
"Hi, Fa!" sapa Yuna begitu dia sampai di depan ruangan Al.
"Siang, Nyonya." jawab Refa.
"Al, ada?" tanya Yuna.
"Ada, Nyonya." Refa membukakan pintu dan mempersilahkan Yuna untuk masuk.
"Sayang!!" Al berdiri dan menyambut kedatangan Yuna.
"Gimana pertemuan dengan temanmu?" tanya Al.
"Baik." jawab Yuna. Alvaro kembali ke kursi kebesarannya. "Gimana dengan Jo?" Yuna duduk di kursi yang ada di seberang Al.
"Tidak perlu khawatir. Aku sudah menyelesaikannya." jawab Al. "Tapi, aku akan sedikit kesulitan jika dia tidak ada." Al mengakuinya.
"Gimana dengan merekrut pegawai baru?" tanya Yuna.
"Aku nggak bisa mempercayakan perusahaan pada orang yang baru kukenal." jawab Al.
"Apa kamu butuh bantuan?" tanya Yuna.
"Aku memberi izin 3 hari untuk Jhosua." jelasnya.
"Apa kamu keberatan jika aku yang menggantikan Jo selama dia libur?" Al terkejut mendengar Ayuna mengajukan dirinya.
"Kamu serius?" tanya Al.
"Tentu saja. Lagian, selama ini aku cukup tahu tugas Jo. Jadi, aku yakin kamu akan cukup terbantu dengan keberadaanku." ucapnya.
"Baiklah. Aku senang kalau itu kamu." Al tersenyum padanya.
"Sekarang, hentikan semua itu! Waktunya untuk makan siang. Aku membawakan fetuccini kesukaanmu." Yuna berjalan menuju meja tamu, dan mengeluarkan isi paperbag yang dia bawa. Alvaro mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Aku merindukan saat-saat seperti ini." ucap Al, Ayuna tertawa kecil.
"Apa kamu ingin aku kembali bekerja?" tanyanya.
"Tidak. Aku nggak mau kamu terlalu letih." jawabnya. Mereka makan bersama. Ayuna sengaja tidak memesan makanan apapun saat bersama Naomi, karena dia ingin makan siang dengan Al.
"TOK TOK TOK."
"Masuk." ucap Al.
"Maaf, Tuan, ini laporan yang anda minta." ucap Refa.
"Letakkan saja di sana." Al menunjuk meja kerjanya. Refa berjalan ke sana dan meletakkan berkas itu disana.
"Dan, 15 menit lagi, anda ada rapat dengan Tuan Kai." lapornya.
"Saya sudah tahu." Refa kemudian berpamitan pada Al dan Yuna.
"Apa ada masalah lagi?" tanya Yuna.
"Tidak begitu besar. Aku juga bingung, entah apa yang diinginkan tuan Smith. Pikirannya selalu berubah-ubah, terkadang aku merasa dia seperti ingin mengujiku." Al berdiri dan kembali ke mejanya. Ayuna segera membersihkan bekas makanan itu.
"Meeting dimana?" tanya Yuna saat melihat Al sudah bersiap-siap.
"Di bawah. Kamu ikut atau mau tetap disini?" tanyanya.
"Aku disini saja." jawab Yuna.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di dalam." Al menunjuk ke ruang pribadinya. Ayuna mengangguk. Ayuna berjalan menuju jas yang tergantung, dia mengambilnya dan membantu Al memakainya. Kemudian dia merapikan dasi Al yang sedikit berantakan.
"Sudah. Kalau begini tidak akan ada yang berani macam-macam dengan suamiku." Alvaro tersenyum dan mengecup bibirnya.
"Aku pergi ya!" Al segera keluar dari sana. "Kamu jagain istriku, dia sedang beristirahat. Jangan biarkan siapapun masuk." dia berpesan pada Refa sebelum pergi bersama Jo yang sudah menunggunya.
