
"Kamu yakin mau tetap di rumah?" tanya Al lagi.
"Iya, aku harus mall lagi. Kemarin aku nggak jadi belanja." Ayuna membantu Al memakai jasnya.
"Tapi, kali ini kamu harus membawa pelayan. Aku tidak mau mendengar alasan apapun." pesannya.
"Baiklah, Sayang!" Yuna memeluknya.
"Aku berangkat ya!" Al mencium puncak kepala Yuna.
"Hati-hati." Kali ini Yuna tidak mengantarnya ke bawah, karena dia belum mandi. Al membuatnya harus bergadang sepanjang malam.
"Pagi, Tuan." ucap Jo.
"Gimana dengan masalah kemarin?" tanyanya.
"Saya sudah menemukan pelakunya, Tuan." Jo menyerahkan laporan yang ada di kursi sebelahnya. Setelah itu dia membawa mobil mereka keluar dari sana. Al membaca nama-nama yang terlibat dalam penyeludupan barang-barang yang telah dia kirimkan.
"Kamu pesan tiket, kita kesana siang ini." perintahnya.
"Baik, Tuan." jawab Jo.
"Padahal aku ingin minta libur! Kalau begini terus kapan aku bisa nikahnya." Jo melihat Al melalui spion.
"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" Al menyadari kalau Jo sejak tadi memperhatikannya.
"Tidak ada, Tuan." jawab Jo. Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Al mengenai rencana pernikahannya. Alvaro kembali fokus dengan nama-nama itu.
"Gara-gara pria menyebalkan itu, aku jadi belanja lagi." gerutu Yuna saat mereka berjalan di mall.
"Kenapa Nyonya?" tanya Dea, asisten yang sengaja Yuna bawa untuk menemaninya.
"Oh, bukan apa-apa." jawab Yuna. "Kita kesana ya!" ucapnya. Mereka kembali mengisi troli dengan berbagai kebutuhan.
"Tuan, saya baru mendapat email dari tuan Kai." lapor Jo.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mereka akan mensurvey langsung pembangunan di Lombok." Alvaro terkejut.
"Kapan?" tanyanya.
"Siang ini." jawabnya.
"Apa-apaan mereka? Kenapa tidak ada konfirmasi sebelumnya?" kali ini Al sangat bingung menghadapi kliennya. Mereka suka melakukan segala sesuatu secara tiba-tiba.
"Jam berapa pesawat kita?" Al memang sudah meminta Jo untuk memesan tiket. Dari awal dia memang sudah berniat untuk terbang ke sana.
"2 jam lagi, Tuan." jawab Jo.
"Kita ke Bandara sekarang." mendengar perintah Al, Jhosua segera kembali ke ruangannya untuk menyiapkan semua keperluan yang mereka butuhkan.
"Jika ada yang ingin bertemu saya, minta mereka untuk menghubungi Jhosua. Saya harus ke Lombok. Jika ada file yang yang penting, minta mereka untuk mengirimkannya melalui email." pesannya pada Refa.
"Baik, Tuan." jawabnya. Al dan Jo berjalan menuju lift.
"Pasti mau honeymoon." tebak Refa begitu mereka tidak terlihat lagi.
"Mbak, kamu pulang duluan ya! Saya mau ke kantor Al." ucap Yuna pada Dea setelah mereka di parkiran. Setelah Dea pergi dengan taksi, Ayuna meminta Gsluh untuk mengantarnys ke kantor Al.
"Selamat pagi, Nyonya." sapa karyawan yang bertemu dengannya. Ayuna membalas sapaan mereka dengan ramah.
"Yuna!!" teriak Gina yang melihatnya akan masuk ke lift.
"Hi!! Apa kabar kamu?" Ayuna memeluknya. Karyawan yang melihat kedekatan mereka menjadi iri.
"Gue baik, Lo?" hanya Gina yang berani berbicara seperti itu padanya.
"Baik." ucapnya.
"Lo mau ketemu tuan Al?" Yuna mengangguk.
"Kamu?" tanyanya.
"Aku mau makan siang. Mau gabung?" tanyanya.
"Boleh, tapi aku ke ruangan Al sebentar ya." Gina mengangguk. Ayuna naik ke lantai 20, sementara Gina memilih untuk menunggu di lobby.
"Fa, apa tuan Al ada?" tanya Yuna sesampainya disana.
"Loh, bukannya tuan Al pergi denganmu?" Refa terlihat bingung.
"Maksudmu?"
"Tadi tuan Al bilang kalau dia mau ke Lombok. Aku kirain kalian pergi honeymoon." jawab Refa. Yuna terlihat bingung. Al tidak mengatakan apapun padanya. "Tuan Al nggak bilang ke kamu?" Yuna menggeleng.
"Kapan berangkatnya?" tanyanya.
"Sekitar 2 jam yang lalu." jawabnya.
"Ya sudah kalau gitu. Aku balik dulu." Ayuna berjalan menuju lift. Dia mencoba menghubungi nomor Al, tapi tidak tersambung.
"Enak banget kamu, Na, temanan sama istri CEO." ucap salah satu karyawan.
"Emang kenapa? Kalian ngiri?" dia terlihat kesal.
