CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 126



"Kemana dia?" Al mengacak-acak rambutnya. Lama dia terdiam di atas tempat tidur Yuna. "Lebih baik aku periksa cctv." Al yang tersadar segera berjalan menuju kamarnya. Dia memeriksa cctv melalui laptopnya. Mata coklat Al terlihat menyala, rahangnya mengeras. Dia mengepalkan kedua tangannya. Al berlari keluar dan segera memacu mobilnya menuju kediaman Ivander.


"Kamu terlihat sangat senang?" tanya Soraya saat melihat Monika yang bersenandung.


"Iya." Monika tersenyum, dan kembali bersenandung.


"Memangnya ada hal baik apa?" Soraya penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak iparnya itu. Monika tidak mengatakankan apapun, dia mulai sibuk dengam ponselnya.


"BRAAK!!" Soraya dan Monika dikejutkan dengan suara pintu.


"Ada apa?" tanya Soraya saat melihat beberapa pelayan berlari ke arah mereka.


"Itu, Nyonya ..., T-tuan Al ..." dada mereka naik turun, dan napas mereka tidak beraturan.


"Dimana dia?" teriak Al, Monika dan Soraya segera berdiri.


"Al, apa yang terjadi?" Soraya mendekati Al, mata Al menyala melihat Monika.


"Dimana Ayuna? Apa yang kau katakan padanya?" teriaknya pada Monika.


"Al, apa yang kamu katakan?" Soraya bingung.


"DIMANA AYUNA?" ulang Al.


"Mama tidak tahu! Kenapa kamu bertanya padaku." jawabnya.


"Jangan bohong!! Aku tahu apa yang kau lakukan padanya." Alvaro semakin emosi.


"Apa ini Al?" tanya Soraya. "Ada apa ini, Mbak?" dia meminta jawaban dari Monika.


"Aku tidak tahu!" jawabnya.


"Al ...?" Soraya mendekat pada Al yang berdiri di dekat sofa.


"Dia sudah tahu bahwa aku adan dia pernah terlibat penculikan, dia pergi karena berpikir aku penyebab kematian kedua orangtuanya." Alvaro terduduk di sofa.


"Kamu yang tenang, kita akan cari Yuna sama-sama." Soraya mencoba menenangkan Al.


"Semua ini karena dia." Al menatap tajam pada Monika.


"Apa maksudmu Al? Kenapa kami malah nyalahin mama?" Monika tidak merasa bersalah sama sekali. "Bagus! Usahaku untuk menjauhkannya berhasil." batinnya.


"Kalau kau tidak mengatakankan apapun padanya, mungkin saat ini Ayuna masih bersamaku." Al membuang semua rasa hormatnya pada Monika.


"Al, jaga ucapanmu!" Soraya menasehatinya untuk tidak berkata lasar pada ibunya.


"Dia harus tahu, mau sampai kapan kamu membohonginya?" ucap Monika.


"Tapi itu bukan urusanmu! Aku sudah peringatkan untuk tidak menganggunya" jawab Al.


"Sudahlah, dia itu memang tidak pantas untukmu. Kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih pantas dibanding dia." Monika bersikap acuh.


"DIAM!!" teriak Al. "Jangan pernah mengatakan satu hal burukpun tentangnya." ancam Al.


"Sadar Al! Kamu dan dia berbeda. Dia itu tidak pernah mencintaimu. Bagaimana dia bisa mencintai orang yang telah membunuh kedua orangtuanya." Monika seolah tidak bisa berhenti. Dia tidak peduli perkataannyabakan menyakiti Al. Baginya yang terpenting Ayuna menjauh darinya.


"Mbak ...!" Soraya menghentikannya.


"Tahu apa kau? Wanita sepertimu tidak akan pernah tau apa itu cinta." jawab Al.


"Apa yang kamu katakan? Aku ini ibumu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu." Monika berjalan mendekat padanya dan memegang tangannya, tapi Al malah memdorongnya.


"Jangan sentuh aku!" tolak Al.


"AL!!" terdengar teriakan Hans. "Jaga ucapanmu! Dia itu ibumu." ucapnya.


"Dia bukan ibuku!" semua orang terkejut mendengar ucapan Al.


"Apa maksudmu?" tanya Hans.


"Mau sampai kapan kalian membohongiku?" Al menatap tajam pada semua yang berada di ruangan itu.


"Al, apa yang kamu katakan? Aku ini ibumu." Monika memegang tangan Al.


"Apakah seorang ibu mampu menghancurkan hati putranya sendiri? Itu saja sudah membuktikan kalau kau bukan ibuku. Tapi, aku sudah tidak mempermasalahkan semua itu, yang ingin kutahu adalah dimana Ayuna?" Al memegang bahu Monika. "Jawab aku!" Alvaro mencengkram kuat bahunya.


"Mama tidak tahu Al!" Monika menangis.


"Al, sudah hentikan!" Soraya memaksa Al untuk melepaskan Monika.


"Alvarooo!" teriak Hans. Al melepaskannya, Monika masih menangis.


"Bagaimanapun dia tetap ibumu, ibu yang telah membesarkanmu. Bersikap sopanlah!" ucap Hans tegas.


"Aku tidak pernah memintanya untuk menjadi orangtuaku. Kakek yang memilihnya untuk mengantikan ibuku." Al berjalan keluar menuju pintu utama.