🍀🍀🍀
"Maafkan saya, Tuan. Tapi, tuan Smith ingin resort memiliki beberapa taman bermain yang aman untuk anak-anak dan juga sebuah aquarium raksasa yang terhubung ke restoran." dahi Alvaro mengeriyit mendengar permintaan kliennya.
"Aquarium raksasa? Apa tuan Smith Aquaman?" tanya Al karena kesal. Bagaimana tidak, dia harus mengubah lagi design resort yang telah disepakati.
"Saya hanya menyampaikan pesan beliau." jawab Kai.
"Kenapa dia tidak mengatakannya sendiri? Anda tahu berapa banyak yang harus dirubah untuk memenuhi keinginan beliau ini?" Kai tahu saat ini Al pasti sangat emosi.
"Anda hanya perlu melakukan apa yang beliau inginkan." melihat tatapan Al, Kai tidak gentar sedikitpun.
"Aku akan memikirkannya, tapi sebelum itu, minta beliau untuk menemuiku. Aku tidak ingin main-main dalam proyek seperti ini. Dia akan mendapatkan apa yang dia mau, setelah kami bertemu." Alvaro berdiri dan meninggalkan ruangan meeting.
"Seenaknya saja menganti design yang telah disepakati." Al terus saja menggerutu di dalam lift. Jhosua dengan setia mendengarkannya. "Kita tidak alan lagi menuruti semua keinginan gilanya itu." lanjutnya. Mereka keluar, begitu pintu lift terbuka.
"Dimana istriku?" tanya Al pada Refa.
"Beliau masih di dalam, Tuan." jawab Refa.
Al segera menuju ruangannya. Karena tidak melihat Ayuna disana, Al berjalan menuju ruang pribadinya. Dan benar saja, Ayuna sedang tertidur pulas. Alvaro membuka jasnya dan meletakkannya di atas sofa. Kemudian dia ikut berbaring bersama Yuna.
"Aku sangat merindukanmu." Al menyibak rambut yang menutupi wajah Yuna. Merasa ada yang menyentuh wajahnya, Ayuna terbangun. Dia melihat Al sudah berada sangat dekat dengannya. "Apa aku menganggumu?" tanya Al lembut.
"Tuan Smith ingin merubah design. Dia ingin ada aquarium raksasa yang terhubung ke restoran." jawabnya.
"Lalu?"
"Gimana mungkin? Proyek itu sudah berjalan. Akan sulit melakukan apa yang dia minta." nada suara Al terdengar emosi. Ayuna mendekatkan tubuhnya dan memeluk Al.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya. Aku sangat tahu seperti apa hebatnya suamiku." hiburnya. Al semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sangat senang karena tuhan memberikanmu padaku." ucap Al lalu mengecup puncak kepala Yuna
"Apa yang dia katakan?" tanya Bumi begitu Kai sampai dihadapannya.
"Beliau terlihat marah. Beliau ingin bertemu dengan anda secara langsung. Dan, tuan Al tidak akan mau mengikuti permintaan anda sebelum bertemu langsung dengan anda." lapornya.
"Baiklah, kau atur jadwal untuk meeting bersamanya." Bumi setuju, dia juga ingin bertemu dengan Al secara langsung.
"Baik, Tuan." jawab Kai.
"Aku ingin melihat sehebat apa pria itu." batin Bumi.
🍀🍀🍀
"Ayo, kita berangkat!" ucap Al begitu Yuna turun dengan pakaian yang sudah rapi. Hari ini dia akan mengantikan Jhosua yang cuti selama 3 hari.
"Iya." Al menggandeng Yuna, mereka berjalan bersama menuju mobil. Alvaro sangat senang, karena mereka bisa kembali seperti dulu. Begitupun dengan Yuna.
"Tuan, siang ini anda ada meeting dengan tuan Smith." lapor Refa begitu melihat Alvaro dan Yuna datang bersama.
"Benarkah?" tanya Al, dia tidak menduga kalau Tuan Smith akan segera merespon perkataannya kemarin.
"Iya, Tuan. Saya baru mendapat telepon dari asisten Jo. Tuan Kai baru menghubunginya." jelasnya.