"Bagi resepnya dong, biar bisa kayak kamu. Dekat sama istri CEO plus ajudannya." Gina kaget mendengar ucapan mereka.
"Apa maksud kalian?" tanya Gina.
"Udahlah, kita semua udah pada tahu kalau kamu itu ada main sama asisten Jo." jawab wanita berjas hitam itu. Wajah Gina terlihat pucat, dia tidak menyangka hubungan mereka sudah diketahui satu kantor.
"Bisa gitu ya? Yang satu dapatin pemilik Ivander, yang satu lagi orang kepercayaan CEO. Kalian pakai jimat apaan sih? Kok bisa barengan?" ledek wanita dengan gaya rambut bob.
"Lo ....!?" Gina terlihat geram.
"Kalau mau kalian juga bisa seperti kita." mereka menoleh dan terkejut saat mendapati Ayuna berdiri di belakang. "Tapi, terlebih dahulu kalian harus ngilangin sifat buruk hati itu." lanjutnya. Ketiga wanita itu menunduk.
"Ayo, Na!" ucapnya.
"Mampus lo pada!" ledek Gina, kemudian berlari kecil meninggalkan mereka. Mereka masuk ke mobil Ayuna.
"Kok cepat? Nggak pakai pemanasan dulu?" candanya.
"Mau pemanasan apa? Lah, Al aja dalam perjalanan ke Lombok." Yuna kembali terlihat kesal. Dia tidak peduli ada Galuh yang mendengar pembicaraan mereka.
"Lombok? Sama siapa?" Gina tak kalah terkejutnya.
"Siapa lagi? Calon suami kamulah!" jawabnya.
"Tapi, dia nggak bilang apa-apa." gantian Gina yang kesal.
"Jangankan kamu, aku aja yang istrinya gak dikasih tahu." wajah mereka sama-sama cemberut. Mobil yang di kendarai Galuh sampai di D'Amor. Yuna menyuruh agar Galuh juga mengambil meja untuk dirinya sendiri.
"Benar-benar ya mereka itu. Apa nggak bisa kasih kabar dulu?" Yuna masih mengerutu.
"Sudahlah, pria memang seperti itu. Nggak bisa diharapin." mendengar ucapan Gina, Yuna meletakkan gelasnya.
"Kamu baik-baik aja?" Yuna melihat ada yang salah padanya.
"Gue baik." Yuna tahu bahwa Gina tidak sedang baik-baik saja.
"Ada apa? Kamu ada masalah dengan Jo?" tanyanya lembut.
"Huftt!! Entahlah!" Gina bernapas dengan berat.
"Cerita padaku! Mungkin aku bisa membantumu." Yuna memegang tangannya.
"Beberapa hari yang lalu dia melamarku."
"Serius? Terus??" Ayuna yang semula terkejut, sekarang malah antusias.
"Tapi, hingga saat ini dia sama sekali belum menemui orangtuaku." Gina terlihat lesu.
"Kenapa? Apa dia belum siap?" Gina menggeleng.
"Dia nggak punya waktu untuk bertemu mereka. Lo tahu sendiri gimana sibuknya tuan Al akhir-akhir ini." jawabnya, Ayuna tersenyum.
"Aku rasa itu bukanlah masalah besar. Jhosua tinggal bilang aja, pasti Al akan mengerti." jawabnya.
"Masalahnya, dia nggak mau Tuan Al kelimpungan mengurusi perusahaan. Apalagi proyek dengan Earth Corp benar-benar menguras waktu dan tenaga mereka." Ayuna terdiam, dia juga tahu gimana sibuknya Al belakangan ini.
"Aku akan bicara pada Al." jawab Yuna.
"Tapi, gimana kalau tuan Al nggak memberinya izin?" Gina terlihat khawatir.
"Itu nggak mungkin! Al tidak sekejam itu. Dia pasti juga mau melihat Jo bahagia." ucapnya. "Udah, anggap aja masalah kalian sudah selesai. Aku yang akan bicara pada Al." Gina tersenyum bahagia.
"Kita bertemu lagi!" Mereka menoleh pada pria yang saat ini berdiri di meja mereka.
"Kau ....? Apa yang kau lakukan disini?" wajah Yuna tidak bersahabat sama sekali.
"Kebetulan aku ada sedikit urusan disini." jawabnya. Tanpa dipersilahkan untuk duduk, dia sudah terlebih dahulu menarik kursi yang berada di sebelah Gina.
"Mau apa lagi?" Yuna bersikap ketus, sementara Gina terlihat bingung. Dia bertanya-tanya siapa gerangan pria tampan itu.
"Ayolah! Aku hanya ingin berteman denganmu." jawabnya sambil tersenyum Gina tidak dapat mengalihkan pandangannya dari pria blasteran itu.
"Aku sudah punya banyak teman." jawabnya cuek.
"Apa dia selalu seperti ini?" dia bertanya pada Gina. Gina mengangkat kedua bahunya. Pria itu tertawa kecil.
"Pergilah! Aku tidak mau bertemu orang menyebalkan sepertimu." Yuna mengusirnya.
"Bumi!! Namaku, Bumi Arkana!" ucapnya sambil terus menebarkan senyuman.
~tbc