
Ayuna menatap tajam pada Al. Dia tidak mengerti kenapa James marah-marah dan mencari Natalie ke sini.
"Apa maksudnya ini?" tanya Yuna.
"Kamu tidak perlu menghiraukan perkataannya." jawab Al.
"Al ...?" Al membantunya duduk di sofa, tapi Yuna masih terus menatap padanya.
"Kamu tidak perlu memikirkannya. Mungkin dia mengira kalau putrinya ada disini." jawabnya. "Coba aku lihat kakimu." Al berjongkok dan membuka sepatu Yuna untuk memeriksa apakah ada yang luka.
"Aku baik-baik saja." Yuna menghentikan tangan Al yang akan memeriksa lututnya.
"Aku harus memastikannya." Yuna mengalah dan membiarkan Al memeriksa lututnya. "Apa ini?" Al yang melihat lutut Yuna memar segera berdiri dan mengambil kotak p3k yang tersimpan di laci mejanya. Setelah di mendapatkan apa yang dia cari, Al kembali ke tempat Yuna duduk.
"Biar aku saja!" Yuna mengambil salep yang ada ditangan Al.
"Kamu duduk saja disana." Al kembali mengambil salep itu dan mulai mengolesnya di lutut Yuna yang memar. Ayuna terus saja menatap Al yang begitu telaten mengobatinya. Ayuna sadar bahwa dia benar-benar menyukai cara Al memperlakukan dirinya.
"Al, kamu serius tidak tahu apa-apa dengan hilangnya Natalie?" tanyanya.
"Kenapa aku harus tahu?" Al memasang kembali sepatunya.
"Lalu, kenapa tuan James menuduhmu seperti itu?" Al duduk disampingnya.
"Aku sudah bilang tidak perlu menghiraukan orang sepertinya. Mungkin saja, saat ini putrinya sedang bersenang-senang atau berada di luar negeri." jawabnya.
"Tapi ...?"
"Aku tidak mau membahas mereka lagi." Al menghentikan Yuna. Ayuna membatalkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Atau aku harus memanggil Andreas kesini?" Al sedang berpikir apa yang harus dia lakukan untuk Yuna.
"Rumah sakit? Untuk apa? Kenapa kamu mau mencari nona Natalie disana?" Ayuna bingung.
"Buat apa aku mencarinya? Aku ingin memeriksakan lukamu. Aku takut saat jatuh tadi ada yang patah atau apa." Al ternyata mengkhawatirkannya.
"Aduh, kamu apaan sih? Jangan lebay deh! Aku tidak akan mengalami patah tulang kalau hanya di dorong seperti itu." Ayuna menolak ide Al.
"Ya sudah, aku suruh Andreas saja untuk memeriksamu." Al meraih ponselnya dan mulai mencari kontak Andreas. Tapi, Ayuna segera merebut ponsel itu darinya.
"Tidak perlu!" ucapnya.
"Kenapa?"
"Kamu gak perlu gangguin Andreas. Dia pasti lagi sibuk." jawabnya.
"Kamu tahu dari mana kalau dia sibuk?" Al mulai curiga.
"Kamu gimana sih? Sudah jelas dia itu dokter ya pasti sibuklah." Yuna berdiri dan meletakkan ponsel Al di meja.
"Kamu mau kemana?" Al mencegahnya.
"Aku harus kembali ke mejaku." jawab Yuna.
"Biar aku antar!"
"Al, apaan sih? Kamu mau buat aku malu?" Yuna menolak bantuannya.
"Tapi ...?"
"Sstt, lebih baik kamu disini saja lanjutin pekerjaanmu. Aku bisa keluar sendiri." setelah berkata seperti itu, Yuna segera keluar dari ruangan Al.
Setelah Yuna keluar, Al berjalan menuju mejanya dan mengambil ponsel yang Yuna letakkan tadi. Alvaro berjalan menuju meja kerjanya, dan terlihat menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" tanya Al begitu Jhosua menjawab panggilannya.
"Saya sudah bawa dia bertemu dengan putrinya, Tuan." jawab Jo.
"Bagus! Kamu awasi terus, setengah jam lagi aku sampai disana." setelah mengatakan itu Al segera menutup panggilannya.
