
"Baiklah nek" ucap Bram seraya menghenyakkan bokongnya dikursi depan meja makan.
Mereka bertiga makan malam dengan tenang.
***
Didepan sebuah rumah besar Erwin dan Haris mengantar Aron sesuai perintah dari Bram.
Darah segar masih mengalir dari tangan Aron yang dipotong oleh Bram, dan era ngan kesakitan Aron menjadi musik bagi mereka berdua disepanjang jalan.
Tak berapa lama Surya dan Lisa membuka pintu rumah mereka dan terkejut melihat apa yang terjadi pada Aron.
"Aaaaàaa...." Lisa berteriak dan menutup wajahnya saat melihat keadaan Aron yang miris dengan tangannya.
"Ada apa ini Haris? siapa yang sudah berani berbuat seperti ini pada anakku?" tanya Surya seraya mengambil alih menopang tubuh Aron dari Erwin dan Haris kemudian membawa masuk kedalam ruang tamu.
"Papa fikir siapa lagi seseorang yang berani berbuat seperti ini pada Aron" ucap Haris menjawab pertanyaan Surya.
"Tak mungkin Bram melakukan ini, memang apa yang sudah Aron perbuat pada Bram sampai Bram dengan begitu tega melakukan seperti ini?" ucap Surya seraya mendudukkan Aron yang masih berteriak pada sofa.
"Papa tanya saja padanya, tante panggil si *** *** suruh dia kesini melihat keadaan anaknya, itu perintah dari Bram" ucap Haris sedangkan Erwin sudah duduk dengan santainya disofa single.
"Ba.....ba....baik" ucap Lisa gugup dan ia langsung pergi menuju kamar Siska.
Lisa tak pernah menyangka kalau Bram anak tirinya semengerikan itu, selama ini Bram yang ia lihat adalah Bram yang sering bercanda dengan keluarganya jika sudah berada didalam rumah dan bersikap dingin saat diluar rumah.
Seperti saat kemarin malam sewaktu ia menyidang Haris dan Risa ia bersikap begitu hangat, begitu pula dengan Haris, Lisa pun terkejut dengan perubahan sikap Haris yang saat ini tengan bersikap tegas.
Siska datang setelah Lisa memberitahunya untuk keruang keluarga karena ada sesuatu yang menunggunya, Lisa memutuskan tak ikut kembali keruang keluarga.
Lisa sengaja tak memberi tahu Siska jika anaknya pulang dalam keadaan yang mengenaskan.
"Aaaaaa....." Siska berteriak tatkala melihat keadaan Aron yang mulai tak sadarkan diri dengan pergelangan tangan terpotong dan darah terus keluar.
"Ini peringatan terakhir dari Bram, jika Aron berani sekali lagi menyentuh dan menyakiti Aberlie mungkin lain kali hanya tinggal nama" ucap Haris menjelaskan sebelum Siska bertanya.
"Pah kami permisi dulu, tugas kami sudah selesai, kalau kalian tak ingin dia mati saya sarankan untuk segera membawanya kerumah sakit" ucap Haris.
Erwin dan Haris langsung pergi meninggalkan mereka dengan hadiah yang diberikan oleh Bram.
"Cepat kita bawa Aron kerumah sakit pah, dia bisa mati jika terlalu banyak kehilangan darah" ucap Siska seraya menutup pergelangan tangan Aron dengan kain yang entah dari mana (authorpun tak tahu😅).
Surya beranjak dan menopang tubuh Aron bersama dengan Siska menuju garasi mobil tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Surya sudah tak tahu harus berbuat apa lagi karena Aron tak mengindahkan peringatan Bram terakhir kali.
Jika Bram sudah berbuat demikian Surya sudah tak bisa berkutik karena surya tak punya kekuasaan apapun semenjak menikahi Siska dan mempunyai Aron.
Seluruh harta warisan sudah diberikan pada Bram oleh Harun, Surya tak pernah sekalipun mendapatkan hak apapun dari harta milik Harun.
Surya masih diberi jabatan sebagai direktur operasional karena Harun menyayangi Risa dan menganggap Lisa ibu dari Risa sebagai menantunya.
