
"Apa masih sakit?" Al duduk disebelah Yuna.
"Iya." jawab Yuna.
"Apa yang harus aku lakukan? Kita panggil Andreas saja." tanya Al lagi. Ayuna mengeleng.
"Aku baik-baik saja." Yuna berusaha meyakinkannya, tapi Al masih saja khawatir melihat wajahnya yang pucat dan sejak tadi Yuna selalu meringis menahan sakitnya.
"Apa kamu selalu seperti ini?" Al duduk dan mengusap keringat yang membasahi dahinya.
"Terkadang." jawabnya, Al melihat Yuna tidak lagi memegangi perutnya, tapi mulai mengusap-usapnya.
"Mau aku bantu?" Al menunjuk pada tangan Yuna yang sedang membuat gerakan melingkar di perutnya.
"Tidak usah! Biar aku saja." tolaknya.
"Kamu istirahat saja. Biar aku yang melakukannya untukmu." Al meyingkirkan tangan Yuna, dan dia mulai menirukan seperti yang Ayuna lakukan. Awalnya Yuns merasa malu, tapi dia tidak punya tenaga untuk menghentikan Al.
"Masih sakit?" tanya Al.
"Sudah mendingan." jawabnya dengan mata tertutup. Karena sudah merasa lebih baik, Ayuna sampai tertidur.
"Yah, Dia malah ketiduran!" Al memperhatikan napas Yuna yang sudah mulai teratur. Al menarik selimut Yuna hingga menutupi sebagian tubuhnya. Al berbaring disisi Yuna, dia terus memandangi wajah Yuna yang sedang tidur.
"Sedang tidurpun kamu masih tetap cantik." Al menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Masih terlihat sisa make up yang dipakai olehnya. Ayuna tidak sempat menganti pakaiannya, begitu sampai di apartemen, Yuna langsung merebahkan diri di sofa tanpa berganti pakaian ataupun membersihkan wajahnya. Al yang juga sangat lelah mulai terpejam disebelah Yuna. Hari ini dia disibukkan untuk menyulap rooftop menjadi tempat yang layak untuk mereka makan siang.
"Sudah jam berapa?" Yuna meraba-raba nakasnya untuk mencari ponselnya. Biasanya Yuna selalu meletakkannya disana. "Mana ponselku?" ucapnya dengam mata yang masih tertutup. Ayuna merasakan tubuhnya sangat berat, hingga untuk bergeser saja susah. "Apa ini? Kenapa berat sekali?" ucap Yuna saat merasakan sesuatu yang berat sedang menimpa dada dan kakinya. Perlahan Yuna membuka matanya, dan dia kaget saat melihat wajah Al ada di depannya.
"Bahkan, dalam mimpikupun dia terlihat menawan." Yuna membelai pipi Al, kemudian beralih ke hidung Al yang tinggi. Dan, terakhir Ayuna meraba bibir Al. Tiba-tiba Alvaro membuka matanya dan melihat ke arah Yuna yang sejak tadi terus memperhatikannya. Dengan cepat Al mencium bibir Yuna, Ayuna terkejut dan menyentuh bibirnya. "Kenapa ini terasa nyata?" Ayuna masih berpikir kalau dia saat ini sedang berada di dunia mimpi.
"Apa kamu mau lagi?" Al mendekatkan kembali wajahnya pada Yuna. Ayuna bisa merasakan hembusan napas Al di wajahnya.
"Kyaa!!" Yuna mendorong tubuh Al menjauh darinya. "Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" teriaknya.
"Memangnya kamu lupa apa yang terjadi semalam?" Alvaro berbaring miring dengan menompang kepalanya dengan tangan kirinya.
"Apa? Memangnya apa yang terjadi semalam?" untuk sesaat Yuna lupa.
"Kamu lupa atau pura-pura?" tanya Al. "Masa kamu bisa melupakan malam panas yang telah kita lalui berdua. Apa pwrlu kuingatkan?" Godanya.
"Apa maksudmu?" Yuna melihat ke dalam selimut, dan dia begitu lega karena dia masih menggunakan pakaian semalam.
"Bisa gak sih, jangan becanda yang aneh-aneh." Yuna memukul lengan Al. Alvaro tertawa melihat keluguannya.
"Agh!! Karena menahan sakit aku sampai lupa berganti pakaian." ucapnya yang sudah ingat apa yang terjadi. Ayuna bangun dan berjalan menuju kamar mandi. "Sebelum aku selesai, lebih baik kamu sudah tidak ada disini." Yuna memperingatkan Al untuk segera keluar dari kamarnya. Yuna menutup pintu kamar mandinya. Alvaro segera bangun dan berjalan menuju pintu.
"Aagghhh!!" sebelum dia keluar terdengar jeritan Yuna dari kamar mandi. Al segera menuju kamar mandi dan mengetuknya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Na? Apa kamu baik - baik saja?" tanya Al dari luar.
