CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 158



“Kemana dia pergi?” Al sudah berputar-putar sejak tadi tapi belum juga menemukan Yuna. “Kenapa dia tidak menjawab teleponku?” Al menghubungi Yuna.


“Apa anda melihat wanita ini?” Al menunjukkan foto Yuna yang ada di ponselnya pada orang-orang yang dia temui. Pria itu menggeleng. Al berjalan ke arah taman hotel dan kembali memperlihat foto Yuna pada security yang di temui. “Apa anda melihatnya?” tanya Al.


“Oh, Nona ini! Tadi dia pergi ke arah taman pinus.” Security itu menunjuk ke arah hutan pinus yang ada di belakang hotel.


“Kapan?” tanya Al.


“Sekitar setengah jam yang lalu, Tuan.” Jawabnya.


“Terima kasih.” Al bergegas menuju ke taman pinus yang ada di belakang hotel tempat mereka menginap. Disana dia melihat banyak orang yang sedang sibuk mendekorasi hutan itu dengan secantik mungkin. Yah, disanalah pernikahan mereka akan digelar, sesuai keinginan mereka. Al mencari Yuna diantara para pekerja.


“Apa kalian melihat wanita ini?” tanya Al lagi.


“Tadi sih disini, ya?” mereka saling bertanya.


“Nona ini pergi kesana, Tuan.” Salah satu dari mereka menunjuk jalan setapak yang ada disana. Al mengikuti jalan setapak itu.


“Apa yang dia lakukan disini?” gerutunya. “Ayunaaa!!” teriaknya. “Ayuu ...” Al menghentikan suaranya saat melihat Yuna sedang duduk di kursi yang memang telah disediakan oleh pihak hotel.


“Sayang, apa yang kau lakukan disini?”sapa Al, Ayuna menoleh dan tersenyum padanya.


“Sudah selesai kerjanya?” tanya Yuna.


“Sudah. Kamu kenapa disini sendirian? Aku mencarimu kemana-mana.” Tanya Al.


“Duduklah!” Yuna menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Al segera duduk disisi Yuna.


“Kamu lihat itu! Cantikkan?” Al menatap ke depan, pemandangan kota terlihat dari tempat mereka saat ini. Walupun tertutup dengan sedikit kabut, tapi pemandangan disana benar-benar sangat indah.


“Ya, kamu benar!” jawab Al. “Dimana jaketmu?” tanya Al saat melihat Ayuna hanya menggunakan dress selutut.


“Aku lupa.” Jawabnya.


“Kemarilah!” Al merentangkan kedua tangannya, Ayuna menatap curiga pada Al. “Ayo, kemari, kalau tidak kamu akan kedinginan. Kalau kamu sakit maka pernikahan kita bisa kacau.” Al menariknya agar mendekat dan langsung memeluknya erat. Ayuna bisa merasakan tubuhnya yang perlahan hangat saat berada dalam dekapan Al.


“Al, apakah menurutmu kita akan bahagia?” tanyanya.


“Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu ragu padaku?” Ayuna mengeleng.


“Tidak. Aku percaya padamu.” Jawabnya.


“Mungkin apa yang baru saja kita lalui begitu menyakitkan. Tapi percayalah, setelah semua ini kebahagiaan pasti akan menghampiri kita.” Yuna menoleh ke belakang. Dia menatap lekat wajah Al, begitupun dengan Alvaro.


Dia semakin mengeratkan dekapannya. Ayuna melingkarkan tangannya dipinggang Al, dia merebahkan kepalanya di dada Al.


“Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini. Mulai saat ini, aku yang akan mengisi harimu dengan cinta dan kebahagiaan.” Ucapnya. Al bergetar saat mendengar isi hati Yuna. Wajah itu berseri dan sebuah senyuman terlihat disana.


“Sayang!” panggilnya lembut.


“Ya.” Jawab Yuna tanpa menoleh ke arahnya.


“Lihat, aku!” Ayuna menatap Al, dan tanpa aba-aba Al langsung ******* bibirnya. Ayuna yang awalnya terkejut, perlahan mulai mengikuti permainan Al.


“Kamu membangkitkan sisiku yang lainnya.” Goda Al, Ayuna yang tersadar segera mendorong tubuh Al. “Sayang, mau kemana?” tanya Al saat Yuna berdiri.


“Ke kamar!” jawabnya tanpa menatap Al.