Sesampainya dirumah sakit Surya segera memanggil tenaga medis karena Aron sudah tak sadarkan diri.
Aron dibawa keruang ugd oleh petugas rumah sakit tersebut.
"Apa yang terjadi pada anakku pah, mengapa Bram melakukan hal sekeji itu pada Aron, mengapa pah" ucap Siska lirih karena ia menyadari tengah berada dirumah sakit seraya menarik baju yang dikenakan Surya.
"Aron berulah lagi pada Aberlie, ia tak mendengarkan peringatan terakhir yang Bram berikan padanya jadi Bram memberinya peringatan pada kita agar kita bisa menjaga Aron supaya dia tak mengganggu Aberlie kembali, jika ia bersihkeras mengganggu Aberlie kembali setelah ini mungkin Aron akan pulang audah menjadi ma yat" ucap Surya setenang mungkin.
Siska ambruk terduduk dilantai, antara sedih dan marah bercampur aduk.
"Mengapa kau tak pernah membela anak kita pah, mengapa kau membiarka anak kesayanganmu berbuat seperti itu pada anakku pah" ucap Siska dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Aku sudah meminta ampun sekali pada Bram atas nama Aron sewaktu Bram menghajar Aron, ku fikir Aron akan berhenti mengganggi Aberlie, namun ternyata Aron tak mengindahkan peringatan dari Bram, aku sudah tak bisa membantu kembali, karena jika aku turun tangan sekali lagi papah akan membuangku dari perusahaan dan kita akan hidup dipinggir jalan, jadi jalan satu satunya kau jaga anakmu setelah ia sembuh, jangan biarkan dia mengganggu Aberlie sekali lagi atau ia akan pulang hanya dengan nama saja" jelas Surya.
***
Pukul sembilan malam Bram baru sampai dimansionnya, ia masih berada digarasi tengah memarkirkan mobilnya.
Bram memasuki rumah yang sudah gelap tanpa penerangan yang berarti bahwa penghuninya sudah berada didalam kamar.
Bram langsung menuju kamarnya dan mendapati Aberlie tengah tertidur pulas diatas kasurnya.
Bram ikutan berbaring diatas kasur dibawah selimut seraya memeluk Aberlie dan mencium kepala Aberlie.
Bukan Bram namanya jika dekat dekat pada Aberlie tak melakukan apapun, baginya mau Aberlie sedang dalam keadaan apapun Aberlie tetap mempesona dan selalu membuat dirinya tergila gila dan tak bisa menahan hasratnya.
Karena saat ini mereka sudah sah menjadi suami dan istri jadi Bram sudah tak perlu menahan hasratnya lagi, tak seperti saat belum menikah jika sibeo sudah meronta Bram hanya bisa menenangkannya untuk bertahan sebentar lagi dalam puasa panjangnya setelah yang mereka lakuin dipantai.
Bram bermain sendiri tanpa membangunkan Aberlie yang mungkin sangat lelah karena seharian ini dia beberes sendirian.
Bahkan saking lelahnya Aberlie tak bangun saat Bram mulai melucuti pakaiannya satu persatu dan mulai memainkan sibeo disangkarnya.
Disaat Bram memasukkan sibeo dalam sangkarnya, Aberlie merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana, Aberlie hanya tersenyum namun ia enggan untuk bergerak.
Biarlah dia bermain sendiri, gumam Aberlie menik ma tinya dalam diam.
Bram memompa sendiri tanpa suara indah dari bibi manis Aberlie.
Bram juga mengerang kenik ma tan sendiri saat dibawah sana telah sampai puncaknya.
Setelah ia menuntaskan hasratnya yang membara tatkala melihat Aberlie, Bram menyelimuti Aberlie yang tanpa mengenakan sehelai benang pun ditubuhnya akibat ulah Bram, dan menariknya kedalam pelukannya, Bram mencium pucuk kepala Aberlie dan kemudian ia ikut terlelap bersama sang istri tercinta.
*****
Selamat membaca semua jangan lupa tinggalin jejak kalian yah, maaf jila banyak tulisan yang masih berantakan dan kadang salah
Salam hangat dari aku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