
"Apa sudah ada kabar mengenai Yuna?" tanya Hans pada Ken.
"Belum, Tuan. Orang-orang kita sedang mencarinya." lapornya.
"Apa saja yang kalian lakukan? Kerahkan semua anak buahmu." ucapnya. Hans berjalan menuju kamar Soraya. Sejak kejadian kemarin, Soraya selalu menghabiskan waktunya di kamar.
"Sayang!" sapa Hans setelah dia duduk disamping putrinya. Soraya menoleh padanya.
"Ada apa, Pa?"
"Apa Candra sudah menghubungimu?" tanyanya.
"Kenapa papa menanyakannya?" Soraya menatapnya penuh tanya. "Apa papa ingin menangkapnya?" tanyanya.
"Ayuna diculik." Soraya terkejut, dia segera duduk.
"Kapan?" tanyanya.
"Siang tadi, papa sudah meminta Ken untuk mengawalnya, tapi mereka berhasil menculiknya." jelasnya.
"Lalu, apa hubungannya dengan mas Candra?" tatapannya begitu lemah.
"Ada kemungkinan, Candra yang menculiknya." Soraya menyipitkan kedua matanya.
"Apa papa punya bukti?" tanyanya. Dia tidak ingin mereka sembarangan menuduh. Biar gimanapun Candra tetap suaminya. Hans terdiam, dia memang belum menemukan bukti keterlibatan Candra secara langsung.
"Tante tanyakan saja pada putra tante." timpal Al yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu kamar Soraya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Ayuna hilang saat dalam perjalanan menemui Mahen." jelasnya, Soraya tidak percaya kalau putranya terlibat.
"Mahen tidak mungkin melakukan itu." dia menatap tajam Hans.
"Aku tidak mengatakan bahwa Mahem terlibat. Aku hanya khawatir Candra memanfaatkannya untuk mendapatkan Yuna." Soraya meraih ponselnya. Dia segera menekan nomor Mahen.
"Kenapa dia tidak menjawabnya?" dia terlihat sangat khawatir.
"Kamu mau kemana?" tanya Hans saat melihat Soraya berdiri.
"Aku harus menemui putraku." ucapnya.
"Kamu disini saja, biar aku menghubunginya." Hans menahannya.
"Aku gak bisa diam disini terus, Pa. Aku harus menemui Mahen. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Soraya bersikeras, Ken yang mendengar keributan segera masuk dan membantu Hans.
"Aku akan membawanya kesini." ucap Hans. Soraya menoleh padanya.
"Tolong bawa dia! Aku akan bertanya langsung padanya." pintanya, Ken membantunya untuk kembali berbaring. Hans meminta dokter keluarganya untuk datang memeriksanya. Sementara itu dia dan Ken menuju Ivander Group.
"Kamu yakin dia masih disana?" tanya Hans.
"Iya, Tuan." jawabnya.
"Aku harap kita bisa menemukan titik terang mengenai keberadaan Yuna." ucap Hans.
🍀🍀🍀
"Apa yang terjadi? Ayuna hilang?" tanya Karin. Gina diam saja, dia masih menelaah semua yang dia dengar.
"Bukannya kalian tadi pergi dengannya?" tanya Gandhi.
"Benar, tapi dia pergi sebentar untuk menemui tuan Mahen." Karin menjelaskan apa yang terjadi.
"Lalu, dimana dia?" tanyanya.
"Apa lo gak dengar? Ayuna diculik!" Gina membentaknya. Dia sangat mengkhawatirkannya. "Entah seperti apa kondisinya saat ini." Gina mengambil tasnya dan bergegas meninggalkan mereka.
"Na, kamu mau kemana?" Karin berhasil mengejarnya.
"Gue mau balik ke Fairy Butik, atau daerah sekitar sana. Kali aja ada petunjuk yang bisa kita temukan." ujarnya.
"Aku ikut!" ucap Karin. Mereka meninggalkan Ivander Group.
🍀🍀🍀
Sementara itu Al yang baru keluar dari butik milik Gilang tidak bisa menemukan petunjuk apapun. Jo juga mencari informasi mengenai penculikan Yuna dari warga sekitar. Tapi, tetap tak menemukan apapun.
"Gimana?" tanya Al saat Jo datang menghampirinya.
"Tidak ada yang mengetahuinya, Tuan." jawabnya.
"Kita ke Emerald Hotel!" ucapnya. Al yakin saat ini Candra pasti ada disana.
"Apa kakek kesini untuk menanyakan hal yang sama dengan Al?" tanya Mahen saat melihat kedatangan Hans.
"Apa kamu tahu Yuna dimana?" tanyanya.
"Aku juga sedang mencarinya." jawab Mahen lemah.
"Kenapa kalian terus memojokkan papaku?" Mahen tetap membelanya.
"Aku rasa kau belum tahu apapun." ucap Hans.
"Apa maksud kakek?"
"Papamu adalah dalang dibalik penculikan Al dulu. Kemarin, Ayuna memberitahu kami kalau dia melihat Leo ada di dalam mobil yang menculik mereka. Sejak saat itu, kami memberikan pengawalan untuknya. Tapi, aku ingin tahu apa alasanmu mengajak Yuna bertemu?" Mahen terdiam, dia bingung harus berkata apa.
"Papa ingin bertemu dengannya, untuk meyakinkan Yuna bahwa aku sangat mencintainya." Hans tersenyum tipis.
