CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 148



"Dari mana saja kau?" Monika kaget saat melihat Hans berdiri di depan pintu.


"P-pa, a-aku ... aku baru pulang dari Emerald Hotel." Alis Hans terangkat saat mendengar dia berkata jujur.


"Emerald Hotel? Apa yang kau lakukan disana?" selidiknya.


"Tentu saja menginap. Aku gak sanggup tidur disini dengan semua permasalahan yang terjadi." ucapnya. "Kalau papa gak percaya cek aja kesana. Aku menginap di kamar 108." setelah berkata seperti itu, Monika segera menuju kamarnya.


"Apa perlu saya periksa, Tuan?" tanya Ken.


"Tidak perlu. Mereka pasti sudah mengatur semuanya." jawab Ken. "Kita ke perusahaan saja." Hans berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di luar.


"Pagi, Tuan! Pagi, Na!" Gina menyapa mereka saat berpapasan di lobby.


"Pagi." jawab Yuna.


"Aku duluan ya!" Al segera masuk ke lift saat pintu itu terbuka.


"Lo, kemana aja?" tanya Gina.


"Kemana? Kamu kan tahu aku diatas terus." jawabnya.


"Gimana hubunganmu dengan Jo?" Gina segera membekap Yuna dengan tangannya.


"Lo apa-apaan sih? Nanti ada yang dengar bisa gawat." ucapnya sambil melihat ke sekeliling.


"Yah, aku cuma penasaran aja hubungan kalian sudah sejauh apa." ujarnya.


"Udah ah, gak usah bahas kami." Gina mengalihkan pembicaraan.


"Ah, gitu aja kamu malu. Aku yakin tidak lama lagi kalian pasti akan menyusul kami." Ayuna terus saja meledeknya.


"Udah, yuk!" Gina menariknya masuk ke dalam lift.


"Gimana dengan Mahen?" tanyanya saat melihat hanya mereka berdua di dalam lift itu.


"Yah, seperti yang lo tahu. Tuan Mahen masih saja bersikap dingin dan menyebalkan. Semua ini karena lo sih!" ucapnya.


"Aku juga bingung harus bagaimana dengannya. Apalagi dengan masalah sekarang." jawab Yuna.


"Masalah? Memangnya apa yang terjadi?" saat Ayuna ingin menjawab, pintu lift terbuka dan beberapa karyawan bergabung bersama mereka. Ayuna mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Gina.


"Lain kali saja." ucapnya pelan. Mereka berpisah saat Gina sampai di lantainya.


"Pagi, Na!" sapa Refa saat melihatnya.


"Pagi."


"Kok tumben gak bareng tuan Al?" Refa mulai kepo, dia yang melihat Yuna baru datang penasaran apa yang terjadi pada pasangan itu.


"Siapa bilang gak bareng?" Yuna balik bertanya.


"Tuan Al sudah dari tadi di dalam, kamu baru sampai." ujarnya.


"Huh, dasar miss kepo!" ledek Yuna, dan berlalu menuju pantry.


"Aneh, aku rasa mereka sedang bertengkar." gerutunya.


"Apa kamu melihat nona Ayuna?" tanya Jo yang baru saja keluar dari ruangan Al.


"Dia ada di pantry." jawabnya.


"Baguslah! Kamu awasi terus nona Ayuna. Segera laporkan pada saya jika dia meninggalkan meja ini." perintahnya.


"Baik." jawab Refa. "Kenapa aku harus laporan tentang Ayuna?" ucapnya setelah Jhosua pergi.


"Ada apa?" tanya Yuna saat melihat Refa melamun. Ditangannya membawa secangkir kopi.


"Hah? bukan apa-apa." jawab Refa. Ayuna memeriksa kembali berkas-berkas yang harus diberikan pada Al.


"Aku ke dalam dulu ya!" Refa terus memperhatikan Yuna hingga dia masuk ke ruangan Al.


"Al, ini berkas yang harus kamu tanda tangani." dia meletakkan kertas itu di meja Al. "Ada apa?" tanyanya saat melihat Al sedang melamun.


"Kemarilah!" Ayuna menyambut uluran tangan Al.


"Ada apa, Al? Kamu terlihat memikirkan sesuatu." tanyanya lagi.


"Aku sedang memikirkan pernikahan kita." ucapnya.


"Memangnya kenapa? Bukankah semuanya sudah hampir rampung?" Ayuna sudah mendapat kabar bahwa persiapan pernikahan mereka hanya tinggal beberapa persen lagi.


"Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu istriku." Al memeluknya.


"Hanya tinggal beberapa minggu saja kamu sudah tidak sabaran, padahal menunggu bertahun-tahun kamu sanggup." Yuna mengelus kepala Al.


"Itu beda, dulu kamu tidak ada di depanku. Jadi aku bisa menahannya, tapi sekarang sangat sulit untuk bertahan." Al menggodanya.


"Kamu yah!" Ayuna menjewer telinganya, Alvaro mengerang kesakitan.


"Bagus!" suara Hans mengagetkan mereka. "Kenapa kalian terkejut?" tanyanya saat melihat ekspresi diwajah mereka berdua. "Kenapa kamu berhenti? Ayo teruskan! Aku ingin melihat bocah sombong ini sedikit menderita." ucapnya pada Yuna.


