CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 171



"Harus aku apakan dia?" gerutu Yuna yang keberatan menahan berat badan pria tadi. "Tolong!! Tolong!! Mas, tolongin saya!" Yuna menghentikan pengujung yang melintas di dekat mereka.


"Kenapa, Mbak?" tanya pria itu.


"Pingsan, Mas." jawabnya.


"Sebentar saya security dulu." pria tadi bergegas menuju kasir.


"Kenapa suaminya, Mbak?" tanya beberapa pengunjung yang sudah mulai mengerumuni mereka.


"Pingsan, Bu." jawab Yuna.


"Permisi!! Permisi!!" ucap security yang datang membawa kursi roda bersama dengan pria tadi. Mereka membantu menaikkan pria itu ke kursi roda.


"Sebaiknya ibu ikut kita. Ambulance sudah menunggu di depan." ucap Security tadi.


"Tapi, saya ....?" Yuna terpaksa ikut dengan mereka. Sesampainya di lobby mall, sudah ada ambulance yang menunggu mereka. Dan, Yuna terpaksa lagi ikut dengan ambulance.


"Apa yang terjadi?" tanya perawat IGD yang bertugas saat mereka sampai di rumah sakit terdekat.


"Kepalanya kejatuhan botol saos, dan tiba-tiba dia pingsan saat melihat darah. " jawab Yuna. Mereka memasangkan selang oksigen padanya. Dokter mulai memeriksa kondisi pria itu.


"Nyonya silahkan ke bagian Administrasi." pinta perawat. Yuna bingung, dia sama sekali nggak mengetahui siapa pria itu.


"Maaf, Sus! Tapi, saya nggak kenal dia. Apa nggak sebaiknya kita tunggu dia sadar aja?" jelasnya.


"Maaf, Nyonya, saya kira anda istrinya." ucapnya.


"Tidak apa-apa." Yuna masih menunggu hingga pria tadi sadar.


"D-dimana aku?" tanyanya begitu membuka mata.


"Rumah sakit." jawab Yuna. "Sebentar, biar aku panggil dokter dulu." Yuna berjalan menuju nurse station. Tak lama dia kembali bersama seorang dokter.


"Kenapa denganku?" tanyanya.


"Anda pingsan. Sebelumnya kepala anda terkena botol saos. Kami sudah mengobatinya luka anda. Apa anda tidak mengingat apapun?" pria itu memegang kepalanya yang sudah tertutup perban.


"Aku ingat." jawabnya.


"Kondisi anda tidak apa-apa. Hanya mengalami luka kecil. Tiga hari lagi, anda bisa kembali untuk membuka perbannya." jelas sang dokter.


"Apa kepalaku mengeluarkan banyak darah? Kalian yakin sudah tidak ada darah yang mengalir?" dia terlihat panik saat mengucapkan kata darah.


"Anda baik-baik saja, Tuan. Hanya luka kecil." Dokter itu kembali menjelaskan. "Kalau begitu saya permisi dulu." dokter itu pergi ke pasien lain.


"Cemen banget sih? Mana KTPmu?" Yuna meminta identitas dirinya.


"Untuk apa? Aku yang harusnya meminta KTPmu. Karena kau, aku jadi seperti ini." gerutunya.


"Aku nggak pernah minta bantuanmu." jawab Yuna.


"Kalau aku nggak menolongmu, mungkin saat ini kau yang berada di sini." selanya.


"Sudah, mana KTPmu? Kau mau pulang atau selamanya disini?" Yuna menyodorkan tangannya. Akhirnya dia mengerti tujuan Yuna meminta KTP miliknya. Pria itu mengambil dompet yang ada disaku celananya. Dia mengambil kartu berwarna biru itu dan menyerahkannya pada Yuna.


"Tunggu disini! Aku akan mengurus administrasimu." Yuna berjalan keluar dari IGD. Tak lama dia kembali dan menyerahkan kartu itu kembali pada pemiliknya.


"Kau sudah boleh pulang. Tiga hari lagi kontrol ke rumah sakit. Ini obat dan surat kontrolmu." Yuna memberikan semua itu ke tangannya. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan di sebelah Yuna.


"Ayuna!!" Yuna menoleh saat mengenal suara yang memanggilnya.


"Hi, Dre!" jawabnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Andreas.


"Aku baru saja mengantar seseorang ke rumah sakit." jawabnya.


"Siapa? Al?" tebaknya.


"Bukan! Dia ....?" Yuna kaget karena pria tadi tidak terlihat disana.


"Siapa? Aku tidak melihat siapapun?" Andreas celingak-celinguk.


"Kemana dia?" Yuna juga terlihat bingung. "Ah, sudahlah! Bukan siapa-siapa." jawab Yuna. "Kamu lagi kerja?" tanya Yuna saat melihatnya masih menggunakan seraga rumah sakit.


"Iya. Aku mau praktek." ujarnya.


"Kalau gitu aku balik dulu ya." ucapnya.


"Kamu sama siapa?" tanya Andreas lagi.


"Aku sudah meminta sopir untuk menjemputku." jawabnya.


"Dasar nggak tahu terima kasih. Udah dibantuin bukannya bilang makasih malah kabur." Yuna mengomel sambil menunggu Galuh datang.