"Aku tidak akan memberimu ampun." Alvaro meremuk kertas yang ada di depannya.
🌸🌸🌸
"Apa ini rumahnya?" saat ini oma Tyas sedang berdiri di depan sebuah rumah bergaya Eropa klasik.
"Anda cari siapa?" tanya Security yang berjaga di depan pagar.
"Apakah ini rumah Hans Ivander?" tanyanya.
"Benar." jawab security itu.
"Saya ingin bertemu dengannya. Apa dia ada di rumah?" tanya oma Tyas. Security itu menatap oma Tyas dari atas hingga bawah.
"Apa anda sudah ada janji?" tanyanya.
"Belum. Tapi, kamu bisa bilang kalau Anastasya ingin bertemu dengannya." ucap Oma, Dia terlihat berpikir sebelum akhirnya meminta oma untuk menunggu. Dia kembali ke pos dan oma bisa melihat kalau dia sedang menghubungi seseorang melalui telepon yang ada disana. Tak lama kemudian dia kembali dan menemui oma.
"Anda boleh masuk! Tuan menunggu anda di dalam." dia membuka pintu pagar dan mempersilahkan oma masuk. Oma bingung dimana letak rumahnya. Yang dia lihat hanya bukit kecil berwarna hijau yang tertata sangat cantik dan juga asri.
"Silahkan, Nyonya! Saya akan mengantar anda." tiba-tiba sebuah golf cart sudah berdiri di depannya. Oma Tyas segera naik dan sang sopir segera mengantarnya menuju rumah utama. Oma Tyas benar-benar terpukau dengan pemandangan disekitarnya.
"Ternyata dia masih sama seperti dahulu, sangat menyukai alam." batinnya saat melihat rumputan hijau disepanjang jalan. Dan, tibalah di pintu utama. Oma Tyas bisa melihat seorang maid berdiri disana.
"Apakah anda Nyonya Anastasya?" tanyanya. Oma mengangguk.
"Mari ikut saya!" oma mengikuti pelayan pria itu ke dalam rumah. Oma masih saja takjub melihat isi rumah Hans. Oma melihat seorang pria seusianya sedang duduk di
"Kamu sudah datang?" Hans berdiri dan mendekat pada oma. "Ayo, duduklah?" dia mengajak oma duduk di sofa berwarna coklat yang ada di ruangan itu. "Dari mana kamu tahu kalaubaku tinghal disini?" dia tidak menyangka kalau yang datang adalah oma.
"Tidak sulit mencari rumahmu karena goggle pasti akan memberiku jawaban." jawab oma ketus.
"Ada siapa, Bi?" tanya Soraya yang baru datang dari belakang, Dia mendengar papanya sedang berbicara dengan seorang wanita. Tapi, dia tidak mengenali siapa tamu Hans.
"Gak tahu, Nya!" bibi itu segera menuju ke arah Hans dengan baki yang berisi teh ditangannya.
"Minumlah! ItPu teh kesukaanmu." Oma dapat mencium aroma dari teh chamomile.
"Aku kesini bukan untuk bernostalgia denganmu. Aku ke sini untuk memintamu mengurusi keluargamu, terutama menantumu." ucap oma ketus.
"Aku minta maaf atas nama menantuku." jawabmya.
"Sepertinya kamu sudah tahu apa yang terjadi." melihat Hans meminta maaf, oma yakin kalau Monika sudah bercerita terlebih dahulu.
"Aku sudah menegurnya!" ucap Hans.
"Baguslah! Kedatanganku tidak sia-sia." oma berdiri. "Katakan pada menantumu, jangan mencari masalah dengan cucuku. Aku tidak akan mengampuninya, jika dia melukai cucuku." ucapnya.
"Kamu mau kemana?" melihat oma berjalan menuju pintu utama Hans segera menhentikannya.
"Aku mau pulang!"
"Biarku antar!" Hans menawarkan diri intuk mengantarnya pulang.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri." oma menolak kebaikannya.
"Tapi, kamu akan letih berjalan sejauh itu." oma terdiam, dia teringat seberapa jauh jalan yang harus dia lalui saat datang ke rumah Hans.
