
"Apa maksudmu?" tanya Yuna.
"Tuan muda baru saja menghubungi rumah. Beliau memberitahu bahwa tuan besar masuk rumah sakit karena mengalami serangan jantung." Yuna bergegas mengambil ponselnya, dan benar saja ada 5 panggilan tak terjawab dari Al. Yuna mencoba untuk menghubungi Al.
"Hallo!" jawab suara yang begitu dia rindukan.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Yuna.
"Kakek mengalami serangan jantung. Saat ini masih berada di ICU." jawabnya.
"Tapi kenapa bisa?" setau Yuna, Hans baik-baik saja.
"Entahlah! Saat mengikuti meeting, tiba-tiba saja kakek mengerang kesakitan sambil terus memegangi dadanya. Setelah itu, beliau tidak sadarkan diri." Al menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku harap kakek baik-baik saja." ucap Yuna.
"Aku juga berharap seperti itu." jawab Al. "Sayang, nantiku hubungi! Dokter memanggilku." Alvaro memutuskan panggilan mereka. Ayuna duduk di tempat tidur, kepalanya terasa sedikit pusing.
"Gimana, Dok?" Alvaro bertanya pada dokter yang bertanggung jawab.
"Apa beliau sudah lama mengeluhkan nyeri di dada?" tanya Dokter itu.
"Saya tidak tahu." Alvaro menggeleng. Dia memang tidak banyak tahu tentang Hans.
"Beliau sudah lama menderita penyakit jantung, Dok." Ken menyela mereka. Al menatap tajam ke arahnya.
"Untuk saat ini kami masih harus memantau perkembangan pasien. Jika semua sudah normal, pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat." setelah mengatakan itu, Dokter tadi berpamitan pada Al.
"Kenapa paman tidak memberitahuku?" tanya Al pada Ken.
"Maafkan saya, Tuan. Tuan besar tidak ingin ada yang tahu mengenai pemyakit yang beliau derita." jawab Ken.
"Tapi ini serius! Seharusnya kalian tidak menyembunyikan apapun dariku." Alvaro terlihat kesal.l "Apa Tante tahu?" Ken menggeleng. "Kalian benar-benar keterlaluan!" Al mengambil ponselnya dan menghubungi Soraya.
πππ
"Apa kau sudah mendengar kabar mengenai kakek?" tanya Yuna saat mereka dalam perjalanan menuju kantor.
"Sudah, Nona." jawab Jo.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yuna.
"Saya dengar beliau pingsan saat rapat berlangsung." jawabnya.
"Al pasti sangat khawatir." ucap Yuna.
"Ada hal penting yang harus kita urus, Nona." sela Jo.
"Apa?" tanya Yuna.
Ayuna terkejut karena banyaknya media yang menanti mereka di depan Ivander Group.
"Jo ....?" tanyanya.
"Semua akan baik-baik saja, Nona." Jhosua memberi dukungan padanya. Ayuna harus menghadapi para awak media, karena kabar mengenai Hans Ivander sudah merebak ke seluruh negeri. Siapa yang tidak mengenal pengusaha sukses sepertinya.
"Itu dia!!" mereka mendekat saat Ayuna keluar dari mobil.
"Nyonya, bagaimana keadaan tuan Hans? Apa benar saat ini beliau di rawat di ICU?" tanya salah satu dari mereka.
"Ayuna mengambil napas dalam, dia menatap pada puluhan kamera yang ada dihadapannya.
"Kabar itu benar! Kakek saat ini memang sedang di rawat di rumah sakit. Jadi, saya mohon doa dari kalian semua. Agar beliau bisa segera pulih dan kembali bergabung bersama kita." setelah mengatakan itu Ayuna segera masuk. Beberapa awak meduanyang ingin bertanya mencoba mendekati Yuna, tapi mereka dihalangi oleh pengawal suruhan Jo. Jhosua sudah mengantisipasi hal ini.
"Gimana ini, Jo?" tanya Yuna saat melihat saham perusahaan yang menurun.
"Ini pasti efek dari kabar yang berhembus." jawabnya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya. Yuna belum pernah menghadapi situasi ini.
"Saya akan menghubungi tuan Al." Jhosau mengambil ponselnya.
"Jangan!" cegahnya.
"Kenapa, Nona?" tanya Jo.
"Saat ini Al pasti sangat sibuk ngurusin kakek. Aku nggak mau menambah bebannya." ucap Yuna. "Apa tidak ada cara lain?" tanya Yuna. Mereka sama-sama terdiam.
πππ
"Ada apa?" tanya Bumi saat melihat Kai masuk ke ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Lihatlah ini, Tuan!" Kai memberikan tablet miliknya pada Bumi.
"Bukanlah ini Hans Ivander?" Bumi embaca keseluruhan berita mengenai Hans. "Apa lagi?" tanyanya saat Kai menyodorkan kembali tabletnya.
"Bagaimana Ayuna?" satu-satunya yang terlintas dalam benaknya adalah Yuna. "Apa yang dia lakukan?" tanyanya.
"Saya belum tahu, Tuan." jawabnya.
"Aku yakin dia pasti mengalami kesulitan. Suaminya pasti sedang fokus dengan tuan Hans." Bumi berdiri.
"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Kai.
"Aku harus membantunya." jawabnya, lalu berjalan keluar dari ruangan.
"Apa yang ada dipikirannya? Apa dia lupa kalau wanita itu sudah bersuami?" Kai hanya bisa mengikuti Bumi. Dia sebenarnya tidak setuju dengan Bumi yang selalu mencari cara agar bisa bertemu Yuna. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Padahal Bumi sadar betul bahwa Yuna milik orang, tapi entah apa yang membuatnya tidak bisa berpaling darinya.