“Kamar? Wow! Itu ide yang lebih baik.” Al berdiri dan mengejar Yuna.


“Jangan ikuti aku!” Ayuna meminta Al untuk berhenti. “Kamu tidak akan mendapatkan apapun.” Ancamnya, Alvaro tertawa, dia sangat senang berhasil mengoda Yuna.


“Tapi, aku menginginkanmu” lanjutnya.


“Mulai saat ini kamu tidak boleh berada didekatku?” Yuna melototinya.


“Ah, aku mana tahan jauh-jauh darimu.” Ayuna berjalan cepat, meninggalkan Al yang masih tertawa.


🍀🍀🍀


“Kita harus bawa apa lagi?” tanya Karin.


“Bawa aja seperlunya, lagian kita disana cuma 2 hari. Setelah pernikahan Yuna selesai kita langsung balik ke Jakarta.” Ucapnya.


Mereka sedang berbelanja keperluan untuk acara pernikahan Yuna. Rencananya, sore ini mereka akan berangkat kesana. Gina dan Karin menyempatkan untuk mencari hadiah untuk Ayuna dan Al.


“Kasih apa ya?” Karin terlihat berpikir keras. "Kamu sudah nemu hadiahnya?" tanyanya pada Gina.


"Sudah." jawabnya.


"Apa?" Karin mendekat untuk meluhat hadiah yang Gina maksud.


"Ini." Gina menunjukkan hadiahnya pada Karin.


"Kamu, serius?" Karin tertawa saat melihat apa yang Gina pegang.


"Tentu saja." jawabnya.


"Kalau begini Ayuna gak akan bisa menghirup udara bebas." mereka tertawa bersama. Mereka segera meninggalkan toko itu, setelah menemukan apa yang mereka cari.


"Makan dulu, ya!" ucap Karin, Gina setuju. Mereka berjalan menuju restoran cepat saji yang berada di lantai 2. "Bukannya itu asisten Jo?" Karin menunjuk Jhosua yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Gina memperjelas penglihatannya, dan benar pria itu adalah Jhosua. "Dia sama siapa?" tanya Karin. Gina tidak mengatakan apapun, dia hanya sesekali melihat ke arah mereka.


"Apakah semuanya sudah seperti yang tuan Al inginkan?" tanya wanita yang bersama Jo.


"Tuan, Al tidak mengatakan apapun. Jadi, saya rasa sudah." jawab Jo.


"Syukurlah! Saya tahu bagaimana perfeksionisnya beliau." wanita itu tersenyum. "Lalu, kapan pernikahan beliau diadakan?" tanyanya.


"Sayang sekali, saya tidak dapat hadir. Saya titip salam untuk beliau. Semoga pernikahannya berjalan lancar." ucap wanita itu. Jhosua mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan anda?" Jo menghentikan tangannya yang sudah sampai di depan mulutnya. Kopi itu batal masuk ke rongga mulut Jo.


"Saya?" Jo meletakkan kembali gelas kopinya.


"Iya. Apa anda tidak ada rencana untuk menyusul beliau?" wanita itu tersenyum menggoda. "Atau anda belum menemukan wanita yang cocok?" dia menompang dagunya diatas meja.


"Gina? Kenapa kamu disini?" Jo terkejut saat melihat Gina dan Karin melintas di depan mereka.


"Siapa dia?" tanya wanita itu pada Jo.


"Oh, dia ... dia wanita yang sejak tadi anda tanyakan." jawabnya, wanita itu menatap Jo seolah tak percaya.


"Oh, maafkan saya. Saya kira anda masih ..."


"Tidak apa." Jo menyela sebelum dia mengatakan semuanya.


"Kalau begitu baiklah, tuan Jo. Semoga kerjasama kita berjalan lancar. Salam untuk tuan Al, semoga pernikahannya berjalan lancar." Jo menjabat tangan wanita tadi. Setelah itu dia segera meninggalkan mereka. Gina masih menatap tajam ke arah Jhosua.


"Ayo, Na!" Karin mengangetkannya.


"Kalian mau kemana?" tanya Jo sebelum mereka pergi.


"Kita mau duduk disana, Tuan." jawab Karin. Jhosua menoleh pada Gina yang sejak tadi hanya diam.


"Disini saja, kita bisa makan siang bareng." ajaknya, Gina menoleh ke kursi yang di duduki wanita tadi.


"Tidak perlu, kami disana saja." Gina menolak tawarannya, dan berjalan menuju meja yang tidak jauh dari Jhosua.


