleh ke arah sang istri dan tersenyum sambil manganggukkan kepalanya. Ia tahu apa yang Aliva ekspresikan.


"Aku oke Sayang, saat ini aku hanya mencintaimu seorang," bisik Aron di telinga Aliva membuat Aliva tersenyum dan tersipu.


"Jadi Bram apa yang ingin kau bicarakan pada kami sehingga kau mengumpulkan kami di sini?" tanya Fatma setelah Bram duduk di samping Aberlie.


"Aberlie hamil nek, Baby twins," jawab Bram to the poin.


"Benarkah itu Sayang!" Fatma menutup bibirnya karena bahagia.


"Hm," jawab Bram ber hm ria.


"Waaaah selamat yah Kak, Baby twins sekaligus." Risa heboh mendengar kabar bahagia tersebut.


"Selamat Sayang, semoga kalian sehat selalu yah sampai persalinan." Fatma memeluk Aberlie.


Di saat semua sedang bahagia atas kabar bahagia yang Bram dan Aberlie alami lain halnya dengan Aliva. Ia turut bahagia atas kehamilan sang kakak tapi di sisi lain ia juga sedih karena tak bisa mengandung. Aron yang menyadari hal tersebut langsung memeluk sang istri.


Harun yang juga menyadari hal tersebut langsung menepuk pundak Fatma memberi kode. Fatma yang paham akan kode dari sang suami langsung menghampiri Aliva yang memeluknya. Semua yang ada di ruangan tersebut mengerti perasaan Aliva atas apa yang telah terjadi kecuali Aberlie.


"Ada apa Al?" tanya Aberlie bingung karena tiba tiba Fatma memeluk Aliva.


"Gak apa apa ko Kak, aku hanya...,"


"Kami tak bisa memiliki anak karena proses oprasi pemasangan tangan palsuku mempengaruhi hormonku Berl," sambung Aron berbohong sebelum Aliva menyelesaikan ucapannya.


"Aku turut bersedih untukmu yah Al, kamu yang sabar yah mungkin tuhan punya rencana lain untukmu." Aberlie menghampiri Aliva setelah mendengar ucapan Aron.


Aberlie memeluk Aliva dengan erat, ia meneteskan air matanya sedih atas apa yang terjadi pada adik tirinya yang sudah beberapa kali mencelakainya. Aberlie mengusap punggung dan rambut Aliva penuh kasih sayang. Tangis Aliva pecah di pelukan sang kakak tirinya tersebut, ia menyadarinya saat ini bahwa sang kakak menyayangi dirinya.


"Maafkan aku yah Kak, maafkan atas semua kejahatan yang sudah ku lakukan padamu, mungkin ini hukuman dari tuhan untukku karena sudah terlalu sering berbuat jahat padamu," ucap Aliva terisak di pelukan Aberlie.


"Kakak sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya Al, Kakak selalu memaafkanmu sesaat setelah kau berbuat kesalahan pada Kakak, Kakak tak pernah membencimu Al, jadi mulai saat ini kau jangan merasa bersalah lagi oke," jawab Aberlie masih mengusap lembut rambut sang adik tiri.


"Makasih Kak, makasih karena kau tak pernah marah terhadapmu Kak," ucap Aliva melepas pelukan Aberlie.


Aberlie mengusap air mata Aliva yang membanjiri pipinya. Ia tersenyum manis pada sang adik. Mereka yang melihat adegan tersebut terharu dengan kebesaran hati Aberlie.


*****


Selamat membaca kakak semua jangan lupa likenya yah🙏😊


Ingat jangan kasih othor bom like yah🥺


Salam hangat dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