"Apakah nona Ayuna ada?" tanya Kai pada Refa sesampainya mereka di Ivander Group.
"Katakan saja tuan Bumi ingin bertemu." setelah mengatakan itu, Refa segera menghubungi Yuna.
"Silahkan, Tuan." Refa mengantarkan mereka ke ruangan Yuna.
"Selamat siang, Nona." sapa Bumi.
"Apa yang membuat anda kemari?" tanya Yuna tanpa basa-basi. Jo yang berdiri di sebelah Yuna menatapnya tajam. Dia masih ingat kejadian kemarin.
"Aku kesini untuk menawarkan bantuan." jawab Bumi.
"Bantuan?" Ayuna melihat ke arah Jo. "Bantuan apa?" tanyanya.
"Aku turut berduka atas musibah yang menimpa tuan Hans. Aku juga tahu bahwa saat ini kalian mengalami masalah di perusahaan." Yuna masih menunggu apa yang selanjutnya ingin dia katakan. "Apa kau membutuhkan bantuanku?" tanyanya.
"Tidak perlu! Kami bisa menanggani semuanya." tolak Yuna.
"Aku tahu pasti saat ini Alvaro fokus dengan kakeknya. Jika kau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku." ucapnya. Yuna tidak mengatakan apapun. "Kalau begitu aku permisi." Bumi dan Kai berjalan keluar.
"Sebentar, Nona." Jo menyusul Bumi.
"Tuan Bumi." panggil Jo, Mereka menoleh.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apa yang anda berikan untuk nona Ayuna? Apa anda memasukkan sesuatu ke dalam kue itu?" tanya Jo.
"Apa maksudmu?" tanya Bumi yang tidak mengerti apapun.
"Setelah memakan kue dari anda, nona Ayuna muntah-muntah." jelasnya.
"Apa?? Itu nggak mungkin?" Bumi menatap pada Kai. "Apa kau membeli sesuai permintaanku?" tanyanya.
"Benar, Tuan." jawab Kai.
"Itu tidak mungkin. Saya membelinya di toko terpercaya." Kai meluruskan kesalahpahaman.
"Tapi, memang itu faktanya!" Jhosua yang kesal pergi begitu saja. Dia melupakan sejenak siapa Bumi.
"Kita ke toko itu." perintahnya. Mereka segera memasuki lift. Wajah Bumi terlihat tegang.
"Kau yakin tidak melakukan semua ini?" Bumi kembali mempertanyakan Kai.
"Tentu saja tidak, Tuan." jawabnya jujur.
"Aku harus mencari tahu siapa yang melakukan ini pada Yuna." Bumi serius dengan ucapannya.
πππ
"Kamu lagi apa?" tanya Al melalui sambungan telepon.
"Aku baru pulang!" jawab Yuna.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Al.
"Kakek gimana?" Yuna mengalihkan pembicaraan.
"Masih di ICU." jawabnya.
"Apa ada masalah di perusahaan?" Alvaro sudah yakin pasti sakitnya Hans mempunyai imbas ke perusahaan.
"Iya." jawab Yuna.
"Katakan padaku!" Ayuna menceritakan apa yang terjadi, termasuk kedatangan Bumi dengan tawaran bantuannya.
"Apa dia sering menemuimu?" tanyanya.
"Tidak juga! Hanya beberapa kali. Dia ingin mengetahui mengenai perkembangan resort miliknya." jelas Yuna.
"Dengar! Aku nggak mau kalau kamu terlalu dekat dengannya." pesan Al.
"Aku tahu itu." jawab Yuna. "Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Yuna.
"Aku akan mengirim beberapa file pada Jhosua. Aku yakin masalah ini akan terselesaikan." jawaban Al membuat Yuna lega. "Tante memanggilku! Nanti kuhubungi lagi." Al memutus obrolan mereka.
"Padahal aku masih ingin mendengar suaranya." Yuna terdiam, dia merasa akhir-akhir ini hubungannya dan Al sedikit menjauh. "Mungkin karena dia sibuk." Ayuna hanya bisa menyabarkan dirinya.
πΌπΌ
"Nona, para pemegang saham sudah berkumpul di ruang meeting." lapor Jo begitu mereka sampai.
"Baiklah." jawab Yuna pelan. Pagi ini dia harus menghadiri rapat dengan para pemegang saham. Semua menoleh saat melihat Yuna memasuki ruangan bersama Jhosua.
"Kenapa anda yang kesini?" tanya salah satu dari mereka.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya disini untuk mewakili suami saya." jawabnya.
"Apa yang bisa dia lakukan? Apa dia mampu menanggani semua ini?" bisik mereka dan Ayuna mendengar semua itu.
"Aku tahu kalian meragukanku, tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini. Seperti yang kalian tahu, saat ini kakek masih terbaring di rumah sakit, jadi tidak mungkin untuk tuan Al menghadiri rapat ini." jelasnya.
"Jadi, katakan pada kami apa yang akan anda lakukan?" tanya mereka lagi.
"A-aku .... A-aku akan ...." Ayuna melihat mereka saling berbisik, kemudian masing-masing dari mereka mulai mengeluarkan ponsel dan menonton sesuatu. "Ada apa, Jo?" tanya Yuna pada Jo yang berdiri di sebelahnya. Jhosua mencoba mencari tahu, kemudian memberikan ponselnya pada Yuna.
"Apa-apaan dia?" Yuna terkejut saat melihat Bumi sedang melakukan press conference.
~tbc