"Kamu hubungi Tano Construction
." Al berjalan menuju ruangannya, sementara Yuna tetap di depan meja Refa. "Kenapa disana?" Al kembali keluar saat tidak melihat Yuna di belakangnya.
"Bukankah aku harus ke ruangan Jo?" ucapnya.
"Siapa yang menyuruhmu kesana?" tanya Al.
"Aku disinikan untuk mengantikan Jhosua." jawabnya.
"Itu benar. Tapi kamu bekerja di ruanganku, bukan di tempat Jo. Kamu bawa semua berkas yang diperlukan ke ruangan saya." perintahnya pada Refa yang sejak tadi menjadi pendengar.
"Baik, Tuan." jawab Refa. Al langsung membawa Yuna menuju ruangannya.
"Kenapa Ayuna mengantikan asisten Jo? Apa dia dipecat?" Refa bergidik membayangkan kalau Jhosua di depak dari perusahaan itu.
Dia bergegas ke ruangan Jo dan mengambil semua berkas yang diperlukan. Untung saja, Jhosua sudah meletakkannya semuanya di atas meja. Dia sudah tahu bahwa Yuna yang mengantikannya, karena itu Jo sudah mempersiapkan segalanya. Agar Yuna tidak kesulitan.
"Ini, Nyonya." Refa memberikannya pada Yuna. Ayuna tersenyum dan menerima berkas itu.
"Maaf, jadi merepotkanmu." ujar Yuna.
"Tidak apa-apa, Nyonya." setelah itu Refa berpamitan dan keluar dari sana. Ayuna memeriksa beberapa dokumen yang telah ditandai oleh Jo. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hingga tidak terasa waktu berlalu begitu saja.
"Kita meeting dimana?" tanya Yuna, karena saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju lokasi meeting.
"Polaris Hotel." jawab Al. Tak lama mereka sampai, Al langsung menuju ruangan VIP yang ada di restoran itu.
"Al, aku mau ke tolilet dulu. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul." Alvaro mengangguk dia membuka pintu. Belum ada siapa-siapa disana. Tak lama Al duduk, pintu terbuka dan terlihat Valerie memasuki ruangan bersama dengan asistennya.
"Selamat siang, Tuan Al." sapanya.
"Siang." Valerie mendekat dan duduk di sebelah Al.
"Maafkan saya, Nona. Tapi, itu kursi asisten saya." ucap Al.
"Disini masih banyak kursi, asisten anda bisa duduk dimanapun." Valerie mengabaikan ucapannya. Dia tetap duduk disebalah Al. Alvaro memilih berdiri dan duduk menjauh darinya. Wajah Valerie seketika berubah cemberut. Dia tidak mungkim pindah lagi, itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri.
"Apa benar kita akan bertemu dengan tuan Smith?" tanya Valerie pada Al. Dia sangat penasaran seperti apa CEO Earth Corp itu. Sebelum Al menjawab, pintu ruangan itu terbuka. Tampak dua pria tampan memasuki ruangan.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." ucap pria berwajah blesteran yang tak lain adalah Bumi. Valerie sangat terkejut dia tidak menyangka pria yang dia temui bersama Yuna kemarin adalah CEO Earth Corp.
"A-anda ....?" Valerie tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Saya, Bumi Arkana Smith." Bumi mengulurkan tangan pada Al. Alvaro yang sejak tadi memperhatikannya menerima uluran tangan itu.
"Alvaro Putra Ivander." jawab Al. Pintu kembalu di buka dan semua menatap ke arah Yuna yang baru saja masuk.
"Maaf saya terlam ....bat!" Ayuna terkejut saat melihat keberadaan Bumi dan juga Naomi disana.
"Ayuna ....?" ucap Naomi yang tak lain adalah Valerie.
"Naomi ....?" balasnya.
"Dan, kau ....?" Ayuna beralih menatap ke arah Bumi yang sedang tersenyum lebar padanya. Alvaro terlihat bingung.
~tbc