"Aku mendengarmu!" Yuna berbalik dan melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Bukankah kau mencariku?" tanyanya.


"Untuk apa aku mencarimu? Kita impas. Aku sudah membawamu ke rumah sakit. Jadi, aku tidak punya hutang apapun lagi padamu." ucap Yuna ketus. "Aku permisi!" mobil yang dikendarai Galuh berdiri di hadapannya. Yuna segera masuk dan meminta Galuh untuk segera pergi dari sana.


"Siapa dia? Kenapa mereka begitu dekat? Apa dia salah satu wanitanya si Cassanova?" Bumi mengepalkan tangannya saat mengingat perlakuan Andreas pada Yuna tadi. "Aku harus mencari tahu hubungan mereka." Dia segera menuju ke mobil sedan hitam yang sudah sejak tadi menunggunya.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Kai yang berada di dalam mobil.


"Aku ingin kau melacak sesorang." ucapnya.


"Siapa?" tanya Kai.


"Wanita yang bersama denganku tadi." Kai ke sebelah. Karena Bumi memang duduk di sebelahnya.


"Apa anda tertarik padanya?" tebak Kai.


"Tutup mulutmu! Aku hanya ingin tahu, apa dia salah satu wanita si Cassanova." mendengar nama itu Kai mengenggam erat kemudinya.


"Akan, aku lakukan!" Bumi menoleh padanya. Dia tahu kalau Kai sudah lama menyukai sepupunya. Mereka meninggalkan Giant Hospital.


🍀🍀🍀


"Terima kasih, Pak!" ucap Yuna begitu dia sampai di rumah. Galuh measukkan mobilnya ke garasi, sementara Yuna berjalan menuju ruang tamu. Rumah besar itu terasa kosong, tanpa kehadiran Hans dan Soraya.


"Huft!! Gara-gara pria menyebalkan itu, aku nggak jadi belanja." gerutunya.


"Pria siapa yang kamu maksud?" tanyanya.


"Al? Apa yang kamu lakukan disini?" Yuna segera menyambut Al dengan pelukkan. Tapi, Alvaro tidak membalas pelukannya sama sekali.


"Kenapa?" tanya Yuna.


"Siapa pria menyebalkan itu?" Ayuna tersenyum saat menyadari suaminya sedang cemburu.


"Aku juga nggak tahu!" jawabnya sambil tersenyum.


"Jangan bohong!" Al merajuk.


"Benaran, Sayang! Aku nggak tahu dia siapa. Aku hanya membantunya saat pingsan di mall." Al menoleh ke arahnya. Wajahnya mulai melunak. "Tapi, lebih tepatnya dia yang menolongku, saat botol saos hampir mengenai kepalaku." Ayuna terbelalak.


"Botol saos? Kenapa bisa? Apa kamu terluka?" Al terlhat panik.


"Aku nggak jadi terluka, karena pria itu memdorongku. Tapi, akhirnya kepala pria itu yang terkena botol hingga berdarah." Yuna menjelaskan padanya.


"Kamu di mall apa? Aku akan menghubungi pihak management mereka. Biar mereka mendapat pelajaran atas kecerobohan mereka." Al terlihat berang. Dia marah karena hamoir saja Yuna terluka.


"Sudahlah, itu nggak perlu!" sela Yuna. " Tapi, apa kamu tahu? Pria itu memang bisa menahan kepalanya yang bocor karena terkena botol. Tapi, dia langsuung pingsan saat melihat darah yang menempel di telapak tangannya." Yuna terbahak saat mengingat kejadian itu.


"Mau sampai kapan kamu membahas pria lain di depanku?" potong Al, dia kembali dikuasai cemburu. Yuna terdiam, dia segera mendekat dan merangkul lengannya.


"Kamu nggak perlu cemburu seperti itu? Bukankah aku sudah menjadi milikmu?" Yuna memegang kedua pipinya.


"Tapi, tetap saja, aku cemburu mendengarmu bercerita tentang pria lain." jawab Al.


"Maafkan aku! Aku nggak akan mengulanginya lagi." Ayuna menyadari kesalahannya. Gimanapun juga dia nggak seharusnya membahas pria lain di depan suaminya.


"Baiklah! Kamu akan kumaafkan jika ...." Al segera menggendong Yuna menuju kamar mereka.


"Al, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku. Kau buat malu aja!!" Yuna menutup matanya saat melihat beberapa pelayan tersenyum melihat mereka.


"Kaliam semua diam dan tutup mata. Jangan ada yang ke atas tanpa izon dariku." mereka segera melaksanakan perintahnya. Al membuka pintu kamar dan menutupnya menggunakan slaah satu kakinya.


🍀🍀🍀


"Ini yang anda minta, Tuan." Kai meletakkan laporan yang Bumu minta di depannya. "Anda akan terkejut sata melihatnya." ucapnya saat Bumi membuka laporan itu.


"Ayuna Sahara." ucapnya, saat melihat nama yang tertera disana. "Alvaro Putra Ivander? Kau yakin?" dia terkejut saat mengetahui Yuna adalah istri dari rekan bisnisnya.


"Iya, Tuan." jawabnya. Bumi melempar kertas itu hingga berserakan di lantai.


"Ayuna!!" entah kenapa dia sangatbkesal begitu tahu Yuna adalah istrinya Al.


~tbc