CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 58



Disaat Aberlie tengah mengantri untuk membayar belanjaan yang ia bawa didalam troly, Bram tengah menghubungi seseoran.


"Suruh orang buat menangkap Aron segera, aku sudah muak dengannya, kesabaranku sudah habis, dia berani membawa paksa istriku didepan mata kepalaku, aku akan memberinya pelajaran agar dia mengerti dengan siapa dia berhadapan" ucap Bram dengan seseorang di sebrang telfon tersebut, kemudian dimatikannya sambungan telfon tersebut dan memasukkannya kembali benda pipih tersebut kedalam saku celananya.


Bram menghampiri Aberlie yang masih mengantri didepan kasir, ia menuntun troly yang penuh dengan belanjaan tersebut, tak sedikit mata yang memandang sang pengusaha sukses tersebut.


Tiba saat didepan kasir Bram menurunkan belanjaan tersebut satu persatu kemeja kasir didepannya, mereka yang melihat memasang wajah iri dan ada juga memasang wajah kagum.


Seorang pengusaha terkenal dan terkaya menemani sang istri berbelanja dengan romantis, mungkin seperti itu fikiran mereka terutama para wanita yang sudah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga.


Setelah selesai dengan sesi antri mengantri dan pembayaran akhirnya mereka berada didalam mobil juga.


Tak terasa waktu sudah siang saat mereka keluar dari supermarket tersebut dan mereka memutuskan untuk mampir kesebuah rumah makan padang sesuai permintaan Aberlie untuk makan siang.


"Kamu mau makan sama apa dear?" tanya Aberlie ketika mereka sudah sampai diwarung makan padang.


"Samain saja sama kamu baby" jawab Bram.


"Uni pake rendang dan gulai nangka jangan lupa daun singkongnya yang agak banyak sama sambal hijaunya yah uni, untuk dua porsi uni" pesan Aberlie pada seorang wanita paruh baya yang melayaninya.


"Baik mba, silahkan ditunggu sebentar" jawab wanita paruh baya tersebut.


Tak berapa lama pesanan mereka akhirnya tiba dan mereka menikmati santapan makan siang yang sederhana tersebut.


"Dear, apa kamu tak merasa risih dan malu makan bersamaku ditempat seperti ini?" tanya Aberlie disela makannya.


"Mengapa harus malu, nenek tak pernah mengajariku untuk memandang rendah dan memilih tempat makan dan makanannya, kamu inget by waktu aku mengajakmu membeli ketoprak, mungkin bagi Aron itu terdengar makanan murahan yang tak layak ia makan, namun bagiku makanan seperti ini lebih nikmat dari makanan di restoran bintang lima, apalagi makannya sama kamu, makin nikmat pokoknya" jelas Bram seraya mengedipkan sebelah matanya.


Aberlie senang mengetahui fakta bahwa suaminya tidak memandang rendah tempat makan biasa seperti ini.


Setelah selesai mereka langsung bergegas untuk pulang, karena masih banyak yang harus Aberlie kerjakan.


Sesampainya dikamar ponsel Bram berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Hallo, baiklah, aku akan segera kesana, tunggu aku sepuluh menit lagi" Bram mematikan ponselnya.


"Ada apa dear?" tanya Aberlie yang masih sibuk dengan kegiatan beberesnya.


"Ada yang harus aku kerjakan segera, aku pergi dulu yah, jika sampe malam aku belum pulang kamu tidurlah dulu jangan menungguku, besok kita harus berangkat pagi" ucap Bram.


"Baiklah dear, kamu pergilah" ucap Aberlie tidak menanyakan detail masalahnya karena memang Aberlie bukan tipe orang yang ingin mengerti urusan orang lain.


"Aku pergi yah by, love you" Bram mengecup bibir Aberlie.


"Love you to my lion" balas Aberlie dan Bram langsung meninggalkannya sedangkan Aberlie melanjutkan membereskan barang barangnya dan Bram.


***


Sesampainya disebuah tempat yang selalu Bram gunakan untuk memberi pelajaran buat para bajingan yang menganggunya, Bram bergegas masuk ketempat tersebut.


Didalam beberapa orang sudah menunggunya dan juga seorang manusia yang tangannya diikat kanan dan kiri dengan direntangkan ditembok.


"Thank you kek kau sudah membantuku menangkapnya, kira kira enaknya kita apakan dia kek" ucap Bram pada Harun.