"Maaf, Tuan." ucap Karin lalu mengikuti Gina. Jo yang bingung tidak mampu menghentikan mereka.


"Lo, kenapa?" tanya Karin, mereka melihat Jhosua berjalan keluar dari restoran.


"Gue gak mau gangguin dia kerja." jawabnya sambil menyantap sushi yang ada di depannya.


"Tapi, bukankah pekerjaannya sudah selesai? Jarang banget loh dia bisa bersikap seramah itu pada bawahannya." ucap Karin. Gina tidak menghiraukan apapun yang dia katakan. Wajahnya terlihat kesal.


🍀🍀🍀


"Wow! Cantik banget pengantin kita!" puji Gina saat mereka berada di kamar Yuna.


"Apa sih?" Ayuna tersipu malu.


"Akhirnya, kamu dan tuan Al nikah juga." ucap Karin. "Gimana rasanya, Na?" tanyanya


"Gimana apanya, Mbak?" Ayuna meladeni mereka dan sang MUA sibuk merias wajahnya.


"Iya, kamu bahagia gak?" tanyanya.


"Tentu saja, aku sangat bahagia." Ayuna tersenyum lebar.


"Tentu aja lo bahagia, secara Alvaro putra Ivander sudah jadi milik lo." sela Gina. "Setelah ini gue ragu apakah lo masih mau gabung dengan kita atau gak."


"Apaan sih kamu! Aku ini masih Ayuna yang sama." ucapnya.


"Yah, kalia aja pergaulan lo berubah sesuai status baru lo." ledek Gina.


"Mbak, bisa tolong itu mulutnya di sumpal gak?" ucap Yuna pada Karin.


"Tentu saja." Karin tertawa.


"Eh, btw lo udah siapin mental belum?" tanya Gina.


"Sudahlah!" jawab Yuna, MUA menyuruhnya untuk menutup mata.


"Yakin? Gue takut lo gak sanggup nandingi kekuatan tuan Al." Ayuna mengambil kuas yang ada didepannya, kemudian melemparkan kuas itu ke arah Gina. Gina tertawa puas saat melihat wajah Yuna merona.


"Tenang aja, Na, ntar minta oma Tyas buatin kamu jamu buat nandingi tuan Al." Karin bukan menengahi malah ikut-ikutan meledekinya.


"Kaliaaannn!!" Ayuna terlihat geram, sekaligus malu.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya oma Tyas yang tiba-tiba datang. Oma Tyas terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna hijau. "Apa dia sudah selesai? Acara akan segera dimulai." tanya oma pada penata riasnya.


"Sudah, Nyonya." jawabnya. Lalu dia meminta asistennya untuk membantu Ayuna berdiri.


"Sayang, kamu cantik sekali." oma memuji cucu kesayangannya itu. "Kalau saja papa dan mamamu disini, mereka pasti akan sangat bahagia." ucapnya.


"Iya, Oma." Yuna merasakan ada yang kurang dalam acara yang paling berkesan dalam hidupnya. Kehadiran kedua orangtuanya.


"Jangan sedih, Na! Semua orang disini ada untukmu." Gina dan Karin menghampirinya dan memegang tangannya.


"Kamu beruntung memiliki mereka sebagai sahabatmu." oma tersenyum pada mereka bertiga.


"Sudah, ayo! mereka sudah menunggu kita." oma menggengam tangan cucunya. Ayuna yang menggunakan kebaya berwarna putih, terlihat begitu anggun. Dia berjalan pelan dengan dibimbing oleh oma Tyas dan diiringi oleh Gina dan Karin yang juga tak kalah cantiknya. Melihat kedatangan Ayuna, semua kerabat dan tamu langusung terpana. Alvaro yang duduk di meja yang telah disediakan oleh pihak WO pun begitu terkesima melihat kecantikan wanita pujaannya.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu yang akan menikahkan mereka saat Ayuna sudah duduk disebelah Al. "Sepertinya mempelai pria tidak akan mampu berpaling ke lain hati." canda penghulu, saat melihat Al yang masih terus menatap Yuna. Semua orang tertawa mendengarnya, Alvaro yang malu langsung menjabat tangan penghulu.


Proses ijab kabul berlangsung khidmat. Al mampu menyelesaikannya dengan satu tarikan napas.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pada Hans dan saksi dari pihak Yuna.


"SAH." jawab mereka.


~tbc