
"Kau ...? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?" Yuna terlihat sangat terganggu dengan kehadiran Bumi.
"Aku ....? Tentu saja ...."
"Ini, tuan pesanan anda." pegawai Gilang memberikan paperbag padanya. Kai yang menerimanya.
"Sudah?" tanya Gilang begitu dia menghampiri mereka.
"Terima kasih." ucap Bumi padanya.
"Sama-sama, Tuan. Semoga orang yang menerimanya menyukainya ya!" timpal Gilang lagi.
"Apa kau ingin ikut denganku?" Bumi masih saja mengodanya.
"Aku bisa sendiri. Lagian, aku punya suami yang bisa mengantarku kemana saja." Yuna tidak ingin Gilang salah paham. Karena sejak tadi Gilang terus saja memperhatikan mereka. Bumi tertawa.
"Aku yakin saat ini suamimu pasti sangat sibuk." dahi Yuna mengerinyit.
"Apa kau mengenal suamiku?" tanyanya. Karena seingat Yuna, baik dia ataupun Al belum memberitahu mengenai hubungan mereka padanya.,
"Aku sangat tahu semua tentangmu." bisiknya di telinga Yuna. Ayuna terdiam, dia kembali mengingat percakapannya dengan Valerie kemarin.
"Kau ...." Ayuna terlihat geram.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Gilang." ucapnya.
"B-baik." Gilang masih penasaran tentang hubungan mereka. "Na, apa kamu mengenalnya?" tanyanya setelah Bumi pergi dari butik itu.
"Dia rekan bisnis Al." jawab Yuna.
"Tapi, kenapa aku merasa hubunganmu dengannya seperti ...."
"Dia memang sangat menyebalkan." potong Yuna.
"Ayo, Na." Gina yang tadi pergi menemui orangtuanya, kembali bersama dengan mereka.
"Gimana Om, Tante? Ada yang cocok?" tanya Yuna pada mereka.
"Sudah semua, Nak. Baju disini bagus-bagus." jawab Mama Gina.
"Syukurlah, kalau tante senang." ujar Gilang.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya." mereka berpamitan pada Gilang.
"Sebenarnya apa hubungan mereka?" Gilang masih penasaran dengan Bumi dan Yuna.
"Ma, Pa, aku sama Yuna ke mall dulu ya." ucap Gina saat mereka berada di parkiran.
"Kalian hati-hati ya!" pesan mereka. Setelah kedua orangtua Gina pergi, barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju mall.
"Na, bukankah tadi itu cowok yang kemarin di Amor Cafe?" tanya Gina. Tenyata Gina masih mengingatnya.
"Iya." jawab Yuna.
"Kenapa dia selalu mengikutimu?" tanya Gina.
"Itu hanya kebetulan. Sepertinya dia sedang membeli gaun untuk kekasihnya." Yuna tadi mendengar pembicaraannya dengan Gilang.
"Benarkah? Kok bisa kebetulan begitu ya?" Gina masih saja bingung.
"Udahlah, nggak penting juga." ucap Yuna. Mereka tiba di Royal Mall.
"Apalagi yang harus kita persiapkan?" tanya Yuna.
"Entahlah, aku bingung!" Gina benar-benar tidak tahu harus apa.
"Aku dengar Jo sudah mempersiapkan semuanya. Jadi, kamu hanya harus mencari keperluanmu saja." Gina mengangguk setuju.
"Apa kamu sudah memberitahu Karin?" tanyanya saat mereka berada di toko kosmetik.
"Belum." Gina mencoba lipstik yang baru dia pilih.
"Apa kamu nggak akan mengundangnya?" Yuna juga ikut memilih-milih warna yang dia sukai.
"Gue bukam nggak mau. Tapi, gue nggak mau kalau orang kantor pada tahu gue mau lamaran sama Jo." jawabnya.
"Tapi, Karin itu sahabat kita. Ada baiknya kamu kasih tahu dia." Gina menimbang saran yang Yuna berikan.
🍀🍀🍀
"Apa saya bisa bertemu dengan tuan Al?" Refa menatap Valerie.
"Apa anda sudah ada janji sebelumnya?" tanyanya.
"Belum. Tapi, ada hal penting yang harus saya bahas dengan beliau. Ini menyangkut kerjasasama dengan Earth Corp." mendengar nama Earth Corp, Refa langsung berpikiran kalau ini sangat penting.
"Sebentar, saya hubungu tuan Al dulu." setelah menanyakan nama Valerie, Refa segera menelepon Al. Valerie mencari-cari keberadaan Yuna. Tapi, dia belum bertemu dengannya.
"Tuan, diluar ada nona Valerie yang ingin bertemu dengan anda." lapornya.
"Mau apa dia?" tanya Al.
"Suruh dia masuk." karena mendengar nama perusahan Bumi disebut, akhirnya Al mengizinkan Valerie masuk. Apalagi saat ini Jo masih cuti, jadi dia yang harus menghandle semuanya.
"Mari, Nona." Refa mengantar Valerie menuju ruangan Al.