"Apa yang dia ketahui?" Hans memegang erat sofa yang ada di depannya.


"Papa, duduklah!" Soraya membantunya duduk, sementara Monika masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku tidak tahu, Pa!" Soraya menggeleng.


"Aku juga." jawab Monika saat Hans menatap ke arahnya.


"Harusnya kau bisa menjadi ibu yang baik untuknya." ucapan Hans ditujukan pada menantu tertuanya itu.


"Aku sudah berusaha." jawabnya.


"Usaha apa? Menyakiti hati cucuku? Itu yang kau sebut usaha?" Hans emosi.


"Pa, tenanglah!" Soraya mengkhawatirkan Hans.


"Dia benar-benar keterlaluan? Apa yang kau dapatkan dengan tindakanmu ini? Kenapa kau selalu ikut campur dengan urusan Al. Harusnya kau menjaga batasanmu." Hans memarahinya, Monika tidak mampu menatapnya. Hans berjalan dan meninggalkan mereka begitu saja.


"Mbak, apa yang kamu katakan pada Yuna?" tanya Soraya sepeninggal Hans.


"Aku hanya mengatakan apa yang kutahu." jawabnya.


"Kamu harusnya tidak berbuat seperti itu, Mbak. Gimana bisa kamu mengatakan kalau Al yang menyebabkan orangtua Yuna meninggal." Soraya menyalahkannya untuk semua yang terjadi.


🍀🍀🍀


"Kemana lagi aku harus mencarinya?" entah sudah berapa lama Al mengitari kota untuk mencari Yuna. "Gina." tiba-tiba Alvaro teringat dengan Gina, dia segera memutar mobilnya menuju Ivander Group.


"Dimana Gina?" tanya Al dengan napas begitu sampai di Divisi Keuangan.


"Gina di ruangan tuan Mahen, Tuan." jawab Karin. Al bergegas menuju ruangam Mahen. Mahen dan Gina kaget karena Al masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mahen.


"Apa kamu tahu Ayuna dimana?" tanya Al begitu melihat Gina.


"Ayuna? Tidak, Tuan. Hari ini saya belum bertemu dengannya." jawab Gina. Mendengar nama Yuna disebut Mahen menatap heran padanya.


"Ada apa dengan Yuna?" tanya Mahen.


"Coba kamu hubungi dia." Gina menurut, dia mencoba menghubungi nomor Yuna.


"Gak aktif, Tuan." jawabnya.


"Agghh!!" Al memukul meja kerja Mahen.


"Apa yang terjadi pada Yuna?" Al masih saja mengabaikan Mahen. "AL!!" teriaknya.


"Bukan urusanmu!" jawab Al.


"Aku harus tahu!"


"Apa ada tempat yang biasa Yuna kunjungi?" tanya Al lagi.


"Apa anda sudah mencarinya di apartemen lamanya, Tuan?" Alvaro segera sadar, dia belum kesana.


"Terima kasih." ucapnya lalu berlari keluar dari ruangan Al.


"Tunggu, Al!" Mahen berhasil mencegatnya. "Dimana Yuna?" Mahen terlihat khawatir.


"Minggir." Al mengeser tubuh Mahen yang menutupi lift.


"Katakan padaku, kenapa dengannya?" paksa Mahen.


"Jangan ikut campur." saat pintu lift terbuka, Al menarik Mahen menjauh dari hadapannya. Al segera masuk dan meninggalkan Mahen yang masih berdiri di tempatnya. Mahen mengambil ponselnya dan juga mencoba menghubungi Yuna. Tapi usahanya gagal, karena nomor Yuna masih tidak aktif.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Mahen bertanya-tanya sendiri.


"Yuna, buka! Ayuna." sesampainya di Apartemen lama Yuna, Al segera menekan bel dan berteriak memanggil Yuna. Tapi, tetap tidak ada jawaban.


"Maaf, Tuan. Tapi, unit itu sudah lama kosong." ucap salah satu tetangga Yuna. Dia keluar karena terganggu dengan suara gaduh yang Al buat. Al berjalan meninggalkan apartemen lama Yuna.


"Jo, cari Yuna sampai ketemu." Al menghubungi Jo, akhirnya dia meminta bantuan pada Jhosua.


"Baik, Tuan." jawabnya.


"Dimana kamu?" Al menatap kosong pada jalanan di depannya. Tujuannya saat ini adalah menemukan Yuna. "Apa dia pulang ke Malang?" Alvaro berasumsi sendiri. "Lebih baik aku cari tahu." Al segera memacu mobilnya menuju bandara.


Setelah menempuh perjalanan udara selama satu setengah jam, akhirnya Al sampai di Malang. Tidak butuh waktu lama untuknya sampai di rumah oma Tyas .


"TOK TOK TOK."


"Al?" oma Tyas terkejut melihat Al, saat dia membuka pintu. "Kenapa kesini malam-malam begini?" tanyanya. "Dimana Yuna?" oma Tyas mencari keberadaan Yuna disekitar Al.


"Jadi, Yuna tidak ada disini, Oma?" Al masih berdiri di depan pintu.


"Apa maksudmu? Kenapa Yuna disini?" Oma Tyas heran. Alvaro tidak dapat menjawabnya. "Ada apa,Al?" Oma Tyas mulai merasa ada sesuatu yang salah.


"Ayuna, Oma, dia kabur dariku." Oma terkejut.


~tbc