
"Ada apa ini?" tanya Yuna saat melihat karyawan yang ada disana berbaris di sepanjang koridor, termasuk para OB. "Jo?" Jhosua diam. Ayuna berjalan menuju ruangan Al.
"Al, ada apa ini?" tanya Yuna.
"Kamu dari mana saja?" tanya Al dengan wajah kesal.
"Aku ke bawah beli ini." Yuna mengangkat kembali bawaannya.
"Apa kamu tidak bisa meminta orang lain untuk membelinya?" Alvaro masih kesal.
"Kamu kenapa sih? Terus kenapa semua staff berdiri disana?" Ayuna mendekat.
"Itu hukuman karena mereka tidak bisa menjagamu." Alvaro membalik halaman dokumen yang sedang dia periksa.
"Apa? Al kamu jangan aneh-aneh deh. Untuk apa kamu menghukum mereka?" Ayuna berjalan keluar dan meminta mereka untuk kembali ke ruangan masing-masing. Mereka masih tidak beranjak dari sana, karena hukuman itu diberikan oleh Al jadi mereka menunggu keputusan Al bukan Yuna. "Al, minta mereka kembali ke ruangan masing-masing." Ayuna protes.
"Jo, suruh mereka pergi!" ucap Al di telepon.
"Kamu kenapa sih?" Ayuna duduk di hadapannya.
"Mulai saat ini kalau kamu mau kemana saja harus izin dulu padaku." Al berucap tanpa menatap Yuna. Sebenarnya dia sangat sibuk untuk mempersiapkan meeting dengan klien baru mereka.
"Kenapa begitu?" tanya Yuna.
"Karena kamu istriku." jawabnya.
"Tapi saat ini aku hanya karyawanmu. Aku disini sebagai sekretarismu." Al menutup dokumennya.
"Itu dulu!" Alvaro menatap tajam ke arahnya.
"Tidak ada bedanya dulu maupun sekarang. Jika di rumah aku ini memang istrimu. Tapi, jika di kantor aku adalah bawahanmu." tegas Yuna.
"Jo, minta semua karyawan untuk berkumpul." Alvaro menghubungi Jhosua, Ayuna kembali terkejut.
"Kamu mau apa?" tanya Yuna saat Al mengenggam tangannya dan membawanya keluar dari ruangannya.
"Aku harus mengatakan sesuatu pada bawahanku." ucapnya.
"Masalah apa lagi yang akan dia timbulkan?" Yuna melirik pada Al yang saat ini berada disampingnya.
Aula penuh dengan seluruh karyawan, kecuali security dan reseptionis. Mereka bertanya-tanya tentang alasan mereka dikumpulkan secara mendadak.
Semua terdiam saat melihat Al dan Yuna memasuki panggung. Tidak ada lagi suara-suara. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh pimpinan perusahaan.
"Saya memgumpulkan kalian disini untuk mengatakan sesuatu." Al bersuara dan melihat ke arah Yuna. "Kalian lihat wanita cantik itu?" semua mata tertuju pada Ayuna. "Apa kalian tahu siapa dia?" tanya Al. Mereka semua mengangguk. "Kamu, siapa wanita itu?" tanya Al pada salah satu staff.
"Istri anda, Tuan, Nyonya Alvaro!" jawabnya.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah mengerti?" Al bertanya pada Yuna. Wajah Yuna sudah seperti kepiting rebus. "Maafkan, Saya! Saya mengumpulkan kalian disini untuk memberitahu istri saya, bahwa disini dia adalah istri CEO, bukan sekretaris. Jadi, saya mau kalian berperilaku sopan padanya." Yuna yang semula malu malah memjadi terharu.
Setelah memberikan pengumuman itu, Al meminta mereka untuk kembali bekerja.
"Sudah paham?" tanya Al, saat ini hanya ada mereka berdua di aula besar itu.
"Iya." Ayuna mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang kamu itu sekretaris hatiku." Al memeluknya. "Kenapa?" tanya Al saat Yuna mendorongnya.
"Aku lapar!!" Alvaro terbahak.
🍀🍀🍀
"Tuan, ini semua berkas yang diperlukan untuk meeting nanti." Refa meletakkan dokumen itu di meja Al.
"Minta Jo untuk bersiap, 10 menit lagi saya berangkat." perintahnya.
"Baik, Tuan." Refa keluar dari sana dan langsung menuju ruangan Jo.
"Ada apa?" tanya Yuna begitu Refa kembali.
"Tuan meminta asisten Jo untuk bersiap." jawabnya.
"Oh." Yuna kembali memeriksa jadwal Al.
"Ayo, Sayang!" ajak Al begitu dia keluar. Ayuna berdiri dan membawa file yang mereka perlukan. "Biar aku saja." Al mengambil file itu dan membawanya. Ayuna hanya bisa tersenyum melihat perhatian Al.