"Oh, ya, apa kau mengenal Ayuna?" tanya Valerie sebelum mereka sampai. "Sejak tadi aku tidak melihatnya. Setahuku dia asisten tuan Al, lalu dimana ruangannya?" Refa menatap tajam pada lawan bicaranya, tanpa menjawab dia membukakan pintu ruangan Al.
"Silahkan, Nona." ucapnya. Valerie langsung tersenyum saat melihat Alvaro berdiri dan menghampirinya.
"Apa kabar, Tuan Al?" sapanya ramah.
"Baik. Silahkan duduk." mereka duduk di sofa tamu. "Jadi, ada masalah apa?" Al tidak ingin berbasa-basi.
"Sebenarnya saya hanya ingin tahu, apakah ada tambahan barang yang harus kita kirimkan kesana." ucapnya.
"Bukankah sekretaris saya sudah mengirimkan pada anda listnya?" tanya Al.
"Benar, kemarin saya sudah menerimanya." jawabnya.
"Lalu?" Alvaro bingung apa yang sebenarnya ingin Valerie bahas.
"Saya hanya ingin tahu apakah ada tambahan lain, atau apapun itu." sebenarnya niat Valerie adalah untuk bisa mendekati Al. Makanya dia membuat alasan seperti ini.
"Saya rasa anda tidak perlu susah-susah datang kesini. Anda bisa menghubungi sekretaris saya." dari nada suaranya Al terdengar jengkel.
"Rasanya kalau hanya berbicara melalui telepon kurang puas, Tuan. Makanya saya datang kesini. Jika bertemu kita bisa mendiskusikan semua yang diperlukan." alssannya.
"Nona, Valerie!"
"Ya." dia kembali tersenyum.
"Apakah anda baru di bidang ini? Saya lihat anda tidak begitu memahami bidang ini. Maafkan saya! Jika anda ingin bekerjasama dengan perusahaan saya, maka bersikaplah profesional. Jangan seperti amatir!" Al kesal karena Valerie membuang-buang waktunya. Dia berpikir apakah ada masalah mengenai proyek itu. Tapi, Valerie hanya bertanya mengenai hal yang tidak penting. Valerie terdiam. "Jika masih ada yang ingin anda katakan, maka anda dapat menghubungi sekretaris saya." Alvaro berdiri dan kembali ke mejanya. Valerie keluar dari ruangan iti dengan wajah murung.
"Kenapa dia begitu dingin?" dia berjalan menuju lift, tanpa mempedulikan Refa yang sejak tadi menatapnya dengan rasa penasaran.
"Selamat siang, Nyonya!" sapa beberapa karyawan yang bertemu dengan Yuna.
"Siang." jawabnya ramah.
"Lebih baik aku langsung ke ruangan Al saja." setelah mengantar Gina pulang, Ayuna segera menuju kantor Al.
"TING." pintu lift terbuka.
"Naomi ....?" Yuna kaget karena ada Valerie di sana.
"Ayuna!" ucapnya setelah melihat siapanyang menyapanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Yuna setelah Valerie keluar.
"Aku bertemu dengan Alvaro." jawabnya pelan, Yuna kaget.
"Untuk apa? Apa ada masalah dengan proyek?" tanyanya, Valerie menggeleng.
"Apa kita bisa bicara?" tanyanya.
"Tentu saja." Yuna mengajak Valerie menuju taman yang ada disamping perusahaan.
"Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu?" tanyanya lagi.
"A-aku pikir dengan alasan proyek tuan Bumi, maka aku bisa berbicara santai dengan Alvaro. Tapi, dia malah terlihat kesal padaku." Ayuna kembali terkejut. Dia tidak menyangka kalau Valerie akan bertindak sejauh ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Yuna. Valerie mencerita apa yang baru saja dialaminya di ruangam Al. Yuna lega karena Al sama sekali tidak menanggapinya.
"Apa bosmu memang seperti itu?" tanyanya.
"Maksudmu?"
"Dingin dan tidak berperasaan. Apa dia nggak bisa berbicara lembut pada wanita?" gerutunya. "Kalau seperti itu, siapa juga wanita yang mau dengannya." dia terus saja mengomel.
"Naomi, sebenarnya tuan Al itu sudah menikah." mata Valerie membesar.
"Menikah? Kamu jangan bercanda." dia menolak untuk percaya.
"Aku serius." Yuna menatapnya tajam.
"Benarkah? Lalu, dimana istrinya?" tanyanya lagi.
"Istrinya adalah ...."
"Siang Nyonya!" sapa karyawan yang melintas di dekat mereka. Valerie kaget, karena mereka mengatakan itu sambil menatap Yuna. Ayuna tidak jadi menjawab pertanyaan Valerie.
"Siang."Yuna menjawab dengan ramahnya.
"Nyonya ....?" tanyanya. Dia menuntut penjelasan dari Yuna. "Kenapa mereka memanggilmu seperti itu? Apa karena kamu orang kepercayaan tuan Al?" Yuna menggeleng.
"Karena aku istrinya Alvaro." Ponsel.yang ada ditangannya seketika terjatuh.
"I-istri ....!? Valerie bukan main terkejut.
~tbc