"Ok!" oma setuju karena tubuhnya tidak lagi muda, dia bisa mengalami nyeri otot kalau memaksakan diri.
"Ayo!" ajak Hans, oma mengikutinya. Saat mereka berada diluar, oma melihat sebuah mobil sedan keluaran terbaru sudah terparkir di depan mereka.
"Siapa dia? Kenapa papa diam saja, saat wanita itu memarahinya?" Soraya yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Monika yang baru keluar dari kamarnya.
"Tidak ada apa-apa." Soraya meninggalkannya disana seorang diri. Setelah itu Monika berjalan menuju taman belakang, dia tidak mempedulikan sikap Soraya padanya.
🌸🌸🌸
"Aku keluar dulu." ucap Al saat melihat Yuna sibuk dengan komputer yang ada di mejanya.
"Anda mau kemana?" cegah Yuna saat melihat Al terburu-buru.
"Aku ada sedikit urusan." jawabnya.
"Aku ikut ya!" Yuna mengambil tas dan juga ponselnya.
"Maaf, tapi hari ini kamu pulang bareng sopir kantor ya." ucap Al.
"Tapi ...?"
"Aku sudah menghubungi pak Alam, kamu bisa menemuinya di lobby. Aku pergi dulu!" Al bergegas menuju lift.
"Sebenarnya dia mau kemana? Kenapa terburu-buru seperti itu?" Yuna terlihat berpikir.
Alvaro memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga sampailah dia di sebuah rumah. Al keluar dan segera masuk. Semua pria berbadan besar yang ada disana segera menghormat padanya.
"Dimana mereka?" tanyanya saat melihat Jhosua.
"Mereka ada di kamar, Tuan." Jo segera membuka pintu kamar yang ada di belakangnya. Al masuk dan melihat Natalie dan James yang sedang terikat.
"Bangunkan mereka!" perintahnya, Pria berbadan besar yang sejak tadi ada disana segera mengambil air dari kamar mandi dan menyiramkan pada mereka.
"BYUR." Natalie dan James yang kaget segera mendapati tubuh mereka basah kuyup.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak James.
"Kenapa?" tanya Al. James dan Natalie kaget saat melihat Alvaro berdiri di sudut ruangan.
"Alvaro!!" teriaknya.
"Diam!!" pekik Al. "Jangan berani meninggikan suaramu di depanku." ancamnya. Seketika James terdiam, Natalie terlihat ketakutan saat Al berdiri di depannya.
"Kenapa kau menculik putriku?" tanya James.
"Tanyakan pada putrimu, apa yang telah dia lakukan pada wanitaku?" Al menunjuk Natalie yang sejak tadi menunduk, dia tidak berani menatap mata Al. James menatap Natalie, tapi gadis itu malah semakin ketakutan.
"Tapi, bukankah Ayuna baik-baik saja? Kenapa kau menyiksa putriku seperti ini?" James tidak tega melihat kondisi putrinya yang begitu kumal.
"Setelah apa yang dia lakukan pada tunanganku, Masih untung aku tidak membunuh putrimu." mata Al terlihat menyala-nyala. Jika dia bisa menyentuh tubuh orang lain, mungkin saat ini dia sendiri yang akan menyiksa ayah dan anak itu.
"Aku mohon, maafkan dia!" James memohon pada Al.
"Papa ...!" panggil Natalie lirih.
"Aku mohon, Tuan! Maafkan dia!" James kembali memohon pengampunan dari Al.
"Jo, bawa mereka." perintahnya. Jhosua menyuruh anak buahnya untuk membawa James dan Natalie keluar.
"Tuan, aku mohon! Maafkan kami!" James masih berusaha meminta ampun dari Al. Tapi, Al tidak bergeming sedikitpun.
"Lepas! Lepaskan kami!" James meronta-ronta. "Mau kalian bawa kemana kami?" tanyanya saat mereka sudah berada di dalam minibus berwarna hitam.
"Ke tempat seharusnya kalian berada." jawab Jo.
~tbc
🍀Makasih ya buat yang udah dukung author🤗 Maaf kalau masih banyak typo, soalnya belum sempat revisi. Harap dimaklumi dulu ya😊