"Apa yang kakek lakukan disini? Apa tidak bisa mengetuk pintu dahulu?" Al terqlihat kesal, sementara Yuna segera menjaga jarak darinya.


"Sekretarismu sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi dasar kalian sedang dimabuk asmara mana mungkin mendengar suara-suara lain." Hans segera duduk, sementara Ken berdiri di belakangnya.


"Tidak perlu, kamu disini saja." Hans mencegahnya.


"Ada apa kakek kesini?"


"Ada sesuatu yang harus kukatakan pada kalian." ucapnya.


"Kau pasti sudah tahu keberadaan Candra, bukan?" tebaknya.


"Iya." jawab Al.


"Lalu, apa kau juga tahu siapa yang membantunya selama ini?" Al diam, melihat reaksi Al, Hans yakin kalau dia sudah mengetahui semuanya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.


"Hanya dengan mengetahui bahwa mama berada disana, kita tidak bisa menuduhnya begitu saja. Aku yakin dia pasti sudah mempersiapkan alasan yang tepat." Ayuna kaget saat mereka membicarakan tentang Monika. Ayuna menatap pada Al.


"Kau benar! Kita harus mempunyai bukti kuat." sela Hans.


"Aku sudah meminta Jhosua untuk mencari buktinya." Hans sudah menebaknya, Al pasti sudah selangkah di depannya.


"Bagaimana kondisi tante?" tanya Al.


"Dia masih syok dan belum percaya. Tapi kamu tenang saja, aku tahu bagaimana menanganinya." jawab Hans. "Yang jadi permasalahan saat ini adalah Mahen." Al menoleh pada Yuna.


"Dia harus tahu." ucap Al.


"Tapi, akan sangat sulit meyakinkannya. Kau tahu seperti apa dia menyayangi papanya. Aku tahu ini pasti menyakitkan untuknya." Hans sangat mengkhawatirkan cucu bungsunya itu.


"Aku yakin dia bisa menahannya." jawab Al.


"Baiklah, aku pergi dulu! Kalian boleh melanjutkan yang tertunda tadi." godanya Hans sebelum dia keluar dari sana.


"Kamu mau kemana?" Al mencengkram tangan Yuna.


"Aku juga harus keluar." jawabnya.


"Bukankah kamu sudah dengar kalau kakek menyuruh kita melanjutkan lagi."


"Apa yang mau dilanjutkan? Ini...!" Yuna kembali menarik telinga Al.


"Aaww!! ok ...ok ...!" Al melepaskan tangan Yuna. "Siang ini kita ada janji dengan Gilang." ucapnya sebelum Yuna keluar.


"Ok!"


"Ada masalah apa, Na? Kenapa tuan Hans sampai datang kesini?" Refa langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Aduh, miss kepo! Gak ada masalah apapun." jawab Yuna.


"Tapi, kenapa ...?"


"Udah, lanjutin kerjaanmu." Yuna segera menghentikannya sebelum pertanyaannya semakin banyak.


🍀🍀🍀


"Ada apa papa memanggilku kemari?" tanya Mahen saat dirinya sampai di salah satu restoran cina yang telah dipesan Candra.


"Duduklah! Ada yang ingin papa bicarakan." jawabnya.


"Apa semalam kamu tidak pulang ke rumah?" Candra membuka pembicaraan.


"Tidak." jawabnya.


"Sepertinya dia belum tahu." batin Candra.


"Begini, Nak, apa kamu bisa membawa Ayuna untuk menemuiku?" Mahen menatap tajam padanya.


"Apa yang papa inginkan?" selidiknya.


"Papa ingin meyakinkannya kalau cintamu padanya sangat besar. Pap ingin membantumu sebelum papa kembali ke Jerman." ucapnya.


"Sungguh?" Mahen sangat senang, karena akhirnya ada yang mau mendukungnya untuk mendapatkan Ayuna.


"Tentu saja. Papa hanya ingin kamu bahagia." jawabnya.


"Aku akan memintanya untuk bertemu."


"Apa kamu yakin Al akan memberikan izin? Apalagi jika dia tahu kalau kamu dan papa akan menemuinya. Papa rasa akan sangat sulit untuk meyakinkan Al." Candra menunggu jawabannya.


"Ayuna pasti mau menemuiku. Papa tenang saja." Mahen terlihat sangat yakin.


"Tapi, sebaiknya kamu tidak mengatakan padanya kalau papa yang mengajak dia bertemu. Ayuna pasti akan langsung menolaknya karena dia tahu tujuan kita." pesannya.


"Baiklah." jawabnya.


"Kalau gitu, papa duluan. Papa masih ada beberapa pekerjaan." Candra berdiri dan meninggalkan Mahen yang senyum-senyum sendiri.


"Aku bersyukur papa mendukungku. Dengan cara apapun aku harus bisa membuat Yuna menjadi milikku." dia segera meraih ponsel dan kunci mobilnya, kemudian melangkah keluar dari restoran itu.


"Pantau terus jika wanita itu keluar tanpa pengawalan Al. Begitu ada kesempatan langsung bawa ke tempat itu." perintahnya pada Leo saat mereka sudah ada di mobil. Kali ini Candra terpaksa harus mengunakan putranya sendiri untuk mendapatkan Ayuna.


"Baik, Tuan." jawab Leo.


"Aku akan membuat mereka menyesal." mata Candra dipenuhi dengan kemarahan.


~tbc