"Kita harus pastikan kerja sama ini berhasil. Kita harus mendapatkan proyek itu." ucap Al pada Jo.
"Selamat siang, Tuan Al! Maaf kami terlambat." ucap wanita cantik berwajah bule dengan rambut panjang bergelombang.
"Tidak masalah, Nona Angela." jawab Al. "Silahkan duduk!" ucap Al.
"Apa bisa kita mulai?" tanya Al.
"Ya, tentu!" jawab wanita itu sambil tersenyum manis. Al menjelaskan tentang proyek yang akan mereka tangani. Wanita yang bernama Angela itu terus saja menatap Al dengan sangat intens.
"Bagaimana, Nona?" tanya Al.
"Hmm, sepertinya saya akan bekerjasama dengan perusahaan anda." jawabnya. Al lega, tidak sia-sia dia menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Proyek ini bernilai fantastis. Jadi, jika perusahaan Angela memilih mereka maka bisa dipastikan besarnya keuntungan yang akan Al dapatkan.
Jo menyerahkan MoU yang telah mereka siapkan. Tidak butuh waktu lama untuk mereka menandatangi perjanjian kerja sama itu.
"Apa sekarang kita bisa bicara santai?" tanya Angela setelah meeting mereka selesai.
"Ya, tentu saja!" jawab Al.
"Saya dengar anda adalah pengusaha yang dingin. Tapi, sepertinya ucapan orang tidak bisa sepenuhnya dipercaya." Angela membuka pembicaraan. Alvaro tertawa, Ayuna menoleh padanya.
"Itu hanya asumsi sebagian orang. Anda juga tidak seperti yang saya dengar. Saya benar-benar salut, wanita semuda anda bisa mencapai puncak dalam waktu sesingkat itu." puji Al.
"Anda bisa saja." jawabnya.
"Lalu, apakah malam ini kita bisa menghabiskan waktu bersama?" tanyanya. Ayuna terbatuk saat mendengar perkataannya. "Anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya, Nona." jawab Yuna sopan.
"Sepertinya sekretaris anda terkejut dengan pertanyaan saya. Maksud saya, apa malam ini kita bisa bersenang-senang? Saya sudah lama tidak berkunjung ke kota ini." jelasnya. Al menatap Ayuna.
"Tentu saja." jawab Al.
"Baiklah, saya menginap di King Hotel. Kita akan pergi sebelum makan malam." ucapnya. Alvaro menyetujui idenya. Setelah itu Angela dan timnya berpamitan.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Al saat melihat Ayuna meraih tasnya.
"Pulang!" jawabnya.
"Pulang? Inikan masih jam kantor?" Al ikut berdiri.
"Bukankah kamu bilang aku ini istri CEO. Jadi, aku bisa pulang kapanpun juga." Ayuna berjalan meninggalkan Al dan jhosua.
"Sayang, Tunggu!" Al mengejarnya, tapi Ayuna tidak mempedulikannya. "Biar aku antar!" Alvaro mencengkram tangannya.
"Aku bisa sendiri." tolak Yuna. "Dan, jangan ikuti aku!" ancamnya. Ayuna menghentikan taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya.
"Ada apa dengannya?" Al seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu atur jadwal malam nanti dengan nona Angela. Dan, pastikan tidak ada keluhan apapun dari pihak mereka." Al berjalan keluar dari restoran itu. Setelah itu mereka kembali ke kantor, Al tidak bisa mengejar Yuna, karena masih banyak pekerjaan yang menantinya.
"Kenapa dia tidak menjawab teleponku?" Al menyempatkan menghubungi Yuna disela kesibukannya, tapi lagi-lagi teleponnya tidak tersambung. "Apa dia marah?" Refa masuk mengantarkan dokumen yang harus Al tanda tangani.
"Nanti saja di rumah." Al meletakkan ponsel itu kembali.
🍀🍀🍀
"Sayang, kenapa sudah pulang? Mana, Al?" tanya Soraya saat melihat Ayuna yang baru datang.
"Aku sendiri saja, Tante." jawabnya.
"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget?" Soraya mendekat dan memeriksa dahi Yuna. "Ya ampun, kamu demam ini." ucapnya saat merasakan dahi Yuna panas. "Biar tante telepon dokter dulu." Soraya mengambil ponselnya.
"Tidak perlu, Tan! Aku hanya kecapekan. Istrirahat sebentar juga baikan." tolaknya.
"Ya sudah, kamu istirahat sana." Ayuna berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Ayuna segera membaringkan tubuhnya diatas kasur. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya terlelap.
"Jo, jangan lupa hubungi mereka. Tanya apakah kita bertemu di hotel tempat mereka menginap atau dimana!" perintah Al pada Jo sebelum mereka pulang.
"Baik, Tuan." jawab Jo.
~tbc