"Aku tidak apa-apa." teriak Yuna. "Kenapa aku bisa lupa menghapus riasan ini?" Ayuna membasuh wajahnya dengan air. Dia sangat terkejut saat melihat wajahnya berantakan, matanya terlihat hitam karena maskara yang dia pakai meluber kesana kemari, sehingga membuat wajah Yuna di dominasi dengan warna hitam. "Kenapa dia diam saja saat melihatku seperti ini?" omelnya. Yuna sangat malu padanya. Karena tidak lagi mendengar teriakan Yuna, Al segera keluar dari sana. Dia tidak ingin membuat Yina malu dengan kehadirannya disana.
"Kalau masih sakit sebaiknya kamu di rumah saja." ucap Al saat melihat Yuna telah bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Aku sudah baikan." jawabnya,Yuna segera duduk di sebelah Al.
"Makanlah! Sejak malam kamu belum makan apapun." ucapnya. Yuna memandangi makanan yang ada di depannya.
"Kamu yang masak?" tanya Yuna.
"Tentu saja." jawabnya cepat. Ayuna tersenyum dan mulai memakan nasi goreng buatan Al.
"Tidak diragukan lagi, kamu pantas untuk jadi chef." puji Yun setelah mencicipi makannya.
"Sudah, habiskan sarapanmu!" ujar Al. Ayuna mengikuti perintahnya tanpa bersuara lagi.
🍀🍀🍀
"Tuan besar masih berada di kamar." jawab pelayan itu. Mahen berjalan menuju kamar Hans. Dia sengaja datang pagi-pagi sekali, karena dia masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Hans.
"Masuk!" perintah Hans saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar Hans sedikit terkejut melihat bahwa Mahen yang datang. "Apa yang kamu inginkan?" Hans duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Apa benar kakek sudah merestui mereka?" Mahen tidam berbasa-basi, dia langsung menanyakan keputusan Hans untuk Al.
"Iya." Hans tahu bahwa Soraya pasti sudah mengakatan semuanya pada Mahen.
"Kenapa kakaek melakukan ini padaku?" Mahen kesal.
"Karena inilah yang terbaik!" jawab Hans.
"Untuk siapa? Cucu kesayangan kakek?" tanyanya.
"Untuk semuanya." jawab Hans.
"Kakek tidak bisa melakukan ini padaku. Aku akan mengagalkan semuanya, Dan merebut Yuna dari cucu kesayangan kakek." ancam Mahen.
"Hentikan semua ini!" ucap Hans. "Bagaimanapun Al itu kakakmu. Kamu bisa mencari wanita lain."
"TIDAK!! Aku hanya mau dia." Mahen bersikeras untuk mendapatkan Yuna.
"Percuma saja! Kau tidak akan pernah mendapatkannya." ucap Hans.
"Aku akan merebut apapun yang menjadi milikku." Mahenpun mengamcam Hans. Mahen berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. "Kakek tidak akan bisa menghalangiku."
"Jika kau pergi terlalu jauh, maka kau yang akan terluka." Hans masih menasehatinya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita yang kucintai dimanfaatkan oleh pria brengsek seperti Al." jawabnya.
"Apa maksudmu?" tanya Hans.
"Kita semua tahu siapa yang selalu berada di hati Al." lanjutnya.
"Bagaimana jika wanita itu adalah Ayuna?" tanya Hans. Langkah Mahen terhenti saat mendengar perkataan Hans.
"Itu tidak mungkin." jawabnya. "Kalian bilang wanita iti sudah meninggal." dia ingat betul, dulu Monika selalu mengatakan pada Al bahwa anak perempuan yang bersamanya sudah meninggal.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jika takdir sudah berkehendak, maka mereka pasti bersatu." Mahen menolak untuk mempercayai ucapan kakeknya.
"Aku tidak akan percaya begitu saja dengan cerita murahan kalian." setelah berkata seperti itu, Mahen segera keluar dari kamar Hans.
"Ternyata kau sama kerasnya dengan papamu." ucap Hans pada dirinya sendiri.
"Sayang, kamu disini?" Soraya yang melihat Mahen keluar dari kamar Hans segera menghampirinya. Mahen tidak menjawabnya, dia terus saja berjalan. "Mahen, tunggu!" Soraya berteriak dan mengejar Mahen keluar. "Mahen ...!" Soraya memegang tangannya.
"Apa itu benar?" tanyanya saat mereka berada di dekat mobilnya.
"Apa maksudmu?" Soraya tidak mengerti apa maksud putranya itu.
"Apa benar kalau Ayuna adalah anak perempuan yang bersama Al saat penculikan itu terjadi?" Mahen memperjelas pertanyaannya, dia menatap tajam pada ibunya. Melihat Soraya memgangguk, Mahen mengepalkan tangannya.
"Mama sudah tahu, tapi mama tidak mengatakannya padaku?" Mahen semakin emosi.
"Mama tidak ingin membuatmu semakin terluka." ucapnya.
"Diamnya mama malah membuatku semakin terluka." Ujarnya. "Apa Al tau?" Soraya mengangguk.
"Saat pertama bertemu dengan Yuna, Al sudah tahu kalau Ayuna adalah wanita yang selama ini dia cari." Soraya mengatakan semua yang dia ketahui.
Mahen membuka pintu mobilnya dan segera masuk. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aagghh!!" dia berteriak dan memukul-mukul stir mobilnya. "Brengsek, lo Alll!!!" teriaknya.
~tbc