Yah Bram menghubungi Harun untuk menangkap Aron, dan Harun memerintahkan Erwin menangkapnya.


"Jangan kejam begitu dong kek, kan kasihan adikku ini jika harus dibakar hidup hidup, biar bagaimana pun dia juga cucumu loh kek" ucap Bram seraya berjalan menghampiri Aron yang tengah menggelengkan kepalanya.


Aron ingin berteriak namun bibirnya dilakban oleh Haris, ia hanya bisa berontak seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa adikku sayang? apakah kau sekarang merasa takut hm? mana keberanianmu yang tadi menarik paksa tangan istriku?" Bram berbicara dengan nada sehalus mungkin membuat Aron semakin ketakutan.


"Aaaaah...." Bram membuka paksa lakban yang menempel pada bibir Aron.


"Lepaskan aku breng sek, beraninya kau bermain kotor seperti ini, jika berani hadapi aku sendirian breng sek" Aron mencaci Bram walaupun sebenarnya ia takut pada Bram namun dia tak bisa menyangkalnya kalau ia marah melihat Aberlie bersama dengannya.


"Hahaha sudah tak berdaya pun kau masih punya keberanian untuk mencaciku, apa kau memang ingin langsumg mati ditanganku hm?" Bram tertawa mendengar cacian dari Aron.


"Papah tak akan memaafkanmu jika kau membunuhku"


"Hahaha apa yang bisa dia lakukan padaku, bahkan dikantorpun dia adalah bawahanku meskipun dia papahku, apa kau ingi dia datang kesini dan menyaksikan aku menyiksamu begitu? jika maumu seperti itu aku akan menyuruh Haris menelfonnya"


"Dasar kau gila" umpat Aron.


"Aku memang gila jika ada orang yang menyentuh ratuku, maka dari itu aku pernah memperingatkanmu sekali dan kau tak mengindahkannya sekarang aku akan memberimu pelajaran"


"Tangan mana yang kau gunakan untuk menarik Aberlie ku hm" ucap Bram memainkan pisau kepipi Aron membuat Aron mendelik takut.


"Jawab aku breng sek, tangan mana yang kau gunakan untuk menarik istriku?" teriak Bram didepan wajah Aron seketika membuat Aron terkencing dicelana.


Harun, Erwin dan Haris hanya menyaksikan Bram menangani Aron, mereka tak ingin ikut campur jika Bram tak memintanya.


Srreeeetttttt.....


"Aaaaaaaaaaah......" teriak Aron memenuhi ruangan tersebut tatkala Bram memotong tangan kiri Aron sepergelangan.


Tangan tersebut jatuh kelantai dan membuat Bram tertawa kencang melihat Aron yang berteriak kesakitan, darah segar muncrat kewajah tampan Bram.


"Haris antar baji ngan ini pada ibu jal angnya bersama dengan Erwin, besok setelah ku berangkat bersama dengan Aberlie paketkan potongan tangan ini pada *** *** itu, ingan harus *** *** iti yang menerimanya langsung, aku tak ingin membunuhnya, tapi aku akan menyicil memotong bagian tubuhnya setiap dia membuat onar padaku sampai tubuhnya tak tersisa lagi" ucap Bram seraya mengelap pisau yang ia pakai untuk memotong pergelangan tangan Aron.


"Baik tuan muda" jawab mereka serentak.


"Kek aku akan kembali kerumah besar terlebih dahulu untuk membersihkan diri, aku tak ingin Aberlie melihatku seperti ini" ucap Bram.


"Baiklah ayu kita pulang" jawab Harun.


Saat mereka keluar dari ruangan tertutup tersebut hari sudah gelap, Bram melihat jam ditangannya waktu sudah menunjukkan pukul tujuh petang.


Setelah sampai dirumah utama Bram langsung bergegas menuju kamarnya dan membersihkan dirinya, kemudian ia menyusul Fatma dan Harun yang akan makan malam.


"Makanlah dulu sayang sebelum kau pulang, kau pasti lelah telah bekerja keras tadi sore" ucap Fatma yang memang sudah tak heran dengan apa yang Bram lakukan.


*****


Aron tuh gak kapok kapok yah gaes, hadeeeeh lan jadinya ilang satu.


selamat membaca kakak semua jangan lupa jejaknya tinggalin yah buat aku😊


Salam hangat dariku untuk kalian🙏😊🤗🥰