"Ternyata dia menggunakanmu untuk memancing Yuna keluar sendiri. Kalau kau memang benar mencintainya, selamatkan dia. Aku yakin Candra akan melakukan apapun untuk menutupi semua kejahatannya. Waktu kita gak banyak." Hans berdiri dan meninggalkannya seorang diri. Mahen mencerna setiap perkataan Hans. Dia mulai meragukan Candra.
"CANDRAAA!!" saat Al tiba di Emerald Hotel, dia melihat Candra yang baru saja keluar dari mobilnya. Candra menoleh ke arahnya, dan dia tidak siap saat tangan Al mendarat di perutnya.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Leo sambil membantunya berdiri. Leo ingin membalas Al, tapi Candra mencegahnya.
"Ada apa ini, Al? Kenapa kau tiba-tiba memukul pamanmu sendiri?" tanyanya.
"Hentikan omong kosongmu! Katakan dimana Ayuna!" Al sangat emosi.
"Apa yang kau katakan? Kenapa kau mencari Ayuna disini?" Candra bersikap seperti biasa.
"Tidak usah berpura-pura! Aku tau kau yang menculiknya! Cepat katakan dimana dia?" Al kembali mendekat, tapi Leo melindunginya.
"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Aku tidak tahu dimana dia." ucapnya.
"Bangsat kau! Aku tidak akan mengampunimu jika terjadi sesuatu padanya." ancam Al.
"Hentikan, Al!" Hans yang baru saja tiba mencoba untuk menghentikan Al.
"Jangan hentikan aku! Aku tidak akan membiarkannya hidup." Alvaro benar-benar tersulut emosi.
"Ken, Jo, hentikan dia!" Hans memerintahkan mereka untuk menahan Al.
"Lepaskan aku!" Al memberontak, dia masih ingin menghajar pamannya itu.
"Cukup, Al!" teriak Mahen yang juga baru tiba. "Aku tidak akan membiarkanmu melukai papaku!" Mahen berdiri di depan Candra. Candra tertegun menatap putranya.
"Apa yang kau tahu? Apa kau masih membela orang yang sudah menculik Ayuna?" ucap Al.
"Apa kau punya bukti kalau papaku pelakunya?" Al terdiam. "Aku bisa memenjarakanmu atas tindakanmu ini." Mahen kembali mengancamnya.
"Tidak perlu, Nak! Al hanya salah paham padaku." Candra menyela pembicaraan mereka. Al menatapnya tajam, dia sangat muak dengan sifat Candra yang sangat pandai memanipulasi orang lain.
"Kau akan menyesali ini!" Al menunjuk pada Mahen. "Aku akan membunuh kalian jika sesuatu terjadi pada Ayuna." ancamnya. Setelah itu dia berjalan menuju mobil, Jo bergegas mengikutinya.
"Papa baik-baik saja?" Mahen mendekati Candra dan memeriksa kondisinya.
"Kamu tidak perlu khawatir! Papa baik-baik saja." jawabnya.
"Aku harap kecurigaan Al padamu tidak benar!" ucap Hans padanya.
"Tentu saja! Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaan Yuna." jawabnya.
"Mahen, pulanglah! Mamamu membutuhkanmu!" Hans memberitahu kondisi Soraya.
"Aku akan pulang setelah memastikan kondisi papaku. Aku harus memastikan cucu kesayangan kakek tidak akan bertundak anarkis lagi." kata-kata Mahen sangat tajam.
"Baiklah!" Hans dan Ken memasuki mobil mereka dan meninggalkan Emerald hotel.
"Ayo, Pa, Aku bantu!" Mahen membantunya. Candra tersenyum karena putranya berada dipihaknya.
"Kenapa kamu tidak seperti mereka menyudutkanku?" tanya Candra sesampainya mereka di kamar.
"Aku lebih percaya papa dibanding mereka." jawabnya. Candra kembali tersenyum. "Tapi, kenapa papa tinggal disini? Kenapa tidak pulang? Kasihan mama." tanyanya.
"Papa hanya tidak ingin membuat masalah ini semakin panjang. Mamamu akan semakin terluka oleh perlakuan keluarganya." jelasnya.
"Tapi, mama disana pasti sangat sedih. Kakek dan Al menyalahkan papa atas hilangnya Yuna." ucapnya.
"Kamu tenang saja! Nanti, papa akan menghubungi mamamu." Mahen bernapas lega.
"Apa kamu tidak khawatir dengan keadaan Ayuna?" tanyanya tiba-tiba.
"Sangat! Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku berharap saat ini dia baik-baik saja." Mahen terus memperhatikan sikap Candra.
"Papa harap juga seperti itu." timpalnya.
"Aku sangat mencintainya, Pa! Aku gak akan sanggup hidup tanpanya." entah apa maksudnya, Candra bingung karena Mahen tiba-tiba menyatakan perasaannya.
"Kamu tenang saja! Papa yakin saat ini dia pasti baik-baik saja." Candra menyakinkannya, tapi Mahen bisa melihat kejanggalan dari perkataannya.
"Siapa kalian? Lepasin aku!!" entah sudah berapa lama Yuna berteriak. Saat terbangun seluruh pandangannya gelap. Dia tidak berdaya, pandangannya tertutup oleh sebuah kain, tangan dan kakinya juga terikat pada sebuah kursi. Dia hanya mampu berteriak untuk meminta pertolongan.
~tbc