CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 1



Pernikahan adalah impian semua perempuan di dunia. Tetapi tidak bagi Amanda Viona. Sejak pernikahannya dengan seorang CEO dari Axel Company sekaligus cucu dari Billionaire, Dikta Wiradijaya, yang bernama Antonio, hidupnya juga berubah.


Manda, biasanya dia disapa dengan nama itu. Dia tidak bisa bebas lagi melakukan apa yang menjad kesukaannya karena Antonio selalu melarang dengan alasan untuk menjaga nama baik keluarga. Pernikahan mereka sengaja disembunyikan oleh Antonio agar bisa menutupi sosok sang istri dari khalayak ramai. Itu semua hanya karena status Manda yang mana besar di panti asuhan.


3 minggu pasca pernikahan mereka, Antonio terus bersikap acuh. Bahkan, terkesan tidak pernah menganggap keberadaan Manda.


"Aku menikahimu karena mengikuti kemauan kedua orang tuaku. Kamu bisa memiliki status sebagai istriku, tapi aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke dalam hidupku, ke dalam hatiku, dan juga menyentuh tubuhku!" Ucapan Antonio itu terus membekas di dalam


ingatan Manda.


Sebuah penolakan telak diberikan oleh Antonio yang kini berstatus sebagai suaminya. Hati istri mana yang tidak akan terluka jika diperlakukan seperti itu?


Namun, Manda sadar bahwa statusnya yang bahkan tidak tahu siapa orang tua kandungnya dan hanya terlahir di sebuah panti asuhan adalah jurang pemisah di antara dirinya dengan keluarga sang suami yang statusnya jauh berbeda.


Flasback on.


Kehidupan Manda tidaklah seindah wajahnya Terlahir di panti asuhan tanpa tahu siapa keluarganya dan asal usulnya. Berapa tanggal lahirnya sendiri saja Manda tidak tahu.


Tuhan ... di mana pun kedua orang tuaku sekarang, baik masih hidup atau sudah tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan, aku benar-benar merindukan mereka, doa Manda di dalam hati.


"Kenapa gadis kecilnya kak Dean? Kok ...


ngelamun sendirian aja, sih?" goda Dean, lalu datang


menghampiri.


Manda kecil pun cukup terkejut dengan


kehadiran Dean yang tiba-tiba. Baginya Dean adalah


sosok kakak yang dia miliki selama tinggal di panti asuhan.


"Manda cuma doa sama Tuhan, Kak. Kalau Manda kangen sama mama papa Manda."


Ucapan polos itu mampu membuat hati Dean yang mana lebih tua beberapa tahun dari Manda cukup tersentuh, "Sudah. Jangan sedih lagi, yah! Kak Dean janji akan selalu jaga kamu di sini. Kakak nggak akan pernah


tinggalin kamu."


Meskipun bukan terlahir sebagai saudara


kandung, tetapi rasa sayang Dean pada Manda tidak


diragukan lagi. Dean selalu menjaga Manda dan selalu berusaha membuat Manda tersenyum. Manda pun merasa bersyukur atas kehadiran Dean di dalam hidupnya.


"Apa kabarnya kak Dean sekarang, ya? Apa dia masih mengingatku?" gumam Manda, yang teringat akan kenangan mereka saat berada di panti asuhan.


"Oy! Manda!" tegur Eta. Tadi dia tidak sengaja melihat saudara iparnya sedang melamun.


Suara Eta jelas saja membuat lamunan Manda langsung buyar. "Eh, kamu ... ada apa, Ta?"


"Kok ... kamu bengong? Mikirin apa, sih? Tadi Antonio telepon. Katanya mau jemput kamu," ucap Eta menjelaskan.


Dia bahkan tidak sudi berbicara dengan aku, istrinya sendiri. Lalu, apa benar keadaan seperti in disebut sebagai sebuah pernikahan? batin Manda sedih.


"Ah, iyah. Makasih udah kasih tahu aku," jawab Manda kemudian tersenyum.


"Ya, sudah. Aku pulang duluan, ya! Paling bentar lagi Antonio datang. Kamu coba hubungi dia aja," ucap Eta.


Bagaimana mau hubungi? Tiap aku kirim pesan aja, nggak pernah dibalas, pikir Manda


"Baik. Kamu tenang aja. Ya, sudah. Kamu hati-hati di jalan, ya! Salam buat mama papa dan semuanya," seru Manda lagi


"Oke, oke," balas Eta. Mereka pun saling berpelukan sebelum berpisah satu sama lain.


Kini Manda menunggu jemputan dari sang suami.


Tentunya Antonio melakukan ini -menjemputnya- demi


sang mama, bukan karena kemauan sendiri.


Sebenarnya setelah beberapa minggu mereka resmi menikah, Antonio terpaksa membawa Manda pindah ke rumah pribadi karena tidak ingin terus berlaku oaik dengan Manda di depan keluarganya. Bukan karena kewajiban sebagai suami untuk membangun rumah tangga sendiri dengan Manda.


"Permisi, Mbak Manda," sapa salah seorang ,


pegawai di butik Eta.


"Ah, iya. Ada apa?"


"Pak Antonio sudah menunggu di depan."


Dengan cepat Manda langsung berlari ke bawah


untuk menemui Antonio.